MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 37 : KEBETULAN


__ADS_3

Pukul setengah enam sore Jamila sudah berdandan dengan cantik sekali. Ia mengenakan celana jeans dan atasan yang serasi dengan kulitnya yang kuning langsat. Tak lupa ia juga memoles wajahnya dengan menggunakan make up minimalis namun elegan. Untuk urusan fashion dan kecantikan bisa dibilang Jamila adalah perempuan desa yang memiliki selera yang bagus. Ia tidak kalah dengan gadis-gadis kota karena perempuan pekerja keras ini selain sibuk menjadi buruh tani di desanya, ia juga acap kali mengikuti chanel kecantikan di media sosial ia ikuti.


“Kamu cantik banget, Mil! Pak Ratno pasti akan terpesona ketika melihatmu nanti,” puji Jamila pada dirinya sendiri ketika bercermin.


“Tapi, apakah Pak Ratno masih memiliki niatan untuk menikah lagi di usianya yang sudah uzur ini? Nanti, kalau anak-anak Pak Ratno ngga setuju bagaimana? Apa aku harus mencari calon suami yang lain? Tapi, aku sangat mengagumi pria dewasa dan pekerja keras seperti Pak Ratno. Aku yakin pria yang sudah berpengalaman seperti beliau tidak akan menyia-nyiakan istrinya seperti mantan suamiku yang egois itu. Sudah hobi selingkuh, suka main tangan, pencemburu, dan malas kerja pula. Ah, sungguh jauh berbeda dengan pria dewasa seperti Pak Ratno. Kalau urusan ganteng, Pak Ratno juga masih kelihatan gagah dan ganteng dibanding mantan suamiku yang rembes itu. Apalagi kalau pria itu sudah pegang pacul di sawah. Keren banget pokoknya. Kamu lihat nanti Pak Ratno. Aku yakin kamu pasti akan tertegun saat melihatku secantik ini,” ucap Jamila dengan penuh percaya diri di depan cermin.


“Sebaiknya aku buru-buru berangkat. Aku yakin Pak Ratno sudah pulang dari rumah Bu Dewi. Kalau aku sampai terlambat, ntar Pak Ratno sudah berangkat tahlilan kerumah Bu Reni,” ucap Jamila sambil mengambil tas favoritnya di atas nakas.


“Bismillah …,” ucap Jamila lagi sambil melangkah keluar dari kamar.


“Loh, ibu mau ke mana? tanya Dino yang sedang asyik menonton acara kartun di televisi.


Hm … ibu mau mengembalikan barang ke rumah Pak Ratno. Dino nggak usah ikut, ya? Nonton TV saja di rumah. Tapi, jangan lupa kalau magrib, salat, ya?” jawab Jamila sambil mengecup kening anaknya yang berusia tujuh tahun.


“Tapi kok Ibu wangi banget, sih? Kayak mau kondangan saja. Bajunya juga bagus?” tanya Dino dengan polosnya.


“Ah, enggak, kok, Sayang. Ini baju lama ibu. Sudah ya, ibu mau berangkat dulu,” jawab Jamila tergesa-gesa mengunci pintu dari arah luar.


Dino pun hanya bisa menatap kepergian ibunya dengan tatapan curiga. Kemudian ia melanjutkan menonton TV-nya kembali. Pada saat ia asyik menonton televisi, Dino dikejutkan dengan pintu yang berusaha dibuka dari arah luar.


“Siapa, sih?”pikir Dino sambil mengintip melalui jendela. Ada perasaan sedikit takut yang dirasakan anak kecil itu.


Orang tersebut kali ini sudah berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam.


“Loh, kok Ibu balik lagi?” tanya Dino setelah mengetahui bahwa itu ibunya.


“Ada yang ketinggalan,” jawab Jamila sambil memungut kancah dari atas meja.


Dino geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah ibunya yang sangat ceroboh.


“Ya Allah … kalau sampai aku lupa membawa barang ini, aku bisa malu kepada Pak Ratno,” ucap Jamila di dalam hatinya.


Jamila pun buru-buru berjalan meninggalkan rumahnya menuju ke rumah Pak Ratno. Untunglah senja sudah  mulai menggelayut saat Jamila berjalan di jalan. Jadi, ia tidak bertemu dengan banyak orang yang mungkin akan menanyakan tujuannya. Ia juga bingung harus menjawab apa kepada orang-orang itu.


Akhirnya Jamila sudah hampir sampai di pertigaan gang yang letaknya cukup jauh dari rumah penduduk. Jamila harus melewati pertigaan itu untuk sampai ke rumah Pak Ratno. Entah kenapa, tiba-tiba Jamila merasa tidak nyaman berada di tempat itu. Ia teringat dengan cerita-cerita penduduk yang lain tentang Laras yang menjadi arwah gentayangan.

__ADS_1


“Ah, aku yakin itu hanya isu semata. Laras itu orang baik.Dia itu adik kelasku dulu waktu masih SD. Anaknya tidak banyak tingkah. Orang-Orang sini saja yang iri sama dia karena dia sangat disayang oleh Bu Dewi dan Pak Herman. Aku yakin orang sebaik Laras tidak akan menjadi hantu,” ucap Jamila di dalam hati untuk menenangkan rasa ketakutannya.


Namun, tiba-tiba Jamila melihat ada seseorang berdiri tepat di pertigaan yang akan ia lewati. Orang itu mengenakan pakaian serba putih dan sedang membelakanginya. Jamila memicingkan matanya untuk memfokuskan pandangan.


“Siapa, senja-senja begini berdiri di tengah jalan?” tanya Jamila pada dirinya sendiri.


Perasaan Jamila mulai tidak enak dan rasa ketakutan mulai merasuk ke hatinya.


“Duh, jangan-jangan itu hantunya Laras!” pikir Jamila.


Jamila memelankan langkahnya sambil memastikan bahwa sosok yang berdiri di tengah jalan itu adalah tetangganya sendiri. Namun, semakin ia dekat, ia semakin bingung dengan sosok tersebut. Hingga akhirya Jamila kali ini sudah berada tepat di belakang sosok misterius itu.


“Mbak … kamu ngapain berdiri di tengah jalan? Aku permisi mau lewat, Mbak …,” sapa Jamila dengan polosnya.


Sosok perempuan tersebut tidak menyahut dan masih berdiri membelakangi Jamila.


“Mbak … permisi, saya mau lewat,” sapa Jamila lagi.


Sebenarnya saat itu Jamila sudah semakin merasa takut, tapi karena tekadnya sudah bulat untuk bertemu Pak Ratno, maka rasa takut itu ia abaikan.


Tiba-Tiba tangan perempuan itu bergerak dengan cepat merebut tas yang dipegang oleh Jamila sambil tertawa cekikikan laksana kuntilanak. Awalnya Jamila mempertahankan tasnya karena ia tidak mau tas dan isinya itu jath ke tangan orang lain. Namun, saat Jamila mendengar suara tawa cekikikan sosok perempuan itu, ia baru menyadari bahwa yang ia hadapi saat itu bukanlah manusia biasa melainkan hantu Laras yang gentayanan seperti yang digosipkan oleh warga dusun Delima.


Jamila sudah tidak peduli dengan tas berisi kencah yang sedianya akan ia kembalikan kepada Pak Ratno. Ia tidak mau mati konyol karena hal itu. Ia berlari sekuat tenaga menuju ke arah musalla. Ia terus berlari karena takut terkejar oleh hantu Laras. Jamila panik dan terus berteriak. Ketika ia berlari dan hampir sampai di musalla sepertinya ada orang yang mendengar teriakan perempuan tersebut. Orang itu berlari untuk menolong Jamila. Namun, karena penerangan yang kurang baik di sekitar musalla, Jamila dan orang itu kurang jelas pandangannya sehingga mereka pun bertabrakan dan hampir saja Jamila terjatuh Untung orang itu dengan sigap menolong Jamila dan akibatnya Jamila pun jatuh dalam dekapa orang itu.


“Jamila!!!”


“Pak Ratno!!”


Mereka berdua terkejut dengan kejadian itu. Mereka tidak menyangka bawa mereka akan berada dalam posisi itu dengan cara yang tidak sengaja. Selama beberapa detik keduanya tertegun dan tidak berbuat apa-apa. Setelahnya baru mereka bisa menguasai diri dan merasa malu.


“Maaf, Jamila,” ucap Pak Ratno sambil melepas dekapannya.


“M-maaf juga, Pak Ratno,” jawab Jamila.


Jamila pun membenarka posisi bajunya yang sedikit bergeser akibat insiden barusan.

__ADS_1


“Kenapa kamu lari-lari, Jamila?” tanya Pak Ratno masih canggung.


“A-anu, Pak. Barusan aku ketemu hantu di sana. Hantunya mengambil tasku yang berisi kencah punya Pak Ratno,” jawab Jamila sambil menunjuk ke arah belakang.


“Hantu? Mengambil tas? Ayo, kita ke sana untuk memeriksa!” jawab Pak Ratno dengan gagahnya.


“Pak Ratno tidak takut hantu?” tanya Jamila.


“T-tidak, kok! Manusia itu derajatnya lebih tinggi daripada hantu. Ngapain takut sama hantu? Ayo, kalau mau mengecek keadaan di sana!” ujar Pak Ratno dengan maskulinnya.


Jamila mengagumi keberanian Pak Ratno, tapi ia punya pemikiran yang berbeda.


“Nggak usah sudah, Pak. Lagian hantu dikejar pun akan hilang. Lagipula ini sudah magrib. Sebaiknya kita salat saja di musala Ustad Andi. Tapi, bagaimana dengan kencah milik Pak Ratno?” jawab Jamila.


“Kalau urusan kencah mah gampang. Nggak usah kamu pikirkan! Aku bisa membuatnya lagi nanti,” jawab Pak Ratno tenang karena Jamila tidak minta ditemani ke pertigaan itu.


“Nanti habis salat aku antar kamu pulang,ya? Lewat pertigaan tadi sekaligus mencari tas kamu yang diambil hantu itu,” ujar Pak Ratno.


“Nggak usah, Pak. Nanti aku pulangnya lewat jalan memutar saja. Aku ikut Pak Ratno ke rumah Bu reni. Sekalian aku mau bantu-bantu Bu Reni dulu dan pulangnya nanti aku mau bareng sama ibu-ibu yang lain lewat jala memutar lagi,” jawab Jamila.


“Baiklah kalau begitu, ita salat dulu, yuk!” ajak Pak Ratno.


“Ayo!” jawab Jamila.


Pak Ratno dan Jamila sama-sama bahagia saat itu karena mereka bisa bertemu dalam keadaan yang tak terduga. Setelah salat Magrib berjamaah bersama Ustad Andi dan Bulek Roso, mereka berdua pun berjalan beriringan menuju rumah Bu Reni untuk mengikuti acara tahlilan. Sepanjang jalan mereka berdua pun banyak mengobrol tentang kehidupan, keluarga, dan cita-cita untuk masa depan. Keduanya sepertinya sangat klop sekali dan memiliki banyak kecocokan.


“Makasih ya, Pak Ratno. Sampai jumpa lagi nanti,” ucap Jamila.


“Sama-Sama, Jamila. Kamu jaga diri baik-baik, ya! Sampai saat itu tiba,” jawab Pak Ratno.


“Saat apa, Pak?” tanya Jamila penasaran.


Pak Ratno  hanya membalasnya dengan senyuman. Mereka pun berpisah, Pak Ratno mengikuti acara tahlilan dan Jamila pergi ke dapur Bu Reni untuk bantu-bantu menyiapkan makanan.


Ada dua hati yang bergetar saat itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Hm ... Siapa nih Reasders yang sedang jatuh cinta?


__ADS_2