MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 72 : KUALAT


__ADS_3

Lebih dari lima menit Minul menunggu Pak Ratno buang air kecil di kamar mandi umum. Kamar mandi umum di dusun Delima tidaklah seperti kamar mandi pada umumnya di tempat lain. Di dusun Delima, kamar mandi umumnya hanya bisa untuk mandi, mencuci, dan buang air kecil saja, sedangkan untuk buang air besar tidak bisa. Warga biasanya menggunakan sungai kecil untuk buang air besar. Hal itu sudah turun temurun dilakukan di dusun tersebut. Makanya, dalam kondisi banyak orang meninggal seperti ini, yang paling ditakuti oleh masyarakat di sana adalah keinginan buang air besar pada malam hari karena mereka dibayang-bayangi rasa ketakutan terhadap kemunculan hantu. Terlebih, saat ini banyak desas-desus tentang kemunculan arwah Laras yang mengganggu warga dusun tersebut.


“Kok lama banget sih Pak Ratno buang air kecilnya? Jangan-Jangan dia kencing batu?” gerutu Minul sambil sesekali menepok nyamuk yang menggigit bagian tubuhnya yang terbuka.


“Mana nyamuk di sini banyak banget! Bisa bentol-bentol nih tubuhku kalau Pak Ratno nggak muncul-muncul. Apa ak samperin aja, ya? Ih, ogah! Ntar aku dikira cewek apaan? Meskipun aku naksir sama Pak Ratno, tapi aku nggak mau terlalu menunjukkan perasaanku sama dia. Pantang bagi seorang cewek kayak aku untuk mengungkapkan perasaanku duluan. Di mana-mana cowok yang harus nembak aku. Duh, nyamuknya gede-gede banget, nih! Buruan, Pak!” gerutu Minul secara terus-menerus.


Sementara itu Pak Ratno yang sedang berada di dalam kamar mandi harus merasakan kekecewaan karena stok air di bak yang tersedia jumlahnya sangat sedikit. Alhasil, ia harus menimba air terlebih dahulu agar stok airnya cukup untuk ia pakai sendiri. Sedangkan sumurnya sangat dalam lebih dari sepuluh meter, sehingga Pak Ratno membutuhkan waktu cukup lama di kamar mandi tersebut untuk buang air kecil sekaligus untuk berwudu.


Angin sepoi-sepoi tiba-tiba bertiup di sekitar pohon bambu di pertigaan tersebut. Minul masih saja setia menunggu kedatangan Pak Ratno di posisinya saat Pak Ratno meninggalkannya. Angin sepoi-sepoi itu membuat Minul merasakan hawa dingin tiba-tiba merasuk ke kulitnya yang tebal. Minul sampai harus mengangkat kerah pakaiannya menutupi lehernya agar sedikit mengurangi rasa dingin itu. Posisi Minul saat itu sedang berdiri membelakangi titik tengah pertigaan tempat ia pernah berdiri menggunakan kostum kuntilanak pada waktu yang lalu saat ia menakut-nakuti Jamila. Minul menghadap ke arah pintu kamar mandi umum tempat Pak Ratno menunaikan hajatnya. Pandangannya terus terarah ke pintu kamar mandi umum itu dengan harapan pintu kamar mandi umum itu terbuka dan Pak Ratno keluar dari tempat itu. Namun, semakin lama ditunggu semakin tak muncul juga batang hidung Pak Ratno. Yang ada rasa dingin yang dirasakan Minul terasa semakin menusuk tulang.


“Duh, Pak Ratno … kok nggak selesai-selesai, sih!” Minul makin tidak sabar.


Cara berdiri Minul mulai menunjukkan rasa kegelisahannya. Sesekali ia menoleh ke belakang karena ia mulai merasa tidak nyaman berada di tempat tersebut. Setelah ia memeriksa keadaan di belakangnya ternyata aman-aman saja, kembali ia pun menghadap ke daun pintu kamar mandi.


“Paaaaak … buruan, dong!” ucap Minul dengan suara sedikit menggigil karena terpaan angin malam.


Tanpa Minul sadari, dibelakang Minul saat itu ada seonggok kain putih lusuh yang awalnya tergeletak begitu saja, sekarang kain putih itu naik dengan sendirinya dan membentuk sesosok tubuh. Tidak hanya itu, kain putih itu pun saat ini sedang berjalan dari semak-semak semakin mendekati Minul yang dalam keadaan gelisah. Seiring dengan bertiupnya angin sepoi-sepoi yang meniup tengkuk Minul, Minul pun mulai merasa bulu tengkuknya berdiri. Perempuan itu heran sendiri kenapa tiba-tiba bulu tengkuknya berdiri padahal ia tidak sedang dalam kondisi ketakutan. Karena penasaran, Minul pun menyentuh bulu tengkuknya dengan menggunakan permukaan tangannya. Benar saja ia merasakan ujung-ujung bulu tengkuknya bersentuhan dengan permukaan tangannya.

__ADS_1


“Loh, kok bulu tengkukku tiba-tiba berdiri, ya?” tanya Minul pada dirinya sendiri.


Karena masih ragu Minul pun mencoba mengecek bulu tangannya juga dan ternyata Minul juga merasakan bulu di tangannya juga berdiri.


“Hah? Kok bisa aku jadi merinding begini?” ucap Minul secara perlahan.


Pada saat yang sama Minul merasakan ada sesuatu sedang bergerak di belakangnya. Maka, secara perlahan perempuan itu menoleh ke belakang. Dan kain putih yang menyerupai seseorang itu pun saat ini tepat berada di belakang Minul. Setelah Minul berhasil melihat keadaan di belakangnya secara utuh, Minul pun berkata.


“Nggak ada siapa-siapa? Mungkin hanya perasaanu saja,” ucap Minul sambil menoleh ke depan lagi.


Secara ajaib, kain putih itu menghilang saat Minul menoleh ke belakang. Minul kembali meluruskan pandangan ke depan ke arah pintu kamar mandi umum yang masih dalam keadaan tertutup sebagai tanda bahwa Pak Ratno belum selesai menggunakannya.


Angin sepoi-sepoi kembali meniup bagian belakang tubuh Minul. Kali ini Minul kembali merasakan seolah-olah seseorang sedang berdiri di belakangnya. Namun, kali ini hawa keberadaan seseorang tersebut jauh lebih terasa dari sebelumnya. Minul kali ini memutar kepalanya lebih perlahan dari sebelumnya. Dan betapa tersontaknya jantuk perempuan itu tatkala dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat sesosok wajah menyeramkan sedang menyeringai tepat di belakangnya. Selama beberapa detik perempuan tambun itu tergagap tanpa bisa berbuat apa-apa saing syoknya.


“Ha-ha-haaaaaaantuuuuuu!!!” teriak Minul dengan keras saat itu sambil berlari ke arah kamar mandi umum setelah ia menemukan kekuatannya kembali.


“Pak!!! Tolooooong!!! Ada hantu …,” teriak Minul sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi yang sedag tertutup rapat itu.

__ADS_1


Pak Ratno yang sedang berada di dalam tidak begitu mempedulikan suara itu. Ia pikir Minul sedang bercanda saja.


“Apaan kamu, Nul? Tunggu, aku mau berwudu dulu!” jawab Pak Ratno dengan santainya.


Minul yang sedang ketakutan saat iu menjadi semakin panik karena Pak Ratno tidak mempercayai ucapannya. Terlebih lagi ia melihat sosok hantu perempuan berambut panjang itu pun sedang terbang mendekatinya.


“Tidaaaaaak!!!!” teriak Minul sambil berlari menghindari kejaran hantu perempuan itu.


Minul terus berlari tapa mempedulikan apakah ia dikejar atau tidak oleh hantu perempuan itu. Perempuan tambun itu mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengambil langkah seribu menuju rumahnya. Begitu ia sudah sampai di rumahnya, ia buru-buru mengunci pintu dan menutup rapat-rapat gordennya. Anaknya yang sedang menonton televisi pun menegurnya.


“Ada apa,Bu?” protes anaknya.


“Nggak usah banyak ngomong! Ayo, buruan masuk ke kamar dan tidur!” jawab Minul sambil masuk ke dalam kamar membawa anaknya.


Mata Minul terus melirik ke seluruh penjuru kamar. Ia khawatir hantu perempuan itu mengikutinya sampai ke kamar. Semua doa yang ia hapal dibaca oleh Minul dengan perasaan takut.


Sementara itu Pak Ratno yang baru selesai menunaikan hajatnya pun kelar dari kamar mandi umum dengan perasaan tidak bersalah.

__ADS_1


“Ke mana Minul? Ngapain dia pake ngerjain aku segala? Ngomong saja kalau kamu memang mau pulang duluan, Nul! Nggak usah pake alasan ketemu hantu segala. Aku juga nggak akan repot-repot mengantarmu pulang kalau kamu memang tidak mau,” gerutu Pak Ratno sambil berjalan menuju rumahnya sendiri. Ia berniat menunaikan sholat Magrib di rumahnya dan berangkat menuju rumah Bu Reni untuk mengikuti acara doa bersama di sana.


BERSAMBUNG


__ADS_2