
Jamila dan Minul sama-sama merasa takut berada berdua saja di dapur Bu Dewi.
“Nul, aku takut berada di sini hanya berdua denganmu saja,” ujar Jamila pada temannya itu.
“Sama, Mil. Aku juga nggak berani berada di dapur ini kalau nggak ada Bu Dewi,” jawab Minul.
“Nul, kamu tahu nggak? Tadi malam itu pas aku pulang sama Pak Salihun. Tiba-Tiba di tempat yang sepi itu Pak Salihun digangguin sama hantu. Aku sampai meminta tolong Ustad Andi untuk mencari Pak Salihun dan akhirnya ketemu di dekat kuburan,” kata Jamila lagi.
“Sama, Mil. Semalam pas aku pulang bareng Pak Ratno, aku ketemu sama hantu di pertigaan di bawah pohon bambu itu. Hantunya seram sekali, Mil!” kata Minul.
“Loh, kamu juga ketemu hantu juga di pertigaan itu? Aku kapan hari juga diganggu hantu di sana sewaktu mau mengantar barang ke rumah Pak Ratno,” jawab Jamila.
Minul merasa bersalah ketika Jamila bercerita tentang pengalaman buruknya di pertigaan itu karena yang dilihat waktu itu oleh Jamila bukanlah hantu, melainkan dia yang menyamar menjadi hantu untuk menakut-nakuti Jamila. Minul belum ingin mengakui kesalahannya karena takut temannya itu akan marah besar kepadanya.
“Nul, ayo kita keluar saja dulu dari dapur ini!” ajak Jamila.
“Ayo, Mil!” sahut Minul.
Mereka pun berjalan meninggalkan dapur Bu Dewi dengan perasaan was-was karena tidak ada orang lain di rumah itu selain mereka berdua. Baru saja mereka sampai di ruang tamu, tiba-tiba mereka mendengar suara derap langkah sedang menuju ke dalam rumah itu.
“Mil, itu suara kaki siapa?” tanya Minul ketakutan.
“Entahlah, Nul! Mungkin derap langkah kaki Bu Dewi dan Pak Herman.
“Ayo, Mil! Kita buruan keluar saja!” ajak Minul lagi.
“Ayo, Nul!” sahut Jamila sambil berjalan meninggalkan ruang tamu menuju pintu.
Baru saja mereka sampai di pintu, tiba-tiba pintu itu didorong ke dalam oleh seseorang yang berada di luar. Minul dan Jamila diam sejenak untuk menunggu munculnya seseorang dari balik pintu. Begitu pintu itu terbuka dengan sempurna, mereka berdua sama-sama terkejut. Begitu pula orang yang sedang berada di luar pintu.
“Minul! Jamila!’ pekik orang yang sedang berada di balik pintu.
“Pak Salihun!” pekik Minul.
“Ngapain kalian berdua di dalam?” tanya Pak Salihun pada Minul dan Jamila.
“Ka-kami sedang memantu Bu Dewi membuat kue dan memasak makanan untuk kegiatan nanti sore,” jawab Minul dengan spontan.
Jamila hanya diam sajatidak menyahut. Entah kenapa, ia masih merasa kesal dengan perilaku kasar Pak Salihun terhadapnya semalam.
“Kok, kalian seperti mau keluar? Apa sudah selesai pekerjaan di dalam?” tanya Pak Salihun lagi.
“Kalau pekerjaannya sudah hampir selesai. Kebetulan kami barusan sedang makan di dapur. Namun Bu Dewi tiba-tiba keluar karena mau menyusul Pak Herman yang memasang lampu di rumah Mbak Laras, tapi belum pulang-pulang juga,” jawab Minul lagi dengan antusias.
“Jadi, kalian takut berada di dapur hanya berdua saja? Makanya kalian memilih untuk keluar rumah?”tanya Pak Salihun.
“Yah, begitulah, Pak. Aku masih trauma dengan kejadian semalam sewaktu aku diganggu hantu di pertigaan dekat rumah,” jawab Minul.
“Loh, kan ada Pak Ratno?” tanya Pak Salihun.
“Iya sih ada Pak Ratno semalam, tapi Pak Ratno tidak bergeming pada saat aku meminta tolong padanya karna dikejar-kejar hantu. Pak Ratno mengira aku hanya bercanda,” jawab Minul.
“Oh begitu … Ya sudah, sekarang kalia balik lagi saja ke dapur! Kan, aku ada di sini menemani kalian!” jawab Pak Salihun kemudian.
“Gimana, Mil? Kita balik ke dapur atau-?” tanya Minul.
“Sebaiknya kita menunggu Bu Dewi datang dulu, Mil! Nggak enak kalau kita berada di dapur. Sedangkan orangnya tidak ada di dalam rumah,” jawab Jamila yang tidak suka dengan anjuran Pak Salihun.
“Tapi, Mil. Bu Dewi tadi kan menyuruh kita untuk tetap berada di dapur?” protes Minul.
__ADS_1
“yah, terserah kamu, Nul! Kalau aku sih lebih baik menunggu Bu Dewi di luar saja. Kamu kalau mau ke dapur, ya silakan berangkat bareng Pak Salihun ini!” ujar Jamila dengan sedikit perasaan kesal.
“Hm … Maaf ya, Pak Salihun! Aku ke depan saja ikut Jamila,” ujar Minul pada Pak Salihun.
“Iya, Nul. Nggak apa-apa!” jawab Pak Salihun dengan sedikit perasaan kecewa.
Jamila pun keluar rumah dengan diikuti Minul. Pak Salihun juga ikut keluar paling akhir dari rumah Bu Dewi. Mereka bertiga mencari tempat duduk di halaman rumah Bu Dewi. Karena tidak ada kursi di halaman rumah Bu Dewi, mereka pun berdiri di sana.
“Bu Dewi kok nggak balik-balik ya dari rumah Mbak Laras?” tanya Minul.
“Apa sebaiknya kita susul ke sana?” tanya Jamila.
“Enggak ah, Mil. Aku takut!” sahut Minul.
“Biar aku saja yang menyusul ke sana!” potong Pak Salihun.
“Jangan!” teriak Minul sambil menahan lengan Pak Salihun.
Jamila sesaat melihat adegan Minul yang memegang lengan Pak Salihun. Pak Salihun tidak berusaha melepaskan tangan Minul saat itu. Minul sendiri merasa kikuk setelah menyadari bahwa ia telah berbuat tidak sopan terhadap Pak Salihun. Minul sadar saat itu ia sedang berbuat kesalahan karena ia tahu Pak Salihun sedang dekat dengan Jamila.
“Maaf, Pak! Silakan kalau Pak Salihun mau menjemput Bu Dewi dan Pak Herman di rumah Mbak Laras!” ujar Minul dengan sopan.
“Tidak sudah, Nul. Sebaiknya saya di sini saja menemani kalian berdua,” jawab Pak Salihun.
Jamila tidak bereaksi apa-apa saat itu. Ia hanya memperhatikan Pak Salihun dan Minul yang terlihat salah tingkah.
Karena ang ditunggu tak kunjung juga datang, Minul pun iseng bertanya pada Pak Salihun untuk mengusir rasa kebosanan.
“Pak, apa benar semalam Pak Salihun ketemu dengan hantu?” tanya Minul.
“kamu dengar dari siapa. Nul?” tanya Pak Salihun.
“Dari Jamila, Pak!” jawab Minul tegas.
“Pak Salihun melihat kamu, Nul. Padahal aku tidak melihat siapa-siapa di sana. Tapi, Pak Salihun kekeuh melihatmu. Ia terus mengejar sosok yang mirip kamu sampai ke kuburan. Dan benar saja ternyata itu bukan kamu, tapi hantu yag menyerupai kamu, Nul!” potong Jamila melanjutkan cerita Pak Salihun dengan nada penuh tekanan seolah-olah ia ingin menunjukkan kemarahannya kepada Pak Salihun karena semalam ia sempat dimarahi oleh Pak Salihun.
Pak Salihun hanya diam ketika Jamila melanjutkan ceritanya.
“Benar seperti itu ceritanya, Pak?” tanya Minul.
“Iya, benar, Nul!” jawab Pak Salihun tidak punya pilihan jawaban lagi.
Saat itu Jamila menjadi semakin kesal pada Pak Salihun karena ia melihat Minul seperti berbunga-bunga saat mengetahui cerita itu.
Pak Salihun merasa bersalah saat itu kepada Jamila. Jadi, ia kehilangan kata-kata setelah itu. Beberapa detik kemudian terdengar suara derap langkah dari arah jalan setapak. Mereka berpikir bahwa itu adalah Bu Dewi. Namun, dugaan mereka salah karena yang muncul selanjutnya adalah wajah Pak Ratno. Minul yang melihat kedatangan Pak Ratno saat itu langsung melengos karena ia masih kesal dengan sikap Pak Ratno yang tidak memperdulikannya semalam.
“Assalamualaikum …” sapa Pak Ratno.
“Waalaikumsalam …,” jawab Pak Salihun dan Jamila.
“Loh, ngapain kok kumpul di sini? Kayak ada rapat saja? Tapi, masa rapat sambil berdiri?” ujar Pak Ratno.
“Ini, Rat. Jamila dan Minul tidak berani berada di dalam dapur karena Bu Dewi tiba-tiba pamit keluar,” jawab Pak Salihun.
“Loh, emangnya Bu Dewi pamit ke mana?” tanya Pak Ratno lagi.
“Pamitnya sih menjemput Pak Herman yang sedang memasang lampu di rumah Laras, tapi sejak tadi belum datang juga,” jawab Jamila.
“Oooo … Jadi kalian keluar karena takut?” tanya Pak Ratno.
__ADS_1
“Ya iya lah. Apalagi kami berdua ini kan hanya cewek dan sulit mencari laki-laki yang benar-benar peduli dengan keselamatan kita,” potong Minul dengan nada jengkel.
“Sekarang kan sudah banyak orang, masa masih takut?” tanya Pak Ratno.
“Tetap nggak enak kalau nggak ada Bu Dewi di dalam rumah,” jawab Jamila.
“Gimana kalau aku susul Bu Dewi?Kalian bertiga tetap di tempat ini?” tawar Pak Ratno.
Baru saja mereka bertiga berpikir, tiba-tiba sayup-sayup mereka mendengar suara orang minta tolong dari arah rumah Laras.
“Tolooooooong!!!!” suara seorang wanita dari arah kejauhan.
“Loh, itu kan suaranya Bu Dewi?” pekik Jamila.
“Iya, benar, Mil! Itu suara Bu Dewi. Ada apa dengan Bu Dewi? Ayo, kita tolong Bu Dewi!” ajak Pak Ratno.
Tanpa membuang waktu, keempat orang tersebut pun langsung mengambil langkah seribu menuju rumah Laras. Karena rumah Laras tidak jauh dari rumah Bu Dewi, belum sampai lima menit mereka semua sudah sampai di depan rumah Laras. Fokus mereka tertuju pada pintu rumah Laras yang sedang terbuka. Mereka berempat awalnya ragu, apakah mau masuk ke dalam atau tidak. Namun, suara rintihan Bu Dewi dari dalam rumah itu membuat mereka berempat tidak berpikir panjang untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
“Bu Dewi!!!!” teriak Jamila dan MInul memanggil nama istri Pak Herman itu dengan suara cukup keras.
“Sini, Miiiiil!!!!” sahut Bu Dewi dengan suara lemah dari dalam kamar yang biasa ditempati Laras semasa hidupnya.
Keempat orang itu pun terus berjalan masuk ke dalam menuju kamar Laras dan betapa terkejutnya mereka berempat ketika melihat Bu Dewi sedang berusaha membangunkan suaminya yang sedang pingsan di atas kasur yang lama tidak dipakai.
“Ya Allah!” pekik mereka berempat.
“Maaaaas!!! Bangun, Maaaas!!!” panggil Bu Dewi sambil berusaha menggerak-gerakkan pipi Pak Herman.
Pak Herman tetap tak bergeming. Jamila pun buru-buru mengeluarkan balsem yang selalu Ia bawa karena itu adalah senjata andalannya mengadapi kepalanya yang sering pusing secara tiba-tiba. Jamila pun segera mengolesi hidung Pak Herman dengan balsem. Tak lupa ia juga mengolesi kaki pria itu yang bersuhu dingin. Tidak hanya itu Jamila juga menggerak-gerakkan kaki Pak Herman untuk menyadarkan suami Bu Dewi itu.
“Pak … Pak .. Bangun, Pak!” panggil Jamila.
Bu Dewi juga terus memanggil-manggil nama suaminya. Tak sampai satu menit kemudian, Pak Herman siuman dari pingsannya.
“Alhamdulillah … Akhirnya kamu sadar, Mas!” ucap Bu Dewi sambil memegang erat tangan suaminya.
Pak Herman masih linglung saat itu, tetapi suhu tubuhnya perlahan naik.
“Apa yang terjadi, Mas? Kok Mas Herman bisa pingsan?” tanya Bu Dewi setelah melihat suaminya pulih seperti sedia kala.
“Aku tidak ingat, Dik. Seingatku, aku tadi memasang lampu dan ketika aku turun, mendadak kepalaku pusing dan aku tidak ingat apa-apa lagi,” jawab Pak Herman sedikit berbohong karena ia tidak menceritakan saat ia merasa ada seseorang memelukna dari belakang.
“Mungkin Pak Herman tadi pingsan karena tidak sarapan, Bu?” ucap Jamila.
“Iya juga, mungkin. Ya, sudah Mas. Kalau badanmu sudah enakan, ayo kita pulang saja!” ajak Bu Dewi kemudian.
Pak Herman pun mencoba bangkit dar tidurnya dan ternyata ia mampu untuk duduk. Setelah itu mereka berenam pun meninggalkan rumah Laras dengan perasaan bermacam-macam. Bagi Bu Dewi, ia masih penasaran dengan penyebab sebenarnya kenapa suaminya tiba-tiba sudah berada di dalam kamar yang biasa ditempati Laras. Sedangkan bagi Pak Herman, ia juga penasaran dengan sosok yang memeluknya dari belakang. Dan bagi keempat orang yang lain, mereka ingin cepat-cepat keluar dari rumah itu karena mereka takut berada di sana.
Pak Herman berjalan ke rumahnya dengan masih diapit oleh Pak Salihun dan Pak Ratno. Padahal Pak Herman berjalan biasa saja, tapi kedua orang itu khawatir majikannya itu terjatuh. Sesampai di rumah Bu Dewi, mereka berdua menyuruh Pak Herman untuk makan siang dan beristirahat memulihkan tenaga. Awalnya Pak Herman menolak ketika disuruh tidur, tapi karena dipaksa terus oleh istrinya, akhirnya Pak Herman pun mau.
“Tidur saja dulu, Pak. Nanti sore biar Pak Herman bisa segar kembali ketika menyambut tamu-tamu yang datang,” imbuh Pak Salihun.
Setelah Pak Herman tidur siang, Jamila dan Minul dibantu oleh Pak Salihun dan Pak Ratno pun melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda untuk mempersiapkan acara nanti sore. Minul lebih memilih mengobrol dengan Pak Salihun karena ia ingin menghindari Pak Ratno, sedangkan Jamila lebih memilih mengobrol dengan Pak Ratno karena ia kesal dengan Pak Salihun.
Pukul dua siang semua persiapan sudah matang dan satu persatu tamu pun datang ke rumah Bu Dewi. Bu Dewi menyambut kedatangan para tetangganya dengan suka cita. Sebelum asar keempat orang itu pamit pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Pukul setengah empat mereka kembali ke rumah Bu Dewi dengan pakaian rapi. Para tamu pun berdatangan dan acara tahlilan hari terakhir di rumah Bu Dewi pun berjalan dengan sangat khidmat. Para tamu senang karena pada tahlilan terakhir mereka bisa berjumpa dengan Pak Herman yang absen selama enam hari ke belakang. Setelah acara selesai dan semua perkakas sudah ditata oleh keempat orang tadi, Bu Dewi terngiang-ngiang dengan ucapan salah satu tetangga yang sempat ia kuping tadi.
“Biasanya, kalau mala ketujuh hari, arwah si mayit itu datang untuk pamitan kepada keluarga, loh!”
Bu Dewi merasa agak ngeri mendengar kalimat tetangganya itu. Dan ia ingat dengan kejadian aneh yang menimpa suaminya tadi siang yang belum dapat ia pecahkan penyebabnya sampai saat itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Ingat hari ini adalah hari terakhir untuk memberikan like dan komentar dari bab awal sampai bab tanggal 30 No hari ini.