
Pak Ade begitu senang karena sedikit dimaafkan oleh istrinya meskipun istrinya beralasan bahwa hal itu ia lakukan karena Revan. Sementara hal itu membuat arwah Laras menjadi semakin marah terhadap mereka berdua. Laras berusaha untuk mengejar sepasang suami istri yang sedang merangkak menghindari kejaran arwah Laras. Pak Ade menemukan semangat dan tenaga baru setelah merasa dimaafkan oleh istrinya.
“Dik, kamu buruan merangkak ke dalam rumah itu! Biar aku yang menghadapi arwah Laras!” ucap Pak Ade dengan gentelnya.
Tentu saja hal itu membuat Bu Nisa bangga sekaligus cemas dengan keselamatan suaminya itu. Namun, ia tidak menyahut karena masih merasa gengsi. Bu Nisa pun mencoba untuk merangkak dengan lebih cepat sesuai dengan instruksi suaminya. Pak Ade merangkak di belakang istrinya dan terus berusaha untuk melindungi istrinya tersebut dari serangan arwah Laras.
“Mau ke mana kalian? Hi hi hi hi hi …,” suara Laras kembali menggelegar di sekitar pekarangan Jatmiko dan membuat dua orang itu menjadi ciut nyalinya.
“Buruan, Dik!” perintah Pak Ade pada istrinya yang tampak terpengaruh oleh ancaman arwah Laras barusan.
Bu Nisa yang mendengar suara suaminya itu pun kembali menemukan keberaniannya untuk merangkak menuju rumah Jatmiko di mana kalau mereka sudah sampai di dala rumah tersebut, arwah Laras tidak akan mampu untuk mengganggu mereka lagi seperti yang dilakukan oleh arwah Laras sekarang terhadap mereka berdua.
Arwah Laras kali ini memanjangkan tangannya untuk mengejar kedua orang itu. Secara perlahan tangan itu mengejar Pak Ade dan Bu Nisa yang sedang merangkak menjauhinya. Setelah beberapa detik memanjangkan tangannya, akhirnya tangan panjang arwah Laras berhasil mengejar Pak Ade dan sampai di depan muka Pak Ade. Pak Ade yang melihat begitu seramnya tangan panjang arwah Laras itu pun menjadi histeris
“Waaaaaaa!!!” teriak Pak Ade yang terdengar memilukan.
Bu Nisa yang mendengar teriakan Pak Ade itu pun menolehke belakang dan ia menjadi takut karena melihat arwah Laras dengan tangan yang molor sampai sepanjang itu. Pak Ade yang syok karena melihat bentuk tak lazim di depannya itu pun menjadi terhenti langkahnya karena ngeri dengan bentuk tangan yang aneh tersebut. Sementara Bu Nisa sudah hampir sampai di depan pintu rumah Jatmiko.
“Maaaaaas!!!” teriak Bu Nisa berusaha mengingatkan suaminya untuk terus merangkak.
“Dik, buruan kamu masuk!” teriak Pak Ade berusaha untuk mengingatkan istrinya.
“Tidak, Mas! Ayo, Mas Ade pasti bisa untuk melawan rasa takut Mas Ade sendiri,” teriak Bu Nisa berusaha mensugesti suaminya.
“Kamu masuk dulu, Dik! Panggil Jatmiko dan ibunya untuk menologku!” teriak Pak Ade dengan cukup taktisnya.
Bu Nisa yang memahami maksud suaminya itu pun menyadari bahwa ia harus menuruti keinginan suaminya karena dia lah yang lemah serta patut untuk diselamatkan terlebih dahulu. Bu Nisa pun tidak membuang-buang waktu dan ia terus merangkak menuju ke arah pintu. Ternyata di pintu itu sudah berdiri Jatmiko sedangkan di belakang sana, suaminya sedang berusaha untuk mengecoh perhatian arwah Laras agar lengah dan tidak mengejar Bu Nisa.
__ADS_1
“Mas Jatmiko!” teriak Bu Nisa sambil berusaha terus merangkak menuju ke arah pintu.
“Nisa!” pekik Jatmiko terkejut ketika melihat istri sahabatnya itu.
Jatmiko tentu harus menjaga kesopanan terhadap istri sahabatnya. Ia tidak berani membantu Bu Nisa yang sedang bersusah payah merangkak menuju ke arah pintu. Ia hanya bisa memperhatikan perempuan itu berusaha untuk masuk ke dalam. Kemudian pria itu juga melihat ke arah Pak Ade yang sedang berjibaku menghindari serangan arwah Laras yang terus menerus berusaha menakutinya.
“Terus, Nisa!” teriak Jatmiko pada istri sahabatnya itu.
Berkat perjuangan yang gigih akhirnya Bu Nisa pun dapat menjangkau pintu rumah Jatmiko, tepat saat arwah Laras menyadari bahwa salah satu targetnya telah lolos dari sergapannya. Arwah Laras berusaha untuk menghalangi masuknya Bu Nisa ke dalam rumah Jatmiko, tapi upayanya gagal karena Bu Nisa sudah masuk terlebih dahulu.
Jatmiko lari ke arah Pak Ade yang sedang dilepas secara sementara oleh arwah Laras. Sementara itu arwah Laras yang kecewa karena Bu Nisa berhasil lolos pun berbalik menghampiri Jatmiko dan Pak Ade.
“Tidak apa-apa satu mangsa lepas. Masihada mangsa lain yang siap untuk aku bunuh!” teriak Laras dengan suara yang semakin keras.
“Pergi kamu arwah sialan! Jangan kamu ganggu sahabatku ini!” teriak Jatmiko sambil berusaha untuk melindungi Pak Ade.
“Iya, bagaimanapun Ade ini aalah sahabatku. Siapapun yang mengganggunya akan berhadapan denganku!” teriak Pak Ade berusaha memberanikan diri padahal ia ngeri melihat wujud menyeramka di depannya saat itu.
“Oke, kalau itu maumu aku ladeni. Tapi, jangan salahkan aku kalau aku juga harus membunuhmu karena menghalangiku untuk membunuh pria keparat itu!” teriak arwah Laras dengan semakin memekakkan telinga.
Jatmiko mengalihkan perhatiannya dari arwah Laras. Ia kemudian berusaha membopong Pak Ade yang kelelahan.
“Ade, kamu pegangan yang erat, ya?” ucap Jatmiko pada sahabatnya sambil merengkuh salah satu lengannya untuk dikalungkan ke lehernya.
“Terima kasih, Jatmiko” jawab Pak Ade sambil berusaha untuk bangkit.
Sementara itu arwah Laras sedang menjulurkan bagian perutnya ke atas sehingga semakin memanjang dan bentuknya mirip sekali dengan ular anakonda. Jatmiko yang berusaha untuk membopong sahabatnya untuk masuk ke dalam rumahnya pun terkejut ketika ia membalikkan badan karena melihat bentuk arwah Laras yang menyerupai ular raksasa sedang berusaha menghalangi langkahnya.
__ADS_1
“Wuaaaaaa!!” teriak Pak Ade semakin ketakutan dan berusaha untuk bersembunyi di pundak Jatmiko.
Sedangkan Jatmiko saat itu juga merasakan hal yang tidak jauh berbeda dengan Pak Ade. Ia benar-benar ngeri melihat ular raksasa berkepala arwah Laras yang muncul di hadapannya secara mendadak.
“Hi hi hi hi hi … Akan kumakan kalia berdua,” ucap arwah Laras berusaha menakut-nakuti Pak Ade dan Jatmiko.
Jatmiko yang sudah tidak punya piihan lain saat itu pun berusaha untuk melawan arwah Laras dengan membacakan sebuah mantera dan meludahkannya pada kepala arwah Laras yang sedang meliuk-liuk layakya seekor ular di depan wajah Jatmiko dan Pak Ade.
“Arrrrrrggggh!!” teriak arwah Laras kesakitan saat ludah Jatmiko mengenai bagian wajahnya.
Jatmiko dan Pak Ade membuka matanya dan memperhatikan apa yang terjadi dengan arwah Laras. Ternyata wajah Laras yang terkena semburan air ludah bermantera Jatmiko itu menajdi terbakar dan mengelupas. Jatmiko pun melangkah secara perlahan mendekati pintu rumahnya ketika arwah Laras sedang meraung kesakitan.
“Hebat juga, kamu!” teria arwah Laras setelah wajah rusaknya kembali pulih. Kali ini badan ular itu pun bergerak memutar dan berusaha membelit tubuh Jatmiko dan Pak Ade yang sudah hampir sampai di pintu rumah. Pandangan Jatmiko dan Pak Ade pun terbatas akibat terhalang oleh badan ular raksasa itu. Hanya ke arah atas mereka dapat melihat. Dan benar saja, sesaat kemudian mereka mendengar suara teriakan arwah Laras dari atas kepala mereka.
“Rasakan ini Jatmiko dan Pak Ade!” teriak arwah Laras dengan sangat kencang.
Jatmiko dan Pak Ade pun mendongak ke atas dan mereka terkejut karena melihat bagian kepala ular raksasa itu sedang menukik dari atas kepala mereka dengan mulut terbuka dan napak sangat menyeramkan.
“Tidaaaaaaaaak!!!!” teriak Pak Ade ketakutan.
BERSAMBUNG
Cara ikutan kuis berhadiah pulsa 20 ribu untuk 3 orang pemenang :
1. buka novel berjudul KAMPUNG HANTU
2. Berikan like dan komentar di setiap bab mulai dari BAB 1 sd BAB extra 4
__ADS_1