MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 20 : CEMAS


__ADS_3

Terima kasih kepada Anda yang sudah setia mengikuti alur cerita MARANTI.


Khusus yang selalu memberikan like, Anda memang luar biasa. Apalagi yang aktif menulis komentar. Semoga enteng jodoh, murah rejeki, dan banyak anak.


Langsung cekidot saja, deh ...


Keesokan harinya, kami bertiga bangun kesiangan. Sangat mepet dengan waktu terbitnya matahari. Sungguh suatu kebiasaan yang tidak pernah kami lakukan sejak dulu. Karena dalam keluarga kecil kami selalu dibiasakan bangun sebelum atau pada saat azan Subuh. Tapi, gara-gara pocong semalam, kami bertiga jadi telat bangun.


"Pocong kampret!"


Kondisi Nur memang sudah baikan. Makanya anak itu memaksa untuk diperbolehkan masuk sekolah. Mas Diki yang awalnya kekeuh menyuruh Nur untuk istirahat selama beberapa hari akhirnya mengalah pada Nur. Nur beralasan, dia takut kalau harus berada di rumah hanya berdua saja denganku


Soalnya, pocong itu ternyata takutnya hanya pada suamiku saja. Buktinya, tadi malam ia masih nongol saja meskipun ada aku bersama Nur di kamarnya.


Ada pemandangan janggal pagi itu di rumahku. Kami yang biasanya mempersiapkan keperluan sendiri, tapi khusus pagi itu, kami minta Mas Diki mendampingi kami berdua baik saat memasak, mandi, maupun saat berganti pakaian. Untunglah kami bertiga masih ada hubungan muhrim, jadi tidak terlalu malu. Yang paling lucu adalah ketika tiba giliran Mas Diki yang harus mandi, kami berdua berjaga di depan pintu kamar mandi. Bukan karena kami sedang menjaga Mas Diki dari gangguan pocong, melainkan kami berdua sengaja berdiri di depan pintu supaya kalau pocong itu datang lagi, Mas Diki tidak jauh-jauh untuk segera menghalaunya.


Meskipun kondisi badanku masih belum fit betul. Hari itu, aku juga memutuskan untuk ikut suamiku ke pasar. Pikirku, lebih baik aku di pasar meskipun kecapekan, daripada harus sendirian di rumah dan diganggu pocong sialan itu.


Kami bertiga sudah bersiap meninggalkan rumah. Aku membonceng suamiku, sedangkan Nur naik kendaraan sendiri.


"Pak, temani Nur sampai di dekat sekolah, ya?" teriak anak semata wayang kami itu.


"Iya, Nak!" jawab kami berdua.


Kami pun naik kendaraan secara beriringan sampai di sekolah Nur tersebut. Setelah memperhatikan Nur masuk ke gerbang sekolahnya, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju pasar.


"Berarti kita lewat jalan kemarin, ya, Mas?" tanyaku pada Mas Diki.


"Iya, Dik. Kalau harus lewat jalan biasanya, tambah jauh. Bisa-Bisa kita telat sampai di pasar. Kasian Siti kelamaan menunggu kita berdua," jawab suamiku.


"Nanti Nur katanya sehabis pulang sekolah, nggak mau pulang ke rumah, Mas. Dia mau ke toko juga," ujarku.


"Ya sudah nggak apa-apa," jawab suamiku.


"Tapi aman, kan, Mas jalan dari sekolah Nur ke toko?" tanyaku cemas.


"Amanlah, Dik. Mas dulu waktu seusia dia juga sering lewat jalan ini, kok!" jawab suamiku.


"Iya, kemarin lusa Mas sudah cerita," timpalku.


*


Motor yang kami naiki melaju hingga cukup jauh meninggalkan sekolah Nur. Di depan mata kami sudah terhampar sawah nan luas. Di kiri dan kanan sesekali kami temui para petani yang sedang bekerja di sawah. Tak terasa akhirnya kami sampai di depan rumah yang berada di tengah-tengah sawah agak jauh dari pemukiman warga yang lain.


"PAK HANDOKO," ejaku kembali saat kendaraan yang kami naiki berdua melintas tepat di depan rumah tersebut.

__ADS_1


Mas Diki tetap memandang lurus ke depan, ketika kami melalui rumah tersebut. Sedangkan aku sebaliknya, pandangan mataku sibuk mencari-cari sesuatu di rumah itu.


DEG!


Pandanganku bertumbuk pada sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang seketika.


"Mas!!!" panggilku pada suamiku.


"Apa, Dik?" tanyanya.


"Pak Handoko itu badannya tinggi besar, ya?" tanyaku.


"Kok, kamu tahu, Dik?" Mas Diki kembali bertanya.


"I-i-iya, Mas. Barusan saya tanpa sengaja melihat sesorang dengan ciri tubuh seperti itu sedang berdiri menghadap ke belakang," jawabku.


"Ah masa, Dik?" tanya Mas Diki tidak percaya.


"Iya, Mas. Saya melihatnya barusan. Ia sedang berdiri dengan mengenakan capil," jawabku.


"Capil warna merah, ya, Dik?" tanya suamiku.


"Iya, Mas. Betul," jawabku.


"Berarti itu beneran Pak Handoko, Dik. Karena setiap saya lewat tempat itu, saya pasti melihat dia dengan capil berwarna merah tersebut. Mungkin itu warna kesukaannya. Wah, berarti Pak Handoko masih hidup. Kapan-Kapan kita mampir ke sana, ya, Dik?" cerocos suamiku.


"Ya Tuhan ... tolong jaga anakku ...,"


Seharian berada di toko, pikiranku menjadi tidak tenang. Aku khawatir pocong itu masih mengganggu anakku di sekolahnya. Dan entah kenapa, aku juga khawatir kalau anakku harus lewat rumah tengah sawah itu. Seperti ada yang berbisik di telingaku bahwa rumah di tengah sawah itu berbahaya untuk anakku.


"Mas, jam berapa ini?" tanyaku pada suamiku.


"Jam dua belas, Dik. Kenapa kok tanya jam terus mulai tadi?" Suamiku balik bertanya.


"Saya khawatir sama Nur, Mas. Apa tidak sebaiknya dia dijemput?" Aku bertanya lagi.


"Insyaallah tidak akan terjadi apa-apa, Dik. Jalan tadi pada jam-jam kepulangan Nur dari sekolah, cukup rame kok! Lagipula kamu lihat kan, pembeli banyak banget, tuh. Kalau ditinggal Siti pasti kewalahan," jawab suamiku.


"Biar saya yang menjemput anak itu, ya?" Aku bertanya.


"Jangan, Dik! Setir motornya sedang kurang enak. Kamu bisa jatuh kalau harus menyetirnya. Saya belum sempat membawanya ke bengkel. Sudahlah, kamu tenangkan dirimu saja. Tidak akan terjadi apa-apa pada anak itu," jawab Mas Diki.


"Ya Tuhan ... kenapa semua serba kebetulan begini, ya? Pikiranku semakin tidak tenang kalau begini. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan terjadi pada anak kami,"


*

__ADS_1


TENG!


Jam dinding tua peninggalan Yu Darmi di tokonya berbunyi sebanyak satu kali sebagai tanda bahwa saat ini sudah pukul satu siang. Mataku mondar-mandir menatap ujung gang antar stan yang letaknya sekitar sepuluh meter di depan toko ini.


"Mas, kok belum nongol-nongol, ya, anak itu?" tanyaku dengan penuh kecemasan.


"Tunggu sebentar lagi, Dik. Dari sekolahnya ke sini cukup jauh lo!" jawab suamiku.


Semenit rasanya sejam. Itu yang kurasakan saat itu. Pikiranku sudah campur aduk karena yang ditunggu tidak nongol-nongol juga.


Semenit ... dua menit ... satu jam ...


Batang hidung anakku tak juga muncul di toko kami. Jam dinding tua itu pun berdetak sebanyak dua kali sebagai tanda bahwa sekarnag sudah pukul dua siang.


"Dik, kok Nur nggak datang-datang, ya?" Kini giliran suamiku yang cemas.


"Mas, ayo kita susul dia ke sekolah!" ucapku dengan suara agak parau.


Mas Diki berjalan menuju Siti yang sedang sibuk melayani pembeli.


"Siti!!" panggilnya.


"Iya, Mas!" jawabnya.


"Saya dan Mbak Sinta mau menjemput Nur di sekolahnya. Kalau sampai jam empat, kami berdua belum balik. Kamu tutup saja tokonya, ya!" perintah suamiku.


"Kalau misalnya Nur tiba-tiba datang salioan dengan sampean berdua, bagaimana?" tanya Siti.


"Ya, kamu bisa kabari saya lewat WA," jawab suamiku.


"Loh, emangnya Nur tidak bawa HP?" tanya Siti lagi.


"Enggaklah, Siti. Kami memang sengaja tidak memberikan HP untuk anak itu. Selain dilarang dibawa ke sekolah, kami juga tidak mau anak itu kecanduan HP," jawabku.


"Iya, Mbak. Tugas siap saya laksanakan!" jawab Siti dengan nada penuh semangat.


Kami pun bergegas menaiki motor menuju ke sekolah Nur melalui jalan tengah sawah seperti tadi pagi.


Bersambung


Menurut Anda, apa yang terjadi dengan Nur, ya?


Sampai jumpa pada episode selanjutnya. Jangan lupa untuk menyimpan novel ini di koleksi Anda agar tidak ketinggalan up-datenya!


Salam seram bahagia

__ADS_1


I love you all ...


__ADS_2