MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 90 : SAMBUTAN


__ADS_3

Jatmiko muncul dari dalam rumah menyambut kedatangan Bu Nisa dan Pak Ade.


“Maaf, kami berdua baru saja selesai melakukan ritual kecil di dalam. Jadi, kami tidak langsung membuka pintu begitu kalian datang,” ucap Jatmiko dengan nada lemah.


“Iya, tidak apa-apa, Mas Jatmiko. Kami yang mohon maaf karena telah mengganggu ritual yang kalian lakukan,” balas Bu Nisa.


“Silakan masuk! Ibuku sudah menunggu kalian di ruang tengah,” ucap Jatmiko.


“Iya. Sekali lagi terima kasih, Mas Jatmiko. Kalau tidak ada mas Jatmiko dan Ibu, entahlah kami tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi,” jawab Bu Nisa.


“Tidak usah berkata seperti itu. Kalian sudah aku anggap seperti saudara kandungku sendiri. Ade, gimana keadaan kamu? Apa kamu sudah pulih total?” jawab Jatmiko.


“Belum, Jat. Tapi, kondisiku sudah mendingan dibanding kemarin,” jawab Pak Ade.


“Kalau belum pulih betul kenapa kamu memaksa pulang dari rumah sakit?” tanya Jatmiko.


“Kamu itu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, Jat? Semalam itu aku, istriku, dan Revan hampir mati karena ketakutan didatangi hantu itu,” jawab Jatmiko.


“Ha ha ha ... Cuma ditakuti saja kamu sudah ketakutan, De? Bagaimana besok malam ketika khasiat jampi-jampi itu sudah hilang setelah magrib?” goda Jatmiko.


“Tidak usah bercanda kamu, Jat. Bukan hanya aku yang diganggu hantu itu, tapi juga istriku dan Revan,” jawab Pak Ade dengan ngotot.


“Oke ... Untuk itulah barusan aku dan ibuku melakukan ritual untuk memagari rumah ini agar malam ini kalian bertiga bisa beristirahat dengan tenang,” jawab Jatmiko.


“Nah, begitu dong! Itu baru sahabat yang baik. Bukannya malah membiarkan atau mengolok temannya yang hampir sekarat karena ketakutan,” jawab Pak Ade.


Jatmiko pun merangkul temannya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


“Selamat datang di rumah kenangan masa kecil kita, Ade!” bisik Jatmiko.


“Heh, kamu bikin aku sedih, Jat. Aku jadi ingat mendiang ibuku dan mendiang bapakmu,” jawab Pak Ade.


“Iya, De. Masa itu benar-benar berharga dalam hidupku. Dulu, kita sering kejar-kejaran di tegalan Pak Lurah, ya?” jawab Jatmiko.


“Sore sebelum berangkat mengaji di Mesjid Baiturrohim biasanya kita main dulu di sungai. Sekarang Mesjidnya sudah tidak beroperasi lagi, ya?” tanya Pak Ade.


“Iya, De. Waktu itu sebenarnya sudah jarang orang yang pergi ke Mesjid, ya? Terakhir sih almarhum bapak yang selalu ke sana untuk beribadah dan membersihkan. Begitu bapak sudah meninggal, sudah tidak ada yang mau merawatnya lagi. Ya, kamu tahu sendiri masyarakat di sini semakin ke sini semakin jarang yang ke Mesjid,” jawab Jatmiko.


“Termasuk kita berdua, ya? Kita ke Mesjid karena ada almarhum bapak kamu saja yang mau mengajari kita mengaji. Begitu kita sudah semakin besar, sudah males untuk beribadah. He he he ...,” jawab Pak Ade.


“Iya, De. Terlebih ibuku sama sekali tidak mendukungku untuk rutin beribadah seperti bapak. Bapak juga kurang tegas dalam menghadapi ibu. Ya sudah, semakin besar aku juga semakin jarang beribadah. Bahkan sekarang sudah tidak sama sekali,” jawab Jatmiko.


“Jat, mukamu kok kayak nggak bertenaga? Kamu kenapa?” tanya Pak Ade.


“Kelihatan ya, De?” tanya Jatmiko.


“Iya, Jat. Emangnya kamu benar sedang ada masalah?” tanya Pak Ade.


“Iya, De,” jawab Jatmiko.


“Masalah apa, jat?” tanya Pak Ade.


Pak Ade mengajak Jatmiko duduk di ruang tamu sementara Bu Nisa dan Revan terus masuk ke ruang tengah.


“Coba kamu ceritakan masalahmu, Jat! Siapa tahu aku masih bisa membantu. Jangan disimpan sendiri biar ada gunanya ada aku sebagai temanmu,” ujar Pak Ade.


“De, ternyata aku ini bukan anak kandung almarhum bapakku ...,” ujar jatmiko dengan nada sedih.


“Apa, Jat? Aku tidak salah dengar, kan?” tanya Pak Ade dengan penuh antusias.


“Tidak, De.Apa yang kamu dengar barusan itu memang yang sebenarnya terjadi. Ibuku kemarin yang mengatakan kepadaku bahwa aku ini adalah anak kandung Ki santo,” jawab Jatmiko.


“Ki Santo dukun sakti yang meninggal dimakan buaya itu?” tanya Pak Ade memastikan.


“Iya, benar, Ade. Ki Santo sahabatnya Pak Kades Sukmo itu. Dan juga sekaligus suami ritual ibuku,” jawab Jatmiko dengan nada semakin sedih.


“Suami ritual? Apa itu, Jat? Aku kok tidak mengerti apa yang kamu katakan. Setahu aku suami ibumu ya almarhum bapakmu itu. Orang paling agamis di desa Curah Putih ini,” jawab Pak Ade dengan nada tegas.


“Jangan keras-keras, De. Nanti ibuku dengar!” protes Jatmiko.


“Jelaskan apa itu suami ritual, Jat!” desak Pak Ade.


“De, ibuku ... aku ... dan Ki Santo ini adalah keturunan Mbah Artomoyo yang tidak boleh menikah dengan sembarang orang. Kami hanya boleh menikah dengan sesama keturunan Artomoyo atau keturunan Nyi Ayu Kembang yang hari lahirnya sama dengan kita. Jika kami memaksa menikah dengan orang lain maka tidak akan memiliki keturunan. Itulah kenapa selama menikah dengan almarhum bapak, ibuku sering keguguran. Dan pada suatu titik karena desakan keluarga Bapak, akhirnya ibu diam-diam menikah dengan Ki Santo agar bisa memiliki keturunan dan Bapak bisa hidup bahagia beserta keluarga besarnya,” tutur Jatmiko panjang lebar.


“Ya Tuhan ... Kamu yang sabar ya, Jatmiko! Ini memang berat bagi kamu, tapi mau gimana lagi?” jawab Pak Ade.

__ADS_1


“Iya, De. Sebagai anak aku tidak mungkin bisa benci kepada ibuku. Toh, aku tahu sendiri ibuku itu sangat mencintai almarhum bapak. Makanya ia memaksa menikah dengan almarhum bapak meskipun akibatnya ia harus menanggung banyak penderitaan karena konsekuensi atas pilihannya itu. Itulah juga kenapa ibuku melarangku untuk berhubungan dengan perempuan biasa. Ia sedang menyiapkan seorang wanita keturunan Nyi Ayu Kembang yang akan dinikahkan denganku,” jawab Jatmiko.


“Tunggu, Jat! Nyi Ayu Kembang itu apa bukan pemilik makam yang ada di dusun Delima, tempat tinggalku?” tanya Pak Ade.


“Iya, benar, De. Itulah makam Nyi Ayu Kembang. Setelah warga di desa Curah Putih ini banyak yang menolak kehadirannya, konon ia hijrah ke desa Curah Mekar. Tepatnya di dusun Delima,” jawab Jatmiko.


“Ya Tuhan. Dunia ini ternyata tak selebar daun kelor, ya? Kupkir kepindahanku ke dusun Delima sudah jauh dari desa Curah Putih ini. Ternyata malah makam salah satu leluhur di sini ada di dusun Delima,” jawab Pak Ade.


“Iya, De. Sebenarnya antara Nyi Ayu Kembang dan Ki Artomoyo awalnya adalah dua orang yang saling mencintai, De. Tapi, mereka saling bermusuhan karena perbedaan prinsip orang tua. Oh ya, kamu tahu makam Mbah Darmo yang terkenal di desa Curah Putih ini, kan?” tanya jatmiko.


“Iya, Jat. Siapa juga yang nggak tahu makam Mbah Darmo. Sejak dulu sudah banyak orang yang berkunjung untuk mencari kesembuhan di sana. Memangnya kenapa dengan makam Mbah Darmo, Jat? Tanya Pak Ade.


“Mbah Darmo itu adalah orang yang mengadu domba antara keluarga Ki Artomoyo dan Nyi ayu Kembang. Dia yang menjelek-jelekkan kepribadian Ki Artomoyo ke keluarga Nyi Ayu Kembang, padahal waktu itu ki Artomoyo sedang berusaha mempelajari ilmu agama yang dibawa keluarga Nyi Ayu Kembang,” tutur Jatmiko.


“Apa alasan Mbah Darmo melakukan hal itu?” tanya Pak Ade.


“Karena Mbah Darmo itu tahu kalau Nyi Ayu Kembang lahir di hari yang sama dengan Ki Artomoyo. Ia tahu kalau mereka menikah dan memiliki anak maka anaknya akan menjadi orang yang paling sakti mandraguna. Sedangkan saat itu Mbah Darmo sedang semangat-semangatnya mempelajari ilmu perdukunan dari orang tua Ki Artomoyo. Dengan gagalnya mereka menikah, otomatis Mbah Darmo bisa menajdi orang yang paling sakti di kalangan para dukun itu,” jawab Jatmiko.


“Oooooo .... tragis sekali kehidupan mereka, ya?” ujar Pak Ade.


“Iya, De” jawab Jatmiko.


”Ya sudah, Jat. Sekarang kamu nurut saja sama ibumu. Semoga nanti calon yang disiapkan oleh ibumu itu benar-benar cantik dan sayang sama kamu,” jawab Pak Ade.


“Kalau urusan cantik sudah pasti, De. Karena aku pernah melihatnya sewaktu aku masih berusia empat belas tahun,” jawab Jatmiko.


“Oh ya? Coba ceritakan bagaimana kamu bisa ketemu dengan perempuan itu?” tanya Pak Ade.


“Jadi, dulu sewaktu aku masih kecil, ibuku kan kenal baik dengan Ki Santo. Suatu hari ibuku mengajakku ke rumah Ki Santo dengan alasan aku akan dikenalkan dengan seseorang. Ya, aku manut saja. Sesampai di rumah Ki Santo, aku disuruh mengintip ke kamar mandi. Aku juga nggak ngerti kenapa aku disuruh mengintip. Aku Cuma mengikuti saja perintah Ki Santo. Dan ternyata di dalam kamar mandi itu ada seorang anak seusiaku sedang mandi. Orangnya cantik sekali. Sungguh, saking cantiknya aku tidak bisa melupakan wajah orang itu sampai sekarang,” jawab Jatmiko.


“Waduh, kok aneh begitu, ya? Masa anak kecil sudah disuruh mengintip orang mandi? Atau mungkin itu bagian dari ritual yang dilakukan terhadapmu?” ujar Pak Ade.


“Sepertinya begitu, Jat. Karena sebelum mengintip, aku dimandikan dengan air bunga yang baunya sangatwangi. Dan aku sempat syok karena anak yang aku intip itu ternyata tahu kalau aku sedang mengintipnya. Aku pun segera berlari meninggalkan tempat itu karena malu. Anehnya, sampai detik ini aku tidak bisa melupakan wajah anak itu. Aku baru tahu dari ibuku bahwa anak itu lah yang akan dinikahkan denganku. Ibuku juga sudah lama mencari tempat tinggal anak itu,” jawab Jatmiko.


”Berarti anak itu sekarang sudah sama usianya seperti kamu, ya?” tanya Pak Ade.


“Iya, De. Tapi, aku masih tetap mengharapkan anak itu, De. Aku sangat mencintainya,” jawab Jatmiko.


“Iya, Jat. Aku juga berharap kamu bisa segera menikah dan memiliki keturunan dengan istrimu nanti. Kamu sudah siap memiliki anak yang istimewa, Jat?” tanya Pak Ade.


“Ya, itu sudah menjadi konsekuensiku, De. Bukankah setiap pilihan ada konsekuensinya?” tanya Jatmiko.


“Jatmiko ... Ade ... Sini!” teriak ibunya Jatmiko dari ruang tengah.


Pak Ade dan Jatmiko pun tidak menunda waktu untuk segera berjalan menuju ruang tengah. Ibunya Jatmiko sedang duduk menghadap selatan dan di sebelah kiri meja itu ada Bu Nisa. Sementara Revan sedang bermain game di Ponsel ibunya. Anak kecil itu tidak perduli dengan apa yang dibicarakan oleh nenek tua yang biasa dipanggil dengan sebutan Nenek Galuh itu.


Pak Ade dan Jatmiko sudah sampai di ruang tengah.


“Duduk!” perintah Nenek Galuh.


Pak Ade dan Jatmiko langsung duduk berhadapan dengan Bu Nisa.


“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian?” ucap Nenek Galuh.


“Apa yang akan Ibu sampaikan kepada kami?” sahut Pak Ade.


“Nisa ... Ade ... Jatmiko ... Tadi aku dan Jatmiko sudah memagari rumah ini dengan ilmu penangkal arwah Laras. Jadi, mulai nanti malam, kalian bertiga jangan sampai keluar dari rumah ini kalau tidak ingin diganggu oleh Laras. Aku yakin arwah perempuan itu sudah sangat marah kepada kalian!” tutur Nenek Galuh.


“Iya, Bu. Terima kasih banyak atas pertolongan Ibu,” jawab Bu Nisa.


“Tapi, ingat. Penangkal ini hanya berlaku malam ini saja. Besok malam ke manapun kalian pergi, arwah Laras pasti bisa menemukan kalian. Maka dari itu, besok ... aku ... Jatmiko ... dan Ki Santo ... akan melakukan penangkapan terhadap arwah Laras. Dan Kamu Ade yang akan menjadi umpan untuk Laras!” ucap Nenek Galuh dengan tegas.


“Loh, Ki Santo bukannya sudah mati, Bu?” tanya Pak Ade dengan penasaran.


“Tidak, Ade. Yang dulu meninggal dimakan buaya itu bukan Ki Santo, tetapi orang lain yang memang dipakai sebagai pengganti Ki Santo. Hal itu dilakukan untuk menghindari serangan dari orang-orang yang sudah lama mengincar Ki Santo. Ki Santo yang akan memimpin ritual pelenyapan arwah Laras besok. Apa kalian sudah siap?” tanya Nenek Galuh.


“Apa yang harus kami lakukan, Bu?” tanya Pak Ade dengan penasaran.


Nenek Galuh diam sesaat sambil memandangi wajah Pak Ade dan Bu Nisa secara bergantian.


“Pada saat azan Magrib berkumandang dari desa sebelah, Nak Ade sudah harus berada di atas altar menyambut kedatangan arwah Laras,” jawab Nenek Galuh.


“Di atas altar? Di mana itu, Bu?” tanya Pak Ade.


“Altarnya ada di atas bukit di ujung desa ini. Kamu masih ingat kan, De, tempat yang nggak boleh dimasuki siapapun kecuali sesepuh desa ini? Di sanalah altarnya berada. Dan KI Santo juga tinggal di tempat itu,” jawab Nenek Galuh.

__ADS_1


“Kalau saya naik ke atas bukit itu berarti saya tidak akan bisa punya anak lagi, Bu?” tanya Pak Ade.


“Kamu pilih mana? Mati atau punya anak?” desak Nenek Galuh.


“Bagaimana dengan Revan, Bu? Apa dia harus naik ke sana juga?” tanya Pak Ade.


“Kalau kalian ngin Revan semangat, ya Revan harus kalian bawa naik juga ke atas bukit,” jawab Nenek Galuh.


“Tidak! Aku tidak mau Revan menjadi mandul karena melakukan larangan itu!” potong Bu Nisa karena tidak mau nasib buruk menimpa anak semata wayangnya.


“Terlalu berisiko kalau Revan tidak dibawa ke atas, Nisa!” jawab Nenek Galuh.


“Tidak, Bu. Aku tidak mau Revan menanggung hal itu seumur hidupnya. Biarlah, ia tetap di bawah bersamaku. Bukankah Laras hanya ingin membunuh Mas Ade?” jawab Bu Nisa.


“Kamu yakin dengan hal itu, Nisa?” tanya Nek Galuh.


“Aku yakin, Bu. Biarlah aku bersembunyi di bawah bukit itu. Bukankah di sana ada toko yang lama tidak dipakai?” tanya Bu Nisa.


“Baiklah, kalau itu memang keputusanmu. Nanti, biar aku akan memagari tempat persembunyian kalian berdua,” jawab Nenek Galuh.


“Terima kasih, Bu,” jawab Bu Nisa.


“Ada satu hal penting lain yang ingin aku sampaikan kepada kalian,” ujar Nenek Galuh.


“Apa itu, Bu?” tanya Jatmiko.


“Mulai hari ini kalian bertiga tidak usah mandi apalagi keramas. Karena hal itu dapat memperkuat efek jampi-jampi dan pagar gaib yang aku buat bersama Jatmiko,” jawab Nenek Galuh.


“Revan juga, Bu?” tanya Bu Nisa.


“Termasuk Revan” jawab Nenek Galuh.


“Duh, bau deh!” gerutu Bu Nisa.


“Tidak usah mengeluh! Kalian mau selamat ata mati?” omel Nenek Galuh.


“Iya, Bu. Maaf!” jawab Bu Nisa.


“Ya sudah. Sekarang beristirahatlah dengan tenang. Aku lihat kalian capai sekali. Tenang, dengan perpaduan jampi-jampi kemarin dan pagar gaib rumah ini, arwah Laras tidak akan bisa masuk ke dalam rumah ini,” ucap Nenek Galuh.


“Iya. Terima kasih banyak, Bu. Kalau boleh tahu di manakah kami bisa berisirahat?” tanya Bu Nisa.


“Jatmiko! Antar mereka bertiga ke kamarnya!” ucap Nenek Galuh.


“Baik, Bu!” jawab Jatmiko.


Jatmiko pun mengantar mereka bertiga ke kamar tamu yang terletak di bagian depan rumah. Tepatnya di sebelah ruang tengah.


“Ini kamar kalian bertiga! Silakan kalian beristirahat  agar tenaga kalian cepat pulih!” ucap Pak Ade.


“Terima kasih banyak, Jatmiko,” jawab Pak Ade.


“Sama-Sama,” jawab pemuda berusia matang itu.


Mereka bertiga pun berganti baju dengan pakaian yang tidak bikin gerah karena mereka tidak boleh mandi sampai besok malam.


“Mas, aku takut dengan apa yang akan terjadi besok malam terhadap kita,” ucap Bu Nisa pada suaminya.


“Tenang, Dik! Aku yakin Ibunya Jatmiko dan Jatmiko dapat menyelamatkan kita,” jawab Pak Ade.


“Bagaimana kalau perhitungan mereka meleset, Mas?” tanya Bu Nisa.


“Kamu tidak sah berpikir sejauh itu. Yakinlah bahwa kita semua akan selamat,” jawab Pak Ade.


“Mas …,” ucap Bu Nisa dengan nada lemah.


“Apa, Dik?” tanya Pak Ade.


“Maafkan semua kesalahan aku sama Mas Ade, ya?” ucap Bu Nisa.


“Kamu jangan ngomong begitu, Dik!” protes Pak Ade.


“Nasib tidak ada yang tahu, Mas. Kita hanya berusaha, Takdir yang menentukan,” jawab Bu Nisa.


Pak Ade tidak sanggup berkata-kata lagi saat itu. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat agar bisa kembali bugar setelah bangun nanti.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Hm ... sudahkah Anda memberikan like dan komentar di semua BAB novel MARANTI?


__ADS_2