MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 9 : PAK RT


__ADS_3

Mbak Ning nampak ketakutan sekali sewaktu mendengar cerita dariku.


"Mbak, sampean nggak apa-apa?" tanyaku sambil mendekat ke arah Mbakyuku itu.


"Dik, tolong ambilkan saya minum!" jawabnya kemudian.


Aku pun segera mengambil segelas air mineral yang tersisa di keranjang air mineral di ruang tengah. Setelah kutusuk bagian atasnya dengan ujung sedotan yang meruncing, gelas air mineral itu pun kusodorkan ke Mbak Ning. Ia pun segera mengambil dan menyedot isinya dengan agak kuat sehingga tak lama kemudian air mineral di dalam gelas itu pun tinggal seperempatnya. Setelahnya ia pun menjadi lebih tenang dan mulai berbicara kembali.


"Makasih, Dik Sin. Benda aneh yang kamu lihat semalam itu sama dengan yang saya lihat sekitar satu bulan sebelum ibu meninggal, Dik," ujarnya kemudian dengan diakhiri embusan napas yang cukup kuat sebagai tanda bahwa hatinya sangat risau dengan hal yang aku ceritakan barusan.


"Kenapa Mbak Ning baru ngomong sekarang ke saya? Kira-Kira itu benda apa, Mbak? Dan siapa yang meletakkannya di sana?" tanyaku penasaran.


"Mungkin itu semacam santet atau semacamnya, entahlah saya tidak begitu paham hal seperti itu. Yang jelas saya pernah melihatnya sebulan yang lalu. Waktu itu ibu sedang tertidur dan Mas Wisnu pas nggak enak badan. Tengah malam saya mengompres Mas Wisnu yang sedang demam. Setelahnya saya mendengar ada bunyi ledakan kecil dari arah depan rumah. Karena penasaran saya pun mengintipnya melalui jendela sama persis dengan yang kamu lakukan. Pas saya intip saya melihat di tengah halaman ada benda yang mengeluarkan asap dan ada beberapa bagian yang mengeluarkan lidah api kecil kemudian padam. Waktu itu saya pikir ada anak-anak di sekitar sini yang iseng membakar petasan tengah malam di situ. Meskipun sebenarnya agak aneh juga masa bentuk petasan seperti itu. Tapi, saya tidak punya alasan masuk akal yang lain selain menganggap itu petasan. Sebelum akhirnya ibu mendadak meninggal kemarin lusa" tutur Mbak Ning panjang lebar.


"Apa itu benar-benar santet seperti yang Mbak Ning kira? Atau itu memang hanya buah keisengan anak kecil di sekitar sini?" tanyaku lagi.


"Entahlah, Mbak. Tapi, anak-anak di sini biasanya tidak seperti itu. Lagipula Ikbal itu sangat disungkani oleh anak-anak sekitar sini. Mulai anak kecil sampai remaja semuanya dekat dengan Ikbal. Rasanya tidak mungkin kalau ada anak kecil yang melakukan hal itu," bantah Mbak Ning.


"Saya juga sempat mengira kalau itu perbuatan perampok yang berusaha memancing pemilik rumah untuk keluar rumah agar memudahkan mereka melakukan aksi perampokan," balasku.


"Bisa juga begitu, Mbak. Tapi saya kok curiga itu memang santet ya, Dik? Nyawa siapa lagi yang akan diambil setelah ibuku?" cetus Mbak Ning.


"Hus! Tidak baik berkata seperti itu. Nyawa kita ini hanya milik Allah SWT. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengambilnya selain karena izin Allah SWT, termasuk setan," timpalku.


"Iya, Dik. Tapi saya takut itu benar-benar santet yang berusaha untuk mencelakai penghuni rumah ini," jawabnya.


"Hm ... Gimana ya, Mbak, caranya untuk memastikan benda apakah itu?" Aku bertanya pada Mbak Ning.

__ADS_1


"Hm ...," Mbak Ning berpikir keras.


Tiba-Tiba Mas Wisnu keluar dari kamarnya dan berkata, "Bukankah rumah Pak RT ada CCTV-nya? Jalan akses ke rumah ini kan pasti lewat depan rumah Pak RT. Kalau seperti yang diceritakan Dik Sinta barusan bahwa abu bekas pembakarannya juga lenyap, pastinya ada orang yang seliwar-seliwer lewat depan rumah Pak RT untuk mengambilnya."


Kami berdua tertegun mendengar jawaban Mas Wisnu.


"Iya, Dik Sin. Saya baru ingat bahwa Pak RT memang memasang CCTV di depan rumahnya. Kata Pak RT itu titipan dari pemerintah desa terkait program 'Satu RT Satu CCTV'," ujar Mbak Ning.


"Nah, kita lihat saja ke sana, Mbak. Kalau memang nanti ketahuan ada orang iseng melakukan hal itu biar kita laporkan sekalian ke Pak RT karena hal itu sama saja dengan membuat teror di wilayahnya," timpalku.


"Iya, benar, Dik. Habis ini kita ke sana saja, Dik. Mumpung Pak RT belum berangkat kerja. Toh, jam segini para tetangga belum ada yang datang untuk membantu memasak di dapur. Sekalian nanti pulangnya saya mau belanja bawang merah dan bawang putih di warung Bu Salim sebelahnya Pak RT," ajak Mbak Ning.


"Oke, Mbak. Kita selesaikan dulu beres-beresnya. Saya juga penasaran, siapa sih yang iseng melakukan hal itu kepada sampean. Kayak nggak ada kerjaan saja bikin orang bingung," balasku.


Kami berdua pun melanjutkan pekerjaan untuk bersih-bersih rumah. Kurang lebih lima belas menit kemudian pekerjaan kami pun selesai dikerjakan. Kami berdua pun segera berangkat ke rumah Pak RT dengan baju seadanya.


"Waalaikumsalam ... Eh, sampean Ningrum. Tumben pagi-pagi sudah bertandang ke rumah. Hm ... kalau tidak salah ini ...," sapa Pak RT.


"Sinta," potong Mbak Ning.


"Iya, Sinta. Saya baru ingat," sahut Pak RT.


Aku hanya mengangguk saja ketika dibicarakan oleh mereka berdua soalnya jujur saya baru tahu ternyata orang yang disebut Pak RT oleh Mas Wisnu dan Mbak Ningsih ternyata adalah Mas Galih yang dulu sering menggodaku setiap aku menginap di rumah Bude Yati. Kalau saja aku tahu hal itu, mungkin aku nggak usah ikut saja ke rumah Mas Galih ini. Bikin aku jadi tengsin saja Mbak Ning ini.


"Monggo, silakan duduk Ningrum dan .... Sinta," sapa Pak RT sambil tersenyum kepadaku.


"Mbak Ning ... Mbak Ning ... kamu kok nggak bilang-bilang sih mau mengajakku ke sini. Kayaknya kamu sengaja deh. Soalnya kamu kan juga tahu dulu aku dan Mas Galih ini sempat dekat meski nggak pacaran. Awas kamu Mbak!" ucapku di dalam hati.

__ADS_1


"Mbak Riska ke mana, Pak RT?" tanya Mbak Ning memecah keheningan.


"Ah, jangan panggil Pak RT lah. Kita kan seumuran. Panggil saja Galih. Bukan begitu Dik ... eh Sinta?" balas Pak RT dengan ramahnya.


Aku hanya tersenyum kecut dengan ucapan Pak RT itu. Jujur, aku jadi kikuk saat itu.


"Oke, kemana Mbak Riska dan anak-anak?" ulang Mbak Ning.


"Mereka menginap di rumah mertua," jawab Pak RT kalem.


"Tapi, kok kayaknya saya sudah agak lama tidak melihat mereka di sekitar sini?" tanya Mbak Ning lagi.


Tampak Pak RT berpikir sesaat. Pandangannya terlihat kosong.


"Hm ... Riska ngambek, Ning. Sudah dua minggu ini Riska dan anak-anak tidak pulang ke rumah. Mereka tinggal di rumah orang tuanya Riska," jawab Pak RT lemah.


"Hm .. Maafkan saya sudah bertanya yang tak seharusnya," timpal Mbak Ning.


"Nggak apa-apa, Ning. Saya tahu kamu tidak mungkin menceritakan hal ini kepada tetangga yang lain. Oh ya, ada perlu apa kalian berdua datang ke sini pagi-pagi?" tanya Pak RT sambil bergantian menatap ke arahku dan Mbak Ning.


Entah mengapa setiap menatap ke arahku, Pak RT seperti ingin mengingatkan kenangan masa lalu di antara kami berdua.


BERSAMBUNG


Bagaimana reaksi para Sobat Junan kalau berada di posisi Sinta? Jujur, pernah kayak gitu, nggak?


Like dna komentarnya kutunggu di bab ini

__ADS_1


__ADS_2