
Revan pun menyingkir dari posisinya untuk memberikan ruang bagi ibunya agar dapat membangunkan bapaknya.
“Mas … Mas … Mas…,” panggil Bu Nisa sambil menepuk-nepuk badan Pak Ade.
Pak Ade tidak bereaksi apa-apa. Kemungkinan saat itu ia benar-benar sedang lelah.
“Mas … Mas … Mas …,” Bu Nisa mengulangi lagi aksinya dengan suara dan tepukan yang lebih keras.
“Eeeeerrrrh ….” Pak Ade mulai bereaksi dengan tepukan dan panggilan Bu Nisa.
“Mas bangun! Bangun, Mas!” panggil Bu Nisa lagi untuk membangunkan ayahnya Revan itu.
“Aaaaaargh …,” sahut Pak Ade dengan mata mulai dibuka, tapi ia belum sadar betul saat itu.
Selama beberapa saat Pak Ade menatap wajah Bu Nisa yang ada di depannya saat itu. Dan ia pun sudah menemukan kesadarannya. Dilihatnya Revan sedang meringkuk di bagian ujung kasur.
“Ada apa, Dik? Kenapa kalian berdua tidak tidur?” tanya Pak Ade secara beruntun begitu ia sudah sadar betul dan melihat kedua anggota keluarganya dalam posisi yang tidak biasa.
“Mas, Revan sakit perut!” jawab Bu Nisa tegas setelah ia yakin bahwa suaminya sudah benar-benar sadar untuk diajak berbicara.
“Apaaaaa? Benar kamu sakit perut, Revan?” tanya Pak Ade sambil bangun dari tidurnya. Ia pun memegangi pundak Revan yang sedang menahan sakit.
“I-iya, Pak. Revan sakit perut. Revan ingin buang air besar,” jawab Revan dengan napas terengah karena energinya habis akbat menahan sakit perut sejak satu jam yang lalu.
“Revan, kamu tahu, kan, kamar mandi di dalam rumah ini sedang rusak? Dan kamu juga sudah tahu, kan, kalau untuk malam ini kita nggak boleh keluar dari rumah ini? Kamar mandi di luar itu tidak aman digunakan malam ini,” jawab Pak Ade dengan suara tegas.
“Mas!” tegur Bu Nisa pada saat itu karena ia merasa suaminya bersuara terlalu keras yang dapat mengacaukan perasaan dan mental anak semata wayang mereka itu.
__ADS_1
“I-iya, Pak. Makanya sejak tadi aku sudah menahan agar aku bisa menunda buang air besarnya pagi saja. Tapi,aku tidak sanggup menahannya, Pak. Perutku benar-benar mulas!” jawab Revan sambil menahan sakit di perutnya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Mas? Kasihan Revan kalau dia harus menahan sakit perutnya lebih lama lagi,” ucap Bu Nisa dengan ekspresi wajah memelas.
“Di dapur tadi apa kamu melihat ada stok air, Dik? Mungkin kita bisa memanfaatkan kamar mandi yang rusak itu dulu untuk sementara,” tanya Pak Ade pada istrinya.
“Nggak ada, Mas! Tadi itu airnya sudah tinggal sedikit waktu aku ambil,” jawab Bu Nisa dengan ekspresi panik.
“Duh, gimana ini, ya? Apa aku sebaiknya membangunkan Jatmiko saja agar bisa menemani kita? Aku yakin kalau ada Jatmiko, kita akan merasa lebih aman,” ujar Pak Ade.
“Tidak, Mas! Nggak enak sama mereka. Tadi, sebelum mereka tidur, ibunya Jatmiko bilang bahwa ia akan beristirahat agar bisa menghadapi kegiatan besok pagi yang akan menyita energi dan pikiran secara luar biasa,” jawab Bu Nisa sambil menahan tangan Pak Ade yang mau beranjak menuju kamar Jatmiko.
“Terus? Apa yang harus kita lakukan sekarang, Dik?” tanya Pak Ade balik pada Bu Nisa.
Bu Nisa hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendapat pertanyaan yang menyulitkan dari suaminya itu.
“Entahlah, Mas! Aku juga bingung. Ms Jatmiko dan ibunya sudah banyak kita repotkan,” jawab Bu Nisa.
Prooooot!!!
Kembali terdengar suara kentut dari ***** anak kecil itu. Kali ini baunya semakin tidak karuan dan tentu saja membuat Pak Ade dan Bu Nisa menjadi belingsatan.
“Uwek! Bau banget kentutmu, Revan!” keluh Pak Ade.
“Uwek! Ngomong-Ngomong dong kalau mau kentut! Nggak sopan banget kamu, Nak!” omel Bu Nisa.
“Maaf, Pak … Bu … Kentutnya keluar sendiri padahal sudah aku tahan. Aduh! Kayaknya, aku sudah nggak tahan lagi sekarang, Bu. Bisa-Bisa aku kecirit habis ini,” jawab Revan dengan suara menahan sakit di perutnya.
__ADS_1
“Ayo! Kita keluar bareng ke kamar mandi!” sahut Pak Ade secara refleks.
Revan dan Bu Nisa terperagah mendapat jawaban mengejutkan dari Pak Ade. Mereka tidak percaya bahwa pria itu akan mengatakan hal itu.
“Apa Mas?” tanya Bu Nisa meminta kepastian jawaban dari suaminya.
Revan hanya diam sambil menunggu jawaban bapaknya. Baginya saat itu yang lebih menyeramkan bukanlah hantu wanita itu melainkan kalau ia nanti kecirit di atas kasur. Karena hal itu akan menjadi aib yang akan ia bawa seumur hidup.
“Iya, Dik. Ayo, kita antar Revan buang air besar di kamar mandi di luar rumah ini,” jawab Pak Ade dengan suara pelan.
Bu Nisa masih menatap dalam-dalam wajah suaminya yang selama ini kadang lebih penakut darinya itu. Namun, di satu sisi kadang pria itu juga masih bisa memberi langkah strategis di titik-titik tersulit seperti yang sedang mereka hadapi saat ini.
“Mas yakin?” tanya Bu Nisa lagi sambil menatap dalam-dalam wajah Pak Ade.
“Iya, Dik. Kita tidak punya pilihan lain,” jawab Pak Ade.
“Tapi, Mas. Bagaimana kalau?” Bu Nisa masih mempertanyakan keputusan suaminya yang cukup ekstrim itu.
“Sudah! Jangan kamu pikirkan hal itu! Ayo, kita segera antar Revan ke kamar mandi!” jawab Pak Ade sambil menutup mulut istrinya dengan menggunakan tangan kanannya agar perempuan itu tidak menyebut arwah perempuan itu. Karena Pak Ade tahu bahwa kekuatan arwahitu akan semakin meningkat kalau dipikirkan atau dibicarakan oleh mereka. Namun, satu hal yang terjadi pada Pak Ade saat itu, ketika ia melarang istrinya menyebut nama arwah Laras, pada saat itu juga justeru ia sendiri sedang memikirkan arwah Laras dan pada saat yang sama telinganya langsung dapat mendengar suara-suara aneh dari luar rumah. Pak Ade sadar itu akibat dari pikirannya sendiri. Maka dari itu ia pun membuang jauh-jauh pikiran tentang Laras dan memikirkan tentang hal lain yang lucu seperti kenangan saat Revan masih kecil dan pernah mengencingi wajahnya. Dan ternyata hal itu efektif membuat suara-suara aneh di luar rumah hilang seketika.
Pak Ade pun turun dari tempat tidur dan ia pun membimbing Revan untuk turun dari tempat tidur juga.
“Ayo, Revan! Kita jalan-jalan ke kamar mandi!” ucap Pak Ade sambil tersenyum ke arah Revan.
Bu Nisa dan Revan awalnya bungung dengan ucapan pria itu yang terkesan aneh. Namun,setelah mereka berpikir sejenak dan mengerti maksud Pak Ade berkata seperti itu, mereka berdua pun menjawab ajakan Pak Ade dengan kompak.
“Ayo!” jawab mereka berdua sambil menyungging senyuman.
__ADS_1
Mereka bertiga pun secara bersama-sama keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu depan. Wajah mereka nampak sumringah saat itu. Mereka bertiga tidak menyadari bahwa di luar rumah itu, mereka sudah ditunggu oleh sesosok bayangan yang sudah lama mengincar keselamatan mereka bertiga.
BERSAMBUNG