
Dengan adanya kematian Pak Hartono, otomatis ada dua acara tahlilan di dusun Delima. Setelah dirundingkan oleh Ustad Andi dan pengurus RW setempat, akhirnya diputuskan bahwa acara doa dan tahlil di rumah Pak Herman digeser menjadi sore hari setelah salat Asar dan acara tahlilan di rumah Bu Reni diadakan setelah salat Magrib.
Desas-desus tentang kematian misterius Pak Hartono menjadi buah bibir di masyarakat. Mereka membuat spekulasi sendiri tentang kematian Pak Hartono. Namun, sebagian ada juga yang mengaitkannya dengan munculnya arwah Laras di dusun Delima. Meskipun bukti konkret tidak ada dan hanya didasarkan dari cerita mulut ke mulut, namun pergunjingan tersebut dianggap benar bagi masyarakat dusun Delima. Tak ayal lagi, jumlah orang yang ikut tahlilan di rumah Bu Dewi semakin lama semakin menurun. Dan yang berani lewat di depan rumah Laras hanya orang-orang tertentu saja seperti Ustad Andi atau keluarga Pak Herman sendiri.
Malam itu Bu Dewi tidak bisa tidur nyenyak karena Panji rewel. Bu Dewi memegang kepala anak itu dan ternyata tidak panas. Akhirnya Bu Dewi pun menggendong Panji di dalam kamar, tapi Panji tetap saja rewel dan minta ke luar kamar. Karena tak ingin Panji semakin rewel, Bu Dewi pun memberanikan diri keluar dari kamar padahal saat itu sudah pukul sepuluh malam. Sudah tidak ada lagi warga di dusun Delima yang berani keluar malam-malam sejak berhembusnya isu hantu Laras.
"Ayo bubuk, Nak!" rayu Bu dewi pada Panji.
Di luar kamar Panji tetap rewel. Tangannya menunjuk ke arah luar rumah. Bu Dewi mengatakan kepada Panji kalau sudah malam dan di luar nggak ada orang. Namun, Panji tetap saja merengek dan tangannya tetap menunjuk ke arah luar.
"Ayo, Nak. Besok saja kita main di luar!" rayu Bu Dewi lagi.
Panji tidak menggubris omongan ibu angkatnya itu. Ia tetap saja menangis dan tangannya menunjuk ke arah pintu. Bu Dewi pun mencoba menelpon suaminya agar segera pulang, tapi Ponsel suaminya dalam keadaan tidak aktif.
"Mas Herman ini ke mana aja sih? Kok, hapenya dimatikan?" gerutu Bu Dewi pada dirinya sendiri.
"Mamammamamam ...." Panji terus merengek minta keluar dari rumah.
Karena tidak ingin melihat Panji terus menangis, Bu dewi pun memberanikan diri membuka pintu rumahnya meskipun sudah jam sepuluh malam lebih.
__ADS_1
"Sudah ya, Nak. Sampai di sini saja. Ini pintunya sudah dibuka," ucap Bu Dewi pada Panji.
Namun, Panji tetap saja memaksa untuk keluar dari rumah. Bahkan ia sampai berjingkrak-jingkrak di gendongan Bu Dewi. Bu Dewi pun akhirnya kembali mengalah. Ia membawa keluar Panji dari rumahnya. Hawa dingin langsung menyerang tubuh mereka. Bu Dewi pun menggunakan sisa jarik gendongannya untuk menutupi tubuh Panji agar anak itu tidak masuk angin.
"Nak, kita sudah di luar rumah sekarang. Kita masuk sekarang, yuk! Di sini hawanya dingin sekali. Nanti kamu bisa masuk angin," rayu Bu Dewi pada Panji agar ia mau dibawa masuk kembali ke dalam rumah.
Namun, ternyata meskipun sudah dibawa ke luar rumah, Panji masih saja merengek minta dituruti keinginannya. Tangannya yang kecil terus saja menunjuk. Dan kali ini arah menunjuknya adalah ke rumah Laras.
"Panji, kita nunggu Bapak pulang, ya? Ibu takut kalau jalan-jalan nggak ada Bapak," ujar Bu Dewi pada Panji.
Panji tidak menghiraukan omongan Bu dewi. Ia terus saja menunjuk dan berjingkrak-jingkrak ingin keinginannya dipenuhi. Bu Dewi yang sangat sayang dengan Panji itu pun tidak bisa menolak. Ia pernah melihat Ibnu dulu sewaktu masih kecil juga sering minta keluar tengah malam dan minta diajak jalan-jala keliling dusun Delima. Pikir Bu Dewi, mungkin Panji sekarang sedang mengalami tantrum seperti yang dialami oleh Ibnu dulu.
"Mau ke mana Pak Hartono? Bu Reni? tengah malam begini?" sapa Bu Dewi pada sepasang suami istri itu saat Ibnu masih kecil.
"Duh, ayo bubuk Ibnu. Besok saja mainnya," balas Bu Dewi sambil mencoba menyapa Ibnu yang masih Balita.
"Aaaaaaa ...," Ibnu malah tambah menangis dengan keras dan minta ayah dan ibunya untuk terus menggendongnya berkeliling dusun Delima.
"Panji, oke ibu turuti kamu mau ke mana sekarang. Tapi, janji kamu habis ini harus pulang dan tidur, ya?" sapa Bu Dewi pada Panji.
__ADS_1
Entah mengerti dengan omongan Bu Dewi, Panji mengangguk pelan dan kemudian kembali menunjuk ke arah rumah Laras. Bu Dewi pun menuruti keinginan Panji untuk pergi ke rumah Laras. Di dalam hatinya ia berpikir, kalau sudah tahu rumah itu gelap pasti Panji akan minta pulang. Namun, sampai mereka tiba di depan rumah Laras, Panji masih saja menunjuk ke arah pintu rumah tersebut.
"Panji, di sana gelap. Pulang, yuk!" ucap Bu dewi pada Panji lagi.
Seperti sebelumnya, omongan Bu Dewi tidak dihiraukan oleh anak kecil tersebut. Ia tetap saja menunjuk ke sana. Dan ajaibnya, pintu yang beberapa hari lalu dikunci oleh Bu Dewi mendadak terbuka dengan lebar.
"Astagfirullah!!!" pekik Bu Dewi terkejut karena pintu yang terbuka dengan tiba-tiba itu bersamaan dengan hembusan angin malam yang cukup kencang.
"Apa aku kurang pas pada saat menguncinya, ya? pikir perempuan dewasa tersebut.
Panji terus saja merengek dengan semakin kencang meminta Bu Dewi untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Bu Dewi yang sudah merasa was-was itu pun menuruti keinginan Panji. Toh, rumah itu adalah rumahnya sendiri. Baru saja perempuan itu melangkah memasuki rumah tersebut, tiba-tiba.
Brak!!
Ada sebuah benda jatuh dari bufet yang ada di ruang tamu. Bu Dewi sempat terkejut dengan suara itu. Ia pikir itu suara hantunya Laras seperti perkataan orang-orang. Tapi, ketika ia periksa sekali lagi ternyata itu adalah sebuah potongan buku dengan sampul yang cukup tebal. Karena penasaran, ia pun mengambil buku tersebut dengan tangan kanannya.
"Hiiiiiiii ...." Tiba-Tiba Panji tertawa cekikikan.
Karena Bu Dewi merasa Panji sudah tidak menunjuk-nunjuk lagi. Ia pun membawa lari Panji ke rumahnya dengan berlari sekencang-kencangnya. Selama berlari, Bu Dewi tidak berani menoleh ke belakang.Namun, perempuan itu merasa ada seseorang yang sedang mengejarnya dari arah belakang. Begitu ia sudah sampai di pintu, ia buru-buru menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam. Dan ia pun segera berlari menuju kamarnya dan dengan secepat kilat ia pun mengunci kamarnya. Barulah perempuan itu merasa lebih tenang. Ia menoleh ke arah Panji dan ternyata Panji sudah lelap tertidur di dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ya Allah, Le .... Senangnya melihat kamu tidur nyenyak begini," ucap Bu Dewi sambil mengusap kepala Panji.
BERSAMBUNG