MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 18 : TAK NYATA


__ADS_3

Hampir saja aku menjerit dengan kuat sebelum akhirnya penampakan itu pun menghilang kembali dan menyisakan tubuhku yang berkeringat dingin dan napas ngos-ngosan. Aku berusaha menenangkan diriku kembali sambil berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT. Alhamdulillah, pikiranku menjadi lebih tenang dan aku pun melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda, yaitu mencuci pakaian kotor dengan menggunakan mesin cuci. Sambil menunggu cucian direndam di dalam bak cucian mesin cuci, aku pun menggunakan waktu tersebut untuk menanak nasi dan memasak sayuran dan lauk pauk yang bahannya kuambil dari lemari es. Syukurlah, sebelum azan pertanda datangnya waktu untuk salat Zuhur berkumandang, cucian beres, masakan pun juga beres. Setelah azan berkumandang, aku pun segera menunaikan salat Zuhur dan kemudian aku menyapu seluruh bagian rumah. Syukurlah aku tidak melihat penampakan Bude Yati lagi di rumahku. Aku pun mulai berpikir bahwa apa yang aku lihat tadi tidaklah nyata, melainkan hanya fatamorgana saja karena aku kecapekan dan terlalu memikirkan Bude Yati.


Setelah makan siang, aku pun memilih untuk melihat-lihat isi Ponselku di dalam kamar. Aku iseng melihat status WA orang-orang. Dan aku terkejut sekali ketika membaca status WA milik Bulek Darsih. Bulek Darsih memposting sebuah foto makam seseorang. Di pojok kanan atas foto makam tersebut ada foto seorang perempuan muda berhijab yang sangat cantik. Yang bikin nyesek adalah tulisan caption dari status WA Bulek tersebut, "SELAMAT JALAN. TERIMA KASIH ATAS PENGORBANANMU, DIK.MARISA."


Aku yang membaca tulisan tersebut merasa agak janggal dengan isi tulisannya. Kenapa Bulek Darsih tidak menuliskan 'Innalillahi ...' atau semacamnya? Kenapa ia lebih memilih kata 'Pengorbanan'? Mungkinkah maksudnya adalah pengorbanan Bu Marisa terhadap kemajuan sekolah ataukah pengorbanan yang lain? Entahlah!"


Kemudian aku kembali teringat dengan Mbak Ning. Aku ingin mengetahui kondisi kakak sepupuku itu. Aku pun mengirim pesan kepada Mbak Ning.


"Assalamualaikum. Mbak, gimana? Apakah sudah ke dokter?" bunyi pesan yang kukirim.


"Waalaikumsalam . Alhamdulillah, Dik. Saya sudah periksa," bunyi pesan balasan dari Mbak Ning.


"Gimana hasilnya?"


"Alhamdulillah. Katanya saya hanya kecapekan saja. Disuruh istirahat yang banyak,"


"Sudah dikasih obat, Mbak? Bagaimana efek obatnya?"


"Sudah, Dik. Obatnya macam tiga. Alhamdulillah barusan sudah saya minum. Lumayan enak di badan setelah meminumnya,"


"Alhamdulillah ... Semoga jadi perantara kesembuhan sampean. Oh, ya, Mbak. Apa tetangga sudah ada yang datang membantu?"


"Aamiiin . Sudah, Dik. Kamu mendapat salam dari Mbak Srintil dan Bu Dibyo,"


"Waalaikumsalam. Ya sudah, Mbak. Saya mau melanjutkan ngecek isi video CCTV lagi,"


"Iya, Dik. Saya juga mau bantu Bu Dibyo dan Mbak Srintil di dapur,"


"Jangan capek-capek, ya?"


"Iya, Dik. Insyaallah saya nggak apa-apa,"


"Aamiiiin ...,"


Setelah saling berbalas pesan dengan Mbak Ning, aku pun melanjutkan menonton video CCTV yang dikirim oleh Pak RT. Kupikir, lumayan lah sambil menunggu datangnya waktu salat Asar, aku.masih bisa menonton kurang lebih selama dua jaman. Aku memulai menonton video mulai dari pukul 02.00 sampai 03.30. Agar tidak bosan, aku pun menontonnya sambil mendengarkan musik. Ternyata aku tidak melihat apa-apa di tampilan video CCTV itu. Leherku sampai kaku karena terlalu lama berkonsentrasi menonton video yang menampilkan sesuatu yang sama.


Azan Asar pun berkumandang, aku pun bersiap-siap untuk mandi sore. Setelah mandi sore aku pun menunaikan salat Asar dan membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an. Setelah membaca Al-Qur'an aku merasa lebih tenang dan bersemangat untuk melakukan aktifitas. Aku pun memutuskan untuk menonton televisi sambil menunggu kedatangan suami dan Nur.

__ADS_1


"Mas, ada di mana sekarang?" Aku mengirim pesan kepada Mas Diki sambil menonton acara infotaintmen di salah satu statsiun televisi swasta.


"Lagi di toko terakhir, Dik. Kenapa, kangen tah? Maaf, tadi mas buru-buru berangkat tanpa pamit karena nggak tega melihat Dik Sinta tertidur pulas," jawab Mas Diki.


"Iya. Nggak apa-apa, Mas," jawabku.


"Kamu masak apa, Dik?"


"Cuma masak sayur bening dan goreng tempe plus sambal pete kesukaan Mas Diki,"


"Hm ... sudah tidak sabar untuk menikmati ulekan Dik Sinta,"


"Ulekan sambal pete maksudnya? Buruan pulang, jangan lupa jemput Nur,"


"Emangnya kalau saya pingin ulekan Dik Sinta yang lain apa masih boleh?"


"Hm ... Masih nggak kuat tenaganya, Mas, kalau ngulek yang lain,"


"He he he ... Iya deh,"


"Awas cari ulekan lain!"


"Janji?"


"Iya. Janji,"


"Ya sudah. Hati-Hati di jalan,"


"Makasih, sayang. I miss you,"


"Too,"


Selanjutnya aku kembali melanjutkan menonton acara televisi. Tak lama berselang, aku mendengar ada seseorang mengetok pintu.


Tok Tok Tok


"Siapa?" teriakku dengan tetap duduk di depan televisi dan mengecilkan volumenya.

__ADS_1


Tok Tok Tok


Bunyi ketokan itu lagi.


"Siapa, ya?" teriakku sambil menarik gagang pintu.


Aku melihat ada seorang anak kecil berambut panjang sedang berdiri di depanku. Badannya kurus dan kulitnya sawo matang.


"Bu, saya dan ibu saya sedang kehausan. Bolehkah saya minta air minum?" ucap anak kecil itu.


"Ada, Nak. Ayo masuk ke dalam! Apa kamu membawa botol?" tanyaku.


Anak itu menggeleng.


"Saya tunggu di sini saja," jawab anak kecil itu lemah.


Aku pun bergegas menuju ruang tengah untuk mengambil air kemasan yang biasa aku simpan di lemari es. Mas Diki kadang-kadang kalau bersepeda minta dibawakan air mineral dingin. Segera kuambil dua botol air mineral ukuran tanggung dari rak lemari es. Aku juga mengambil sebungkus roti kismis yang kapan hari aku simpan di sana. Aku mengecek tanggal expirednya, ternyata masih ada waktu tiga hari lagi. Setelah mengambil kresek hitam sebagai bungkus air mineral dan roti kismis, aku pun berjalan segera menuju pintu. Anak kecil sekitar sembilan tahunan itu ternyata masih menunggu di sana.


"Nak, ini saya bawakan satu bungkus roti juga. Tolong segera dimakan, ya, karena tanggal expirednya sudah tiga hari lagi," seruku pada anak perempuan itu.


"Wah, terima kasih banyak atas sedekahnya, ya, Bu. Sedekah seperti inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh aku dan ibuku," cetus anak perempuan itu.


"Alhamdulillah, Nak. Kalau pemberian saya yang tidak seberapa ini bermanfaat buat kamu dan ibumu. Insyaallah nanti kalau kamu sudah dewasa, kamu akan bisa banyak bersedekah," jawabku.


"Tidak, Bu. Aku dan ibu tidak akan pernah bisa melakukannya lagi," jawab anak kecil itu.


"Nak-"


"Saya pamit dulu. Doakan kami terus, ya. Assalamualaikum," ujar anak kecil itu.


"Waalaikumsalam ... Mana ibumu?" tanyaku.


"Ibu di sana. Ibu tidak bisa ke sini. Ibu minta maaf karena sudah mengganggu," jawab anak itu sambil berlari ke arah jalan.


Aku menatap kepergian anak kecil itu dengan perasaan aneh. Karena penasaran, aku pun berjalan ke depan untuk melihat seperti apa ibunya. Dan aku dibuat terkejut ketika aku sudah sampai di jalan. Ternyata ibu yang dimaksud oleh anak kecil itu adalah Bude Yati. Mereka berdua melambaikan tangan ke arahku dari kejauhan. Hanya sekejap, kemudian mereka berdua menghilang.


"BUDEEEEEEE!!!" panggilku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jujur, nih, mulai kecil sampai sekarang, Sobat Junan pernah mengalami hal mistis apa?


__ADS_2