MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 73 : KETAKUTAN


__ADS_3

Pak Ade benar-benar terkejut mendengar pengakuan anaknya bahwa ia melihat hantu perempuan di depan koridor kamar. Pak Ade jadi teringat dengan pesan ibunya Jatmiko bahwa efek samping jampi-jampi buatan ibunya Jatmiko akan mengakibatkan orang yang mengkonsumsinya dapat merasakan dan melihat kehadiran hantu Laras. Dan ternyata ucapan ibunya Jatmiko benar-benar sudah terjadi pada anaknya, Revan.


“Yah, Revan takut …,” ucap Revan sambil menggigil ketakutan.


Pak Ade memeluk anaknya itu dengan erat. Pria itu dapat merasakan betapa besarnya rasa ketakutakan yang sedang dialami oleh anaknya itu. Ada perasaan menyesal menyeruak dalam batin pria itu. Ia merasa bahwa ia tidak seharusnya melibatkananak dan istrinya atas kesalahan yang telah ia perbuat. Tapi, bagaimanapun yang ia hadapi saat ini adalah arwah penasaran yang ingin menuntut balas atas kejahatan yang pernah dialami oleh perempuan itu. Tidak ada cara lain yang harus dijalani selain membinasakan arwah penasaran itu. Dan ini adalah salah satu cara yang harus ia jalani terlebih dahulu sebelum cara selanjutnya yang akan disampaikan oleh ibunya Jatmiko tiga hari lagi.


“Revan … Jangan takut! Di sini ada ayah dan ada ibu. Revan aman di sini,” ucap Pak Ade untuk menenangkan perasaan anaknya itu.


“Yah, Revan tidu sama ayah saja. Revan tidak mau tidur di dipan itu,” rengek Revan pada ayahnya.


“Iya … tidak apa-apa Revan tidur di sebelah ayah. Biar ibu nanti yang tidur di dipan yang satunya,” jawab Pak Ade.


“Tapi, nanti kalau mau tidur kita harus saling berhadapan dan saling menjaga soalnya Revan tidak mau nanti ibu dibawa kabur sama hantunya,” jawab Revan polos.


“Tidak, Revan. Hantunya tidak akan mungkin kuat membawa ibu. Ibu kan berat,” sahut Bu Nisa untuk menenangkan anaknya.


“Benar kata ibumu, Revan. Hantunya tidak akan mungkin berani datang ke sini karena ada ayah dan ibumu yang berjaga di sini,” imbuh Pak Ade.


Di rumah sakit saat it sebenarnya masih relatif sore. Setelah mereka berbincang-bincang ada suster Marisa yang mengantarkan makan malam dan obat untuk Pak Ade.


“Loh, kok tidur sama ayah?” sapa suster Marisa dengan sopannya.

__ADS_1


“Iya, Suster. Aku takut diculik sama hantu,” jawab Revan dengan polosnya.


“Di sini mana ada hantu. Yang ada dokter sama suster yan bertugas mengobati ayahmu dan pasien lain,” sahut suster Marisa.


“Ada, Suster. Tadi aku ketemu sama hantunya duduk-duduk di depan,” jawab Revan ngotot.


“Palingan itu suster yang kamu kira sebagai hantu?” jawab suster Marisa.


“Suster ini nggak percaya sama aku. Aku loh kalau ngomong nggak pernah bohong. Bohong kan dosa kata Ustad,” sahut Revan.


“Iya deh … Ntar hantunya mau suster usir biar tidak mengganggu kamu lagi. Tapi, kamu janji harus jagain ayah dengan baik sampai sembuh,” jawab suster Marisa mengalah.


Setelah itu suster Marisa meninggalkan ruangan Pak Ade dengan meletakkan makan malam dan stok obat untuk malam itu dan besok.


“Iya, nggak apa-apa, Bu. Namanya juga anak kecil. Ada saja yang dilakukan,” jawab suster Marisa sambil keluar meninggalkan kamar Pak Ade.


Bu Nisa langsung mengambil alih gagang pintu dan menutup pintu serta mengucinya rapat-rapat dari dalam karena ia pikir tidak akan ada lagi orang yang mau masuk ke dalam kamar malam itu. Namun, Bu Nisa sedikit terkejut tatkala tanpa sengaja ia melihat wajah menyeramkan dari kaca tembus pandang yang berada di daun pintu. Untunglah, Bu Nisa baru menyadari bahwa ia hanya salah lihat saja. Ternyata pemilik wajah itu adalah suster Marisa yang kebetulan menoleh dan melihat ke dalam kamar Pak Ade melalui kaca berbentuk kotak itu.


“Syukurlah, kirain hantu … Revaaaaan … Revaaaaaan … Apa benar kamu tadi ketemu sama hantu di depan? Semoga kamu salah lihat saja, Nak. Tapi, di mana-mana hantu itu pasti ada kok. Kayak kapan hari aku juga ketemu hantu di pinggir sungai. Apalagi di sini dekat kamar mayat. Kalau ada hantu ya wajar-wajar saja. Lagipula di depan kamar kan cahayanya tidak begitu terang. Kalau di dalam kamar ini, kayaknya tidak mungki ada hantu.” Bu Nisa berbicara pada dirinya sendiri.


Perempuan itu pun membalikkan badannya untuk melangkah kembali ke dekat suami dan anaknya. Namun, tiba-tiba ia ingin buang air kecil.

__ADS_1


“Aduh, kayaknya aku kebelet nih!” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Tanpa membuang-buang waktu, Bu Nisa pun langsung berbelok ke arah kiri untuk masuk ke dala kamar mandi yang letaknya tepat di sebelah kiri tempat ia berdiri sekarang. Bu Nisa langsung membuka pintu kamar mandi dan menutupnya dari dalam. Setelahnya ia pun langsung duduk di atas closet. Cahaya temaram di dalam kamar mandi itu membuar Bu Nisa sedikit bertanya-tanya di dalam hatinya. Mungkinkah hantu akan muncul di dalam kamar mandi? Namun, ia membuang pikiran  itu jauh-jauh karena ia masih kepikiran dengan anaknya yang masih ketakutan.


Bu Nisa selain membuang air kecil ia juga sedikit membuang rasa penat yang ia rasakan saat itu dengan cara menikmati duduk di atas closet. Tidak lama memang, tapi bagi seorang ibu rumah tangga terkadang mencuri waktu beberapa detik untuk beristirahat sudah cukup membuat badan segar kembali untuk melanjutkan aktivitas.


Setelah menyiram air seninya sendiri secara otomatis dengan memencet tombol di bagian samping closet dan membersihkan tubuhnya, Bu Nisa pun bersiap untuk keluar dari kamar mandi. Namun, ia menghentikan aktivitasnya karena tiba-tiba hidungnya mencium bau anyir.


“Bau anyir apa ini?” tanya Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Bu Nisa pun memencet berkali-kali tombol air otomatis closet itu untuk membersihkan sisa-sisa kotoran di dalamnya. Namun, bau anyir itu tak kunjung pergi. Bahkan semakin lama semakin anyir saja baunya. Dan pada detik ke sekian, Bu Nisa merasa ada sebuah benda yang mendekatinya dari atas langit-langit kamar mandi. Karena penasaran, secara perlahan Bu Nisa pun mendongakkan kepalanya ke atas dan benar saja perempuan itu terkejut karena tepat di atasnya ada wuud menyeramkan yang tergantung terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Wajah sosok itu benar-benar menyeramkan sama persis dengan wajah yang pernah ia lihat di piggir kali waktu itu.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” teriak Bu Nisa dengan keras karena sosok wajah itu semakin mendekati ke arahnya.


Bu Nisa langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju pintu. Ia buru-buru berusaha membuka pintu namun a mengalami kesulitan karena pintu terkunci secara otomatis. Sementara itu sosok yang semula tergantung di langit-langit itu sudah sampai ke lantai dan secara perlahan mendekati Bu Nisa yag ketakutan dari arah belakang. Bu Nisa yang panik terus saja berusaha membuka pintu meski tak kunjung berhasil. Bu Nisa yang merasakan ketidaknyamanan itu pun menyempatkan diri menoleh ke belakang dan ia sangat terkejut karena sosok hantu perempuan itu sudah berada tepat di belakangnya dengan wujud yang sangat menyeramkan.


“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!” teriak Bu Nisa sambil terus berusaha membuka daun pintu dan ternyata berhasil.


Bu Nisa mebanting pintu kamar mandi dengan keras dan ia pun berlari menuju suaminya berada.


“Maaaass toolooooooong!!!!” teriak Bu Nisa pada suaminya yang juga terkejut melihat istrinya sedang berlari dari kamar mandi itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Like dan komentarnya jangan lupa. Hadiah menarik menanti Anda


__ADS_2