MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 20 : BUTIK


__ADS_3

Mas Diki sepertinya meragukan sesuatu.


"Kenapa, Mas? Mas Diki nggak suka dengan Mbak Srintil?" tanyaku penasaran.


"Bukan nggak suka, Dik. Tapi, mas merasa ragu untuk memperkerjakan perempuan itu," jawabnya.


"Kenapa, sih, Mas? Mbak Srintil itu rajin sekali loh, membantu Mbak Ning sehari-hari mulai hari pertama sampai sekarang," protesku.


"Iya, sih, Dik. Tapi, bukan itu yang membuat saya ragu," jawab Mas Diki.


"Terus apa, Mas, yang membuat Mas Diki bisa seragu ini? Tidak biasanya Mas Diki menolak pilihan saya," jawab Mas Diki.


"Begini, Dik. Di daerah rumah kita ini apa tidak ada ibu-ibu yang membutuhkan pekerjaan? Rumah Mbak Srintil itu jauh loh kalau diukur dari sini?" protes Mas Diki.


"Nggak ada, Mas. Tetangga di sini semuanya sudah punya aktivitas masing-masing. Sekali ada yang mau, nggak boleh sama suaminya. Saya sudah lama mencari ibu-ibu yang mau bantuin, tapi nggak ada yang bisa. Makanya saya kerjakan semua sendiri, Mas. Nah, pas saya ketemu Mbak Srintil, saya jadi pengen bantuin dia, Mas. Emang kenapa kalau rumahnya jauh dari sini?" protesku.


"Lah, kalau rumahnya jauh dari sini. Terus bagaimana dia ke sininya? Mau berangkat dari sana? Lama di jalan dong nantinya?" protes Mas Diki.


"Hm ... gimana kalau Mbak Srintil sekalian tinggal di sini, Mas?" jawabku enteng.


"Apa, Dik? Enggak-Enggak! Nanti, kita nggak akan sebebas sekarang karena ada orang lain di rumah kita. Belum lagi nanti bisa jadi kita akan jadi bahan fitnah tetangga?" protes Mas Diki.


"Hm ... Mbak Srintil kan nggak harus tinggal di rumah ini, Mas. Dia bisa tinggal sama Siti di rumah Yu Darmi. Jadi, enak di sana nggak sepi lagi. Gimana, Mas?" balasku.


"Enggak, Dik. Mas tetap nggak nyaman kalau ada orang lain yang sliwar-sliwer di rumah kita," protes Mas Diki.


"Coba Mas Diki pikir.bak Srintil kan kerjanya mulai jam delapan sampai sore. Jam-Jam segitu Mas diki ada di mana? Di luar rumah, kan? Nah, Mas Diki nggak perlu risih dengan adanya Mbak Srintil. Bukankah ketika Mas Diki berangkat, Mbak Srintol belum datang dan ketika Mas Diki pulang, Mbak Srintil sudah pulang. Plis, dong, Mas. Ijinin, ya? Enak loh kalau ada Mbak Srintil di rumah. Saya ada teman di rumah. Terus saya juga agak tidak kecapekan melayani konsumen," jawabku.


"Mas tetap nggak nyaman, Dik," jawab Mas Diki lemah.


"Kasihan loh Mbak Srintil itu harus menghidupi anaknya sementara suaminya sudah tidak bisa diandalkan lagi," jawabku.

__ADS_1


"Terus, gimana dengan Mas Joyo, kalau Mbak Srintil dan anaknya tinggal di sini? Kalau mereka bercerai bagaimana? Apa kita nggak kebagian dosanya?" jawab Mas Diki lemah.


"Mas ... Tau nggak, semalam itu setelah Mas Joyo ikut acara tahlilan di rumah Mbak Ning, Mas Joyo itu tidak ke rumah Mbak Srintil, dia langsung pulang ke rumah istri barunya. Dia hadir ke acara tadi malam hanya karena tidak enak dengan Mas Wisnu yang sudah ia kenal baik. Sedangkan, Mbak Srintil itu sudah dicampakkan oleh Mas Joyo dan tidak dianggap lagi. Apa Mas Diki tega membiarkan Mbak Srintil seperti itu tanpa diberi nafkah lahir dna batin?" protesku.


Mas Diki menghela napas dan menatap mataku dalam.


"Mas, kalau saya nggak kecapekan ngurusi butik, saya nanti punya banyak waktu untuk mengurusi Mas Diki dan Nur dan kemungkinan untuk kita bisa punya anak lagi akan lebih besar, kan?" Aku berkata sambil bersandar di pundak Mas Diki.


Mas Diki menatapku dengan sayu. Selama beberapa detik kami saling menatap. Aku melihat bibir Mas Diki yang semula cemberut berubah menjadi menyungging senyum sebagai tanda bahwa suamiku tersebut dapat menerima usulku.


"Kamu kok cantik banget sih, Dik?" puji suamiku.


"Makasih ya, Mas, atas ijinnya" balasku sambil memeluk erat badan tegap suamiku.


Hampir saja kami larut dalam kemesraan kalau saja kami tidak mendengar pintu kamar mandi dibuka oleh Nur sebagai tanda bahwa anak laki-laki kami satu-satunya itu sudah selesai mandi.


"Mandi dulu, Mas. Habis itu salat dan makan malam," ujarku sambil melepas pelukan erat Mas Diki.


"Sudah, buruan sana mandi. Ada Nur tuh!" jawabku.


Mas Diki pun meninggalkanku di ruang tamu dengan memberi salam mesra khasnya yang senantiasa aku rindukan.


Semenit setelah Mas Diki berangkat mandi, tiba-tiba aku mendapat WA dari Mbak Ning.


"Dik, sore ini saya nggak bisa bantu-bantu di dapur. Aku sudah pasrah sama Mbak Srintil dan Bu Dibyo untuk urusan dapur," bunyi pesan dari Mbak Ning.


"Loh, kenapa, Mbak?" balasku.


"Anu, Dik. Perut mendadak nggak enak, Dik. Kayak mual tapi nggak muntah," balas Mbak Ning.


"Loh, mungkin masuk angin ya, Mbak? Tadi Mbak waktu periksa pake jaket, nggak?" balasku.

__ADS_1


"Entahlah, Dik. Bisa jadi. Saya pake jaket padahal," balas Mbak Ning.


"Ya sudah. Istirahat saja, Mbak. Jangan lupa diolesi minyak di bagian punggung dan perut. Kalau perlu nanti minta kerok ke Mas Wisnu," balasku.


"Iya, Dik. Nih, Mbak Srintil siap mau ngerokin saya katanya habis selesai acara," balas Mbak Ning.


"Wah, pas kalau begitu. Oh, ya, sampaikan salam ke Mbak Srintil. Nanti habis acara tujuh harinya Bude Yati, kalau beliau mau, nanti ikut saya kerja di butik, Mbak," balasku.


"Oh ya? Pasti mau orangnya, Dik. Dia emang lagi nyari kerjaan untuk menafkahi anaknya. Tapi, dia nggak punya kendaraan, Dik, untuk ke sana. Gimana?" balas Mbak Ning.


"Nah, kalau Mbak Srintil mau. Dia bisa tinggal di rumah mbak sepupu suami saya, Mbak. Ada temannnya kok di rumah itu. Rumahnya dekat dari rumah saya. Nanti kerja dan pulangnya bisa ikut nebeng karyawan suami saya yang serumah dengan Mbak Srintil. Kalau enggak, nanti bisa jalan kaki atau saya anterin," balasku.


"Wah, Mbak Srintil pasti senang kalau mendengar ini," balas Mbak Ning.


"Alhamdulillah, kalau penawaran saya bisa membantu memecahkan permasalahan beliau, Mbak Ning," balasku.


"Iya, Dik. Saya juga senang kalau Dik Sinta mau membantu Mbak Srintil," balas Mbak Ning.


"Ya sudah. Mbak Ning istirahat saja dulu sekarang. Semoga Mbak Ning segera sembuh dari penyakitnya," balasku.


"Aamiiiin ... Makasih banyak ya, Dik, atas baantuan dan doanya," balas Mbak Ning.


"Jangan ngomong begitu, Mbak. Kita ini satu saudara, sudah sepatutnya untuk saling membantu," balasku.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumslaam,"


Azan Magrib pun berkumandang tepat saat Mas diki keluar dari kamar mandi. Syukurlah, Mas Diki saat ini sudah sembuh dari penyakit lamanya yaitu keluar kamar mandi hanya berbalut handuk.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Slow but sure, ya, Kak.


__ADS_2