
Matahari sudah terbenam di ufuk barat. Aktifitas di rumah sakit tempat Pak Ade dirawat mulai sepi dari pengunjung. Petugas rumah sakit juga sudah banyak yang pulang. Hanya dokter dan perawat piket saja yang masih stand by di rumah sakit. Satpam juga sudah membatasi orang yang keluar masuk rumah sakit. Satu orang pasien hanya boleh ditemani oleh satu orang pendamping saja. Hal itu sudah menjadi peraturan di rumah sakit tersebut dengan berbagai alasan, diantaranya untuk mengurangi tingkat kebisingan di sana terutama di jam malam. Selain itu, dengan adanya pembatasan tersebut, diharapkan tingkat kejahatan pencurian atau pencopetan terhadap pasien maupun keluarga pasien akan menurun. Peraturan itu masih baru memang dan hanya berlaku beberapa tahun ini. Ketika Pak Herman pernah dirawat di sana selama seminggu karena serangan tipes, peraturannya masih belum ada. Waktu itu dari pagi sampai malam semua penduduk dusun Delima secara bergantian menjenguk Pak Herman. Saking banyaknya pengunjung yang datang, tetangga kamar Pak Herman sampai mengira kalau Pak Herman itu kyai yang dihormati oleh jamaahnya. Saking banyaknya pengunjung yang datang menjenguk suaminya, makanan yang dibawa oleh mereka sampai dibagi-bagikan oleh Bu Dewi kepada penunggu pasien yang lain dan juga petugas rumah sakit yang merawat Pak Herman. Pak Ratno dan Pak Salihun sampai kewalahan saat membawa pulang gula dari rumah sakit.
“Eeeeh …,” Pak Ade mulai terjaga dari tidurnya. Efek obat tidur yang disuntikkan ke selang infusnya sudah mulai mereda.
Bu Nisa sedang tertidur di kursi yang diletakkan di samping dipan Pak Ade. Bu Nisa saat itu masih terlelap. Sepertinya ia masih kecapekan karena aktifitas yang melelahkan seharian ini.
Pak Ade butuh beberapa menit untuk mengembalikan kesadarannya. Setelah ia mengetahui bahwa dirinya sedang berada di kamar rumah sakit dan istrinya sedang tertidur sambil duduk di sebelahnya, ia pun membangunkan sang istri.
“Dik … Dik …,” panggil Pak Ade sambil menggoyang-goyang kepala Bu Nisa.
Bu Nisa tidak bereaksi dengan panggilan suaminya. Sepertinya saat itu ia sedang lelap-lelapnya tertidur.
“Dik … Dik …,” Pak Ade sekali lagi membangunkan istrinya.
“Eeeeeh …,” Bu Nisa mulai bereaksi dengan panggilan Pak Ade.
“Dik, bangun!” panggil Pak Ade sekali lagi untuk membangunkan istrinya.
“Iya, Mas. Syukurlah, kamu sudah bangun, Mas. Kamu butuh apa, Mas?” ucap Bu Nisa sambil mengucek-ngucek matanya.
“Kita di ruang apa ini, Dik? Kok sepertinya sepi? Ini jam berapa sekarang?” tanya Pak Ade.
“Kita di ruang perawatan, Mas. Ini sudah jam enam sore makanya sepi,” jawab Bu Nisa.
“Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dik?” tanya Pak Ade penasaran.
“Mas istirahat saja dulu yang banyak. Nggak usah mikirin hal itu dulu,” jawab Bu Nisa.
“Mas ingin tahu hasilnya, Dik. Mas khawatir terluka parah,” jawab Pak Ade.
“Enggak kok, Mas. Mas tidak kenapa-kenapa. Hanya luka luar saja. Semua lukanya sudah dijahit oleh dokter, tapi Mas harus menginap di sini dulu untuk menjaga dari kemungkinan terburuk. Dan juga biar Mas bisa istirahat,”jawab Bu Nisa.
“Iya, Dik. Mas sekarang merasa lebih segar meskipun masih terasa nyeri di beberapa titik tubuh mas,” jawab Pak Ade.
__ADS_1
“Iya, Mas sudah agak lama tidurnya mulai pagi sampai sekarang,” jawab Bu Nisa.
“Pasti dokter memberi banyak obat tidur kepada mas sehingga mas bisa tidur nyenyak,” jawab Pak Ade.
“Iya. Syukurlah. Dokter dan perawat di sini baik-baik semuanya. Apalagi dokter Marni. Dia telaten dan sabar sekali dalam bekerja,” jawab Bu Nisa.
“Syukurlah, Dik. Oh ya kamu sudah makan, Dik?” tanya Pak Ade.
“Belum, Mas,” jawab Bu Nisa.
“Loh, kenapa belum makan? Ntar kamu bisa sakit loh!” ujar Pak Ade.
“Gimana aku mau makan, Mas. Lah wong aku melihat kondisi Mas saja nggak tega,” jawab Bu Nisa.
“Kamu sayang sama mas tah, Dik?” tanya Pak Ade sambil menyentuh pipi istrinya.
“Banget, Mas,” jawab Bu Nisa sambil mencium tangan suaminya.
Ada perasaan sejuk ketika tangan pria tersebut dicium oleh istrinya dan juga ibu dari anak semata wayangnya. Ada perasaan menyesal di dalam hati pria itu karena selama ini ia sudah beberapa kali bermesraan dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan istrinya. Pria itu teringat saat pertama kali ia mengenal istrinya. Istrinya adalah seorang gadis polos dari dusun yang memiliki paras rupawan. Saat itu Pak Ade masih bekerja di Koperasi Antah Barantah. Dan saat ini istrinya sudah menjadi seorang perempuan dewasa yang telah banyak mensupport kesuksesannya. Bu Nisa bukan hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tapi ia adalah partner diskusi yang baik untuk memecahkan permasalahan CV-nya. Bu Nisa sudah mengetahui secara keseluruhan usaha apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya.
“Mas ini ngomong apaan, sih!” jawab Bu Nisa.
Bu Nisa melepas pegangan tangannya dan ia pun berdiri dan meraih nasi ransum yang ada di meja.
“Ayo, sekarang saatnya Mas makan. Habis itu minum obat, ya?” ucap Bu Nisa.
“Iya, Dik. Tapi dimakan berdua, ya?” jawab Pak Ade.
“Oke,” jawab Bu Nisa.
Setelah itu Bu Nisa menyuapi Pak Ade dengan telatennya. Setiap satu suapan, Pak Ade meminta istrinya untuk ikut makan juga. Akhirnya, habislah sepiring nasi dan lauk pauk ransuman rumah sakit itu. Sebenarnya saat itu Bu Nisa masih belum kenyang karena seharian ia memang tidak makan. Sedangkan bagi Pak Ade makan sedikit saja sudah cukup karena ia juga menerima asupan energi dari selang infus.
“Kamu masih kurang kenyang ya, Dik?” tanya Pak Ade.
__ADS_1
“Sudah kok, Mas!” jawab Bu Nisa berbohong.
“Mas loh tahu kamu belum kenyang. Kamu pesan makanan lewat online saja biar bia dikirim ke sini,” jawab Pak Ade.
“Mas ini tahu saja. Tapi, mana ada kurir masuk ke rumah sakit malam-malam begini?” protes Bu Ade.
“Iya juga, sih. Terus di mana penjual makanan yang dekat-dekat sini?” tanya Pak Ade.
“Ada sih di kantin rumah sakit. Tapi, kalau aku ke kantin, ntar Mas sama siapa?” jawab Bu Nisa.
“Itu di, Dik. Mas masih trauma kalau sendirian malam-malam begini,” jawab Pak Ade.
“Sudah. Nggak usah ngomong begitu, Mas. Kita sekarang ini sudah jauh dari rumah. Nggak usah mikirin tentang Laras lagi,” jawab Bu Nisa.
“Nah, itu kamu sendiri ngomongin. Bikin mas jadi ingat lagi,” jawab Pak Ade.
“Lah, kan sudah dibilang sama Pak Jefri kalau Mas itu jatuh bukan karena didorong Laras tapi karena rasa takut Mas sendiri yang terlalu berlebihan,” kata Bu Nisa.
“Iya, sih. Tapi, bagaimanapun mas tetap takut, Dik,” jawab Pak Ade.
“Ya sudah. Ayo minum dulu obatnya. Aku nggak bakalan ninggalin Mas sendirian disini, kok!” jawab Bu Nisa.
“Makasih, Dik,” jawab Pak Ade.
Bu Nisa pun membantu suaminya untuk meminum obat yang diberikan petugas tadi. Setelah selesai minum obat, Pak Ade pun melanjutkan mengobrol dengan istrinya.
Tiba-Tiba ada yang membuka pintu.
Krieeeet!!!
Mereka berdua menghentikan obrolannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Besok libur update-ya?