MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAN 42 : TIDAK SADARKAN DIRI


__ADS_3

Selama beberapa waktu aku terus menunggu perkembangan kondisi fisik Mbak Ning. Selang kurang lebih tiga puluh menit kemudian Mas Diki datang bersama Mas Wisnu dan Ikbal. Aku buru-buru berhambur ke arah mereka.


"Gimana hasil cek Lab-nya? Mbak Ning butuh darah itu segera. Kondisi Mbak Ning sekarang sedang kurang baik," cerocosku.


"Alhamdulillah, darah Ikbal cocok dengan Mbak Ning, Dik. Ini, kami sudah membawa hasil cek Lab-nya," jawab Mas Diki.


"Buruan kamu bawa hasil cek Lab itu ke sana, Bal. Biar petugas yang ada di sana segera menghubungi dokter Indri!" perintahku pada adik sepupuku itu.


"Iya, Mbak," jawab Ikbal.


"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dik Sinta?" tanya Mas Wisnu dengan ekspresi sedih.


"Kondisi Mbak Ning sekarang sedang tidak stabil, Mas. Tadi itu ...," jawabku.


"Tadi kenapa, Dik? Apa yang terjadi dengan istri saya?" tanya Mas Wisnu lagi.


Aku mengambil tempat duduk diikuti oleh Mas Wisnu dan Mas Diki. Aku pun menceritakan apa yang baru aku alami di dalam. Mas Diki dan Mas Wisnu sangat antusias sekali mendengarkan ceritaku. Selama aku bercerita mereka berdua menunjukkan wajah terkejut dan kekhawatiran.


"Apakah Dik Sinta atau Mbak Ningmu mengenal secara pribadi sosok dokter Reny itu? Kok sepertinya arwahnya sangat ingin sekali membunuh istri saya itu," ujar Mas Wisnu.


"Tidak, Mas! Saya sama sekali tidak mengenal dokter Reny itu. Saya yakin Mbak Ning juga tidak kenal dengan perempuan itu," jawabku.


"Bagaimana kalau arwah dokter Reny itu hanya alat untuk membunuh Mbak Ning. Artinya sejak awal Mbak Ning memang sudah ditargetkan untuk dibunuh. Kebetulan saja arwah dokter Reny itu posisinya sedang berada di dekat Mbak Ning," sela Mas Diki.


"Kalau begitu istri saya ini sedang dalam kondisi bahaya. Setelah arwah dokter Reny gagal diperalat untuk membunuh istri saya, pelaku pembunuhannya masih bisa menggunakan arwah lain sebagai alat? Atau tidak hanya arwah, bisa jadi ia akan menggunakan orang lain untuk membunuh?" pekik Mas Wisnu.


Kami berdua menoleh ke Mas Wisnu.


"Mbak Ning sekarang berada di dalam bersama tim medis. Dan tidak satu pun dari kita boleh mendampingi beliau. Bagaimana kalau salah satu dari tim medis itu diperalat oleh orang itu?" Aku berkata secara perlahan.


"Iya, Dik Sin. Kita harus berbuat sesuatu untuk bisa menyelamatkan Mbak Ningmu. Tapi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap Mas Diki.


"Kita harus mendesak petugas di bagian administrasi untuk segera menelpon Bu Indri. Dengan begitu akan ada salah satu dari kota yang akan mendampingi Mbak Ning, yaitu Ikbal," jawabku.


"Ide yang bagus, Dik! Ayo, kita segera ke bagian administrasi!" ucap Mas Wisnu.


"Ayo!!" jawab kami berdua.


Kami pun melangkah menuju bagian administrasi. Bagian administrasi menyambut kedatangan kami dengan baik. Ikbal terkejut dengan kedatangan kami menyusulnya. Aku menarik Ikbal agak menjauh dari orang-orang. Aku utarakan rencana kami kepada Ikbal. Ikbal manggut-manggut mendengar arahan dariku.


"Kamu jangan takut, ya, Bal! Kamu harus bisa menjaga Mbak Ningmu di dalam," ucapku.


"Tenang, Mbak. Saya akan mempertaruhkan nyawa saya demi menjaga Mbak Ning. Hanya dia kakak yang saya miliki, Mbak. Saya tidak mau kehilangan kakak saya itu, Mbak," jawab Ikbal.

__ADS_1


"Baguslah, Bal. Semoga Allah SWT memberi perlindungan kepada kita semuanya. Aamiiin," jawabku.


Tak berselang lama setelah kami melapor kepada petugas tersebut, Pintu UGD terbuka. Keluarlah dokter Indri dari balik pintu. Kami bertiga pun segera mengerubuti beliau.


"Bu Indri. Gimana kondisi kakak saya?" tanyaku.


"Transfusi darah harus segera dilakukan. Katanya, kalian sudah dapat pendonor yang sesuai?" tanya Bu Indri.


"Iya, Bu. Ini orangnya," jawabku.


"Ayo, segera bersiap-siap. Bu Ningsih sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Keadaannya benar-benar sangat membutuhkan darah itu," jawab Bu Indri.


"Iya, Bu Indri!" jawabku.


Setelah itu dengan dibantu Bu Indri, Ikbal pun mempersiapkan diri untuk melakukan pengambilan darah. Ikbal berbaring di atas brankar menuju ke ruangan UGD. Aku berbisik kepada Ikbal.


"Bal, jangan takut! Nyawa Mbak Ningmu harua diselamatkan!" ucapku.


"Iya, Mbak!" jawab Ikbal.


Setelah itu Ikbal pun masuk ke dalam ruangan itu dan tiba-tiba aku merasa kepalaku berat. Aku memegangi kepalaku untuk sedikit mengurangi rasa sakit, tapi percuma kepalaku semakin berat dan lebih berat lagi. Aku kehilangan keseimbangan dan aku tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.


"Mas ... Mas ...," panggilku begitu aku tersadar.


Sedikit demi sedikit pandanganku menjadi terang. Orang yang pertama kali aku lihat saat itu adalah Mas Diki.


Aku mengerjapkan mata untuk mempercepat kembalinya kesadaranku.


"Di mana saya ini, Mas? Kenapa di tanganku ada selang infus?" tanyaku kebingungan.


"Tenang, Dik. Kamu sedang dirawat di rumah sakit karena kamu pingsan dan tak kunjung sadar," jawab Mas Diki.


"Iyakah? Mana Mbak Ning, Mas?" tanyaku lagi.


"Mbak Ning sudah pulang, Dik," jawab Mas Diki.


"Mas Diki jangan bercanda. Jelas-Jelas tadi kondisi Mbak Ning masih kritis. Tidak mungkin Mbak Ning dipulangkan secepat itu, Mas?" protesku.


"Mbak Ning sudah dirawat selama dua hari di sini, Dik. Setelah mendapat transfusi darah dari Ikbal, kondisi Mbak Ning perlahan membaik. Setelah diobservasi secara akurat oleh tim dokter, Mbak Ning divonis sehat dan tidak ada penyakit apapun yang ia idap. Akhirnya Mbak Ning diperbolehkan untuk pulang," jawab Mas Diki.


"Dua hari??" pekikku sambil berusaha untuk duduk.


"Istirahat saja dulu, Dik! Jangan memaksakan untuk bangun!" cegah suamiku sambil memegangi punggungku.

__ADS_1


"Maa Diki tidak sedang menggoda saya, kan?" tanyaku lagi sambil memandang lekat wajahnya.


"Tidak, Dik. Mas berkata yang sebenarnya. Dokter mengatakan bahwa kamu mengalami kelelahan akut sehingga tubuh Dik Sinta tidak mampu menahannya lagi dan pingsan. Tapi pingsannya Dik Sinta tidak begitu lama kok. Karena setelah beberapa menit Dik Sinta sudah bangun meskipun dengan tubuh yang sangat lemah. Selanjutnya dokter sengaja menyuntikkan obat bius agar Dik Sinta bisa istirahat total," jawab Mas Diki panjang lebar.


Aku mendengarkan semua perkataan Mas Diki dengan saksama.


"Mas Diki tidur di mana selama saya ditidurkan?" tanyaku penasaran.


"Mas tidur di sini, Dik. Mas nggak tega ninggalin Dik Sinta sendirian," jawabnya.


"Ikbal tidak cerita apa-apa, Mas?" tanyaku lagi.


"Cerita, Dik. Katanya, sewaktu dia melakukan transfusi darah. Kebetulan ada pasien korban kecelakaan yang meninggal. Kebetulan oleh petugas diletakkan di sebelah ruangannya. Saat dokter yang menjaganya pergi ke kamar mandi, tiba-tiba Ikbal mendengar suara langkah berasal dari kamar itu berjalan mendekati kamarnya. Awalnya Ikbal menyangka itu suara salah satu tim medis yang sedang bekerja. Ternyata bukan! Ikbal melihat laki-laki dengan muka berlumuran darah masuk ke dalam ruangannya dan berusaha menyerang Mbak Ning," ujar Mas Diki.


"Terus, gimana caranya Ikbal dan Mbak Ning bisa selamat?" tanyaku semakin penasaran.


"Ikbal berteriak dengan kencang sehingga didengar oleh dokter. Dokter pun masuk ke ruangan dan sosok menyeramkan itu pun lenyap begitu saja," jawab Mas Diki.


"Apa dokter sempat melihat keanehan itu?" tanyaku.


"Tidak, Dik! Dokter menyangka Ikbal sedang berhalusinasi. Anehnya ciri fisik dan bentuk luka yang diceritakan oleh Ikbal sama persis dengan keadaan mayat laki-laki itu. Kebetulan Mas sempat melihat kondisi mayat sewaktu dikeluarkan dari ambulans," tutur Mas Diki.


"Mas, Nur di mana sekarang?" tanyaku lagi.


"Nur di rumah Mbak Ning. Sejam yang lalu Ikbal menjemput Nur ke sini. Ia minta tolong Nur untuk menemani Mbak Ning di rumah karena Mas Wisnu dan Ikbal mau takziah," jawab Mas Diki.


"Takziah? Siapa yang meninggal?" tanyaku penasaran.


"Tetangga Mbak Ning," jawab Mas Diki.


"Siapa Mas?" tanyaku lagi.


"Pak Agung suaminya Bu Dibyo," jawab Mas Diki datar.


"Innalillahi wainnailaihi rojiuuun ... Mas, ayo cepat ke rumah Mbak Ning!" ucapku dengan nada tinggi.


"Loh, Dik Sinta masih perlu istirahat!" ujar Mas Diki.


"Tidak, Mas. Kita harus cepat ke rumah Mbak Ning. Mbak Ning dan Nur sedang dalam bahaya, Mas!" teriakku.


"Maksudnya apa, Dik?" tanya Mas Diki.


"Mbak Ning itu bukan sakit biasa, Mas. Seseorang sedang berusaha untuk membunuhnya dengan menggunakan santet. Dan, orang itu menggunakan orang-orang yang baru meninggal di dekat Mbak Ning untuk mengganggunya," jawabku lantang.

__ADS_1


Mendengar jawabanku, Mas Diki panik dan segera berlari menuju bagian administrasi. Aku ditinggal sendirian di ruangan ini dengan selang infus masih terpasang di tangan kiriku.


BERSAMBUNG


__ADS_2