
Suara Pak Sopir menghentikan lamunanku. Mobil Carry yang kami naiki pun berhenti di pinggir jalan tepat di depan sebuah plang bertuliskan "BALAI DESA CURAH PUTIH". Seperti umumnya balai desa lainnya, suasana di tempat tersebut tampak lengang menjelang pukul delapan. Mungkin tempat tersebut akan cukup rame pada pukul sembilan pagi. Tak nampak orang berpakaian dinas di sana, hanya tampak orang tua yang berpakaian ala kadarnya sedang memangkas tanaman dan bunga yang sengaja ditanam untuk keindahan tempat tersebut. Bisa ditebak, orang tersebut adalah tukang kebun balai desa tersebut yang datang lebih pagi dibanding lainnya.
" Assalamualaikum ...," sapaku pada pria tua yang sejak tadi sudah tercengang dengan kedatangan kami.
"Waalaikumsalam ... Loh, kamu, Luh. Dari mana saja kamu? Anak-Anakmu sedang kebingungan mencari keberadaanmu," tegur pria tua itu.
"Saya tersesat lagi, To. Mbak Sinta ini yang membantu saya untuk kembali," jawab Nenek Galuh.
"Iya, Pak. Pak Kades atau staf yang lain apakah ada? Saya ingin menitipkan Nenek Galuh ini karena saya tidak dapat mengantarkannya ke rumahnya. Saya ada keperluan lain," ujarku pada pria tua itu.
"Hm ... Belum ada orang sama sekali, Mbak. Biasanya semuanya baru datang jam sembilanan. Kalau Pak Kades, sih, kadang datang kadang enggak. Tergantung keperluan, Mbak," jawab Pak Tua tersebut.
"Terus gimana, Pak? Saya harus menitipkan Nenek Galuh ini pada siapa? Saya harus segera pergi karena ada urusan," tanyaku.
"Kalau urusan Nenek Galuh ini biar saja pasrahkan sama saya, Mbak. Nanti biar keluarganya ditelpon oleh staf desa. Yang penting Mbak meninggalkan nomor hape saja, siapa tahu nanti dibutuhkan oleh staf desa karena pihak keluarga sudah terlanjur melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian," jawab Pak Tua itu.
"Kalau begitu terima kasih, Pak. Ini saya berikan kartu nama saya saja barangkali diperlukan," jawabku sambil menjulurkan benda berbentuk kotak yang kuambil dari dalam dompet.
"Terima kasih banyak, Mbak," ujar Pak Tua.
"Saya yang berterima kasih, Pak," jawabku.
"Saya pamit dulu, nggih, Pak ... Nenek ...," ujarku.
"Terima kasih banyak ya, Nduk ...," ujar Nenek Galuh sambil memelukku. Aku membalas pelukan nenek dengan terharu.
"Nenek jangan pergi-pergi lagi tanpa pengawasan keluarga. Kasian sama anak dan cucu Nenek di rumah," pesanku.
__ADS_1
"Iya, Nduk ... Lain kali main-main ke rumah, ya?" ujar Nenek Galuh.
"Terima kasih banyak, Nek," jawabku sambil tersenyum menutupi rasa trauma masa kecilku itu.
Setelah berpamitan, aku pun berjalan ke arah angkutan umum yang sengaja menungguku di pinggir jalan. Saat aku berada di gerbang gapura balai desa itu, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan yang berbelok ke arah gapura. Aku pun meminggirkan badanku untuk memberi ruang pada mobil sedan itu agar bisa lewat dengan leluasa. Tak disangka mobil sedan itu berhenti tepat di sebelahku. Sejurus kemudian kaca mobilnya terbuka dan tampaklah seorang pria seusia Mas Diki duduk di balik kemudi dengan menggunakan pakaian dinas khas staf desa. Postur tubuh pria ini cukup tegap, sebelas dua belaslah dengan Mas Diki. Hanya saja, pria di depanku ini memiliki wajah yang agak ke India-Indiaan dengan cambang yang cukup lebat. Kacamata hitam yang ia pakai menambah tingkat ketampanan pria di depanku ini.
"Ada perlu apa, Mbak? Maaf, nggak ada orang, ya?" sapa pria tersebut dengan ramah sambil melepas kacamata hitam yang ia pakai. Ternyata, pria ini masih terlihat tampan meskipun tanpa kacamata.
"Sudah, Pak ... Eh, Mas ... Sudah dibantu bapak tua itu," jawabku agak terbata-bata.
"Monggo, kalau mau lebih jelas akan saya bantu," jawab pria itu lagi.
"Terima kasih, Mas ... Tapi, kebetulan urusannya sudah beres dan saya harus segera pergi," jawabku.
"Okelah kalau begitu. Maafkan pelayanan kami ya, Mbak," ujar pria itu sambil melempar senyum ke arahku.
Aku membalas senyuman pria itu dengan sekedarnya saja. Aku bermaksud menanyakan apa benar pria tersebut adalah kepala desa Curah Putih, tapi pria tersebut keburu menutup kembali kaca mobilnya dan hanya menyisakan wangi parfum mobil yang keluar melalui kaca mobil yang terbuka.
'Tidak! Ini bukan wangi parfum mobil. Ini wangi parfum badan. Tapi, kenapa wanginya sepertinya tidak asing bagiku? Bukan! Ini bukan wangi parfum Mas Diki, juga bukan parfumku. Hm ... Wangi parfum ini mirip sekali dengan wangi parfum ... Ya Tuhan, wangi parfumnya sama dengan wangi parfum remaja yang pernah mengintipku di rumah Ki Santo.
Dadaku menjadi sesak seketika. Aku mempercepat langkah menuju mobil angkutan umum yang sudah cukup lama menungguku. Sementara di belakang sana, mobil sedan yang semula berjalan masuk tiba-tiba berhenti. Dan pengemudinya membuka kaca jendelanya kembali. Aku sempat melirik, sepertinya Kepala Desa itu sedang memperhatikanku dari kaca spion mobil sedannya.
"Astagfirullah!!!"
"Kenapa, Mbake?" tanya Pak Sopir cemas setelah memperhatikan kebingunganku.
"Nggak apa-apa, Pak. Ayo, cepat jalan! Saya sudah ditunggu lama oleh teman saya di TK Amanah Bangsa 3," ujarku.
__ADS_1
"Baik, Mbake," jawab Pak Sopir sambil menyalakan mobil itu dan menginjak gas untuk meninggalkan tempat tersebut.
Lega, itu yang aku rasakan. Entahlah, ini sebuah keparnoan atau hal wajar. Aku sempat berpikir bahwa aku terlalu berlebihan jika harus takut dengan aroma parfum tersebut mengingat siapa pun bisa saja memakai aroma serupa. Dan kejadian itu sudah terjadi sangat lama yaitu ketika aku baru menginjak remaja. Bisa saja pelakunya sudah mengganti wangi parfum yang ia gunakan. Tapi, trauma itu sulit untuk aku hilangkan. Kejadian buruk di masa tumbuhku itu benar-benar mengakar dan membelenggu jiwaku. Setiap aku mencium aroma parfum yang mirip dengan aroma parfum itu, aku pasti merasa ketakutan dan membuatku gugup dan takut. Itulah salah satu alasan kenapa aku tidak pernah mau lewat di stand penjual parfum atau di deretan rak parfum pria, karena aku merasa ketakutan setiap mencium aroma yang mirip dengan aroma parfum yang mengerikan itu.
"Sepertinya teman Mbake sudah menunggu lama di depan," tegur Pak Sopir sambil menunjuk sebuah mobil yang parkir di depan TK Amanah Bangsa 3.
"Oh, bukan, Pak. Teman saya tidak membawa mobil. Dia naik ojek," jawabku.
"Oooo ... kirain. Turun di sini, ya, Mbake? Kalau terlalu ke depan ntar mepet sama mobil itu," ujar Pak Sopir.
"Iya, tidak apa-apa, Pak. Ini ongkosnya, Pak," jawabku sambil menyodorkan uang lima puluh ribuan kepada pria tersebut.
"Nggak ada uang kecil, Mbake? Masih pagi, belum ada kembalian," ujar Pak Sopir.
"Tidak usah dikembalikan, Pak. Anggap sebagai biaya tunggu tadi di balai desa," jawabku.
"Oh ... terima kasih banyak, Mbake. Hati-Hati di jalan ya, Mbake. Sekarang banyak orang jahat apalagi Mbake ini cantik," jawab Pak Sopir sambil menoleh ke arahku.
Aku menatap aneh ke arah sopir itu karena ucapannya yang menurutku kurang sopan.
"Eh, maaf, Mbake. Saya tidak bermaksud menggoda Mbake," ujarnya menimpali.
"Iya, saya paham. Terima kasih banyak, Pak," jawabku.
Aku pun turun dari mobil angkutan umum tersebut dan berjalan ke arah bak semen untuk duduk sambil menunggu Mbak Srintil datang. Angkutan umum pun melaju pergi meninggalkan tempat tersebut. Tiba-Tiba sebuah suara mengejutkanku saat aku akan menghubungi Mbak Srintil. Suara itu berasal dari dalam mobil yang sedang parkir tepat di depan sekolah bulekku itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1