
Aku hanya melihat ketika Clara menunduk dan menangis sesegukan di depanku. Aku sempat bingung kenapa ia menangis. Apakah ia malu karena aibnya kuketahui. Ada sedikit rasa iba menyeruak di dalam batinku. Tentunya Clara tidak serta merta menjadi duri di dalam daging keluarga ibu angkatnya. Pastinya ada pemicu mengapa ia tega untuk menjadi orang ketiga. Terlebih, hati perempuan yang ia sakiti adalah ibu angkatnya sendiri yang telah merawatnya sejak kecil. Membawanya dari panti asuhan dna memberinya kasih sayang yang utuh seperti anak-anak yang lain.
"Mbak ... i-ini ti-tidak se-seperti yang Mbak Sinta kira," cetus Clara tiba-tiba di sela tangisnya yang mulai mereda.
Aku diam tidak memberikan jawaban. Lebih tepatnya, aku sedang menunggu perkataan selanjutnya yang akan perempuan muda ini utarakan padaku.
"Saya tidak pernah merebut bapak dari ibu," tandasnya kemudian.
Aku masih tidak memberi tanggapan, daun telingaku kupasang lebar-lebar untuk mendengarkan penjelasannya.
"Bapak memaksa menikahi saya setelah ibu meninggal," ujarnya kembali.
"MEMAKSA MENIKAH?" sergahku dengan nada bingung.
"Iya, Mbak!" jawab Clara perlahan.
"Jadi, Riki, anak kalian itu lahir dari sebuah pernikahan paksaan?" Aku bertanya dengan nada tegas, antara rasa ingin tahu dan untuk memojokkan Clara.
"Tidak, Mbak. Riki itu anak dari suami saya yang pertama," jawab Clara.
"Di mana dia sekarang?" tanyaku.
"Dia sudah meninggal, Mbak. dua tahun yang lalu, beberapa bulan kemudian disusul oleh ibu angkat saya," jawab Clara.
"Setelah mereka berdua meninggal, baru kalian berdua menikah, begitu?" tanyaku menegaskan.
"Tidak begitu ceritanya, Mbak. Bapak memaksa saya, Mbak! Saya takut!" jawab Clara lagi dengan nada ketakutan.
"Bukankah kamu bisa menolak keinginan gila bapak angkatmu itu. Apa kamu tidak malu dengan tetangga atau saudaramu?" Aku berkata keras lagi.
"Tidak ada yang tahu pernikahan ini, Mbak selain penghuni rumah karena rumah kami terpisah agak jauh dengan para tetangga," jawab Clara.
"Oooo ... lantas kamu merasa bebas melakukan apapun karena tidak diketahui orang lain?" sergahku.
"Bapak mengancamku, Mbak!" ucap lirih perempuan di depanku.
"Dia mengancam apa sama kamu?" tanyaku.
"Bapak berkata bahwa dia itu menjalani laku pesugihan," jawab Clara.
__ADS_1
"Apaaaa?" ucapku tidak percaya.
"Iya, Mbak. Bapak bilang kalau suami dan ibu angkat saya itu meninggal karena telah dijadikan tumbal pesugihan yang dijalani bapak," jawab Clara lirih
"Ya Tuhan!" pekikku.
"Bapak juga bilang bahwa ia terpaksa mengorbankan ibu karena tidak tega melihat ibu sakit-sakitan," jawab Clara lagi.
"Astagfirullah!!! Benar-Benar sudah tidak waras bapakmu itu. Lantas, apa hubungannya pesugihan yang ia lakukan dengan menikahi kamu?" Aku bertanya.
"Menurut bapak, jin yang dimintai tolong bapak menginginkan satu tumbal lagi sebagai tumbal terakhir. Tumbal terakhir ini harus dari darah daging bapak sendiri dengan perempuan yang sudah lama menikmati hasil pesugihan bapak," jawab Clara dengan terbata-bata kembali karena saking sedihnya.
"Kenapa bapak angkatmu tidak mencari perempuan lain untuk menggantikan posisimu?" tanyaku lagi.
"Waktunya yang tidak memungkinkan, Mbak. Jin itu butuh waktu cepat dan akhirnya bapak memaksa saya. Dan saya pun terpaksa menyetujuinya karena menurut bapak kalau tumbal terakhir itu tidak segera diberikan maka sebagai penggantinya bapak harus menyediakan sepuluh tumbal anak-anak yang usianya di bawah enam belas tahun dan lahir di hari Jumat untuk menggantikannya. Riki itu lahir hari Jumat, Mbak. Saya melakukan semua itu demi menyelamatkan Riki," jawab perempuan itu sambil menangis tersedu-sedu.
"Dan apakah bapak angkatmu berhasil memberikan tumbal terakhir itu setelah menikahimu?" tanyaku penasaran.
Clara menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Mbak. Sepertinya yang mandul itu bapak, makanya selama menikah dengan ibu mereka tidak memiliki keturunan," jawab Clara.
"Lantas, bagaimana bapak angkatmu memberikan tumbal pesugihan kepada jin itu?" tanyaku.
"Ya Tuhan, sungguh biadap bapak angkatmu itu. Masa cucunya sendiri mau dijadikan tumbal," pekikku.
"Iya, Mbak. Sepertinya urat kemanusiaan bapak sudah putus, Mbak," jawab Clara.
"Kenapa bapakmu bisa tahu kalau kamu lari ke sini?" tanyaku.
"Jinnya yang memberitahukan hal itu kepadanya. Termasuk juga yang memberitahukan kepada bapak bahwa Nur, anak Mbak Sinta lahir di hari Jumat," timpal Clara.
"Pasti bapakmu melihat Nur pertama kali sewaktu kamu memberikan bakso kepada anak itu, ya?" tanyaku.
"Iya, Mbak. Bapak melihat Nur saat itu dan ia langsung tahu hari kelahiran anak Mbak Sinta itu," jawab Clara.
"Lantas, bagaimana bisa Riki masih lolos dari bapak angkatmu sejauh ini?" tanyaku.
"Karena saya mengancam bapak, Mbak. Saya mengancam tidak akan melayani kebutuhan biologisnya lagi kalau sampai ia menumbalkan Riki," jawab Clara.
__ADS_1
"Dan bapakmu takut dengan ancamanmu itu?" tanyaku.
"Iya, Mbak. Sejauh ini cara itu masih efektif," jawab Clara.
"Bukankah kamu bilang tadi kalau waktunya tidak lama yang diberikan jin itu?" tanyaku lagi.
"Iya, mungkin bapak selalu berhasil menemukan tumbal lain yang lahir di hari Jumat selain Riki," jawab Clara.
"Jangan bilang kali ini Nur yang akan menjadi tameng anakmu, Clara!" sergahku.
"Tidak, Mbak. Saya tidak ingin anak Mbak Sinta menjadi tumbal selanjutnya, makanya saya memberikannya gelang itu. Gelang itu hanya ada dua, Mbak. Itu pemberian almarhumah ibu angkat saya. Sebelum meninggal ibu berpesan kepada saya bahwa kelak bapak pasti akan mengincar Riki. Dan menurut ibu, gelang itu yang bisa menyelamatkan Riki," ucap Clara.
Napasku menjadi sesak seketika mendengar penjelasan Clara.
"Maafkan saya, Clara. Sudah menuduhmu yang tidak-tidak," ucapku sambil merangkul perempuan muda itu.
"Terima kasih sudah mempercayaiku, Mbak. Dan saya juga minta maaf, gara-gara saya, Nur harus terancam jiwanya," ujar Clara sambil memelukku dengan erat.
"Kita hadapi bapak angkatmu bersama-sama, Clara. Kita tidak boleh tinggal diam, Clara. Orang jahat seperti bapakmu harus dihukum di penjara," ucapku sambil melepas pelukan kami dan mengusap air mata di mata Clara.
"Tidak semudah itu, Mbak. Kejahatan bapak sulit dibuktikan secara fisik," ucap Clara.
Kalau dipikir-pikir, benar juga apa yang dikatakan Clara. Polisi akan sulit membuktikan kejahatan yang diperbuat olehnya, bisa-bisa dia melakukan gugatan balik atas pencemaran nama baik kalau kamj tidak bisa membuktikan kejahatannya.
"Kita pikirkan hal itu nanti Clara bersama Mas Diki. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Nur dan Riki," ucapku.
"Benar, Mbak!" jawab Clara.
"Kapan bapakmu itu datang lagi ke sini?" tanyaku.
"Kemungkinan hari Minggu ini, Mbak," jawab Clara seakan risih mengatakannya kepadaku.
Aku mengerti dengan perasaannya saat itu. Tidak ada wanita yang mau berada di posisinya.
"Sabar ya, Clara. Kami akan menolongmu!" ucapku yang disambut dengan senyuman manis Clara.
Bersambung
Novel Cetak KAMPUNG HANTU sudah naik harga, ya, Kak menjadi 75 ribu. Pemesanan bisa melalui penerbit atau saya sendiri. Terima kasih atas support para pembaca yang luar biasa.
__ADS_1
Salam Seram dan Bahagia