MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 4 TAKUT


__ADS_3

Setelah berada di dalam kamar, perasaan adanya sosok lain di ruangan itu pun hilang.


"Tenangkan dirimu, Mbak. Kita ini tengah berkabung, nggak baik kalau bertengkar dengan saudara sendiri. Kasihan almarhumah bude pasti sedih kalau melihat hal ini," ucapku sambil mendudukkan Mbak Ning di kamarnya.


"Iya, Dik. Terima kasih sudah mengingatkan sayq, Dik" sahut Mbak Ning sambil mengusap air matanya.


"Saya keluar dulu ya, Mbak, untuk menemani Bulek Darsih. Takutnya Bulek malah tambah emosi kalau tidak dibarengi. Ntar dikiranya saya membela Mbak Ning. Nggak enak sama tetangga yang bantuin kita," kataku pada Mbak Ning.


"Iya, Dik. Buruan temui Bulek. Ntar dia keburu emosi sama Dik Sinta," jawab Mbak Ning.


Aku pun bergegas kembali ke ruang tamu. Benar saja dugaanku, sesampai di ruang tamu bulek di sana langsung menatapku dengan tatapan mata sinisnya.


"Ngadu apa lagi dia sama kamu, Sin?" tanya bulek dengan mata melotot.


"Enggak, Bulek. Mbak Ning nggak ngadu apa-apa. Dia cuma butuh istirahat," jawabku berbohong.


"Halah! Nggak usah munafik kamu, Sin. Mentang-Mentang sekarang kamu sudah kaya, sudah berani ngelawan sama orang tua! Dulu kamu masih kecil siapa yang nyewokin kamu? Ibumu yang sakit-sakitan itu?" bentak Bulek dengan nada emosi.


"Jangan bawa-bawa ibu, Bulek. Terima kasih sudah ikut merawat saya waktu kecil," jawabku kalem padahal jujur saat itu dadaku benar-benar panas mendengar omongan kasar seperti itu.


"Nggak usah sok bijak kamu! Kalau saja nggak ada bulekmu ini, mau jadi apa kamu?" bentak bulek lagi.


"Tidak, Bulek. Saya benar-benar berhutang budi dengan Bulek," jawabku sambil memendam emosi.


"Ya sudah, saya berangkat ke sekolah dulu. Bisa stres saya kalau berlama-lama di sini! Nggak ada yang beres semua!" teriak Bulek Darsih lagi.


"Iya, Bulek," jawabku dengan sopan takut bibiku itu mengamuk lagi.


"Bilang sama Mbak Ning kesayanganmu itu. Nanti malam saya nggak bisa bantuin di sini karena saya harus melakukan supervisi di salah satu sekolah saya," ujar Bulek.


"Iya, Bulek," jawabku sambil merunduk.


Bulek kemudian berangkat meninggalkan rumah Bude Yati dengan mengendarai mobil putihnya.


"Mana mobilmu, Sin?" sapa Bulek Darsih sebelum berangkat.


"Dibawa Mas Diki, Bulek!" jawabku kalem.

__ADS_1


"Loh, masa orang kaya cuma punya satu mobil? Beli lagi dong khusus buat kamu. Biar kamu enak kalau mau ke mana-mana," ujar Bulek Darsih.


"Mas Diki itu nggak mau kalau saya ke mana-mana sendiri, Bulek," jawabku jujur.


"Halah! Alasan itu. Itu tandanya suamimu itu pelit. Kamu jangan terlalu bodoh jadi istri. Kamu harus bisa menguasai suamimu. Jangan sampai uang hasil jerih payah suamimu dinikmati orang lain karena kamu terlalu polos. Banyak loh laki-laki terlihat baik-baik di rumah, ternyata punya selingkuhan di luar rumah," ujar Bulek Darsih dengan nada provokatif.


"Naudzubillahimindzalik ... semoga Mas Diki bukan pria yang seperti itu, Bulek ...," sahutku.


"Dibilangi ngeyel kamu ini, Sin. Sudah deh, nggak keponakan yang ini yang itu sama saja bodohnya. Yang satu kere yang satu kaya tapi mau aja dikibuli," ujar Bulek Darsih sambil mengegas mobil mewahnya meninggalkan pelataran rumah Mbak Ning.


"Astagfirullah!!!" Aku mengelus dada begitu Bulek Darsih sudah berlalu pergi.


Aku pun kembali menyusul Mbak Ning ke kamarnya. Mbak Ning tersenyum ke arahku.


"Gimana, Dik Sin? Sudah dapat sarapan apa saja dari Bulek?" ledek Mbak Ning.


"Sarapan pecel, rawon, dan sate, Mbak Ning. Yang paling pedas sarapan jeroan. Heeeeeeeeh!!" Aku berteriak untuk melepas emosi yang membuncah.


"Itulah Bulek Darsih sekarang, Dik Sin. Beda banget, kan? Kalau saya sih lebih suka Bulek Darsih yang dulu sewaktu Paklek masih hidup. Biar wes belum jadi orang kaya, tapi omongannya nggak bikin jantungan dan sakit hati. Iya, kan?" keluh Mbak Ning.


"Kok gitu saja nyahutnya, Dik?" tanya Mbak Ning.


"Masih syok saya, Mbak! Seumur-umur saya baru lihat Bulek sekasar tadi," jawabku.


"Itu dia salah satu alasan saya berat melepaskan Ikbal untuk tinggal bareng beliau. Takut Ikbal jadi kasar seperti beliau," kata Mbak Ning.


"Sangat masuk akal kekhawatiranmu, Mbak. Tapi, masa Ikbal bisa jadi kayak gitu, Mbak? Lah wong anaknya kalem begitu," jawabku.


"Iya bisa jadi, Dik Sin. Kalau sering kumpul lama-lama kepribadiannya bisa nular, kan?" ujarnya lagi.


"Iya juga, sih," jawabku.


"Tapi, alasan terkuatnya sebenarnya bukan itu, Dik Sin ...," ujar Mbak Ning kemudian dengan nada serius.


"Oh ya? Apa Mbak Ning alasan lainnya itu? Kasih tahu saya, dong!" Aku bertanya dengan penuh rasa keingintahuan.


"Hm ... Gimana ya ngomongnya?" Mbak Ning kebingungan untuk berbicara.

__ADS_1


"Ngomong saja, Mbak. Aku nggak akan ngomong siapa-siapa, kok?" ujarku untuk meyakinkan Mbak Ning.


"Begini, Dik Sin. Kita semua tahu, kan, kalau keluarga kita ini nggak punya banyak warisan?" jawab Mbak Ning.


"Iya, Mbak. Benar, terus?" tanyaku.


"Suami Bulek Darsih semasa hidup usahanya juga itu-itu saja, ya kan? Sedangkan Bulek dulunya kan cuma jadi guru swasta. Tahu kan guru honorer berapa gajinya?" sambung cerita Mbak Ning.


"Iya, benar. Terus?" Aku terus mendesak Mbak Ning untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Nah itu dia. Semenjak suaminya meninggal kok bisa ekonomi bulek itu berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang awalnya biasa saja bahkan cenderung berkekurangan tiba-tiba menjadi jutawan seperti sekarang ini," lanjut cerita Mbak Ning.


"Iya, siapa tahu Bulek mengalami kenaikan gaji, Mbak. Kan sudah lama menjadi guru siapa tahu dia sudah mendapat tunjangan sertifikasi atau malah sudah inpashing. Konon kalau sudah inpashing, tunjangannya setara gaji pokok PNS, Mbak?" bantahku.


"Sebesae apaoun gajinya, masa kamu nggak tahu kaya hidup Bulek? Dia itu hobi shoping dan jalan-jalan. Mana cukup gajinya. Tapi nyatanya ekonominya malah melesat dan malih ia sudah mendirikan beberapa sekolah baru," jawab Mbak Ning tak mau kalah.


"Terus, maksud kamu apa Mbak Ning cerita seperti ini?" tanyaku pada anak sulung Bude Yati ini.


"Saya curiga sama Bulek Darsih, Dik Sin," jawabnya.


"Curiga apa, Mbak Ning?" tanyaku penasaran.


"Saya curiga Bulek Darsih itu memperoleh haryanya dari cara yang nggak bener, Dik Sin?" jawabnya.


"Maksudmu Bulek Darsih melakukan korupsi dana BOS?" Aku menebak isi pikiran Mbak Ning.


"Bukan, Dik," jawab Mbak Ning.


"Kalau bukan korupsi terus apa? Masa bulek dapat uangnya dari bisnis kayak artis-artis di tivi itu? Jangan ngadi-ngadi lah. Bulek nggak mungkin kayak gitu," jawabku tak percaya.


"Bukan, Dik. Saya curiga Bulek Darsih itu mendapatkan semuanya dengan melakukan pesugihan," jawab Mbak Ning kalem.


"P-E-S-U-G-I-H-A-N?" Aku terperangah dengan jawaban Mbak Ning.


BERSAMBUNG


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya, ya? Love you all, Sobat Junan

__ADS_1


__ADS_2