MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 33 : TERKEJUT


__ADS_3

Mungkin karena tak kuat menahan serangan kantuk yang amat sangat ditambah dengan tingkat kesejukan AC mobil yang pas, akhirnya aku pun terlelap dalam tidur.


Sepertinya aku tertidur cukup lama. Ketika bangun, aku terkejut karena aku sudah tidak berada di dalam mobil. Melainkan aku sedang terbaring di atas kasur.


"Mengapa aku bisa berada di sini? Apa yang telah dilakukan oleh Pak RT terhadapku? Jangan-Jangan pria itu telah berbuat kurang ajar kepadaku?" Aku berkata pada diriku sendiri.


Aku berusaha bangkit sambil memeriksa keadaan tubuhku. Pakaianku sih tetap terpasang seperti semula, kecuali sandalku mungkin dilepaskan sebelum aku dibawa ke kasur ini. Aku juga memeriksa kondisi sekujur tubuhku apakah ada yang sakit atau tidak. Aku tidak merasakan sakit sedikit pun pertanda aku tidak mengalami kekerasan fisik saat aku tertidur.


"Mengapa Pak RT membawaku ke tempat ini? Apa yang akan ia lakukan terhadapku? Apakah ia akan menyanderaku?" Membayangkan hal itu aku merasa ngeri sendiri.


Aku pun segera beranjak dari tempat tidur bermaksud untuk pergi dari tempat ini. Namun, sebelum aku berlari ke arah pintu, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang mengejutkan di hadapanku.


"Sudah bangun kamu, Sin?" ucap seorang perempuan yang sangat kukenal baik


"Loh, kok bisa ada Bulik? Loh, apakah ini rumah Bulik? Bagaimana saya bisa berada di tempat ini?" cerocosku pada Bulik yang juga terpana memandangku.


"Benar. Kamu sedang berada di rumah saya. Tadi ketika saya pergi ke sebuah mini market tanpa sengaja saya bertemu dengan Nak Galih. Kebetulan kami sudah saling mengenal sebelumnya. Nah, Nak Galih yang cerita kepada saya bahwa ada kamu di mobil. Kamu mendadak sakit katanya. Ya sudah saya meminta Nak Galih untuk membawa kamu ke sini," jawab Bulik.


"Iya, Dik Sin .... Benar apa yang dikatakan oleh bulikmu ini. Saya bingung harus ngapain soalnya pas sampai di mini market kamu saya bangunin nggak bangun-bangun. Saya takut terjadi apa-apa sama kamu. Nah, kebetulan saya melihat bulikmu ini akhirnya saya menyampaikan perihal keadaanmu kepada beliau dan beliau menyarankan untuk membawamu ke rumahnya. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kepalamu sudah tidak berat lagi?" ucap Pak RT yang tiba-tiba muncul di belakang Bulik.


"Tidak, Pak RT. Kepalaku sudah enteng sekarang, tapi kok rambut saya kok kayak basah, ya?" jawabku sambil meraba bagian rambutku.


"Oh ... itu tadi saya yang mengkompres dahimu, Sin, soalmu badanmu tadi juga agak panas. Tapi, sebelum kamu bangun, saya cek ternyata badanmu sudah dingin, kain kompresannya saya lepas dari keningmu," jawab Bulik dengan tersenyum.


"Oooo ... terima.kasih, Bulik," jawabku sambil menatap curiga kepada adik perempuan ibuku itu.


Sorot mata Bulik seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Terlebih gaya bicara Bulik saat itu tidak seperti biasanya. Biasanya ia terlihat sinis dan angkuh. Tapi, kali ini ia terlihat ramah. Benar-Benar aneh. Tapi, sudahlah. Setidaknya keberadaan Bulik di saat aku mengalami kantuk luar biasa bersama Pak RT, cukup membuatku tenang. Tidak mungkin Pak RT akan berbuat kurang ajar kepadaku.


"Kamu itu tidur kayak orang pingsan. Kamu pasti nggak sarapan? Ayo, sekarang makan bubur ini. Kebetulan tadi saya membeli bubur di depan mini market," ucap Bulik sambil menyuapiku.

__ADS_1


Aku menolak disuapi Bulik. Aku makan bubur itu dengan sendok yang kupegang sendiri.


"Terima kasih, Bulik. Saya sudah sarapan, kok. Cuma kayaknya saya telat ngemil saja," jawabku.


Aku pun memakan bubur pemberian Bulik dengan lahap sampai habis setengahnya. Perutku sudah tidak bisa menampung bubur itu lagi. Saya pun meletakkan bubur itu di meja dan minum air hangat di sebelah bubur itu.


"Kamu istirahat saja dulu kalau masih merasa kurang enak badan. Kamu sudah lama sekali tidak main ke sini, kan?" ujar Bulik dengan manis.


"Saya harus segera pulang, Bulik. Takutnya Mas Diki sudah pulang dari luar kota," jawabku.


"Dia pulangnya pasti malam, Sin. Nggak mungkin jam segini sudah pulang," bantah Bulik.


"Iya sih. Tapi, Nur, Mbak. kasihan kalau dia pulang nggak ketemu orang sama sekali," protesku.


"Nur sudah besar, Sin. Dia bukan anak kecil lagi. Sudah bisa mengurus dirinya sendiri," balas Bulik.


"Kasian Nur, Bulik. Masa kecilnya saya jarang menggendongnya karena sambil bekerja. Kasihan kalau sekarang dia saya tinggal-tinggal lagi, Bulik," jawabku tegas.


Pak RT antusias mendengar ucapan Bulik


"Biar saya naik angkutan umum saja, Bulik. Kasihan Pak RT ini harus wira-wiri kalau harus mengantar saya pulang ke rumah," jawabku.


"Saya tidak akan mengijinkan kamu naik angkutan umum. Saya takut terjadi apa-apa sama kamu. Kamu itu nggak ada duanya lagi," jawab Bulik.


"Maksud Bulik apa?" tanyaku.


"Maksudnya, kamu ini keponakan Bulik satu-satunya," jawab Bulik belepotan.


"Bulik ini ngomong apa, sih? Mbak Ning dan Ikbal kan juga keponakan Bulik?" protesku.

__ADS_1


"Eh ... iya. Mereka berdua memang keponakan saya. Tapi, mereka berdua itu susah dibilangi. Terutama Ningsih itu, adiknya mau ikut saya saja dia keberatan," jawab Bulik Darsih dengan nada sedikit naik.


"Bagaimana pun mereka itu keponakan Bulik Darsih juga sama seperti saya. Kami ini nanti yang akan menjaga Bulik Darsih kalau sudah tua," jawabku.


"Enggak. Bulik mau sehat terus. Nggak mau merepotkan kalian semuanya," jawab Bulik.


"Alhamdulillah. Semoga Bulik akan sehat walafiat sampai tua nanti. Aamiiin ...," jawabku.


"Ya, sudah. Kalau kamu memang mau pulang. Saya titip salam sama suamimu. Bilang sama dia, jangan sombong-sombong. Kapan dia mau main ke sini?" ucap Bulik lagi.


"Iya, Bulik. Saya pamit dulu," jawabku sambil menjabat tangan Bulik.


"Tolong kamu nyetirnya hati-hati, Galih. Dia itu sangat berharga. Jangan kamu sentuh atau apa-apain dia!" pesan Bulik pada Pak RT.


"Sampean ini kok ngomong aneh-aneh, Bu. Saya tidak mungkin berbuat kurang ajar," jawab Pak RT.


"Siapa tahu? Namanya kucing kalau ada ikan asin pasti ngiler. Apalagi Sinta ini cantik dan kamu dulu pernah naksir sama Sinta, kan?" ucap Bulik Darsih.


"Bulik ini ngomong apaan, sih?" jawabku sambil berlalu meninggalkan rumah Bulik setelah memeriksa barang bawaanku lengkap semuanya. Terutama telepon seluler dan flashdisk yang berisi data-data penting.


Mobil yang berisi aku dan Pak RT pun melaju dengan kecepatan konstan menuju rumah. Sepanjang jalan aku memilih diam. Tapi, kali ini aku tidak berani untuk rebahan lagi karena takut tertidur lagi. Aku terngiang-ngiang perkataan Bulik, "Kucing kalau dikasih ikan bisa bahaya." Akhirnya kami pun sampai di rumah. Ternyata di teras rumah sudah menunggu suamiku. Ia berdiri dengan tegap menghadap ke arahku yang sedang turun dari mobil yang dikendarai oleh Pak RT.


"Mas Diki!!" gumamku.


BERSAMBUNG


Berminat membeli novel KAMPUNG HANTU?


silakan kunjungi aplikasi SHOPEE dan ketik di kotak pencarian "mohamadimron"

__ADS_1


Juga tersedia produk-produk yang lain.


__ADS_2