MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 5: BU NISA


__ADS_3

Habis isya Bu Nisa merasa sakit perut. Ia pun buru-buru berlari ke sungai.


"Mau ke mana, Dik?" sapa suaminya sambil menggambar rancangan rumah yang akan ia bangun.


"Sakit perut, Mas. Bisa anterin, nggak?" ujar Bu Nisa.


"Halah. Biasanya berangkat sendiri!" sahut suaminya.


"Aku takut, Mas kalau ada orang baru meninggal," paksa Bu Nisa.


"Aku repot menggambar, Dik. Besok hasilnya sudah harus aku setor ke yang punya rumah. Kamu minta antar si Riki saja," tolak suaminya.


"Riki lagi nonton tivi di rumah Bu Reni, Mas," rayu Bu Nisa.


Suaminya tidak menjawab dan asyik dengan pekerjaannya. Bu Nisa sambil menggerutu berangkat ke sungai sendirian.


"Awas ya, nanti malam minta jatah, tak punggungi!"


Untuk sampai ke sungai, Bu Nisa harus melalui jalan setapak sejauh dua ratus meter. Tanah di sepanjang jalan setapak itu sebagian besar masih berupa tegalan yang ditanami pohon pisang dan pohon-pohon lainnya oleh empunya.


Untuk penerangan, masyarakat sekitar dusun Delima sengaja memasang lampu di beberapa titik. Untuk aliran listriknya, diambilkan dari beberapa rumah penduduk yang paling dekat dengan sungai. Masyarakat dusun Delima mayoritas masih menggunakan sungai sebagai tempat untuk mencuci baju, mandi, dan membuang hajat.


Ada beberapa titik sungai yang digunakan oleh penduduk sebagai tempat MCK. Bu Nisa memilih yang paling dekat. Sebenarnya ada yang letaknya dekat dengan rumah penduduk, tapi Bu Nisa tidak ke sana karena letaknya agak jauh dan Bu Nisa harus lewat di depan rumah Laras untuk sampai ke sana.


Entah apa sebabnya, sepanjang jalan menuju ke sungai Bu Nisa tidak berpapasan dengan satu orang tetangga pun. Suasana yang sepi dan cahaya lampu yang remang-remang membuat Bu Nisa ngeri. Tapi, rasa sakit di perutnya membuat perempuan itu harus memberanikan diri berangkat ke sungai sendirian.


Bu Nisa mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru sungai sebelum ia turun ke bawah. Ia ingin memastikan bahwa di bawah sana tidak ada sesuatu yang membahayakan dirinya seperti ular ataupun hantu. Dengan menggunakan senter kecil milik suaminya, Bu Nisa menyinari jalan yang akan ia lewati. Setelah ia yakin situasi aman, ia pun turun dan mendongkrong di sungai.


Ketika Bu Nisa mendongkrong di sungai, Bu Nisa kembali teringat dengan Laras yang baru dimakamkan sore tadi. Perasaan Bu Nisa menjadi tidak tenang saat itu. Pandangan matanya kembali berkeliaran ke seluruh penjuru sungai karena khawatir Laras menjadi hantu dan tiba-tiba muncul di depannya.

__ADS_1


"*J*abang bayi!! Eh, sampean, Bu?" sapa Bu Nisa terkejut dengan kemunculan salah satu tetangganya, Bu Reni yang tiba-tiba duduk di bantaran sungai.


Bu Reni tidak menyahut. Bu Reni memang terkenal tidak begitu ramah kepada tetangga. Bu Nisa memaklumi hal itu, apalagi Riki, anaknya sering menumpang menonton televisi di rumah Bu Reni.


"Tak apalah tidak disahuti. Setidaknya aku tidak sendirian di sungai ini."


Bu Nisa pun menyelesaikan hajatnya dengan lebih tenang karena ada Bu Reni yang menungguinya di bantaran. Setelah selesai, Bu Nisa pun naik ke bantaran sungai. Anehnya, di atas bantaran Bu Nisa tidak melihat adanya Bu Reni. Wangi bunga semerbak tercium oleh hidung Bu Nisa.


"Bu Reni?" panggil Bu Nisa.


Tapi, tidak ada sahutan. Bu Nisa mengarahkan senter ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan Bu Reni. Ternyata Bu Reni sudah pindah duduk di pinggir pohon asam.


"Wah, di situ sampean ternyata, Bu Reni," teriak Bu Nisa sambil berjalan menuju Bu Reni.


Bu Reni tidak menyahut. Ia menunduk-nunduk di bawah seperti sedang memunguti sesuatu di bawah.


"Sampean nyari buah asam tah, Bu Reni? Besok saja kalau mau nyari. Nggak baik malam-malam di bawah asam," tegur Bu Reni sambil berdiri di belakang Bu Reni.


"Kata orang-orang tua dulu. Pohon asam itu banyak memedinya, Bu Reni. Oh, ya. Saya sudah selesai buang hajat. Monggo kalau Bu Reni mau buang hajat juga, saya tunggui balik," tegur Bu Nisa lagi.


Bu Reni masih terdiam sambil menunduk.


"Bu Reni!!!" panggil Bu Nisa sambil menggoyang-goyangkan lengan Bu Reni.


Bu Reni tetap tidak menyahut. Wangi harum bunga semakin semerbak tercium oleh hidung Bu Nisa. Bulu kuduk Bu Nisa meremang saat itu. Bu Nisa mulai merasakan keanehan dari perilaku Bu Reni. Ia pun menarik lengan Bu Reni lebih rapat ke arahnya dengan maksud agar ia dapat berbicara langsung di depan wajah Bu Reni.


Sialnya, Bu Nisa harus menjerit keras saat itu karena yang ada di depannya bukanlah Bu Reni, melainkan Laras dengan wajah yang sangat menyeramkan.


"Toloooooooooongggggggg!!!!!" teriak Bu Nisa sambil lari terbirit-birit dari sungai menuju rumahnya. Saking takutnya, sandalnya lepas sudah tidak diperdulikan lagi oleh perempuan itu.

__ADS_1


Bu Nisa benar-benar ketakutan saat itu. Ia harus berlari sendirian dalam jarak dua ratusan meter dengan bayang-bayang hantu Laras seolah-olah terus mengejarnya.


Suami dan para tetangga yang tinggal di dekat rumah Bu Nisa pun kaget mendengar teriakan Bu Nisa yang cukup keras.


"Ada apa, Dik?" teriak suami Bu Nisa begitu mendengar teriakan istrinya.


Ada beberapa tetangga yang keluar rumah untuk mengetahui sebab musabab teriakan Bu Nisa.


"D-di s-sungai tadi ada hantunya Laras, Mas!" jawab Bu Nisa dengan gemetar dan ketakutan.


"Ah, paling itu hanya perasaanmu saja, Dik," bantah suaminya.


"Mas ini nggak percayaan, sih? Sana liat sendiri ke sungai. Tuh, di bawah pohon asam. Laras menggangguku dengan menyerupai Bu Reni," otot Bu Nisa.


Tetangga laki-laki yang mendengar omongan Bu Nisa pun ada dua orang yang berangkat ke sungai untuk memeriksa. Suami Bu Nisa tetap di rumahnya karena khawatir meninggalkan Bu Nisa. Ibu-Ibu yang tinggal di sekitar rumah Bu Nisa sama-sama ketakutan mendengar cerita Bu Nisa.


"Kayak apa hantunya, Bu Nisa?" tanya Bu Jefri yang tinggal tepat di sebelah Bu Nisa.


"Serem banget wajahnya, Bu," jawab Bu Nisa sambil menggigil.


"Kok, Bu Nisa yakin itu hantunya Laras?" tanya Bu Dimas.


"Wajahnya itu mirip banget sama Laras, Bu. Tapi serem pokonya. Amit-Amit kalau sampai sampean mengalami seperti saya," jawab Bu Nisa.


Lima menit kemudian, bapak-bapak yang memeriksa di sungai datang. Ibu-Ibu pun beramai-ramai memberondong mereka dengan pertanyaan-perrtanyaan.


"Gimana, Pak? Apa ada hantunya?" tanya Bu Jefri penasaran.


"Sudah nggak ada, Bu," jawab salah satu dari bapak-bapak itu.

__ADS_1


"Tapi memang bau kembang di sana," jawabnya lagi.


BERSAMBUNG


__ADS_2