MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 19 : KESEDIHAN


__ADS_3

Jam satu malam jenazah Pak Hartono baru ditemukan oleh pengendara yang kebetulan lewat di tempat tersebut. Sedangkan sopir truk gandengan yang menabrak Pak Hartono kabur karena tak mau berurusan dengan polisi.


Pengendara itu pun berteriak dengan kencang sehingga mengundang keributan dan warga perumahan pun keluar untuk mengecek apa yang terjadi sebenarnya. Dan mereka benar-benar terkejut setelah mengetahui bahwa Satpam yang menjaga perumahan mereka telah menjadi korban tabrak lari.


Perwakilan warga pun buru-buru menghubungi Pak Ghofar yang menjadi rekan kerja Pak Hartono. Pak Ghofar yang tertidur lelap pun tidak mengetahui bahwa Ponselnya berdering karena saking mengantunya. Akhirnya, istrinya yang mengangkat telepon dan ia pun terkejut setelah diberi kabar oleh salah satu warga perumahan tempat suaminya bekerja bahwa Pak Hartono sudah menjadi korban tabrak lari dan tewas di tempat.


Istri Pak Ghofar pun membangunkan suaminya untuk memberitahukan kabar kematian istrinya itu. Betapa terkejutnya Pak Ghofar setelah mendengar kabar dari istrinya bahwa rekan kerjanya, Pak Hartono mengalami kecelakaan dan tewas di depan pintu masuk perumahan. Ia pun mengajak istrinya untuk bersiap menuju rumah Pak Hartono untuk memberi kabar keluarga Pak Hartono perihal berita tersebut. Tentunya, ia tidak mungkin mengatakan langsung keadaan Pak Hartono yang sebenarnya karena itu akan membuat mereka syok seketika.


Pak Ghofar dan istrinya pun berboncengan menuju rumah Pak Hartono. Sesampai di depan rumah Pak Hartono, Pak Ghofar dan istrinya pun mengetuk pintu rumah Bu Reni. Bu Reni awalnya tidak mau keluar, tapi karena yang memanggil bukan hanya Pak Ghofar melainkan juga istrinya, akhinya perempuan itu pun mau keluar kamarnya setelah ditemani Ibnu. Ternyata semalaman perempuan itu tidak bisa tidur nyenyak karena takt didatangi arwah Laras.


Pak Ghofar mengabarkan kepada Bu Reni bahwa suaminya baru saja kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit. Ia tidak mengatakan bahwa beberapa menit yang lalu ada kabar dari warga perumahan bahwa jenazah Pak Hartono sedang dibawa ke kamar mayat sebuah rumah sakit di kota tersebut. Pak Ghofar juga menyarankan Bu Reni untuk meminta antar kepada salah satu tetangganya menuju rumah sakit. Akhirnya Bu Reni pun membangunkan tetangganya yang kemarin menjaganya waktu ia diganggu Laras. Bu Nada dan suaminya terkejut dengan berita kecelakaan itu. BU Ren mengutarakan kepada Bu Nada bahwa ia minta ijin diantar suami Bu Nada ke rumah sakit untuk menjenguk suaminya. Bu Nada yang baik itu pun mengijinkan suaminya. Dan mereka berempat pun berangkat bersama menuju rumah sakit. Namun sebelum berangkat, Bu Nada sempat dibisiki oleh istri Pak Ghofar tanpa sepengetahuan Bu Reni bahwa Pak Hartono sudah meninggal. Tepat saat Bu Reni dan yang lain menghilang dari pandangannya, Bu Nada pun histeris dan membangunkan para tetangganya dan mengabarkan kepada mereka perihal kematian Pak Hartono. Dalam waktu yang singkat, meskipun tengah malam, kabar kematian Pak Hartono pun menyebar ke sebagian besar warga dusun Delima.


Setelah sampai di rumah sakit, Pak Ghofar pun mengajak Bu Reni menuju ke bagian belakang rumah sakit tersebut. Ketika sampai di kamar jenazah Bu Reni sempat protes kepada Pak Ghofar kenapa ia dibawa ke tempat tersebut, tapi Pak Ghofar berdalih masih ada urusan lain. Ternyata di kamar jenazah itu sudah ada beberapa warga perumahan yang memang sengaja ikut ke rumah sakit untuk mengantar jenazah Pak Hartono. Dan Pak Ghofar bersama rombongan pun akhirnya sampai ke jenazah Pak Hartono dengan diantar oleh orang itu. Bu Reni dan Ibnu pun menjerit histeris ketika ia melihat suaminya sudah berbaring tidak bernyawa di atas brankar. Istri Pak Ghofar lah yang berusaha untuk mengingatkan perempuan tersebut agar bersabar dengan kepergian suaminya.

__ADS_1


"Mbak, pas berangkat Mas Hartono minta maaf ke aku, Mbak. aku dan Ibnu dicium. Aku nggak ngerti Mbak kalau Mas Hartono mau meninggal. Maaaaaas .....," jerit dan tangis Bu Reni dan Ibnu menggema di kamar jenazah tersebut.


"Sabar ya, Mbak. Mbak Reni harus kuat demi Ibnu, Mbak ..," ujar istri Bu Ghofar untuk menguatkan hati Bu Reni.


Setelah keadaan cukup tenang, akhirnya jenazah Pak Hartono pun dimandikan oleh petugas rumah sakit dengan dibantu oleh pihak keluarga. Bu Reni dan Ibnu pun ikut sejenak pada proses pemandian jenazah tersebut sebelum disucikan. Setelah selesai semua urusan rumah sakit, jenazah Pak Hartono pun dibawa pulang ke dusun Delima untuk dikebumikan. Ternyata warga dusun Delima sudah menunggu kedatangan jenazah Pak Hartono sejak tengah malam. Bu Nada dibantu oleh para tetangga juga sudah mempersiapkan rumah duka. Tangis Bu Reni kembali pecah saat ia bertemu dengan Bu Nada dan Bu Nisa yang selama ini sangat akrab dengannya. Jenazah Pak Hartono dimakamkan pukul tujuh pagi dengan diiringi tangisan Bu Reni dan Ibnu.


Selama di kuburan, warga dusun Delima juga masih mempergunjingkan perihal hantu Laras dan mengait-ngaitkan kematian Pak Hartono dengan Laras.


"Jangan-Jangan Pak Hartono ini mati karena takut dikejar Laras?" ucap salah satu warga.


"Yah, siapa tahu. Aneh juga, kan, kok bisa tengah malam Pak Hartono ada di jalan raya? Kata warga sana, Pak Hartono jam segitu biasanya diam di dalam pos. Ada yang bilang juga Ponsel Pak Hartono dalam keadaan menyala di dalam pos. Aneh, kan?" terang warga itu.


"Nggak lah. Apa urusannya Laras dengan Pak Hartono? Orangnya kalem begitu," jawab warga itu.

__ADS_1


"Kalem-Kalem gimana toh. Apa kamu nggak pernah dengar dulu Pak Hartono sempat bertengkar dengan istrinya karena istrinya cemburu Pak Hartono pamit memancing ternyata Pak Hartono duduk-duduk di sekitar rumah Laras," jawab warga itu.


"Iya tah?" tanya warga itu akhirnya.


"Lah iya toh. Siapa tahu Pak hartono itu pernah kikuk-kikuk sama Laras , tapi nggak mau bertanggung jawab," tambah warga itu.


"Ssssst!!! Ada Pak Herman," jawab warga itu


Dan mereka pun menghentikan pergunjingannya karena mengetahui bahwa Laras adalah keluarga Pak Herman. Setelah acara pemakaman selesai, semua warga pun membubarkan diri menuju rumahnya masing-masing. Hanya tinggal keluarga Bu Reni, keluarga Pak Ghofar, keluarga Bu Nada, dan Bu Nisa yang masih berdiam diri di atas pusara Pak Hartono dan pulang paling akhir.


Sementara itu di dusun Delima ada satu orang yang sedang gelisah dan takut dengan kematian Pak Hartono. DIa adalah Pak Ade suami Bu Nisa sekaligus sahabat terdekat Pak Hartono. Sejak mendengar kabar kematian sahabatnya itu, ia merokok secara nonstop dan sesekali meneguk minuman keras yang memang selalu ada di rumahnya. Dari gelagatnya terlihat bahwa pikiran pria itu sedang kalut.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Kenapa Pak Ade ketakutan?


__ADS_2