MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 107 : BLOKADE


__ADS_3

Pada saat itu Pak Ade menangis karena ia telah membuat anak dan istrinya pingsan akibat perbuatannya sendiri.


“Nisaaaaa … maafkan aku, Dik!” rintih Pak Ade sambil menatap istrinya yang tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi.


“Revaaaan … maafkan bapak, Nak!” rintih Pak Ade pada Revan yang pingsan dan berbaring di depan kamar mandi.


Belum hilang rasa sedihnya, tiba-tiba sosok menyeramkan Laras sudah muncul secara tiba-tiba tepat di depannya.


“Arrrrrgh!!!!!” teriak Pak Ade saking terkejutnya.


“Hi hi hi hi hi …,” teriakan Pak Ade dibalas dengan ketawa cekikikan oleh Laras.


Pak Ade pun berusah untuk lari menjauh dan menjaga jarak dengan arwah perempuan itu. Namun, baru saja pria itu berlari sejauh lima langkah, arwah Laras sudah menghadangnya di depan pria itu dengan tampilan seram sekali sehingga membuat pria itu terkejut dan menghindar berlari ke arah lain.


“Aaaaaaaaa!!!!” teriak Pak Ade panik.


Arwah Laras membiarkan pria dewasa itu berlari ke arah lain selama beberapa detik. Namun, pada detik ke sekian ia kembali muncul di depan Pak Ade dengan cara meluncur dari atas dan membuat pria itu kembali terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba.


“Pergiiiiiii!!!” teriak Pak Ade bercampur antara marah dan takut.


Dengan kebingungan Pak Ade pun berbalik arah dan kembali berlari menjauhi sosok seram arwah Laras. Demikian seterusnya pria itu hanya berlari bolak-balik di pekarangan Jatmiko tanpa ia bisa kabur menjauhi Laras karena semua jalan diblokade oleh arwah perempuan itu.


Setelah berlari selama bermenit-menit, akhirnya Pak Ade pun kelelahan. Keringatnya mengucur dengan deras dan jantungnya berdegup dengan kencang. Pada detik-detik akhir sisa tenaganya, pria itu terjatuh di tengah pekarangan Jatmiko dan tidak sadarkan diri di sana.


“Hi hi hi hi hi ….,” suara tawa arwah Laras terdengar melengking di sekitar rumah Jatmiko.


Dari suara tawanya terlihat bahwa arwah perempuan itu senang sekali karena bisa mencelakai Pak Ade dan kelarganya. Suara lengkingan tawa arwah perempuan itu terdengar sampai kedalam rumah dan membangunkan Jatmiko dari tidurnya.


“Ade!!!” pekik Jatmiko yang terbangun dari tidurnya.


Bujangan dewasa itu pun langsung terduduk dan teringat dengan sahabat masa kecilnya yang sedang menginap di rumahnya malam itu.

__ADS_1


“Apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba kepikiran dengan Ade? Sepertinya aku harus mengecek keadaan sahabatku dan keluarganya itu. Semoga ia baik-baik saja,” ucap Jatmiko sambil beranjak dari tempa tidurnya.


Dengan perlahan Jatmiko melangkah meninggalkan kamar tidurnya menuju ruang tengah. Ia melagkah secara perlahan karena tidak ingin mengganggu ibunya atau keluarga Pak Ade yang mungkin sedang telelap. Sesampai di ruang tengah, Jatmiko terkejut karena melihat pintu kamar yang ditempati oleh Pak Ade dan keluarganya sudah terbuka. Tidak hanya itu, ketika ia menoleh ke arah ruang tamu, ia melihat pintu ruang tamu juga sedang terbuka.


“Ade!!” pekik Jatmiko secara refleks menyadari ketidakberesan yang terpampang di depannya saat itu.


Pria itu pun melangkah ke depa mendekati kamar yang ditempati sahabatnya untuk memastikan bahwa Pak Ade dan keluarganya masih di sana. Namun, ternyata ia tidak melihat siapa-siapa di kamar itu.


“Ade! Ke mana kalian?” gumam Jatmiko sambil melangkah ke ruang tamu dengan penuh kewaspadaan.


Pria itu khawatir saat itu karena Pak Ade dan keluarganya tidak ada di dalam kamar dan kondisi pintu ruang tamu saat itu sedang terbuka. Hanya satu alasan yang mungkin masuk akal untuk menjawab rasa penasaran di dalam dada Jatmiko. Iya, Jatmiko yakin bahwa Pak Ade dan keluarganya sedang keluar rumah saat itu.


“Ya ampun, Ade! Kalian kan sudah dibilangi untuk tidak keluar rumah malam ini. Tapi, kenapa kalian masih nekad keluar?” gerutu Jatmiko sambil memeriksa keadaan di luar rumahnya.


“Adeeeee …. Nisaaaaaa … Revaaaaan …,” panggil Jatmiko ke arah luar rumahnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling rumahnya.


Tentu saja tidak ada yag menyahut saat ia memanggil saat itu. Jatmiko sebenarnya enggan untuk keluar malam-malam dari dalam rumahnya, tapi karena ia penasaran dan kepikiran dengan kepergian Pak Ade dan keluarganya, maka pria itu pun keluar dari dalam rumah dan memeriksa keadaan di sekitar rumahnya dengan lebih teliti.


Lagi-Lagi tidak ada sahutan dari ketiga orang yang dipanggil oleh Jatmiko.


“Ke mana perginya Ade dan keluarganya? Kenapa mereka tiba-tiba menghilang?” pikir Jatmiko dengan keras.


“Atau … mereka bertiga sedang pergi ke kamar mandi karena kamar mandi di dalam rumah rusak? Ya ampun, kenapa aku baru kepikiran? Sebaiknya aku segera mencari mereka di kamar mandi. Sangat berbahaya bagi mereka kalau keluar rumah malam ini. Pasti arwah perempuan itu tidak akan membiarkan mereka selamat,” ucap Jatmiko pada dirinya sendiri.


Pak Ade pun melangkah kearah timur rumahnya karena posisi kamar mandi letaknya ada di sebelah timur rumahnya. Baru saja ia berjalan beberapa langkah ke sebelah timur, ia sudah melihat Pak Ade sedang terbujur di tengah pekarangan rumahnya.


“Adeeeee!!!!” pekik pria dewasa itu sambil berlari menuju tempat Pak Ade yang terbujur pingsan.


Setelah sampai di sebelah Pak Ade, pria itu langsung memanggil-manggil nama sahabatnya itu sambil menggerak-gerakkan badannya.


“Adeeeee!!! Bangun, Ade!!!!” teriak Jatmiko dengan keras.

__ADS_1


Awalnya Pak Ade tidak langsung bangun saat dibangunkan oleh Jatmiko, tapi setelah dibangunkan terus oleh Jatmiko, akhirnya Pak Ade pun mulai menemukan kesadarannya.


“J-Jat! To-loooong!” rintih Pak Ade dengan suara lemah.


“Ade! Bangun!” panggil Jatmiko dengan suara semakin dikeraskan.


“J-Jat … To-long Ni-sa dan Re-van dulu!” rintih Pak Ade dengan suara lemah.


“Kamu kenapa? Di mana istri dan anakmu?” tanya Jatmiko pada Pak Ade yang sedang tak bertenaga itu.


“Di-sana!” jawab Pak Ade sambil menunjuk lemah ke arah kamar mandi.


Jatmiko langsung saja menengok ke arah yang ditunjuk oleh sahabatnya itu. Benar saja, di depan kamar mandi yang ditunjuk oleh Pak Ade, Revan sedang berbaring.


“Revan!” pekik Jatmiko bingung.


“AKu tolong anakmu dulu, De!” ucap Jatmiko sambil membaringkan Pak Ade ke tanah secara perlahan.


Jatmiko pun berlari menuju Revan. Baru saja Jatmiko bergerak, tiba-tiba terdengar suara tawa melengking di udara.


“Hi hi hi hi hi …,” suara tawa perempuan terdengar menakutkan.


Jatmiko terkejut dengan kemunculan suara seram itu. Sejenak ia menghentikan langkahnya, tapi karena ia ingat bahwa Revan harus segera ditolong, ia pun  buru-buru berlari kembali menuju ke arah Revan. Diabaikannya suara seram yang baru saja ia dengar.


“Revan!” pekik Jatmiko sabil menangis begitu ia melihat anak sahabatnya itu sedang berbaring di depan kamar mandi.


Jatmiko pun buru-buru menggendong anak sahabatnya itu yang sedang membutuhkan pertolongannya. Saat itu tanpa terasa Jatmiko menangis melihat kondisi Revan yang sedang terbaring lemas. Ia takut terjadi apa-apa dengan anak itu. Terlebih saat mengangkat tubuh Revan, tanpa sengaja ia juga melihat Bu Nisa dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi.


“Ada apa ini?” Jatmiko bertanya-tanya pada dirinya sendiri karena melihat keadaan tragis keluarga sahabatnya itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2