MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
SEASON KETIGA : PROLOG


__ADS_3

Hari ini aku benar-benar lelah setelah seharian melayani konsumen di butik yang sengaja kami bangun di bagian depan rumah. Butik ini sengaja dibangun gandeng dengan rumah karena aku ingin menjaganya sendiri. Alhamdulillah selama dua tahun ini usaha yang digeluti oleh Mas Diki berkembang pesat. Stand baju peninggalan almarhumah Yu Darmi berkembang menjadi pusat grosir pakaian kualitas medium ke bawah yang ditangani langsung oleh Siti, karyawan senior peninggalan almarhum Yu Darmi.


Demi menjangkau konsumen kalangan menengah ke atas, kami sengaja membangun butik yang menjual baju edisi khusus. Mas Diki sebenarnya tidak setuju jika aku yang harus terjun sendiri di butik ini. Tapi, aku bersikukuh padanya. Aku bilang bahwa memiliki butik adalah impian masa remajaku. Sudah kuduga, Mas Diki tidak akan tahan dengan rengekanku.


"Dik, Mas itu nggak mau kamu capek-capek. Mas itu pengen gendong bayi lagi," rengek Mas Diki.


"Mas ini ada-ada saja. Nur itu sudah besar, Mas. Malu sama tetangga, masa baru punya anak lagi sekarang," jawabku.


"Ngapain malu, Dik? Lah wong, yang punya anak kita, yang mau ngasih makan juga kita, kan?" protes Mas Diki.


"Yah malu lah, Mas. Nur itu audah remaja, beberapa tahun lagi Nur akan menikah dan kita akan punya cucu. Masa cucu sama anak kita umurnya jaraknya sedikit. Ntar kata tetangga kita dikira nggak mau ngerawat cucu, makanya punya bayi lagi," jawabku ngasal.


"Lah, Nur aja masih SMA kelas dua. Masih mau kukiah, terus kerja, terus menikah baru punya cucu. Itu butuh waktu lama, loh. Anak kita kan keburu gede," protes Mas Diki.


"Nggak mau ... Nggak mau ... pokoknya aku nggak mau punya anak lagi," rengekku.


"Ya udah kalau Dik Sinta nggak mau punya anak lagi, gimana kalau Mas Diki punya anaknya dari istri yang baru?" goda Mas Diki.


"Apaaaaaaa?" Aku melotot marah.


"Lah, kamu sendiri kan nggak mau hamil lagi? Ya terpaksa deh ...," jawab Mas Diki.


Langsung saja aku jewer telinganya kuat-kuat.


"Ampun, Dik ... Ampuuuuuuun ...," teriak Mas Diko karena telinganya aku jewer.


Mas Diki tidak lagi ikut menjaga toko di pasar maupun butik di rumah. Mas Diki lebih berkonsentrasi pada stok produk dan pemasaran. Jadi, sehari-hari ia banyak di luar rumah bahkan di luar kota. Mungkin itulah kenapa Nur tidak kunjung punya adik padahal kami tidak melakukan program KB.


Setelah menutup butik, aku langsung mandi untuk menyegarkan badan. Hari ini Nur ada kegiatan karate di sekolahnya, jadi ia pulangnya agak malam. Anak itu memang aktif mengikuti banyak kegiatan semenjak SMA. Sambil menunggu Mas Diki dan Nur pulang, aku pun menyiapkan masakan untuk mereka. Sekedar tumis sayur dan cakalan goreng adalah makanan favorit mereka berdua. Bahkan, mereka bisa habis sampai tiga piring sekali makan, apalagi kalau habis karate atau habis dari luar kota seperti malam ini.


Tak sampai magrib, hidangan pun siap tersaji di atas meja. Setelah menunaikan salat Magrib, entah kenapa aku merasa malas untuk membaca Al-Qur'an seperti biasanya. Aku lebih memilih tidur rebahan di atas kasur. Pikiranku melayang ke masa di saat masih ada Clara yang tinggal di depan rumahku.


"Ke mana perginya Clara dan Arman? Aku tidak menyangka ternyata Arman itu menikah dengan Clara. Semoga mereka bisa menjaga Riki dengan baik. Aamiiin ...," ucapku di dalam hati.


TING TONG


Tiba-Tiba bel rumah berbunyi.

__ADS_1


"Siapa, magrib-magrib begini datang bertamu? Apa itu Mas Diki atau Nur?" pikirku di dalam hati.


Aku pun bergegas menuju pintu depan untuk membukakan pintu depan tersebut. Ada dua orang perempuan yang sangat kukenal baik.


"Assalamualaikum ...," sapa mereka.


"Waalaikumsalam ...," jawabku.


"Ya Allah, Buleeeeek .... Budeeeee ...," pekikku dengan terkejut setelah mengetahui ternyata yang datang adalah kakak dan adik perempuan dari ibuku.


"Duh, Nduk ... Sekarang kamu sudah jadi orang kaya ternyata," ujar Bulek sambil memelukku.


"Biasa saja, Bulek," jawabku kalem.


"Ojo lali sedekahe ya, Nduk," ujar Bude sambil memelukku.


"Insyaallah, Bude," jawabku.


Bulek Darsih ini adalah adik ibuku yang berprofesi sebagai seorang pemilik beberapa sekolah. Usianya terpaut sekitar enam tahun dengan ibuku. Sedangkan Bude Yati ini adalah ibu rumah tangga biasa dan jarak usianya hanya terpaut tiga tahun dengan ibuku.


"Waduh, wes bisa nawari sekarang, ya? Dulu padahal kamu ini waktu masih kere, jangankan susu, teh saja nggak manis," protes Bulek.


"Duh, Bulek ini ... Alhamdulillah, semua berkat doa Bulek dan Bude juga. Sekarang sih, masih belum apa-apa, tapi alhamdulillah kalau urusan makan atau minum, insyaallah ada," jawabku kalem.


"Aku air mineral saja, Nduk," jawab Bude.


"Aku kopi susu, Nduk!" teriak Bulek.


"Kopi susunya manis apa enggak, Bulek?" tanyaku.


"Sedengan saja, Nduk," jawab Bulek


"Tunggu sebentar, Nggih, Bude ... Bulek ...," ujarku.


Aku pun menyiapkan minuman untuk mereka berdua. Tak sampai lima menit, minuman itu sudah kubawa ke ruang tamu dan kami pun mengobrol panjang lebar hingga hampir Isya. Intinya Bulek mengundang kami pada acara tasyakuran pembelian rumah barunya minggu depan.


"Sin, kami pulang dulu, ya?" ucap Bulek.

__ADS_1


"Salam ya sama Diki dan Nur," ucap Bude.


"Inggih, Bulek ... Bude ... terima kasih atas kehadirannya. Jangan kapok-kapok main ke sini," ucapku.


"Jangan lupa, ya, datang minggu depan. Ajak suami dan anakmu!" ucap Bulek.


"Insyaallah, Bulek," jawabku.


Aku pun mengantar mereka berdua ke depan teras. Mereka datang ke rumahku dengan mengendarai mobil milik Bulek. Bulek memang terkenal memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Meskipun ia hanyalah seorang janda, tapi hidupnya tidak pernah kekurangan. Malah di dalam keluargaku, Bulek Darsih bisa dibilang yang paling berharta.


"Dada, Sinta!!!" teriak Bulek dari balik kemudi.


"Iya, Bulek ... makasih .... hati-hati ... Makasih Bude-"


"Ya Tuhan!!!" Aku memekik karena terkejut ketika mobil yang dikendarai oleh kedua saudara ibuku itu melaju meninggalkan rumahku. Sekilas, ketika aku melambaikan tangan kepada mereka berdua, aku tidak hanya melihat sosok Bulek Darsih dan Bude Yati yang ada di dalam mobil, melainkan ada sesosok badan yang besar sedang duduk di sebelah Bude. Karena kepikiran dengan hal itu, aku pun berusaha menghubungi mereka berdua, tapi tidak diangkat.


"Ada apa, Sinta?" tanya Bude melalui aplikasi Whatsapp setelah nomornya aktif.


"Bude sehat?" Aku membalas.


"Sehat. Kenapa, Nduk?" balas Bude.


"Bude sekarang ada di mana?" tanyaku lagi.


"Ada di rumah. Habi salat Isya. Ini sudah mau tidur," balas Bude.


"Baiklah ... Selamat istirahat, ya, Bude ...," balasku.


"Oke," balas Bude.


Aku tidak jadi menceritakan apa yang kulihat tadi kepada Bude. Aku pikir aku salah lihat saja. Hingga keesokan harinya aku mendapatkan telpon dari anaknya Bude Yati bahwa Bude Yati terkena serangan jantung dan meninggal dunia.


"Ya Tuhan!!!" pekikku karena terkejut.


Aku teringat dengan sosok besar menyeramkan yang duduk di sebelah Bude tadi malam.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2