MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 59 : KEBUN PISANG


__ADS_3

Pukul tujuh pagi Bu Jamila pergi ke rumah Minul. Hari ini ia ingin melaksanakan rencana yang ia susun semalam.


“Assalamualaikum,” sapa Jamila.


“Waalaikumsalam,” jawab Minul.


“Maaf, Nul. Pagi-Pagi aku sudah datang bertamu ke sini,” ucap Jamila setelahnya.


“Wah, kamu, Mil. Tumben pagi-pagi sudah ke sini?” sahut Minul dengan tatapan mata curiga.


“Iya nih, Nul. Aku baru ingat sekarang soalnya. Ada hal yang mau saku sampaikan sama kamu,” jawab Jamila dengan ekspresi wajah dibuat serius.


“Ada yang penting kah? Ayo, duduk dulu di dalam,Mil!” ajak Minul.


“Nggak usah, Nul. Di luar saja. Aku nggak lama, kok!” jawab Jamila sopan.


“Ya sudah. Kalau kamu maunya duduk di luar nggak apa-apa. Ada apaan sih kok kayaknya kamu serius banget?” tanya Minul kembali dengan ekspresi semakin penasaran saja.


Jamila pun menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. Saat itu Jamila baru menyadari ternyata berbohong itu tidak mudah. Apalagi selama iniia tidak pernah melakukannya.


“Anu, Nul. Kamu tahu, kan nanti itu Bu Reni mau membuat kue untuk orang-orang yang tahlilan di rumahnya,” jawab Jamila dengan perlahan.


“Iya. Aku tahu. Emang seharusnya begitu. Nanti itu orang yang tahlilan, pulangnya dibawain kue. Terus kenapa?” ucap Minul.


“Nah itu dia, Nul. Untuk membuat kue di rumahnya Bu Reni. Dibutuhkan beberapa daun pisang karena yang akan dibuat itu kue nogosari dan gerung teleng alias *i*wel-iwel,” jawab Jamila.


“Lah, terus kenapa kalau butuh daun pisang? Kan emang kalau mau membuat dua jenis kue itu dibutuhkan daun pisang yang cukup banyak,” tanya Minul lagi.


“Nah, itu dia tujuan aku datang ke sini. Ada hubunganya dengan daun pisang itu,” jawab Jamila.


“Kamu ini ngomong apaan sh, Mil? Kok muter-muter saja dari tadi. Sebenarnya maksud kamu apa sih? Langsung saja nggak usah mutar-muter kayak hubunganmu sama mantanmu itu!” ledek Minul dengan ketusnya.


“Jangan ngingetin aku sama mantanku, Nul!” protes Jamila.


“Kenapa? Kamu sakit hati?” tanya Minul.


“Nggak gitunya, Nul. Kalau kamu ngomongin mantan, aku jadi teringat waktu kamu nangis-nangis karena hubunganmu dengan mantanmu juga kandas karena mantan suamimu dibawa kabur janda kampung sebelah itu,” balas Jamila sambil tersenyum simpul.


“Sialan kamu Mil! Sudah, nggak usah ngomongin mantan. Kita berdua sama-sama punya mantan yang nggak beres. Yang penting sekarang aku sudah punya incaran lagi,” jawab Minul sambil tersenyum.


Jamila sedikit cemburu ketika Minul mengatakan hal itu. Ia yakin dengan pasti orang yang sedang diincar itu adalah Pak Ratno, pujaan hati Jamila.

__ADS_1


“Hei! Kamu kok malah melamun, Mil! Ayo, buruan katakan tujuanmu ke sini apa? Kalau enggak, tak usir saja kamu ntar soalnya aku lagi banyak kerjaan di belakang,” ucap Minul.


“Sabar, Nul! Pas lagi galau saja kamu ini nyariin aku. Pas sudah happy malah mau main usir segala,” gerutu Jamila. Maksud kedatanganku ke sini. Aku mau menyampaikan amanat dari Bu Reni. Bu Reni minta tolong sama kamu untuk mengambil daun pisang di kebun. Kamu bisa, kan?” ucap Jamila dengan mimik wajah serius. Ia tidak ingin Minul mencurigainya.


“Loh, kok aku yang disuruh, Mil? Aku kan nggak pernah mengambil daun pisang. Kamu salah orang kayaknya. Lagipula semalam aku ketemu sama Bu Reni di depan rumah Pak Dimas, tapi Bu Reni nggak ngomong apa-apa sama aku?” protes Minul.


“Dia ngomongnya ke aku, Nul. Aku kan pulang lewat jalan memutar. Jadi aku ketemu sama Bu Reni pas pulang. Dia menyuruhku untuk menyampaikan hal ini kepada kamu. Ini permintaan khusus dari Bu Reni loh. Mil. Masa kamu nggak kasihan sama Bu Reni yang baru saja ditinggal mati suaminya,” jawab Jamila.


“Jangan aku lah, Mil! Aku nggak pernah mengambil daun pisang di kebun selama ini. Kamu saja, ya? Plis, Mil. Kamu kan teman baikku?” rayu Minul.


“Kalau aku sih oke-oke saja, Mil. Tapi, aku dikasih tugas lain oleh Bu Reni. Aku diminta membantu membuat iwel-iwel di dapur. Kalau kamu mau tukeran kerjaan sama aku ya nggak apa-apa. Nanti aku bilangi ke Bu Reni,” jawab Jamila lagi-lagi ia berbohong.


“Duh, ampun deh kalau harus membuat kue! Kamu tahu sendiri kan, Mil, aku ini nggak pinter membuat kue. Setiap aku membuat kue selalu gagal. Enggak deh! Daripada aku membuat kue lebih baik aku mengambil seribu daun pisang,” jawab Minul dengan ekspresi serius.


“Nah, gitu dong! Itu baru Minul temanku yang paling oke. Ingat ya, Nul. Jam delapan kamu sudah harus sampai di kebun pisang,” ucap Jamila.


“Aku sendirian, Mil? Aku nggak bisa membuat geyek? Bagaimana aku memotong pelepah-pelepah pisang itu dari pohonnya,” jawab Minul dengan merengek.


“Tenang. Kata Bu Reni kamu nggak sendirian kok. Nanti ada temannya yang membantu kamu di sana. Sudah ya? Aku permisi mau pulang dulu. Mau mandi terus langsung cus ke rumah Bu Reni untuk membantu membuat kue di sana,” ucap Jamila sambil berdiri dan berjalan meninggalkan rumah temannya itu.


“Oke, Mil. Ngomong-Ngomong kalau kamu bantu-bantu di rumah Bu Reni jangan pakai baju warna pudar seperti yang kamu pakai semalam, ya? Kayak orang kampung, Mil. Malu-maluin aku saja sebagai temanmu. Pakai saja jas yang aku kasihkan ke kamu beberapa waktu yang lalu itu,” ucap Minul dengan nada agak tinggi karena Jamila semakin menjauh.


“Hah? Masa aku bantu-bantu buat kue mau pakai jas warna fanta kombinasi kuning kunyit plus ada rumbai-rumbainya itu, Nul? Ntar aku kalau diketawain sama orang-orang di sana bagaimana? Baju yang aku pakai semalam itu warna pastel, Nul. Modelnya juga lagi ngetren sekarang ini,” jawab Jamila dengan nada serius.


“Iya, Nul. Aku pamit dulu. Assalamualaikum” sahut Jamila langsung pergi.


“Waalaikumsalam,” jawab Minul sedikit kesal karena ia tahu Jamila tidak menggubris ucapannya.


Mila merasa malas menanggapi omongan Minul yang menurutnya aneh itu. Sebenarnya Jamila sudah berkali-kali menasehati Minul tentang cara berpenampilan yang bagus, tapi justeru ia yang diserang balik oleh temannya itu. Akhirnya Jamila pun merasa kapok juga.


“Ah sudahlah. Yang penting Minul sudah menyanggupi untuk datang ke kebun pisang. Sekarang tinggal aku mengabari Pak Ratno. Aku harus ke rumah Pak Ratno sekarang. Tapi, aku harus lewat jalan memutar saja daripada harus lewat pertigaan angker itu lagi. Takut ketemu hantu aneh itu lagi,” ucap Jamila di dalam hatinya.


Jamila pun berjalan melewati jalan memutar menuju ke rumah Pak Ratno. Sesampai di depan rumah Pak Ratno, Jamila merasa berdebar-debar. Tapi, ia memberanikan diri untuk mengetuk rumah pria tua itu.


Tok Tok Tok …


“Assalamualaikum …,” salam Jamila.


“Waalaikumsalam …,” sahut Pak Ratno dari dalam sambil berjalan menuju pintu.


“Eh, ka-mu, Mil. Silakan masuk!” ucap Pak Ratno dengan suara terbata-bata. Ia tidak menyangka akan didatangi bidadari impiannya di pagi hari itu. Karena semalam jamila cuek padanya saat mengantarnya pulang.

__ADS_1


“Sudah, Pak Ratno. Terimakasih. Aku tidak bisa lama-lama di sini,” jawab Jamila sambil menunduk.


“Ayolah, Mil. Masa kamu kan nggak pernah ke sini. Sekali ke sini nggak mau duduk Duduk di luar saja sudah!” protes Pak Ratno.


“Tidak, Pak. Aku keburu-buru. Aku Cuma disuruh menyampaikan kepada Pak Ratno. Pak Ratno diminta tolong oleh Bu Reni untuk mengambil daun pisang di kebun jam delapan pagi ini,” jawab Jamila dengan santai.


“Oke. Beres. Tapi, aku ada temannya, kan?” tanya Pak Ratno. Ia berharap Jamila yang akan pergi menemaninya.


“Ada, Pak. Jam delapan orangnya sudah ada di sana juga,” jawab Jamila kalem.


“Baiklah! Jam delapan tet aku sudah di sana. Semoga partnerku datang tepat waktu,” jawab Pak Ratno menyindir Jamila maksudnya.


“Kalau begitu aku pulang dulu, Pak!” ucap Jamila kemudian.


“Kok, keburu-buru sih. Ayo, duduk! Aku buatin minuman sebentar,” jawab Pak Ratno dengan senyuman termanisnya.


“Mohoh maaf, Pak. Aku pamit dulu, ya! Assalamualaikum …,” ucap Jamila sambi berlalu meninggalkan rumah Pak Ratno.


Jamila tak kuasa berada di depan Pak Ratno. Jantungnya berdegup kencang. Tapi, ia tidak mau semudah itu jatuh cinta pada Pak Ratno. Ia tidak ingin jadi korban cinta buta lagi.


“Waalaikumsalam … Hati-Hati di jalan Mil!” jawab Pak Ratno dengan penuh percaya diri.


Pak Ratno yakin kedatangan Jamila selain menyampaikan pesan Bu Reni. Itu sekaligus meminta maaf atas perlakuan perempuan itu terhadapnya semalam.


“Dasar, Perempuan! Mau  minta maaf saja pake alasan lain. Aku pasti memaafkanmu, Mil. Aku kan cinta banget sama kamu. Makanya, kamu jangan jual mahal sama aku. Aku ini bukan pria jahat seperti mantan suamimu itu, Mil!” ucap Pak Ratno pada dirinya sendiri.


Sementara itu Jamila yang saat itu merasa puas karena sejauh ini rencananya berjalan mulus, ia pun berkata pada dirinya sendiri.


“Ahamdulillah, rencanaku sukses. Sekarang aku mau mandi dulu. Habis itu aku mau langsung berangkat ke kebun pisang. Aku mau mengintip apa yang akan dilakukan Pak Ratno dan Minul di kebun pisang itu berduaan. Tapi, aku harus siap sakit hati kalau sampai mereka nanti berbuat macam-macam di sana. Apakah aku sanggup meihat hal itu?”


Pukul delapan tepat, Minul datang ke kebun pisang dari arah barat. Sedangkan Pak Ratno datang dari arah timur. Minul datang dengan ekspresi wajah cemberut dan sebaliknya Pak Ratno datang dengan ekspresi berbunga-bunga dan rasa penasaran yang sangat tinggi Sementara itu Jamila sedang bersembunyi di semak-semak dengan perasaan was-was.


BERSAMBUNG


Hai, Readers. Aku punya kuis saembara kecil-kecilan, nih!


Aku akan pilih 3 orang pemenang dengan hadiah @pulsa 10 ribu rupiah


Syaratnya :


1. Setiap peserta harus memberikan like dan komentar di setiap BAB novel MARANTI ini

__ADS_1


2. Pengumuman pemenang awal Desember (diundi) 1 username 1 kupon undian


3. Jika pemenang ketahuan tidak menulis komentar di setiap BAB maka didiskualifikasi


__ADS_2