MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 30 : SEMOBIL


__ADS_3

Sekali tarik, pintu mobil bagian depan sudah terbuka untukku.


"Maaf, Pak. Saya naik di belakang saja," ucapku sambil menunggu Pak RT menutup pintu di sebelah kemudi itu kembali.


"Hm ... Baiklah," jawabnya dengan sedikit kecewa.


Pak RT beralih untuk membuka pintu mobil di bagian belakang, tapi aku buru-buru menolaknya dengan alasan aku akan membukanya sendiri. Lagi-Lagi Pak RT menuruti keinginanku. Aku pun masuk ke dalam mobil dengan disaksikan Pak RT yang masih berdiri di luar mobil dengan tatapan mata kecewa karena dua kali usahanya untuk membukakan pintu kutolak dengan halus.


"Ayo, Pak! Sepertinya kita tidak punya banyak waktu lagi untuk bertemu dengan Pak Seno," ucapku yang disambut dengan senyuman oleh pria yang pernah naksir sama aku ini.


"Eh iya, Dik. Maaf saya kelupaan," jawabnya sambil berlari memutari mobil menuju ke balik kemudi.


Sesampai di balik kemudi, pria dengan badan cukup tegap ini menoleh ke arahku.


"Maaf ya, Dik, kalau mobilnya tidak senyaman mobil milik suamimu. Maklum ini mobil murah," ucapnya.


"Jangan bilang begitu, Pak. Semua mobil sama saja kok. Yang penting fungsinya sama-sama menjadi alat transportasi. Ya, kan?" jawabku.


"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-Ngomong AC-nya mau suhu berapa, Dik?" tanyanya lagi.


"Terserah, Pak RT. Lagipula ini masih pagi, jadi belum panas-panas amat. Mungkin, kalau pulangnya dari rumah Pak Seno lain lagi," jawabku.


"Ya sudah, pake suhu 15 saja, ya?" tanya Pak RT.


"Oke, tidak masalah," jawabku.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Aku menyibukkan diri dengan membaca status-status WA teman-teman yang berada di kontakku. Dari ekor mataku, aku lihat Pak RT menyetir dengan sesekali melirik ke kaca dashboard. Ah, aku tidak ambil pusing. Bukankah, pria ini memang ganjen dari awal. Yang penting dia tidak bertindak lebih dari itu.


Setelah berjalan kurang lebih lima belas menit, Pak RT menyalakan audio mobilnya. Entah disengaja atau tidak, ia menyetel lagu kesukaan aku ketika aku masih remaja dulu. Tanpa sadar aku pun ikut bersenandung. Setelah kurang lebih satu menit aku pun menyadari bahwa Pak RT tersenyum-senyum sendiri sambil mengamati aku yang sedang ikut menyanyikan lagu yang ia putar. Menyadari hal itu aku pun menghentikan aksiku.


"Masih suka dengan lagu ini, Dik?" tanyanya tiba-tiba.


"Eh ... anu ... biasa saja," jawabku agak terbata-bata.


"Biasa saja, tapi kok ikutan nyanyi ...," ledek Pak RT.


"Emang nggak boleh kalau saya ikutan nyanyi?" jawabku kesal.

__ADS_1


"Ya boleh lah. Apalagi suaramu lumayan bagus," jawab Pak RT.


Aku diam saja karena kesal dengan ledekannya.


"Kalau saya sih jujur sudah lama nggak dengerin lagu ini," ujar Pak RT setelah membiarkan aku diam selama beberapa menit.


"Oh ya! Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Soalnya lagu ini mengingatkan pada masa lalu yang cukup membuat saya kecewa," jawabnya dengan nada serius.


Aku kembali terdiam karena aku tahu apa yang dimaksudkan oleh pria manis di depanku ini. Ia pasti bermaksud mengingatkanku pada perasaannya yang tidak berbalas dariku dulu. Pada posisi seperti itu, aku merasa seperti seorang penjahat yang tidak berperasaan karena mengabaikan perasaannya waktu itu. Aku takut salah bicara makanya aku lebih baik memilih untuk diam.


Tiba-Tiba ia mematikan lagu yang belum selesai itu.


"Kenapa dimatikan? Bukankah lagunya belum selesai?" protesku.


"Nggak apa-apa. Kayaknya Dik Sinta tidak nyaman dengan lagu ini," jawabnya.


Kembali aku terdiam karena takut salah ucap lagi.


Mobil terus melaju menyusuri jalan yang berkelok-kelok sama dengan cerita Pak RT tentang rumah Pak Seno. Masuk ke gang-gang yang penuh percabangan. Aku yakin sulit sekali bagi orang untuk menghapal ancer-ancer ke rumah Pak Seno ini, kecuali orang-orang dengan kelebihan khusus. Ya, mungkin Pak RT ini salah satunya. Sejak berangkat tadi, ia tidak mengalami kebingungan sama sekali padahal jelas-jelas jalannya penuh cabang. Kalau aku sih kalau harus ke sini lagi, paling-paling mengandalkan google map saja.


"Hm ... sudah dekat," jawabnya enteng.


"Pak RT kok bisa hapal daerah sini?" tanyaku lagi.


"Kalau saya sih hapal semua daerah di kota ini. Saya kan pernah jadi sales dulu waktu ...," jawabnya tidak selesai.


"Waktu apa, Pak?" tanyaku penasaran.


"Nggak ada," jawabnya berusaha menyembunyikan alasannya.


"Waktu apa, Pak? Dosa loh bikin orang penasaran," desakku.


"Waktu ... waktu itu saya ingin menghilangkan rasa sakit hati karena orang yang saya cintai menikah dengan orang lain," jawabnya terpaksa.


DEG!

__ADS_1


Dadaku kembali terhunjam mendengar pengakuan dari pria di depanku ini. Kalau saja aku tahu ia akan melontarkan jawaban itu, lebih baik aku tidak mendesaknya barusan.


"Maafin saya, Pak RT. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan Pak RT. Tapi, Pak RT tau sendiri, kan, kondisinya seperti apa waktu itu?" Aku menjawab pada diriku sendiri sambil menatap punggung pria yang tidak jelek-jelek amat ini.


Ternyata begini amat rasanya menggagalkan cita-cita orang untuk memiliki kita. Ah, biarlah ... toh Pak RT ini sudah move on dan sudah punya anak istri juga. Semua itu hanyalah kisah masa lalu yang pasti dimiliki oleh semua orang. Aku tidak boleh terlalu merasa bersalah karenanya.


Mobil yang kami naiki kemudian berhenti di deoan sebuah rumah mewah yang letaknya agak terpisah dari rumah-rumah yang lain. Pak RT menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah itu.


"Ini rumah Pak Seno?" tanyaku memastikan.


"Iya, Dik. Ayo, kita segera turun!" jawab Pak RT.


Aku pun turun dari atas mobil bersamaan dengan Pak RT. Aku mengamati lingkungan di sekitar tempat itu. Tiba-Tiba bulu kudukku merinding. Rumah ini benar-benar sepi. Seandainya ada yang berbuat jahat di sini pasti tidak akan ada yang tahu.


Pak RT berjalan menuju pinggir pintu pagar. Ada bel yang menempel di tembok pagar itu. Ia pun memencetnya sekali.


TING! TONG!


Terdengar sayup-sayup bunyi bel ketika ia memencet tombol berwarna putih tersebut. Suaranya tidak begitu keras, sih. Mungkin karena speakernya diletakkan di dalam rumah. Setelah Pak RT memencet bel tersebut sebanyak dua kali, kami pun menunggu reaksi penghuni rumah. Tiba-Tiba bulu kudukku kembali berdiri dan aku mendengar seseorang berbisik di telingaku.


"Lari, Sinta .... Lari ....," suara perempuan tua dari arah belakangku.


Aku menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa di belakangku. Ketika aku kembali memutar kepalaku ke depan, aku terkejut karena Pak RT sedang menatapku dengan tatapan mata yang tajam.


BERSAMBUNG


Maaf baru melanjutkan cerita ini. Semoga para pembaca tidak ada yang kabur.


Jangan lupa membaca novelku yang lain yang sudah TAMAT.



KAMPUNG HANTU


SEKOLAH HANTU


__ADS_1


Meskipun sudah tamat, bukan berarti tidak dilanjutkan lagi. Karena masih banyak misteri yang belum terpecahkan dalam cerita tersebut.


__ADS_2