MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 49 : PEMBALASAN


__ADS_3

Pak Dimas terus saja berbicara dengan dirinya sendiri sambil menikmati barang haram yang memasng sering ia konsumsi di waktu-waktu tertentu. Tidak ada yang mengetahui bahwa ia adalah seorang pecandu barang haram itu temasuk istri dan anaknya. Pernah suatu hari ketika ia membuka isi paket yang dikirim oleh Jo di dalam kamarnya. Tanpa sengaja ia membiarkan pintu dalam keadaan terbuka sehingga tanpa sepengetahuannya istrinya masuk ke kamar depan dan melihatnya sedang membuka serbuk berwarna putih itu. Bu Dimas menanyakan barang apa yang sedang dipegang oleh suaminya saat tu. Hampir saja Pak Dimas ketahuan, tapi untunglah pria itu pandai berbohong. Dia mengatakan bahwa benda itu adalah salah satu zat kimia yang digunakan untuk memperkuat beton yang sedang dibangun oleh Pak Ade.


“Kok pakai zat kimia-zat kimia segala, Mas?” tanya Bu Dimas.


“Namanya juga proyek besar, Dik. Bangunannya harus kuat. Ini belinya nggak bisa sembarangan, Dik. Harus impor dulu. Tapi,itulah hebatnya Pak Ade. Hanya kontraktor-kontraktor tertentu yang mengetahui efek zat kimia ini. Ibaratnya beton kalau dikasih ini kekuatanya bertambah dua kali lipat. Dan tentunya itu akan menambah kesuksesan CV Pak Ade. Makanya sampai saat ini CV Pak Ade menjadi nomor satu di kota ini,” jawab Pak Dimas saat itu.


Sebenarnya Bu Dimas masih belum begitu percaya dengan perkataan suaminya, tapi ketika sore harinya Pak Ade datang dan menanyakan tentang zat kimia tersebut di depan Bu Dimas, tak ada alasan bagi Bu Dimas untuk tidak mempercayai Pak Ade. Karena bagi Bu Dimas Pak Ade itu adalah malaikat penolong yang telah menyelamatkan keluarganya dari ambang kehancuran. Padahal, Pak Dimas lah yang meminta Pak Ade untuk bersandiwara tentang zat kimia tersebut.


“Laraaaaaas!!! I love you …,” ucap Pak Dimas sambil menikmati barang haram itu.


Saat it kesadaran Pak Dimas sudah mulai berkurang sedikit demi sedikit. Sendi-Sendi di tubuhnya yang semula terasa capek seakan hilang seketika rasa capeknya. Kegetiran di hatinya dan kejenuhan akan pekerjaan dan kekesalan akan gagalnya kemenangan pria tersebut pada judi online yang ia gemari saat itu menjadi hilang seketika. Berganti dengan kebahagiaan dan ketenangan dan juga semangat. Anehnya, saat itu yang ada di pikiran Pak Dimas adalah Laras. Ia sudah tidak ingat lagi bahwa Laras sudah meninggal. Dania juga sudah tidak ingat bahwa dirinya sudah memeliki istri yaitu Bu Dimas dan memiliki satu anak bernama Niko.


“Laras! Di mana kamu?” ujar Pak Dimas dengan penuh rasa cinta.


Pria itu kembali terkenang dengan kebersamaannya yang singkat bersama Laras di sebuah hotel melati di pinggiran kota. Saat itu Laras memang tidak membalas cinta Pak Dimas, tapi bagi pria itu sudah merupakan impian yang terwujudkan karena memang sejak lama ia naksir pada anak angkat Bu Dewi itu. Secara normal memang tidak mungkin bagi Laras untuk dapat membalas cinta Pak Dimas karena usia mereka yang terpaut jauh dan juga karena Pak Dimas sudah memiliki pasangan hidup. Dan Laras saat itu memang tidak memikirkan tentang cinta. Bahkan Ustad Andi saja rela ia lepaskan. Apalagi bandot tua seperti Pak Dimas.


Sungguh dahsyat efek dari obat terlarang yang dikonsumsi oleh Pak Dimas saat itu. Pak Dimas tidak hanya bisa membayangkan Laras saja. Tapi, saat itu pria itu dapat menangkap kehadiran Laras secara visual. Pak Dimas melonjak terkejut karena hal itu. Seorang gadis cantik yang ia kagumi benar-benar hadir di kamarnya. Pak Dimas pun tak kuasa menahan hasratnya begitu melihat sosok perempuan itu berdiri di balik pintu.


“Laras!! Akhirnya kamu datang?” ucap Pak Dimas dengan suara beratnya.


Laras hanya membalasnya denga senyuman.


“Kemarilah Laras! Sambutlah cintaku. Aku tidak ingin kamu hanya diam dan seolah tidak menghargaiku seperti dulu,” ucap Pak Dimas lagi.


Laras tidak menyahut. Ia hanya melemparkan senyumannya lebih lebar lagi.

__ADS_1


Pak Dimas semakin tak kuasa untuk mengendalikan dirinya. Tapi, entah kenapa pria itu tidak memiliki kekuatan untuk bangkit dan memeluk gadis impiannya.


“Kemarilah, Sayang! Redakan rinduku yang mendera ini!” ucap Pak Dimas dengan maskulinnya.


Akhirnya, Laras pun mendekati Pak Dimas. Namun, saat ia sudah hampir berada di samping pria itu, Laras mengambil alat suntikan yang tergeletak di sebelah Pak Ade. Laras kemudian mengisi suntikan itu dengan obat terlarang yang berbentuk cair. Laras mengisi penuh alat suntik itu dengan cairan itu. Pak Dimas hanya tersenyum kepada Laras karena dari posisinya, ia tidak dapat melihat seberapa banyak Laras mengisi cairan terlarang ke dalam pipa injeksi.


Setelah itu Laras pun menghampiri pria tersebut yang bersiap untuk menyambut kedatangan Laras. Namun, Pak Dimas terkejut karena Laras tiba-tiba menyuntikkan seluruh isi pipa suntikan tersebut ke leher Pak Dimas.


“Aduh!” pekik Pak Dimas terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Laras.


Laras hanya tersenyum kepada Pak Dimas.


“Oh, kamu ini kok senang bermain-main, sih?” uca Pak Dimas lagi karena ia pikir Laras hanya menyuntikkan sedikit cairan obat terlarang agar ia menjadi lebih bersemangat. Apalagi perempuan itu tersenyum kepadanya. Tidak mungkin perempuan itu akan menyakitinya.


“Buruan Laras!” ucap Pak Dimas lagi kepada Laras. Sepertinya ia sudah tidak sabar lagi untuk menikmati kebersamaan dengan perempuan itu.


Wajah Laras yang semula terlihat cantik di mata Pak Dimas, mendadak berubah menjadi sosok yang menyeramkan dan membuat Pak Dimas pun menyadari bahwa Laras telah mati dan perempuan yang saat ini bersamanya adalah arwah Laras yang akan menuntut balas terhadapnya atas kejahatan yang pernah ia perbuat terhadap perempuan itu. Pak Dimas berusaha meronta untuk melepaskan diri diri cekikan Laras, tapi tidak bisa. Kaki dan tangannya hanya bisa memukul-mukul kayu dipan dengan keras. Sementara serbuk kimia itu sudah banyak yang masuk ke kerongkongannya dengan paksa. Cairan yang disuntikkan ke leher pria itu juga sudah mulai bereaksi dan menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.


“A-aampuun Laras!!!” Mungkin itu sebenarnya yang diucapkan oleh Pak Dimas, tapi tidak didengar oleh Laras.


Setelah semua zat-zat berbahaya tersebut masuk dan bereaksi ke tubuh Pak Dimas. Laras pun menghilang dengan meninggalkan senyum ketus.


Sementara itu Bu Dimas yang mendengar suara keributan di kamar depan pun berusaha membuka pintu kamar depan tapi tidak bisa.


“Toloooong!!!!’” teriak Bu Dimas tapi tidak didengar siapapun karena semua tetangganya masih belum pulang dari rumah Pak Hartono.

__ADS_1


Niko yang berada di kamarnya mendengar teriakan ibunya. Ia pun berlari ke ruang tamu.


“Ada apa, Bu?” tanya Niko.


“Bapakmu kayak kesakitan di dalam kamar, Nik. Ibu tidak bisa membuka kamarnya karena tidak ada kuncinya,” jawab Bu Dimas.


“Kayaknya kunci serepnya ada di rak, Bu. Coba aku ambil,” jawab Niko.


Bu Dimas terus menangis. Ia tak tega mendengar suara jeritan tertahan suaminya dari dalam ruangan tertutup itu. Beberapa detik kemudian Niko kembali dengan membawa kunci serep. Niko berusaha membuka pintu kamar depan dengan menggunakan unci cadangan iu dan ternyata bisa. Niko pun mendorong pintu itu ke dalam dan mereka pun dibuat histeris setelah melihat Pak Dimas kejang-kejang di atas kasur dengan mata melotot dan mulut berbusa.


“Maaaaaaaas!!!!” teriak Bu Dimas.


“Bapaaaaak!!!” teriak Niko.


Mereka berdua naik ke atas kasur dan berusaha menolong Pak Dimas yang sedang dalam kondisi sekarat itu.


Bu Dimas  berusaha membuang busa yang terus keluar dari dalam mulut suaminya. Ia juga menyuruh Nik mengambil air di belakang. Namun, saat Niko sudah kembal dengan membawa air, Pak Dimas sudah berhenti bernapas dengan kondisi yang sangat menyedihkan.


“Massss!!!” teriak Bu Dimas histeris dan memeluk suaminya.


“Bapaaaak!!” teriak Niko juga memeluk ayahnya.


Suara jeritan itu akhirnya didengar oleh orang-orang yang baru datang dari rumah Pak Hartono. Mereka berbondong-bondong masuk untuk melihat kondisi Pak Dimas. Ada yang berusaha mengecek denyut jantung dan nadi pria itu, tapi mereka harus kecewa karena Pak Dimas memang sudah pergi menyusul Pak Hartono dengan predikat over dosis.


Sementara itu Bu Dewi yang sedang berada di dalam kamarnya hanya bisa menangis tersedu-sedu setelah ditampakkan secara gaib oleh Laras kondisi meninggalnya Pak Dimas yangbegitu menyedihkan.

__ADS_1


“Larassssss!!!” pekik Bu Dewi lirih sambil memeluk Panji yang sedang tertidur pulas.


BERSAMBUNG 


__ADS_2