
Mas Diki masih berada di kamar Clara ketika dari balik tirai kamar di sebelahnya muncul kepala seseorang mengagetkanku.
"Astagfirullah!!!" teriakku karena terkejut.
"Ada apa, Dik?" pekik suamiku sambil berlari ke arahku.
Mas Diki tak kalah terkejutnya denganku ketika melihat pemandangan menakutkan itu.
"Nduuuuuk ...," panggil nenek tua dari arah bawah. Rupanya nenek tua itu merangkak dari kasurnya menuju keluar.
"Ne-nek?" pekikku setelah melihat sosok di balik tirai itu dengan jelas.
Aku pun bergegas menunduk untuk membantu nenek tua itu. Mas Diki dengan sigap membantuku. Kami berdua pun memapah tubuh tua itu kembali ke atas kasur.
"Nduuuuk ...," ucap perempuan tua itu sambil berbaring di atas tempat tidurnya. Napasnya tersengal mungkin karena ia mengerahkan tenaga untuk turun dari tempat tidur dan merangkak atau pun mengesot ke luar kamar.
"Nenek, tenangkan diri dulu, ya!" ucapku pada perempuan tua tersebut.
Nenek tua itu pun mengatur napasnya. Kubenahi posisi rambutnya yang sempat awut-awutan.
"Nduuuuuk ...," ucap ibu mertuanya Clara tersebut setelah napasnya tidak begitu tersengal pagi.
"Iya, Nek. Apa yang mau nenek katakan kepada kami?" tanyaku.
"Nduuk. A-anakmu h-hilang, ya?" tanya perempuan tersebut.
"Iya, Nek. Apa nenek tahu kemana perginya anak kami?" tanyaku dengan penuh harap.
"C-cucuku j-juga h-hilang, Nduk," jawabnya terbata-bata.
"Riki juga hilang?" tanyaku tidak percaya.
__ADS_1
"I-iya, Nduk. C-clara k-keluar u-untuk m-mencarinya d-dan b-belum k-kembali s-sampai s-sekarang," jawab nenek tua itu dengan terbata-bata.
"Ya Tuhan! Kemana kira-kira Clara mencari Riki, Nek?" tanyaku ingin tahu.
"M-mungkin C-clara m-mencari Riki di r-rumah l-lama kami," jawab nenek tua itu lagi.
"Di mana itu, Nek?" Aku bertanya lagi dengan rasa semakin penasaran.
"R-rumah l-lama k-ami di d-dekat p-asar. T-api r-rumah k-kami a-da di t-engah s-awah-" jawab nenek tua itu membuat dahi kami mengernyit.
"Apakah maksud nenek itu rumahnya Pak Handoko?" potong suamiku.
Nenek tua iyu menatap mata suamiku dengan rasa terkejut.
"K-amu k-enal d-engan H-andoko?" tanya nenek tua itu.
"Saya pernah singgah di rumah beliau. Apa Clara sedang berada di sana sekarang?" ucap Mas Diki.
"Kenapa, Nek? Apakah anak kami dan cucu nenek akan dijadikan tumbal pesugihan?" tanyaku dengan terisak.
"I-iya, Nduk. M-alam i-ini a-adalah m-malam J-jumat. M-malam y-ang b-iasa d-digunakan o-oleh p-ria i-itu u-untuk m-mengorban n-nyawa k-kepada s-siluman itu," pekik nenek dengan emosional.
"Ya Tuhan! Mas, ayo segera kita susul anak kita ke rumah Pak Handoko, Mas!" ajakku pada suamiku.
"Iya, Dik. Ayo, kita harus segera bergerak sebelum semuanya terlambat," jawab suamiku dengan wajah cemas.
"Nek, kami pamit dulu ke sana, ya? Maaf, kami harus meninggalkan nenek sendirian di sini," ucapku pada perempuan berambut putih di depanku itu.
"Iya, Nduk. T-idak a-apa-a-apa. T-tolong s-selamatkan c-cucuku j-juga," ja2ab si nenek.
"Pasti, Nek. Kami akan menyelamatkan mereka berdua," jawabku.
__ADS_1
Kami berdua sudah bersiap meninggalkan nenek tersebut yang sedang terbaring di atas kasur. Aku sebenarnya tidak tega meninggalkan nenek tersebut sendirian, tapi saat ini kami berdua harus menyelamatkan anak-anak terlebih dahulu.
"Nduuk ...," panggil nenek tua itu tiba-tiba.
"Apa, Nek?" Aku membalikkan badan dan menghampirinya.
"Bawa ini, Nduk!" jawab nenek tua itu sambil memberikan sesuatu ke tanganku.
"Apa ini, Nek?" tanyaku pada perempuan tua itu sambil menimang-nimang sebuah benda berbentuk bola, agak kecil seperti bola bekel.
"Bawalah bola itu, Nduk. Nanti bola itu akan kamu perlukan," jawab perempuan tua itu.
"Ini bola apa, Nek?" tanyaku kembali dengan rasa penasaran.
"Kamu akan tahu sendiri nanti, Nduk. Awalnya bola itu ada dua buah. Yang satu sudah pernah digunakan oleh Clara," jawab nenek itu.
"Clara?" gumamku sambil berpikir tentang perempuan misterius itu.
"Cepatlah berangkat, Nduk. Jangan tunda-tunda lagi. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kamu dan suamimu karena kehadiran saya di sini telah mengganggu kedamaian keluarga kalian," ujar si nenek.
"Sama-Sama, Nek. Kami juga meminta maaf apabila selama ini kami telah berperilaku yang kurang baik terhadap nenek sekeluarga. Semua ini sudah suratan takdir, Nek. Kami tidak menyalahkan kehadiran nenek di sini sebagai penyebab musibah ini. Kami mohon doa nenek agar kami bisa menyelamatkan anak kami dan cucu nenek," jawabku sambil bergegas meninggalkan nenek tersebut. Entah kenapa saat aku menyentuh tangan perempuan itu, aku merasa tenaga si nenek semakin melemah saja.
Mas Diki segera mengeluarkan motornya dari dalam rumah. Kami berdua pun segera berangkat menuju rumah Pak Handoko. Kami tidak sempat mengunci pintu rumah kami. Saat itu kami benar-benar tidak peduli dengan keamanan harta di rumah kami karena harta kami yang paling berharga, yaitu anakku sedang berada dalam bahaya. Bahkan seandainya semua harta kami yang dikumpulkan bertahun-tahun ini bisa ditukar dengan keselamatan Nur, kami siap menerimanya. Tapi, bagi seorang pelaku pesugihan, yang mereka inginkan adalah nyawa manusia. Sedangkan harta, tentunya dengan mudah akan mereka dapatkan setelah mereka berhasil memberikan tumbal yang diminta oleh junjungan mereka. Naudzubillah ...
Sepanjang jalan pikiranku sangat gelisah memikirkan nasib Nur. Mas Diki juga sama sepertiku, dari caranya mengendarai motor, aku tahu bahwa ia juga tidak kalah cemas. Motor yang kami kendarai melaju dengan kencang membelah pekatnya malam. Cuaca dingin yang menyergap tulang tak kami hiraukan lagi. Hanya butuh waktu beberapa detik bagi kami untuk sampai di pertigaan di dekat sekolah Nur. Ketika Mas Diki sedikit mengerem di pertigaan tersebut, aku sempat menoleh ke arah pos Satpam di depan sekolah Nur, barangkali aku dapat melihat Arman di sana untuk kami mintai bantuan, tapi tidak ada siapa-siapa di pos Satpam. Motor yang kami kendarai pun membelok ke arah kiri untuk melanjutkan perjalanan.
Aku kembali teringat dengan mimpiku tadi. Dan aku juga teringat dengan cerita Clara bahwa pelaku pesugihan itu adalah suami sekaligus ayah angkatnya. Aku bingung, mengapa di dalam mimpiku, Pak Handoko yang melempar aku dan anakku ke jurang? Mengapa bukan ayah angkatnya Clara? Aku pernah melihat sekilas wajah ayah angkat Clara dan wajahnya tidak sama dengan Pak Handoko yang hadir di dalam mimpiku.
Bersambung
Jangan lupa untuk mendengarkan versi AUDIOBOOK novel KAMPUNG HANTU. Dijamin Anda akan merasakan sensasi yang berbeda. Apalagi kalau mendengarkannya malam-malam.
__ADS_1
Hm ... Jangan lupa juga untuk ikutan program GIVE AWAY novel KAMPUNG HANTU dengan hadiah-hadiah yang sangat menarik.