
Setelah mandi dan menunaikan salat Asar, aku bertutur kepada Mbak Ning perihal kejatuhan cicak tersebut.
"Mbak, barusan pas ke kamar mandi saya kejatuhan cicak," laporku.
"Nggak apa-apa, Dik. Di rumah ini memang akhir-akhir ini banyak cicak," jawabnya enteng.
"Mbak Ning nggak curiga apa-apa?" selidikku.
"Apa? Kalau kejatuhan cicak akan ada keluarga yang meninggal atau akan ada musibah? Itu kan mitos nenek kita dahulu?" ujar Mbak Ning.
"Bukan begitu maksud saya, Mbak. Emang sih, kita nggak boleh percaya mitos atau tahayul. Cuma, saya pernah dengar katanya cicak itu adalah salah satu media sihir. Kata Mbak Ning barusan, di sini akhir-akhir ini banyak muncul cicak. Apa Mbak Sin tidak curiga bahwa ini semuanya ada hubungannya dengan sihir?" jelasku.
"Iya, Dik. Tadi temannya ibu itu juga cerita bahwa anaknya itu sering diminta tolong untuk merukyah. Pafa saat dibacakan surat Al-Baqoroh, tiba-tiba cicak-cicak di rumah orang yang sakit itu berjatuhan. Ada yang sampai hangus seperti terbakar," jawab Mbak Ning.
"Nah, itu dia Mbak Ning juga sudah tahu. Bahkan kalau tidak salah istri Baginda Rosullah SAW sengaja menyimpan tombak khusus untuk membunuh cicak-cicak yang berkeliaran di rumah beliau. Sewaktu ditanya katanya membunuh cicak itu berpahala. Salah satu alasannya yaitu hewan ini ikut meniup-niup api pada saat Nabi Ibrahim As dibakar oleh Raja Namrud," imbuhku.
"Iya. Saya baru ingat hal itu pernah diceritakan almarhum ibu sewaktu saya masih kecil," balas Mbak Ning.
"Mbak, demi menjaga-jaga dari sesuatu yang tidak kita inginkan, apa tidak lebih baik kita mengundang seseorang untuk merukyat rumah ini?" tanyaku pada Mbak Ning.
"Saya setuju dengan hal itu, tapi siapa yang bisa melakukannya? Apa anaknya temannya ibu itu?" Mbak Ning balik bertanya.
"Monggo, Mbak. Kapan kita ke sana?" tanyaku.
"Ya, nunggu selesainya tujuh harinya ibu, Dik. Kalau sekarang kita kan masih repot. Masa mau ninggalin orang-orang yang rewang? Nggak enak juga, kan?" jawab Mbak Ning.
"Iya, Mbak. Sekaligus juga menunggu saya selesai memeriksa keseluruhan isi video itu, Mbak," jawabku.
"Dik Sin ...," panggil Mbak Ning.
"Apa, Mbak?" tanyaku penasaran dengan maksud Mbak Ning memanggilku dengan suara pelan itu.
"Kamu tidak curiga sama Bulek?" tanya Mbak Ning.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Mbak?" Aku balik bertanya.
"Apa bukan Bulek Darsih yang melakukan ini semua, Dik?" tanya Mbak Ning.
"Hus! Jangan ngomong begitu, Mbak. Nggak mungkin lah Bulek kayak gitu ke kita. Kita ini kan keponakan-keponakan yang harus beliau sayangi?" protesku.
"Tapi, Dik-" ujar Mbak Ning.
"Kemarin Mbak Ning ini menuduh Bulek Darsih melakukan praktik pesugihan. Sekarnag Mbak Ning menuduh Bulek Darsih mengirim sihir ke sini. Tega benar sampean menuduh Bulek kayak gitu, Mbak. Padahal Bulek Darsih itu sayang sama Mbak Ning
Meskipun Bulek Darsih itu ngomongnya kasar kayak gitu, bukan berarti ia jahat kepada kita, Mbak. Tolong Mbak Ning tarik kata-kata Mbak Ning. Saya tidak suka Mbak Ning menuduh Bulek macam-macam lagi," ancamku dengan nada sedikit emosi.
"Iya, Dik. Maafkan saya. Mungkin saya terlaku takut Ikbal benar-benar akan dibawa oleh Bulek, Dik. Sekali lagi saya mohon maaf," ujar Mbak Ning sambil terisak.
Aku tak tega melihat Mbak Ning berderai air mata seperti itu. Aku ingat kepada almarhum Bude Yatim Bude Yati paling tidak suka kalau melihat Mbak Ning menangis. Beliau sangat menyayangi Mbak Ning. Konon, menurut ibuku, Bude Yati sebenarnya menikahnya sudah lama tapi kan jung diberikan keturunan. Ketika Allah SWT menghadirkan Mbak Ning, Bude Yati sangat menjaganya. Itulah mengapa jarak usia Mbak Ning dan aku tidak begitu padahal jarak pernikahan Bude Yati dan ibu itu cukup lama.
"Ayo, kita ke dapur, Mbak. Sepertinya orang-orang sudah datang," ucapku pada Mbak Ning.
"Baiklah, saya duluan, Mbak," ujarku.
"Oke," jawabnya.
Aku pun langsung berjalan menuju dapur. Di sana sudah menunggu Bu Dibyo, Mbak Srintil, dan beberapa ibu tetangga yang lain.
"Til, gimana kalau kamu ceraikan saja dengan Mas Joyomu itu, terus kamu menikah dengan Pak RT. Mumpung Pak RT kayaknya juga sewang-sewangan dengan istrinya?" goda Bu Dibyo.
"Enggak, Bu. Saya tidak mau," jawab Mbak Srintil .
"Loh, kenapa nggak mau, Til? Pak RT kan lebih ganteng dari Mas Joyomu?" protes Bu Dibyo.
"Bukan itu alasannya, Bu," jawab Mbak Srintil lagi.
"Pak RT itu sawahnya luas loh! Kamu nggak usah khawatir uang belanja kalau menikah sama Pak RT," ucap Bu Dibyo ngotot.
__ADS_1
"Bukan karena itu, Bu," jawab Mbak Srintil lagi.
"Loh, terus kenapa? Gantengan juga menang Pak RT, penghasilan juga masih menang Pak RT, apa lagi? Oh, tau saya sekarang," ucap Bu Dibyo sambil tersenyum.
"Tahu apa Bu Dibyo? Giliran Mbak Srintil yang penasaran dengan maksud Bu Dibyo.
" Iya, saya tahu. Kamu belum bisa move on dari anunya Mas Joyo, kan?" jawab Bu RT
"Anu apa, Bu Dibyo?" tanya Mbak Srintil bingung.
"Iya. Pasti kamu ini lebih suka punya Mas Joyomu daripada Pak RT, kan?" tanya Bu Dibyo.
"Apanya, Bu? Hayolah, jangan bikin kami ini bingung dengan maksudmu," ujar Mbak Srintil.
"Maksudnya kamu nggak bisa move on dari kumis Mas Joyomu yang tebal kayak Pak Sakera itu, kan? Kalau Pak RT kan kumisnya tipis," jawab Bu Dibyo dengan serius.
"Ih, Bu Dibyo ini. Kumis to maksudnya? Kirain anu-anu apaan? Nggak lah, Bu Dibyo. Berkumis tebal maupun berkumis tipis itu sama saja, kok. Yang penting orangnya setia. Ya, kalau boleh milih, sih, saya maunya yang kayak Mas Wisnu atau Mas Diki gitu," jawab Mbak Srintil dengan polosnya.
"Apa, Til, minta disutil kamu?" teriak Mbak Ning dari balik pintu.
"Eh, enggak kok, Mbak. Saya hanya bercanda," sahut Mbak Srintil yang bikin kami semua tertawa melihat ulahnya.
"Til, jawab jujur, kenapa kamu tidak mau sama Pak RT? Pak RT kan nggak jauh-jauh amat dibanding Mas Wisnu atau Mas Diki?" tanya Bu Dibyo dengan nada memaksa.
"Itu dia, Bu. Sayanya sih mau-mau saja sama Pak RT. Lah, Pak RT-nya kayaknya yang nggak mau sama saya," jawab Mbak Srintil polos.
"Ha ha ha ha ha ...," kami semua tertawa mendengar jawaban polos istri Mas Joyo itu.
BERSAMBUNG
Maaf telat update soalnya baru selesai vaksin. He he he ...
Sobat Junan sudah vaksin semua apa belum, nih?
__ADS_1