MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 14 : MUSIBAH


__ADS_3

Menjelang magrib, Mas Diki datang dengan membawa serta Nur. Setelah mandi, aku mewawancarai mereka.


"Kok sampai sore, Mas?" tanyaku.


"Iya, Dik. Tadi saya memperbaiki mobil dulu," jawab Mas Diki kalem.


"Loh, mobilnya kenapa, Mas?" tanyaku penasaran.


"Entahlah, Dik. Pas saya habis dari pasar, saya mau ngeluarin mobil dari parkiran ternyata remnya blong. Untung waktu itu saya sedang pelan-pelan jalannya jadi nggak sampai nubruk. Akhirnya, saya menelpon si Mamat, bengkel langganan kita. Lumayan lama si Mamat memperbaikinya makanya saya sampai telat menjemput Nur ke sekolahnya," jawab Mas Diki.


"Ya Allah, kok sampai blong, Mas, Remnya? Apa sebelumnya tidak sampean periksa keadaan mobilnya?" tanyaku dengan nada terkejut.


"Nah, itu dia saya juga bingung, Dik. Seminggu kemarin, kan, mobilnya di full service, ealah kok sampai keluputan remnya. Untung Allah SWT masih memberi keselamatan buat saya," jawab Mas Diki.


"Sebaiknya kita jangan nyervice di sana lagi, Mas, kalau kejadiannya seperti ini," balasku.


"Entahlah, Dik. Setahu saya tempat kita nyervice kemarin itu bagus banget pelayanannya. Kita sudah ke sana selama beberapa bulan ini. Baru kali ini, kan, seperti ini?" ujar Mas Diki.


"Atau ada orang yang sedang bermaksud tidak baik kepada Mas Diki?" Aku bertanya.


"Siapa, Dik? Kayaknya saya nggak punya musuh satu pun," jawab Mas Diki.


"Mungkin saingan bisnis?" tanyaku.


"Ah, nggak mungkin lah mereka sampai senekad itu. Mungkin ini hanya keteledoran kita saja, Dik. Atau mungkin kita kurang sedekah makanya ditegur dengan musibah ini," jawab Mas Diki.


"Ya sudah, Mas. Lain kali hati-hati, ya!" kataku.


"Iya, Dik," jawab Mas Diki.


Tak lama kemudian, para tetangga pun berdatangan untuk mendoakan almarhumah Bude Yati. Nampak di antara deretan para tamu, Pak RT bersalaman dengan Mas Diki yang menyambutnya di halaman masuk bersama Mas Wisnu. Entah aku salah lihat atau memang itu normal, Pak RT sepertinya dengan sengaja mencengkram tangan Mas Diki dengan kuat ketika mereka bersalaman. Aku sempat melihat Mas Diki meringis sebelum akhirnya ia pun tersenyum ke Pak RT. Mungkin hal seperti itu adalah salah satu cara berkelakar di antara kaum pria. Entahlah ...


Ketika tamu-tamu sudah datang semua, para ibu yang kebetulan sudah berhasil membereskan semua pekerjaan dapur pun duduk-duduk sambil berbincang dan mengamati bapak-bapak yang bersila di atas karpet yang sengaja digelar di atas lantai dan di halaman.

__ADS_1


"Til, suamimu tumben datang?" goda Bu Dibyo.


"Iya, Bu. Mungkin dia lagi nggak ada uang makanya pulang ke sini. Nggak berani puoang ke rumah gundiknya," jawab Mbak Srintil ketus.


"Kamu ini benar-benar, Til. Laki model begitu masih saja kamu pertahankan!" ujar Bu Dibyo pedas.


"Maaf, Bu Dibyo. Kita itu berdosa loh kalau mempengaruhi seorang istri untuk minta bercerai kepada suaminya," celetuk Mbak Ning.


"Iya sih, Mbak Ning. Tapi, saya kasian sendiri melihat Srintil ini. Masa suaminya semena-mena seperti itu pada dia. Lagi pula meskipun saya sampai berbusa minta Srintil meninggalkan suaminya, buktinya Srintil ini nggak mau melepas Mas Joyonya sama sekali. Iya kan, Til?" desak Bu Dibyo.


"Bukan begitu, Bu Dibyo. Saya sih sebenarnya sudah nggak begitu respek sama suami saya. Tapi, saya kasihan anak-anak akan kehilangan sosok ayah," jawab Mbak Srintil serius.


"Sini, Til. Tuh, suamimu kan lagi duduk jejer sama Pak RT. Coba kamu perhatikan baik-baik, mana yang bisa jadi ayah panutan untuk anak-anakmu? Pak RT apa Mas Joyomu? Awas jangan bawa-bawa anu lagi, eh ... kumis lagi, loh ya?" desak Bu Dibyo.


"Bu Dibyo ini ngebet banget sih menjodohkan saya sama Pak RT? Kalau Bu Dibyo suka, kenapa nggak Bu Dibyo sendiri yang menikah dengan Pak RT?" protes Mbak Srintil yang disambut senyuman oleh aku dan Mbak Ning. Kita nggak berani tertawa terbahak-bahak karena takut mengganggu khidmatnya jalannya doa bersama.


"Ngelamak kamu ini, Til? Lah suami saya mau dikemanain?" protes Bu Dibyo.


"Lah sama, Bu. Suami saya mau dikemanain?" balas Mbak Srintil.


"Tuh kan, Bu Dibyo deh kayaknya yang tergila-gila sama Pak RT? Saya sih biasa saja," jawab Mbak Srintil.


"Nggak usah munafik, Til. Kamu panas dingin kan kalau ngelihat Pak RT?" desak Bu Dibyo.


"Enggak kok, Bu. Saya biasa saja sama Pak RT. Ada yang lebih bikin saya greget dan panas dingin kalau berada di dekatnya. Saya mau kalau dinikahi sama orang ini," jawab Mbak Srintil dengan menyungging senyum.


"Siapa, Til? Awas kamu ngomong Mas Wisnu lagi, nanti biar dibejek-bejek kamu sama Mbak Ning," ancam Bu Dibyo.


"Bukan Mas Wisnu, kok, yang saya maksud," jawab Mbak Srintil dengan tersenyum.


"Siapa, kalau bukan Mas Wisnu? Mas Diki?" tanya Bu Dibyo penasaran.


"Awas kamu dijambak sama Mbak Sinta loh?" ancam Bu Dibyo lagi.

__ADS_1


"Bukan, kok," jawab Mbak Srintil kalem.


"Terus siapa kalau bukan mereka berdua?" tanya Bu Dibyo penasaran.


"Janji nggak marah loh, ya?" tanya Mbak Srintil.


"Iya. Tenang saja," jawab Bu Dibyo meyakinkan Mbak Srintil.


"Laki-Laki ini bikin saya klepek-klepek, Bu. Kalau dipeluk laki-laki ini rasanya selangit kayaknya," jawab Mbak Srintil.


"Siapa itu, Til? desak Bu Dibyo.


" Wajahnya selaku terngiang-ngiang dalam pikiran saya, Bu," jawab Mbak Srintil.


"Iya. Siapa dia, Til?" desak Bu Dibyo penasaran.


"Sini, saya bisikin, Bu!" panggil Mbak Srintil sambil menarik leher Bu Dibyo ke dekat mulutnya.


"Siapa sih, Til? tanya Bu Dibyo tak tahan lagi.


Sebelum.membisiki Bu Dibyo, Mbak Srintil tersenyum ke arahku dan Mbak Ning. Kami berdua saling bertatapan dan menebak-nebak nama siapa yang akan dibisikkan ke telinga Bu Dibyo. Kalau melihat dari gelagatbya, sepertinya Mbak Srintil ini akan mengerjai Bu Dibyo.


" Ayo, Til, Cepetan. Geli loh mulut baumu berada di dekat tekinga saya," protes Bu Dibyo.


"Halah, telinga congekan saja belagu, sampean Bu," balas Mbak Srintil.


"Mbak, laki-laki yang saya harapkan bisa menjadi imam terbaik saya adalah Pak Agung," ujar Mbak Srintil dengan nada serius.


"J-A-M-X-X-X kamu, Tiiiiil," teriak Bu Dibyo dengan suara tetap ditahan setelah mendengar nama suaminya disebut oleh Mbak Srintil.


Kali ini Mbak Srintil bisa membalas candaan Bu Dibyo dengan telak.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Maaf updatenya lama, ternyata efek vaksinnya bikin sering mengantuk berat. He he he ... Salam sehat untuk semuanya.


__ADS_2