
Perasaan takut menyergapku tatkala mataku bersitatap dengan mata Pak RT yang terlihat menakutkan.
"Kamu kenapa, Dik Sinta? Kok, kayak ketakutan begitu?" tanyanya tiba-tiba. Raut mukanya pun berubah drastis. Tidak menyeramkan seperti barusan.
"Eh ... anu, Pak. Apakah ini benar rumahnya Pak Seno?" Aku menyahut.
"Iya. Kenapa? Sepi, ya? Nggak usah takut. Kan ada saya," jawab pria berbahu lebar itu.
Aku hanya diam. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa salah satu sumber ketakutanku adalah dia sendiri.
"Kenapa Pak Seno belum keluar? Jangan-Jangan beliau sudah berangkat," ucapku setelah diam selama beberapa detik.
"Sepertinya tidak. Mungkin Pak Seno sedang berjalan ke sini," jawabnya.
"Tapi, langkah kakinya kok belum terdengar kalau beliau memang sedang menuju ke sini?" Aku bertanya dengan ragu.
"Baiklah, aku tekan tombol sekali lagi, ya? Semoga kali ini Pak Seno keluar," jawab Pak RT sambil menjulurkan tangannya ke tombol putih itu lagi. Aku hanya melihat apa yang pria ini lakukan.
Baru saja telunjuknya akan memencet tombol itu, tiba-tiba terdengar pintu gerbang di depan kami berderit. Pak RT mengurungkan niatnya untuk memencet tombol. Kami berdua memperhatikan pergerakan pintu gerbang yang terpisah ke kiri dan ke kanan. Setelah sekian detik, dari tengah pintu gerbang yang menganga muncullah sesosok perempuan tua dengan rambut panjang berwarna putih berdiri tepat di tengah-tengah gerbang itu.
"Siapa?" tanya perempuan tua itu dengan wajah datar.
"Saya ketua RT di rumah Pak Seno yang satunya. Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Pak Seno. Apa beliau ada di rumah?" jawab Pak RT.
"Oh ... silakan masuk!" jawab perempuan tua itu singkat.
Wajah perempuan tua itu benar-benar tidak bersahabat. Aku menjadi kikuk untuk masuk ke rumah Pak Seno. Tapi, karena aku butuh bertemu Pak Seno, aku abaikan perasaan tidak enak tersebut.
"Itu apanya Pak Seno? Ibunya atau ibu mertuanya?" tanyaku dengan berbisik pada Pak RT.
"Huuus!! Itu istrinya Pak Seno," jawab Pak RT dengan sangat pelan sekali.
Sejujurnya aku kaget dengan jawaban Pak RT. Aku tidak menyangka bahwa wanita tua barusan adalah istri Pak Seno.
"Kekayaan Pak Seno sebagian besar dari istrinya," bisik Pak RT lagi.
Jawaban Pak RT sedikit menjawab rasa penasaranku tentang alasan Pak Seno menikahi perempuan tersebut. Mungkin, faktor ekonomi menjadi salah satu alasan beliau menikahinya.
"Silakan tunggu di sini. Saya akan memanggilkan suami saya," ucap perempuan itu sambil melirik tajam ke arahku dan naik ke tangga menuju lantai dua.
"I-i-ya, Bu," jawabku sambil menunduk tanda hormat kepada istri Pak Seno.
Tatapan perempuan tua itu sangat tajam ke arahku. Aku jadi tidak enak sendiri. Aku sempat berpikir, jangan-jangan ia bisa membaca pikiranku.
Sambil menunggu Pak Seno datang, aku mengamati sekeliling ruangan megah di depanku. Di sana-sini banyak terdapat hiasan yang semakin memperindah bagian interior rumah Pak Seno.
__ADS_1
"Rumahnya bagus, ya, Dik?" tegur Pak RT.
"I-iya," jawabku.
"Konon rumah Pak Seno ini menghabiskan dana lebih dari 2 milyar loh!" ucap Pak RT.
"Wah! Pantas ...," jawabku.
Kami menghentikan perbincangan saat mendengar derap langkah kaki menuruni tangga.
"Selamat pagi, Pak RT ...," sapa seorang laki-laki dari atas tangga.
"Selamat pagi, Pak Seno," jawab Pak RT.
Kami berdua terkejut dengan kedatangan Pak Seno. Ternyata Pak Seno ini memiliki penampilan yang bebanding terbalik dengan istrinya. Badannya tinggi besar dan atletis khas pria-pria yang terbiasa nge-gym secara rutin. Wajahnya juga klimis menunjukkan bahwa ia melakukan perawatan khusus terhadap wajahnya. Meskipun usia Pak Seno ini di atas Pak RT, tapi terlihat seusia dengan Pak RT.
"Lama sekali kita tidak ketemu, Pak RT. Bagaimana kabarmu, Pak RT?" tanya Pak Seno kembali.
"Alhamdulillah sehat, Pak Seno," jawab Pak RT seraya memyambut pelukan hangat dari Pak Seno.
Selama beberapa detik mereka berdua berpelukan. Aku diam sambil memperhatikan mereka berdua yang sedang melepas rindu.
"Ini siapa, Pak RT? Kok, wajahnya kayak nggak asing," tanya Pak Seno.
"Ini adik sepupunya Ningsih yang rumahnya di depan rumah Pak Seno," jawab Pak RT.
"Bukan ... ada-ada saja Pak Seno ini," jawab Pak RT.
"Saya kan hapal seleramu, Pak RT," goda Pak Seno.
Pak RT diam saja. Aku pun tidak menanggapi guyonan Pak Seno karena malu.
"Ada keperluan apa Pak RT jauh-jauh ke sini?" tanya Pak Seno.
"Sebenarnya kedatangan saya ke sini untuk mengantar Dik Sinta ini," jawab Pak RT.
"Mengantar untuk apa, Pak RT?" tanya Pak Seno.
Pak RT terdiam. Pak Seno kemudian beralih memperhatikanku.
"Ada perlu apa, Dik?" tanya Pak Seno kepadaku.
"Eh, ini Pak. Saya mau tanya apakah CCTV di rumah Bapak yang satunya itu difungsikan" tanyaku.
"Iya. Kenapa, Dik?" tanya Pak RT ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan 'adik'.
__ADS_1
"Begini, Pak. Saya mencurigai ada orang yang menaruh sesuatu di depan rumah Mbak Ning. Saya butuh hasil rekaman CCTV itu untuk memeriksa apa sebenarnya yang terjadi malam itu," jawabku.
"Oalah ... boleh. Kalau urusannya cuma itu, kenapa kalian harus jauh-jauh datang kemari? Kan, bisa lewat WA?" tanya Pak Seno.
"Kami kehilangan nomor Pak Seno," jawabku.
"Oalah ... Ini kartu nama saya. Silakan kalian simpan baik-baik!," ujar Pak Seno sambil menyodorkan dua buah kartu nama yang ia ambil dari dompetnya.
"Terima kasih, Pak Seno," ujarku.
"Sama-Sama," jawab Pak Seno.
"Pak Rt, ikut saya sebentar!" kata Pak Seno sambil melangkah masuk ke dalam.
"Iya, Pak!," jawab Pak RT langsung mengikutinya.
"Kamu tunggu di sini dulu ya, Dik!" ujar Pak RT kepadaku.
"Iya, Pak," jawabku.
Jujur, aku bingung kenapa mereka harus menjauh dari aku. Apa sih yang akan mereka bicarakan sampai-sampai aku tidak boleh mendengarnya. Duduk sendirian di tempat seluas ini membuat perasaanku kembali tidak enak. Saat aku celingak-celinguk sendirian, tiba-tiba istri Pak Seno muncul dari arah ruangan kecil di samping. Tangannya melambai-lambai sebagai kode untuk memanggilku. Awalnya aku mengabaikannya, tapi perempuan tua itu terus saja memaksaku untuk mendekat ke arahnya. Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti ajakan perempuan tua itu. Tidak sopan rasanya menolak perintah tuan rumah tempat kita datang bertamu. Perlahan aku mendekat ke arah perempuan tua itu. Hingga akhirnya aku sudah berada di depan pintu ruangan kecil itu. Perempuan tua itu sedang berdiri mematung di depan sebuah cermin besar. Di bawah cermin itu terdapat sebuah sesajen lengkap. Entah, untuk apa sesajen itu ada di sana. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan di rumah ini.
"Dik, siapa namamu?" tanya perempuan tua itu sambil tetap menatap cermin di depannya.
"S-sinta ...," jawabku perlahan.
"Saya hanya mau ingatkan kamu untuk tidak terlalu dekat dengan suami saya!," ucap perempuan tua itu.
"Maksud Ibu apa? Saya hanya membutuhkan isi rekaman video itu, kok!" jawabku agak tersinggung.
"Pokoknya, saya ingatkan kamu untuk tidak dekat-dekat dengan suami saya! Dan saya ingatkan kamu untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan saudaramu itu!" jawab perempuan itu lagi.
"Maksud Ibu apa? Kalau urusan suami ibu, saya tidak mau ikut campur. Tapi, kalau soal Mbak Ning, ke ujung dunia pun akan aku kejar!" jawabku sedikit emosi.
"Ada apa ini?" suara seseorang dari arah belakangku.
Kami berdua menoleh.
"Pak Seno?" pekikku kaget.
BERSAMBUNG
Like dan komentar teman-teman selalu aku tungguin. Maaf kalau updatenya kadang lama, karena banyak kerjaan di dunia nyata. Salah satunya jagain akun shopee : mohamadimron atau JUNAN OLSHOP
he he he .... promooooo!
__ADS_1
dikunjungi tokonya juga nggak apa-apa, kok!