MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPILOG SEASON PERTAMA


__ADS_3

Seminggu ini aku membantu memasak di rumah Yu Painem. Mulai malam ketiga dan seterusnya, yang menjadi tuan rumah bukan lagi aku, tetapi anak Yu Painem sendiri. Pada hari ketiga acara tahlilan di rumah Yu Painem, tanpa sengaja aku mengkonsumsi makanan di rumah Yu Painem. Mungkin karena tenaga dan pikiranku tercurah untuk membantu anak Yu Painem tersebut, aku sampai lupa kalau aku sudah makan makanan untuk tahlilan di sana. Aku baru ingat keesokan harinya, subhanallah aku baru sadar kalau semalam arwah Yu Painem tidak lagi menggangguku meskipun aku sudah makan makanan untuk selamatan Yu Painem. Aku mengambil kesimpulan sendiri bahwa arwah Yu Painem sudah tenang di sana. Jenazahnya sudah ditemukan, dan anaknya yang berada di luar jawa sudah pulang dan menetap di rumah peninggalannya. Mungkin selama ini arwah Yu Painem sering muncul di hadapanku karena beliau ingin menyampaikan pesan itu.


"Berarti kalau aku makan makanan orang mati, tidak menjadi masalah sebenarnya asalkan arwah orang yang meninggal tersebut sudah tidak memiliki masalah atau tidak ada pesan kematian yang ingin ia sampaikan kepada orang yang masih hidup atau ahli warisnya,"


"Wah, Ibu lahap banget makan berkatan selamatan tujuh hari bude Painem?" ujar anakku, Nur.


"Iya Nur. Bude Painem kan sudah tenang di sana jadi Ibu tidak khawatir lagi dengan kemunculan arwahnya," jawabku sambil nyengir.

__ADS_1


"Iya sich, tapi masak satu keranjang dihabisin semua sama Ibu? Katanya mau diet?" ujar Nur lagi.


"He he he, iya kelupaan. Habis enak banget empalnya. Menantu Bude Painem pintar memasak ternyata," ujarku membela diri.


"Alah Ibu ini alasan saja. Emang dasarnya doyan, kan?" ujar Nur lagi.


"He he he," Aku nyengir kuda.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian ada berita kurang baik yang kudengar. Bu Titi jatuh sakit, menurut tetangga ia terkena penyakit thypus. Panas tubuhnya sangat tinggi, bahkan ia sampai mengigau. Aku sempat menjenguk Bu Titi di rumahnya, waktu itu Bu Titi sempat mengigau yang agak mengejutkanku, dalam igauannya ia mengatakan bahwa ia sebenarnya pernah melihat Bu Mimin mengendap-endap di sekitar rumah Yu Darmi. Ketika Bu Mimin menawarinya kalung dan dompet dengan harga murah, ia sempat curiga itu hasil curian. Tapi berhubung dijual murah, dia diam saja.


Bu Titi tidak turun-turun panasnya selama beberapa hari, keluarganya sudah membawa ke dokter tapi ia tak kunjung sembuh. Panasnya tinggi pada jam-jam tertentu saja yaitu menjelang maghrib dan sebelum subuh. Akhirnya ada kekuarga Bu Titi yang datang ke rumah kemudian mengatakan ingin menjual kembali kalung dan dompet yang pernah dibeli dari Bu Mimin kepada keluargaku. Dengan senang hati kami membelinya, dan benar setelah barang-barang itu kembali kepada keluarga kami, berangsur kondisi Bu Titi membaik. Tiga hari kemudian Bu Titi pulih betul dari sakitnya. Ketika kutanya apa saja yang dirasakan Bu Titi selama sakit, ia bercerita bahwa ia pernah bermimpi bertemu Yu Darmi. Di mimpinya itu ia diajak Tu Darmi jalan-jalan di sebuah taman yang sangat indah. Anehnya ketika Bu Titi mau pulang, selalu ditahan oleh Yu Darmi. Bu Titi diajak lagi mengelilingi taman tersebut ke bagian-bagian yang lebih indah, demikian seterusnya. Tapi pada akhirnya Yu Darmi mengucapkan terima kasih kepada Bu Titi dan melepas kepergian Bu Titi sambil menitipkan kedua anaknya untuk dinasehati oleh Bu Titi. Setelah itu Bu Titi sembuh dari sakitnya.


Demikianlah Epilog novel MARANTI SEASON PERTAMA. Semoga isi novel tersebut memberikan banyak manfaat untuk para pembacanya.


Buang yang buruk, simpan yang baik.

__ADS_1


Sampai jumpa


Pengumuman : Untuk PROLOG MARANTI season kedua bisa Kakak nikmati dalam festival terbaru Noveltoon yaitu Festival Cerita hantu versi audio. Cari nama JUNAN di sana dan jangan lupa berikan LIKE di sana. Semoga terhibur ya, Kak


__ADS_2