MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 44 : KURIR


__ADS_3

Bu Dewi menghela napas dalam-dalam. Ia merenungkan apa yang baru saja ia hadapi bersama Panji. Ia menjadi sedih ketika mengingat akan Laras. Gadis itu memang sudah meninggal, tapi arwahnya tidak tenang dan menuntut balas dendam terhadap semua orang yang telah menyakitinya. Sebagai orang yang peduli dengan Laras, Bu Dewi sudah berusaha untuk menasehati arwah Laras dengan segala cara. Mulai dari mendatangi makamnya sampai berteriak pada suara Laras seperti yang barusan ia lakukan ketika berada di rumah Laras bersama Panji. Namun, semuanya hanya sia-sia belaka karena Laras sepertinya menjadi marah dan sempat membanting pintu dan membuat Panji terkejut serta ketakutan.


“Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku bercerita kepada Mas Herman? Bagaimana kalau Mas Herman tambah sedih atau marah kepadaku? Bukankah selama ini aku yang paling menentang isu tentang hantu Laras yang dihembuskan oleh penduduk di dusun Delima ini? Tapi, kalau aku membiarkan hal ini berlarut-larut, aku takut Laras akan berbuat lebih jauh lagi. Setelah membunuh Pak Hartono, bisa jadi Laras akan membunuh orang lain juga. Tapi, bagaimana dengan Panji? Kalau sampai semua orang tahu bahwa Laras adalah hantu yang membunuh Pak Hartono, pasti Panji akan tumbuh dalam perundungan orang-orang bahwa ia adalah anak dari seorang pembunuh. Tidaaaaaak!!! Itu tidak boleh terjadi kepada Panji. Anak ini tidak bersalah! Ya Tuhan … Bisa pecah kepalaku memikirkan hal ini. Laraaaaaas!!! Kenapa kamu harus menjadi hantu? Tapi, kalau melihat isi buku harianmu. Aku juga tidak tega dengan nasib yang menimpa dirimu. Bagaimana kamu harus mengahadapi hidup yang berat dengan keadaan seperti itu sedangkan orang yang berbuat jahat terhadapmu masih bisa bernapas lega saat itu,” Kepala Bu Dewi dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang membuatnya serba bingung dan takut.


Tangan Bu Dewi tanpas sengaja menyentuh potongan buku yang ia peroleh dari rumah Laras tadi.


“Ah …,” Laras menarik napas panjang.


Ia tidak ingin memegang kertas itu atau membaca isi tulisannya. Ia tidak mau menemui hal yang membuat pikirannya semakin kalut di dalam tulisan itu. Namun, sekuat apapun Bu Dewi berusaha untuk menghindarinya, justeru hal itu menambah rasa keingintahuannya terhadap isi tulisan di balik potongan buku itu. Akhirnya, Bu Dewi secara perlahan meraih potongan buku itu dan meletakkanya tepat di depan mukanya. Mata Bu Dewi melihat dengan saksama potongan buku yang baru ia peroleh itu. Setelah ia amati, benar dugaannya bahwa potongan buku itu adalah lanjutan dari buku harian yang kemarin ia temukan.


Bu Dewi pun membaca isi tulisan yang ada di potongan buku yang baru itu.


“Hari ini aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Aku tahu Bude kecewa denganku karena keinginannya untuk menguliahkanku aku tolak. Dan juga ia mencemaskan akan nasibku nanti kalau aku tidak tinggal di sini. SebenarnyaBude juga menyuruhku untuk kursus menjahit karena ia bercita-cita membangun usaha butik di desa ini. Aku bukannya tidak senang dengan ide Bude. Aku sangat suka dengan dunia fashion. Tapi, jujur setelah kejadian terkutuk itu aku takut. Aku trauma. Aku ingin pergi jauh dari dusun ini agar aku tidak bisa melihat lagi wajah penjahat itu. Tapi, apa aku mampu? Semakin aku berusaha untuk melupakan kejadian itu, semakin aku mengingatnya dan hal itu membuatku semakin sakit. Jadi, jalan satu-satunya bagiku adalah pergi dari dusun ini sejauh mungkin. Entah ke mana … Aku ingin memulai hidup yang baru. Tapi, aku telah berbohong kepada Bude. Aku bilang kepada beliau bahwa aku pergi ke kota untuk bekerja agar beliau tenang. Padahal, aku tidak mengenal siapapun di kota.


Setelah pamit kepada Bude dan Pakde, aku pun berangkat ke kota dengan berurai air mata. Aku harus kehilangan kebahagiaan terbesarku dalam hidup, yaitu mereka berdua. Tapi, ini demi kesehatan mentalku. Aku janji, suatu saat aku akan kembali ke dusun ini.


Saat aku berjalan menyusuri jalan dusun. Aku memang menolak diantar oleh Pakde karena aku ingin menikmati setiap sudut kenangan di dusun ini sebelum aku pergi ke kota. Bude saat itu menangis sedih melepas kepergianku. Iya, aku sudah dianggap anak kandung oleh Bude. Dan Bude adalah perempuan satu-satunya yang menyayangiku dengan tulus setelah alamarhum ibuku.


“Nduk, kebahagiaan terbesar di dalam hidup ini adalah pengorbanan. Ada kalanya kita harus mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi kebahagiaan orang-orang yang kita cintai …,” Itu adalah pesan Bude yang selalu ak ingat sampai sekarang.


Yah, aku harus mengorbankan kebahagiaanku sekarang demi masa depanku. Aku tidak boleh hancur. Aku harus kuat. Akan aku buktikan kepada dunia bahwa korban kejahatan seperti aku bisa hidup bahagia dan memiliki masa depan yang cerah.

__ADS_1


Saat aku akan sampai di jalan besar, tiba-tiba salah satu tetanggaku yang terkenal sopan dan baik menyapaku. Dia adalah Pak Dimas, teman baik Pak Ade yang baru-baru ini pindah ke dusunku.


“Mbak, mau ke mana?” sapanya dengan sopan.


“Mau ke terminal, Mbak,” jawabku sopan.


“Barengan, Yuk! Saya juga kebetulan mau ke arah sana,” ujarnya lagi.


“Terima kasih, Pak. Biar saya jalan saja,”jawabku berusaha menolak.


“Ayolah, ntar juh dari rejeki loh kalau menolak bantuan orang lain,” paksanya.


Aku pun masuk ke dalam mobil. Aku sengaja memilih duduk di belakang karena malu harus duduk berdua dengan suami Bu Dimas itu. Mobil pun melaju dengan kecepatan pelan. Pada saat aku duduk di dalam mobi itu, aku tidak banyak berbicara. Aku hanya menyahuti sesekali pertanyaan Pak Dimas.


Tiba-Tiba saat mobil yang aku tumpangi sampai di tempat yang cukup sepi, Pak Dimas menghentikan mobilnya.


“Kok berhenti, Pak?” tanyaku pada pria itu.


“Aku mau mengantar barang ini dulu, ya?” jawab Pak Dimas sambil mengambil kotak kardus yang berada di sebelahku.


“Diantar ke mana, Pak?” tanyaku lagi.

__ADS_1


“Itu, kan ada orang yang sudah menungguku,” jawab Pak Dimas sambil menunjuk ke arah pepohonan di pinggir jalan.


Ternyata benar. Di bawah pohon-pohon itu ada seorang laki-laki sedang duduk. Pak Dimas kemudian mengangkat kardus kecil itu ke luar mobil dan berjalan menuju orang itu. Di dalam hati aku merasa ada ketakutan. Aneh juga bertemu di tempat sepi seperti itu. Tapi, aku buang pikiran itu jauh-jauh. Toh, Pak Dimas itu orang baik.


Beberapa menit kemudian Pak Dimas kembali ke dalam mobil sambil tersenyum.


“Lama, ya?” tanyanya.


“Iya. Tidak apa-apa, Pak,” jawabku.


Pak Dimas duduk di balik kemudi, tetapi belum menyalakan mesin. Saat itu jalan masih sepi. Tidak ada kendaraan yang lewat. Tiba-Tiba Pak Dimas menoleh ke arahku.


“Ras, kamu mau tahu benda apa yang barusan aku berikan ke orang itu?” tanyanya.


Aku terhenyak mendengar ucapan Pak Dimas yang menurutku agak mencurigakan itu.


“I-iya, Pak,” Aku terpaksa menjawab pertanyaan Pak Dimas.


Pria baik itu pun tersenyum dan mengeluaran sapu tangan dari sakunya. Kemudian ia juga mengeluarkan sebuah botol dari dalam dashboard. Aku hanya bisa mengamati ketika Pak Dimas menuangkan cairan di dalam botol ke dalam sapu tangan yang ia pegang itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2