MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 61 : KETUS


__ADS_3

Jamila pulang dalam keadaan sedih. Hatinya terasa hancur saat itu. Ternyata Pak Ratno yang ia idam-idamkan tak lebih dari pria yang suka menebar pesona dan menaklukkan perasaan wanita. Hancur luluh lantak perasaan Jamila apabila mengingat bagaimana Pak Ratno merangkul Minul di kebun pisang tadi. Saking mangkelnya Jamila sampai-sampai ia tidak menyahut ketika disapa oleh penduduk dusun Delima yang berpapasan dengannya.


Sekitar pukul sepuluh siang, Jamila sampai di rumahnya. Perempuan itu buru-buru mandi untuk mendinginkan perasaannya. Lama perempuan itu mendekam di kamar mandi sehingga akhirnya ia pun mendengar suara anaknya yang sedang memanggilnya.


“Bu, ada tamu,” panggil anaknya yang masih kelas 1 SD itu.


“Siapa?” tanya Jamila dari dalam kamar.


“Ibu keluar saja biar lihat sendiri. Aku mau makan es krim,” jawab anak kecil itu.


“Loh, dari mana kamu mendapatkan es krim itu? Ibu kan belum memberimu uang jajan?” protes Jamila sambil buru-buru menyelesaikan acara mandinya.


Setelah itu Jamila buru-buru masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Kemudian Jamila pun menyisir rambutnya dan langsung saja keluar menuju ruang tamu untuk menemui tamu yang dilaporkan oleh anaknya barusan.


Di ruang tamu, Jamila hanya melihat Gio sedang memakan es krimnya dan ia tidak menjumpai satu orang pun di sana.


“Loh, mana tamunya, Gio?” tanya Jamila pada anaknya itu.


“Assalamualaikum …,” ucap seseorang dari beranda rumah.


Suara Jamila yang bertanya kepada Gio itu nampaknya didengar oleh orang tersebut. Makanya ia berani mengucapkan salam karena sudah mengetahui keberadaan Jamila.


“Waalaikumsalam … P-Pak Ratno?” sapa Jamila dengan tergagap.


Jamila cukup kaget dengan kehadiran pria tua itu di rumahnya karena ia baru saja marah pada pria itu, tapi nyatanya pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya secara langsung. Pikiran Jamila menjadi kalut seketika. Mengusir Pak Ratno tidak mungkin ia lakukan karena Pak Ratno tidak mengetahui alasan ia mengusirnya. Kalau Jamila mengatakan dengan jujur bahwa ia marah karena Pak Ratno bermesraan di kebun pisang dengan Minul, hal itu sama saja dengan membongkar rahasia yang ia buat sendiri.


“Iya, Mil. Ini aku. Mohon maaf kalau aku lancang datang ke rumahmu tanpa ijin terlebih dahulu,” ucap Pak Ratno.


“Kita ngobrol di depan saja ya, Pak. Nggak enak sama orang kalau ngobrol di dalam. Khawatir menimbulkan fitnah,” jawab Jamila sambil berjalan ke luar ruang tamu.


“Eh, iya, Mil,” jawab Pak Ratno kalem.


Pak Ratno pun akhirnya dipersilakan duduk oleh Jamila. Mereka duduk di kursi yang saling berhadapan dan dipisahkan oleh meja berbentuk oval.


“Pak Ratno yang memberikan es krim untuk Gio?” tanya Jamila dengan nada datar.


“Iya. Kenapa, Mil? Aku membelinya di toko Bu Yana barusan sebelum berangkat ke sini,” jawab Pak Ratno dengan sopan.


“Lain kali nggak usah ngasih-ngasih apapun ke anakku. Apalagi es krim,” ucap Jamila dengan nada ketus.


“Memangnya kenapa, Mil? Aku lihat anakmu suka kok dengan es krim itu,” sahut Pak Ratno dengan rasa penasaran.


“Gio itu sering sakit, Pak. Dia itu dulu ASI-nya tidak tuntas karena aku banyak masalah dengan mantan suami. Dia nggak boleh dikasih makan sembarangan. Anaknya sering radang tenggorokan,” jawab Jamila dengan nada datar.


“Maafkan aku kalau begitu, Mil. Tapi, anakmu sudah terlanjur memakannya. Bagaimana terus?” tanya Pak Ratno dengan perasaan bersalah.


“Biarin sudah. Itu urusanku. Bukan urusan Pak Ratno. Lebih baik Pak Ratno sekarang langsung sampaikan tujuannya datang ke sini apa? Aku lagi banyak kerjaan di belakang,” jawab Jamila dengan tegasnya.


Sikap Jamila yang agak ketus seperti itu sangatlah jauh berbeda dari biasanya. Pak Ratno merasa hal itu janggal baginya, tapi ia tidak berani menanyakannya langsung kepada perempuan itu. Takut Jamila malah marah kepadanya. Pak Ratno memilih untuk mengatakan tujuannya secara langsung kepada Jamila.


“Anu, Mil. Barusan aku ke rumah Bu Dewi. Beliau ingin meminta tolong kepada kamu,” ucap Pak Ratno dengan lancarnya kepada perempuan di depannya.

__ADS_1


“Bu Dewi? Beliau mau minta tolong apa sama aku?” tanya Jamila antusias.


Pak Ratno merasa senang melihat keceriaan yang kembali terlukis di wajah perempuan cantik di depannya itu.


“Bu Dewi mau minta tolong sama kamu untuk membeli karton, kresek, mika, dan lain-lain untuk keperluan acara penutupan tahlilan Mbak Laras. Apa kamu bisa, Mil?” jawab Pak Ratno dengan nada datar. Ia tahu pasti Jamila tidak akan bisa menolak permintaan perempuan paling baik di dusun Delima itu.


Jamila memperhatikan setiap suku kata yang dilontarkan oleh Pak Ratno.


“Kenapa Bu Dewi meminta tolong kepada aku, Pak? Biasanya kan beliau menyuruh Pak Ratno atau Pak Salihun?” Jamila bertanya. Kali ini ia tidak seketus tadi.


“Kamu nggak mau tah, Mil? Ntar, aku bilangin ke Bu Dewi kalau kamu memang tidak bisa,” ucap Pak Ratno dengan kalimat represif. Laki-Laki itu tahu pasti bahwa Jamila tidak akan mau kalau ia melapor kepada Bu Dewi atas penolakannya.


“Bukan begitu maksudku, Pak! Aku mau kok. Tapi, aku penasaran saja tumben-tumbenan Bu Dewi minta  tolong sama aku. Biasanya sebelumnya yang disuruh oleh beliau kalau nggak Pak Ratno ya Pak Salihun?” balas Jamila.


“Oh itu maksud pertanyaanmu. Begini, Mil. Apa kamu tidak mendengar kabar? Sebentar lagi jenazah Pak Dimas datang dari rumah sakit dan akan segera dimakamkan di dusun Delima ini. Kamu tahu sendiri kan? Aku dan Pak Salihun lah yang akan menggali kuburan untuk setiap warga yang dimakamkan di sini. Mungkin Bu Dewi mikirnya kasihan sama kami berdua kalau harus pergi lagi setelah capek-capek menggali makam. Toh, masih ada orang lain yang bisa dimintai tolong oleh beliau selain kami berdua untuk membeli perlengkapan selamatan terakhir itu,” jawab Pak Ratno panjang lebar untuk memperhalus kebohongannya.


“Baiklah kalau begitu, Pak. Berarti aku harus jalan kaki ke depan, ya, nanti?” tanya Jamila.


“Iya, Mil. Nggak apa-apa, kan?” tanya Pak Ratno.


“Nggak apa-apa, Pak. Aku sudah biasa,” jawab Jamila.


“Ini uangnya yang dari Bu Dewi,” ucap Pak Ratno sambil menyerahkan sejumlah uang dan sebuah catatan list pembelanjaan yang ia minta dari Bu Dewi sebelumnya.


“Ini saja, Pak? Nggak ada keperluan lain?” tanya Jamila dengan nada kembali ketus setelah menerima uang dari Pak Ratno.


“Sudah, Mil. Oh ya, kamu nanti mau berangkat jam berapa?” tanya Pak Ratno.


“Oke. Kalau begitu aku pamit,” ucap Pak Ratno sambil bangkit berdiri dari duduknya sambil menjulurkan tangannya kepada Jamila untuk bersalaman.


“Oke. Aku masuk dulu, ya?” sahut Jamila sambil membalikkan badan dan menutup pintu rumahnya dari dalam tanpa mempedulikan perasaan Pak Ratno yang kebingungan karena sikap Jamila yang semakin ke sini semakin aneh menurutnya.


  “Maafkan aku, Pak Ratno. Seharusnya aku tidak bersikap begitu terhadapmu, tapi kamu sudah terlalu menyakiti hatiku. Aku tidak mau merasakan sakit hati yang kedua. Ini memang bukan kesalahanmu, Pak Ratno. Aku yang salah. Aku salah karena aku terlalu mencintai kamu. Aku terlalu berharap kepada kamu. Padahal, kamu juga tidak pernah menyatakan perasaanmu kepadaku. Kamu hanya perhatian saja kepadaku, tapi aku terlalu Baper. Yah, ini semua salahku. Aku tidak seharusnya keburu menaruh perasaan mendalam kepadamu. Toh, ternyata kamu melakukan hal ini tidak hanya terhadapku, tapi kepada setiap perempuan yang kamu temui,” ucap Jamila di dalam hati sambil memeluk guling kesayangannya.


Lain halnya dengan Pak Ratno. Hati pria itu juga merasakan sakit karena sikap Jamila yang sedemikian ketus terhadapnya.


“Jamila. Kenapa kamu bersikap seperti itu kepadaku? Apa kamu risih terhadapku? Padahal sebelumnya kamu bersikap sangat manis terhadapku. Jangan-Jangan benar dugaanku. Kalau kamu sebenarnya tidak menyukaiku. Kam hanya memanfaatkanku untuk bisa dekat dengan Salihun? Ya Tuhan, kenapa hal ini harus terjadi padaku? Kenapa harus ada perasaan cinta begini di hatiku kalau pada akhirnya aku harus kecewa? Tidak! Aku tidak boleh menyerah! Mungkin Jamila seperti itu kepadaku hanya karena is sedang PMS saja. Bukankah cewek kalau sedang PMS itu sikapnya seperti itu?” ucap Pak Ratno di dalam hatinya.


Beberapa menit kemudian, datanglah iring-iringan mobil yang membawa jenazah Pak Dimas. Semua warga dusun Delima berkerumun untuk mengurus jenazah pria yang terkenal sopan dan kalem itu. Mereka tidak menyangka bahwa ternyata diam-diam Pak Dimas adalah seorang pecandu barang haram. Bu Dewi juga turut hadir menyaksikan pengurusan jenazah Pak Dimas. Orang-Orang yang selama ini mempergunjingkan Laras di belakang Bu Dewi pun tidak berani mendekat dengan Bu Dewi karena merasa malu sendiri.


Pak Ratno dan Pak Salihun menjadi orang yang paling sibuk di antara penggali makam yang lain karena mereka berdua memang terkenal paling mahir kalau urusan menggali makam. Pemakaman dilaksanakan pukul sebelas siang dengan disaksikan oleh seluruh penduduk dusun Delima. Bu Dimas dan Niko tak kuasa membendung air matanya menyaksikan Pak Dimas harus berkalang tanah. Bu Jefri dan Pak Jefri yang berusaha menenangkan perasaan istri dan anak Pak Dimas saat itu. Bu Dewi yang ikut mengantar jenazah Pak Dimas ke makam juga turut bersedih. Namun, perempuan itu merasa sedih karena dialah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa Pak Dimas telah dibunuh oleh Laras. Bu Dewi tidak berlama-lama di pemakaman karena ia kepikiran dengan Panji. Ia datang paling belakangan dan pulang lebih dulu sebelum acara pemakaman selesai. Begitulah kalau tinggal di desa. Serepot apapun harus tetap menunjukkan kepedulian kepada tetangga agar tidak menjadi bahan pergunjingan oleh para tetangga. Tapi, apakah Bu Dewi sudah aman dari pergunjingan tetangganya? Tidak! Meskipun Bu Dewi sudah sering bersedekah kepada para tetangganya, bukan berarti ia akan bebas seratus persen dari bisik-bisik tetangga. Selalu ada celah bagi para warga dusun Delima untuk mencari kesalahan orang lain. Jika kesalahan itu tidak didapat dari keluarga Bu Dewi, maka kesalahan itu bisa berasal dari keluarga yang lain, seperti Laras.


Setelah acara pemakaman selesai, Pak Ratno mengejar Pak Salihun yang sedang berjalan menuju sungai kecil di dusun Delima. Mereka berdua sama-sama ingin mencuci sekop dan juga bagian tubuh mereka yang kotor sebelum masuk ke rumah mereka. Pak Salihun sudah tidak kesal lagi dengan Pak Ratno. Justeru ia merasa bersalah kepada temannya itu karena ia diam-diam menyamar menjadi Pak Ratno dan menemui Jamila di rumah temannya itu dalam keadaan mati lampu.


“Kenapa kamu lari-lari, Rat?” sapa Pak Salihun sambil menoleh ke belakang karena mendengar suara gedebak-gedebuk oang yang sedang berlari.


Pak Ratno tidak langsung menjawab karena ia mengatur napasnya dulu setelah berlari mengejar temannya itu.


“Hun, Bu Dewi menyuruh kamu untuk membeli perlengkapan untuk acara tahlilan terakhir Mbak Laras,” jawab Pak Ratno setelah berhasil mengatur napasnya kembali.


“Oke. Sama kamu, kan?” Pak Salihun bertanya balik.

__ADS_1


“Hm … Enggak, Hun. Aku nggak bisa ikut karena aku dimintai tolong Bu Dimas untuk bantu-bantu di rumah Bu Dimas,” jawab Pak Ratno berbohong.


“Ka-mu mau bantu-bantu di sekitar rumah Pak Ade dan Bu Nisa? Kamu nggak ingat bagaimana perlakuan mereka kepada keluarga Bu Dewi?” bentak Pak Salihun.


“Ini tentang kematian, Hun. Bukan acara kondangan. Memangnya sekarang ini apa yang sudah kita kerjakan? Kita membantu menggali makam Pak Dimas yang jelas-jelas adalah kaki tangan keluarga Pak Ade. Iya, kan?” protes Pak Ratno.


“Iya, benar Rat. Maafkan kesalahanku barusan. Toh, meskipun yang lain nggak begitu kita sukai, tapi Bu Dimas sendiri orangnya kalem dan tidak pernah ikut-ikutan bergunjing seperti yang lain,” jawab Pak Salihun.


“Makasih ya, Hun,” ucap Pak Ratno sambil turun ke aliran sungai dan mencuci cangkulnya.


“Berarti aku pergi sama siapa, Rat?” tanya Pak Salihun kemudian.


“Kamu tunggu saja di pertigaan, Hun. Nanti setelah Zuhur akan ada orang suruhan Bu Dewi yang jalan ke sana,” jawab Pak Ratno sambil menyungging senyum kegetiran.


“Siapa orangnya, Rat? Bikin penasaran saja. Biar aku mampir ke rumah Bu Dewi setelah ini,” jawab Pak Salihun membuat Pak Ratno ketakutan.


“Eh, jangan, Hun! Bu Dewi jam-jam segini ini ribet sama Panji. Tadi saja pas aku ke sana, Bu Dewi kayak kerepotan begitu pas titip salam sama kamu,” sahut Pak Ratno berbohong.


“Ya sudah kalau begitu habis sholat Zuhur aku akan langsung ke pertigaan saja untuk menunggu orang yang akan menemaniku ke pasar membeli perlengkapan tahlilan itu


“Nah, begitu dong! Baru temanku,” sahut Pak Ratno.


“Oh ya Rat, aku minta maaf, ya?” ucap Pak Salihun tiba-tiba.


“Minta maaf apa, Hun?” tanya Pak Ratno penasaran.


“Hm … Aku minta maaf karena  …. Ya, minta maaf saja. Masa ngga boleh?” ucap Pak Salihun.


“Aneh kamu ini, Hun. Masa nggak punya salah apa-apa, kok pake minta maaf segala!”gerutu Pak Ratno.


“Ya sudah, Rat. Maafin saja. Begitu saja kok repot. Iya, kan?” jawab Pak Salihun.


“Ya sudah aku maafin. Dasar wong gendeng!” ledek Pak Ratno sambil naik ke atas bantaran.


“Nah, gitu dong! Makasih ya temanku?” sahut Pak Salihun gembira karena ucapan Pak Ratno sedikit membuat rasa bersalahnya berkurang.


“Ayo! Kamu nggak mau pulang?” tanya Pak Ratno sambil menjulurkan tangannya untuk membantu Pak Salihun naik ke atas bantaran.


“Oke,” sahut Pak Salihun gembira.


Mereka berdua pun pulang ke rumah masing-masing untuk mandi dan bersiap-siap melaksanakan sholat Zuhur. Setelah sholat Zuhur, Pak Salihun akan langsung berangkat menuju pertigaan untuk menemui orang yang akan menemaninya pergi ke pasar.


BERSAMBUNG


Hai Readers ... Sudah ikutan game, belum?


Gampang kok caranya.


Tinggal like dan komen singkat di setiap BAB novel Maranti.


Awal Desember akan diundi dan ditentukan pemenangnya.

__ADS_1


Paling 5menit sudah selesai kok ngelike dan nulis komentar. Aku tunggu, ya?


__ADS_2