
Pak Ade, Bu Nisa, dan Revan saat ini sedang berbaring di sekitar makam Mbah Darmo. Mereka masih menghilangkan kelelahan yang mereka rasakan dengan cara berbaring seperti itu. Anehnya, setelah lima menit berbaring tenaga mereka kembalipulih seperti sedia kala. Meskipun mereka masi merasakan ngilu di tangan mereka akibat dijepit dan disedot oleh hewan-hewan tadi saat menggali lubang.
Terdengar suara azan Zuhur dari kejauhan. Mereka bertiga masih berbaring untuk melepas lelah. Setelah azan Zuhur tidak terdengar lagi barulah mereka bangun dan saling berbincang.
“Dik, sekarang saatnya kita memutari makam Mbah Darmo sebanyak tujuh kali,” ujar Pak Ade.
“Iya, Mas! Ayo, segera kita kerjakan takutnya malah molor kayak tadi. Gimana, Revan?” tanya Bu Nisa.
“Iya, Bu. Revan sudah siap,” jawab Revan.
Mereka pun bertiga bangun dan mereka pun berjalan menuju makam Mbah Darmo yang saat itu kebetulan masih sepi. Sepertinya Nenek Galuh yang member pengumuman di depan gapura bahwa makam Mbah Darmo hari itu tidak boleh dikunjungi.
“Dik, kamu sudah hapal mantra yang diajarkan Nenek Galuh sebelum kita berangkat?” tanya Pak Ade pada istrinya.
“Iya, Mas aku hapal. Kamu sendiri gimana, Mas? Hapal apa tidak?” tanya Bu Nisa balik.
“Sudah hapal, Dik. Tapi kamu bacanya yang keras saja, ya, takutnya Revan nggak hapal,” jawab Pak Ade.
“Aku juga sudah hapal kok, Pak!” sahut Revan.
“Ya sudah kalau kalian semua sudah hapal, ayo kita segera mulai untuk melangkah memutari makam Mbah Darmo. Aku di depan, Revan di tengah, dan Kamu di belakang ya, Dik?” tawar Pak Ade.
“Iya, Mas. Lebih baik seperti itu, jawab Bu Nisa.
“Oh ya, kalian siapkan mental kalian ya? Karena di sini kita akan menemui cobaan seperti yang diceritakan oleh ibunya Jatmiko semalam,” ujar Pak Ade.
“Iya Mas. Aku siap!” sahut Bu Nisa.
“Aku juga siap, Pak!” sahut Revan.
Selanjutnya mereka pun berbaris dengan urutan Pak Ade di depan dan Bu Nisa di belakang. Sedangkan Revan sengaja ditaruh di tengah agar mudah Pengawasannya.
“Ayo, kita mulai berjalan sambil membaca mantranya. Satu … Dua … Tiga …,” ujar Pak Ade dengan suara yang cukup keras.
__ADS_1
Pak Ade pun mulai melangkah dengan diikuti oleh istri dan anaknya. Langkah yang dilakukan Pak Ade tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat karena mereka juga harus membaca mantra yang diajarkan pagi tadi oleh Nenek Galuh.
Kali ini mereka bertiga sudah berhasil memutari makam Mbah Darmo sebanyak setengah putaran. Jantung Pak Ade berdegup dengan kencang saat ia akan mencapai posisi awal dan dihitung sebagai satu putaran. Jantung Pak Ade serasa copot saat ia sudah berhasil melakukan putaran sebanyak satu kali karena bersamaan dengan itu tiba-tiba di atas makam Mbah Darmo muncul ular kobra berukuran sedang yang kepalanya berdiri ke atas dan seolah-olah bersiap untuk meluncurkan bisanya. Revan giliran terkejut saat melihat ular kobra itu tiba-tiba muncul di atas makam Mbah Darmo. Kemudian disusul oleh Bu Nisa yang juga terkejut saat melihat ular kobra tiba-tiba ada di atas makam Mbah Darmo.
Untunglah mereka bertiga masih ingat dengan pesan Nenek Galuh bahwa pandangan mata mereka tidak boleh berpaling dari ular itu. Mereka secara komak menatap mata ular kobra itu meskipun hati mereka saat itu juga merasa takut kalau-kalau ular itu malah menyemburkan bisanya kepada mereka.
Pak Ade dan kedua anggota keluarganya pun melanjutkan membaca mantra sambil memutari makam Mbah Darmo untuk yang kedua kalinya. Dengan jantung yang berdegup kencang mereka secara pasti melangkah memutari makam tersebut dan mereka merasa was-was ketika mereka akan sampai pada putaran kedua. Dalam hati mereka bertanya-tanya apakah yang akan terjadi kalau mereka sudah berhasil memutari makam Mbah Darmo untuk yang kedua kalinya.
Akhirnya dengan perasaan was-was mereka bertiga pun telah memutari makam Mbah Darmo untuk yang kedua kalinya. Dan lagi-lagi mereka bertiga terkejut karena tiba-tiba di atas makam Mbah Darmo muncul ular piton yang ukurannya seperti tiang telepon dan melingkar di atas makam Mbah Darmo. Bu Nisa hampir memekik terkejut karena ia tidak pernah bertemu ular sebesar itu. Namun, ia kembali berkonsentrasi untuk melanjutkan perjalanannya memutari makam Mbah Darmo sambil memandang kepada ular-ular itu.
Revan dan Pak Ade juga tak kalah terkejutnya dengan Bu Nisa. Kedua orang itu menahan napas karena takut. Terlebih ular piton itu mulai mengangkat kepalanya dan seolah-olah akan mematuk kepala mereka bertiga. Saat itu mereka tidak punya pilihan lain selain melanjutkan tugas mereka memutari makam Mbah Darmo itu.
Dengan penuh rasa kekhawatiran, Pak Ade diikuti oleh anak dan istrinya pun melanjutkan aktifitasnya memutari makam Mbah Darmo untuk yang ketiga kalinya. Mereka selalu was-was apabila akan menyelesaikan sebuah putaran karena pasti akan muncul ular yang baru di atas makam Mbah Darmo yang tentunya akan membuat jantung mereka semakin berdetak kencang.
“Ya Ampun!” itulah yang diungkapkan oleh Bu Nisa saat ia berhasil melakukan putaran yang ketiga.
Bagaiman tidak ia terkejut karena tiba-tiba di atas makam Mbah Darmo muncul ualr sanca sebesar pohon kelapa. Saking besarnya badan ular sanca itu sampai jatuh ke lantai dan harus dilangkahi oleh mereka bertiga saat mau lewat.
Pak Ade dan Revan pun tak kalah terkejutnya dengankemunculan ular ketiga itu. Bagaimana tidak? Kepala ular sanca itu tiba-tiba muncul tepat di samping mereka berdua dan seolah-olah akan mengkoyak daging mereka.
“Aaaaaaargh!!” pekik Bu Nisa terkejut karena kepala king cobra itu tiba-tiba muncul di depan wajah Bu Nisa. Hamoir saja ia melepaskan pegangannya pada anaknya. Untunglah ia masih memiliki kekuatan hati untuk menunduk dan lewat di bawah kepala king cobra itu.
Jantung dan hati mereka bertiga saat itu sudah seperti copot rasanya. Karena saat itu di sekitar mereka sudah ada empat ular yang sangat mengerikan. Dan mereka semakin histeris ketika mereka sudah melakukan putaran yang kelima.
Revan memekik terkejut karena tiba-tiba muncul ular piton sebesar tiang listrik di depannya dan badannya memutari makam Mbak Darmo. Pak Ade berusaha menenangkan anaknya dengan memegang erat-erat tangan Revan. Rupanya cara itu cukup efektif memompa semangat Revan sehinga ia mampu melampaui rasa takutnya pada ular-ular itu.
Lain halnya dengan suami dan anaknya, Bu Nisa merasa down saat ular-ular itu secara bergantian mendekatkan kepalanya ke kepala Bu Nisa. Seandainya Bu Nisa tidak ingat bahwa ia harus melakukan ritual itu demi keselamatan keluarganya. Ia pasti sudah lari dari tempat itu karena ia benar-benar takut kepada ular apalagi ukurannya sangat besar. Giliran Revan yang menggenggam erat tangan ibunya untuk menguatkan hati dan perasaan perempuan itu.
Tidak terasa mereka bertiga sudah hampir melakukan putaran yang keenam. Ular-Ular itu sudah memenuhi makam Mbah Darmo dan badannya juga sudah hampir memenuhi lingkungan di sekitar makam tersebut. Mereka bertiga harus beberapa kali melangkahi badan dan kepala ular-ular itu agar dapat melanjutkan putarannya. Tak lupa juga mereka membaca mantra selama melakuka ritual memutari makam Mbah Darmo.
Pada saat mereka melakukan putaran yang keenam, Pak Ade menjerit keras karena di depannya muncul king cobra yang ukurannya dua kali king cobra yang kedua.
“Aaaaargh!” teriakPak Ade sesaat.
__ADS_1
Untunglah Revan buru-buru menggennggam erat tangan bapaknya untuk memberi kode kepada bapaknya supaya tetap kuat dan tetap membaca mantra yang diajarkan oleh Nenek Galuh tadi pagi, Pk Ade pun sadar dengan hal itu dan ia pun merunduk dari kepala king cobra itu agar bisa melanjutkan putarannya. Giliran Revan yang juga merasa takut karena tiga ular kobra iu tiba-tiba berbaris di depan kepala anak kecil itu seolah-olah menghalangi Revan untuk melanjutkan putarannya. Untunglah anakitu cukup kuat menghadapi godaan tersebut. Ia tetap menatap ke mata tiga ular itu dan tetap melanjutkan putarannya menuju putaran ke tujuh.
Sekarang yang terakhir giliran Bu Nisa yang dibuat ketakutan oleh gangguan ular-ualr itu. Bagaimana tidak? Tiba-tiba salah satu ular kobra naik ke atas kakinya dan secara perlahan memanjat tubuh Bu Nisa sedangkan bagian perut Bu Nisa dililit oleh ular kobra itu. Bu Nisa menahan napasnya saat kepala king cobra itu behasil memanjat sampai ke atas dan sampai ke wajah Bu Nisa.
Bu Nisa hampir menjerit karena ketakutan. Ular kobra itu seakan-akan mau menyantap kepala Bu Nisa bulat-bulat. Bu Nisa menarik tangan Revan karena ia takut sekali. Revan menoleh ke belakang dan ia prihatin melihat nasib ibunya yang sedang dililit oleh salah satu ular kobra itu. Belum selesai Revan memikirkan tentang ibunya, tiba-tiba ada ular piton yang mencoba memajnjat tubuh kecil Revan.
Revan merasa ketakutan saat itu seolah-olah tulangnya akan diremukkan oleh ular piton itu. Revan hampir menangis tapi ia ingat bahwa tinggal satu putaran lagi maka ritual tersebut akan selesai. Maka anak kecil itu pun menguatkan dirinya untuk melanjutkan putarannya meskipun kali ini ia harus bergerak sambil memikul ular piton di tubuhnya.
Sebentar lagi Pak Ade dan kedua anggota keluarganya akan melakukan putaran yang ketujuh. Tinggal satu meter lagi putaran keenam akan selesai, tapi ketika Pak Ade menoleh ke belakang, anak dan isrinya sedang kesulitan untuk bergerak karena harus membawa ular di tubuh mereka. Maka ia pun sedikit menarik lengan Revan untuk sedikit membantu anak itu melangkah.
Baru saja Pak Ade memikirkan tentang anak dan istrinya, tiba-tiba ular sanca naik ke punggungnya dan membuat Pak Ade juga kesulitan melangkah. Tidak hanya itu ular kobra juga menghadang langkah Pak Ade untuk maju dengan cara mengangkat kepalanya setinggi kepala Pak Ade. Kali ini ketiga orang itu benar-benar dala kesulitan yang berat karena ular-ular itu semakin beringas saja tidak diam seperti semula.
Pak Ade terus berusaha melangkah dan mendorong ular kobra di depannya dengan menggunakan dadanya. Sementara itu kepala Pak Ade harus berhadapan dengan kepala ular kobra yang paling besar. Laki-Laki itu menguatkan hatinya untuk tetap melangkah ke depan meskipun dengan risiko ia akan disembur atau disantap oleh ular kobra itu. Akhirnya dengan perjuangan yang luar biasa, Pak Ade bisa melampaui putaran keenam dengan selamat dan ia pun berhasil menarik tangan anaknya agar kuat melampaui putaran keenam. Alhasil, mereka bertiga dapat melewati putaran keenam meskipun dengan bersusah payah.
Tibalah saatnya kini mereka di putaran terakhir. Pada saat mereka melewati garis awal, dan memulai putaran ketujuh. Dari tengah-tengah makam Mbah Darmo muncul ular belang yang ukurannya kecil tapi sangat panjang. Ular belang itu bergerak dengan sangat cepat, sehingga ukurannya sampai berpuluh-puluh meter saat Pak Ade dan kedua anggota keluarganya sudah sampai setengah putaran. Namun, ketika mereka sampai di tengah putaran, ular belang itu sudah sangat panjang sekali dan mengelilingi makam tersebut dan juga tubuh mereka sehingga mereka tidak bisa melihat keluar karena terhalang oleh lilitan ular belang itu yang sudah memenuhi lingkungan di sekitar makam tersebut.
Tidak berhenti sampai di situ saja. Tiba-Tiba ular yang berukuran besar itu naik ke setiap pundak orang itu sehingga merekabertiga tidak kuat dan harus merayap di lantai. Ular raksasa menekan tubuh mereka ke bawah dan menyulitkan pergerakan mereka. Pandangan mereka dibatasai oleh ular belang yang suda beratus-ratus panjangnya sedangkan ular kobra seca bergantian merayap si sebelah mereka membuat nyali ketiga orang tersebut menjadi ciut seketika.
“Tooooo-“ pekik tertahan Pak Ade.
Hampir saja Pak Ade lupa membaca mantra. Untunglah Revan menarik kakinya saat itu. Sehingga Pak Ade kembali ingat dengan tujuannya berada di tempat itu.
Pak Ade kemudian mengerahkan seluruh tenaganya untuk merayap ke depan beriringan dengan ular kora yang mendesis-desis di sebelahnya. Itu adalah mimpi terburuk bagi ketiga orang itu. Pak Ade memberi kode kepada Revan untuk berpegangan pada kakinya. Revan pun juga memberikan kode kepada ibunya untuk berpegangan kepada kakinya. Selanjutnya Pak Ade menggunakan segenap tenaganya untuk merayap ke depan melawan gaya berat yang diberikan oleh ular raksasa di atas tubuhnya dan juga menarik anggota keluarganya yang lain. Revan merasakan kesakitan saat tubuhnya ditarik ke depan oleh bapaknya dan juga kakinya digelandoti oleh ibunya. Tapi, Revan menahan rasa sakit itu demi menyelamatkan dirinya dan juga ibunya. Bu Nisa juga membantu merayap ke depan untuk mengurangi rasa sakit yang diderita anaknya.
Pada saat Pak Ade akan mencapai titik terakhir, tiba-tiba kepala ular raksasa muncul di depan wajahnya dan ternyata alr raksasa itu adalah jelmaan ular belang yang berukuran sangat panjang tadi. Pak Ade tetap membulatkan tekad untuk menabrak ular raksasa itu dan ternyata itu adalah piliha yang tepat karena begitu ia mencapai titk akhi, semua ular itu lenyap dari pandangan Pak Ade. Pertanda Pak Ade sudah selesai dengan tugasnya.
Meskipun sudah selesai, ternyata Pak Ade tidak bisa menyelamatkan anak dan istrinya karena tubuhnya terlalu lemah saat itu. Pegangan Revan di kakinya juga sudah terlepas begitu juga dengan pegangan tangan Bu Nisa di kaki Revan.
Saat ini Revan dan ibunya berjuang sendiri untuk bisa sampai ke garis finish. Revan sudah tidak bisa melihat bapaknya lagi karena sudah lenyap dari pandangan. Revan berjuang untuk merayap dengan ular raksasa di pundaknya. Dengan kesabaran tinggi akhirnya Revan sudah hampir sampai di garis finish. Revan menguatkan hatinya ketika melihat mulut ualr belang raksasa di garis finis. Ia merayap dan masuk ke dalam mulut ular raksasa itu dan benar saja selanjutnya ular-ular itu menghilang dari pandangan matanya dan ia dapat melihat bapaknya di dekatnya. Tapi, ia tidak bisa berbicara maupun bergerak karena tenaganya sudah habis semua.
Sekarang tinggal Bu Nisa yang masih setengah putaran lagi di belakang. Bu Nisa sudah kehilangan jejak suami dan anaknya. Di sekitar ia hanya dapat melihat ular-ular yang hilir mudik mengganggunya. Bu Nisa tetap menguatkan diri dan hatinya untuk melawan rasa takutnya pada ular-ular itu. Ular kobra secara bergantian mendesis dan bermanuver di dekat kepalanya. Sedangkan ular sanca dan piton secara bergantian lewat di atas tubuhnya sehingga menyulitkan istri Pak Ade itu untuk merayap ke depan.
Hampir saja Bu Nisa berputus asa dan menyerah dengan nasib buruk yang akan menimpanya. Namun, ia ingat dengan anaknya sehingga ia membulatkan tekad lagi untuk merayap. Dan akhirnya ia sampai pada tantangan terakhir yaitu kemunculan ular belang raksasa di garis finish. Bu Nisa awalnya takut untuk masuk ke dalam mulut ular raksasa itu, tapi karena ia ingat dengan tantangan-tantangan sebelumnya, maka ia pun memberanikan diri merayap masuk ke dalam mulut ular belang raksasa itu. Dan akhirnya ia pun bisa melihat suami dan anaknya yang sudah selamat terlebih dahulu.
__ADS_1
Keanehan terjadi ketika Bu Nisa berhasil menyelesaikan tantangan itu. Semua tenaga suami dan anaknya kembali pulih seperti sedia kala. Mereka bertiga pun saling berpeluka karena sudah berhasil menyelesaikan tugas berat itu.
BERSAMBUNG