
Malamnya kembali aku tidak bisa tidur nyenyak karena bermimpi buruk. Namun, kali ini mimpi buruknya berulang-ulang terus. Seolah-olah aku melongo ke dalam lubang air dan di dalamnya ada mayat anak kecil tertelungkup.
"Ya Tuhan!" teriakku karena terkejut.
..."Kenapa, Dik? Sudah malam, ayo dibawa tidur. Jangan lupa berdoa!" ucap suamiku....
"Saya mimpi mayat anak itu terus, Mas. Tiap saya tertidur, saya seolah-olah kembali berada di atas lubang air itu," jawabku.
"Sini tidur di pelukan, Mas. Siapa tahu jadi lebih tenang. Mas mohon maaf karena sudah menceritakan hal itu padamu," bisik suamiku.
Dan aku pun berdoa sambil bersandar di lengam kokoh Mas Diki. Syukurlah, akhirnya aku bisa terlelap, meskipun hanya beberapa jam saja. Lumayanlah untuk menghimpun energi untuk kembali membantu Mas Diki esok hari.
"Dik, mukamu pucat. Kamu sebaiknya istirahat di rumah saja, ya! Tidak usah ikut ke pasar!" ucap Mas Diki saat kami sudah bersiap-siap berangkat ke pasar.
"Saya nggak apa-apa kok, Mas!" jawabku dengan suara ditegaskan-"saya hanya kurang tidur saja. Nanti di toko ketemu Siti pasti ilang ngantuknya," tambahku.
"Baiklah! Tapi, kalau nanti kamu di toko ngerasa pusing atau tidak enak badan, tiduran saja, ya?" cetus Mas Diki.
"Iya, Mas," jawabku.
Kami pun berangkat ke pasar. Ketika melintasi bagian belakang rumah Clara, aku sempatkan untuk menoleh ke arah Clara memukul Riki kemarin. Dan, saat itu aku melihat anak lucu itu sednag melambaikan tangan ke arahku. Aku pun membalas lambaian tangannya sambil tersenyum.
"Kamu melambaikan tangan kepada siapa, Dik?" tanya suamiku keheranan.
"Ke anaknya Clara yang ngontrak depan rumah, Mas." jawabku enteng.
"Ooo ...," jawab suamiku sambil menoleh kuat ke arah yang aku maksudkan.
*
"Mbak Shin, sampean sudah dengar belum kabar terbaru tentang mayat anak kecil itu?" ujar Siti di sela-sela pekerjaannya.
"Sudah-Sudah, Sit! Ngak usah bahas hal itu sama Mbak Shinta. Dia itu nggak bisa denger kayak gitu," potong Mas Diki.
"Emangnya kenapa, Mas? Bukankah Mbak Shinta sudah biasa bersentuhan dengan hal-hal gaib?" protes Siti.
"Jangan! Tadi malam mbakmu itu nggak bisa tidur nyenyak gara-gara ngambil koran jatuh di lubang tempat penemuan anak kecil itu," jawab Mas Diki.
"Oh ya, Mbak? Wah .. Sereman mana Mbak antara penampakan anak kecil itu dengan-" cetus Siti.
"Hus! Awas kamu ngomongin almarhum Yu Darmi atau Yu Painem.Saya potong gajimu ntar!" cetus Mas Diki.
__ADS_1
"Duh, jangan dipotong dong, Mas. Nanti saya tidak bisa ngirim untuk keluarga di kampung. Ya deh, saya nggak mau bahas-bahas mayat anak kecil itu lagi," rengek Siti.
"Makanya, nggak usah ngomong aneh-aneh sama mbakmu itu lagi!" ucap Mas Diki mempertegas ucapannya.
Aku hanya menyimak perbincangan antara mereka berdua. Aku terlalu lelah untuk ikut nimbrung berbicara. Benar kata suamiku, aku harus membuang jauh-jauh pikiran buruk tentang penemuan mayat anak kecil itu.
"Mas, nanti pulangnya jangan lewat tempat kemarin, ya, Mas?" ucapku pada suamiku ketika kami akan pulang ke rumah.
"Oh, iya Dik. Tapi, jalurnya agak memutar jadinya," jawab suamiku.
"Nggak apa-apa, Mas. Sekalian jalan-jalan, kan?" ucapku.
"Iya, benar," jawab suamiku.
Kami pun melalui jalur lain untuk pulang. Area yang kami lewati ini tidak melalui jalan besar, melainkan melewati pinggiran sungai dan persawahan.
"Wah, udaranya sejuk, ya, Mas?" ucapku di sela-sela perjalanan kami.
"Iya, Dik. Dulu waktu masih bujang, mas sering jalan-jalan lewat sini. Oh ya, kalau tidak ada perubahan, nanti ada rumah sendirian di depan," kata Mas Diki.
"Oh, ya? Rumah siapa, Mas?" Aku bertanya dengan nada penasaran.
"Loh, kok Mas Diki malah bahas anak perempuannya?" protesku dengan nada cemburu.
"Ealah kok malah kamu jadi cemburu gitu, sih?" ujar suamiku.
Aku tidak menjawabnya sebagai tanda aku tidak suka ia membahas lebih lanjut.
"Loh, Dik. Itu rumahnya masih ada ternyata!" teriak suamiku.
Aku melemparkan pandangan ke arah yang dimaksudkan suamiku. Ternyata benar adanya, di depan sana ada sebuah rumah tua yang dikelilingi pagar kawat yang cukup tinggi. Mungkin kawat-kawat itu sengaja dipasang demi keamanan penghuni rumah tersebut. Maklum, rumahnya agak jauh jaraknya dari pemukiman warga.
"PAK HANDOKO!!!" Aku mengeja tulisan yang ada di tembok gapura rumah tua tersebut.
"Oh, berarti nama orang itu Pak Handoko, toh!" pekik suamiku.
"Iya Mas. Tapi, rumahnya kok tutupan begitu, ya? Kayak nggak ada penghuninya," ucapku.
"Mungkin orangnya lagi keluar, lagi istirahat, atau ...," ucap suamiku.
Aku menoleh ke belakang ke arah rumah tua itu. Kusisir pandangan ke pintu dna jendela rumah tua tersebut dengan tetap membonceng suamiku.
__ADS_1
"ASTAGFIRULLAH!!!" pekikku tiba-tiba
"Kenapa, Dik?" tanya suamiku terkejut.
"Oh, enggak ... Mas. Barusan saya kaget karena tiba-tiba saya melihat ada anak kecil melintas di sana," jawabku.
"Oalah ... berarti rumah itu masih ditempati oleh pemiliknya, Dik. Mungkin barusan itu cucunya Pak Handoko," jawab suamiku enteng.
"Iya, Mas!" jawabku enteng.
Sungguh indah pemandangan yang kami lalui sepanjang jalan ini. Tidak terasa akhirnya kami pun sampai di rumah. Nur anak semata wayang kami sudah sampai duluan.
"Nur, kamu nggak ikut makan malam?" tanyaku pada anak semata wayangku ketika sudah sampai waktunya makan malam tapi dia masih berdiam diri di kamarnya.
"Perut saya masih kenyang, Bu," jawabnya.
"Loh, emangnya kamu tadi sudah makan?" tanyaku kembali.
"Sudah, Bu. Tadi pas Ibu dan bapak belum datang, tante Clara nganter makanan ke sini. Jadi langsung saya makan," jawab Nur dengan tersenyum.
"Ooo ... Emangnya Tante Clara bawa makanan apa, Nur?" tanyaku lagi.
"Bakso, Bu!" jawabnya lagi.
"Wah, itu kan masakan kesukaanmu?"
"Iya, Bu. Makanya langsung saya habiskan tanpa sisa," jawabnya lagi.
"Ya sudah, kalau begitu ibu mau nyuci piring kotor saja di belakang. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang sama ibu, ya?" pesanku pada Nur.
"Kalau Ibu tidak repot, Nur minta tolong dibuatin teh anget. Tenggorokan Nur kayak penuh lendir lemaknya bakso tadi!" ucap Nur.
"Iya, habis mencuci piring ibu buatin kamu teh anget," jawabku.
Aku pun berjalan ke dapur untuk mencuci piring bekas makan malam kami dan alat dapur kotor yang lain. Sesampai di dapur, aku mendapati pemandangan tak lazim. Ada beberapa bangkai kecoa di tumpukan piring.
Bersambung
Gimana, Kak? Sudah puas belum dengan update-annya? Kalau belum puas, like dna komen yang banyak dong, biar author tambah semangat melanjutkan ceritanya.
Salam Dredeg Bahagia
__ADS_1