
Bu Dewi sangat senang mendengar kabar dari Pak Herman bahwa hari ini suaminya akan mengambil cuti kerja agar bisa membantunya mempersiapkan acara tahlilan tujuh hari kematian Laras sore nanti.
“Kamu yakin ambil cuti hari ini, Mas?” tanya Bu Dewi pada Pak Herman.
“Iya, Dik. Aku sudah ijin ke Pak Broto. Ya, paling tidak dalam seminggu satu kali ini aku bisa bertemu dengan para tetangga yang datang ke sini untuk nelayat atau ikut tahlilan bersama mendoakan Laras,” jawab Pak Herman.
“Syukurla kalau Mas Herman mengert hal itu. Sejak kemarin Ustad Andi dan Pak RT sering menanyakan Mas Herman,” balas Bu Dewi.
“Iya, Dik. Mas juga sebenarnya nggak enak meninggalkan kamu sendirian di rumah selama ada acara ini, tapi bagaimana lagi Pak Broto hanya percaya kepada mas untuk urusan bisnis yang di luar kota. Kamu tahu sendiri, kan, Pak Broto tidak gampang percaya pada orang?” balas Pak Herman.
“Iya, Mas. Tidak apa-apa …,” jawab Bu Dewi.
“Makasih ya, Dik, atas pengertiannya,” jawab Pak Herman sambil membelai rambut istrinya.
“Sama-Sama, Mas,” sahut Bu Dewi sambil menatap mata suaminya.
“Oh ya, Dik. Apa yang bisa aku kerjakan hari ini?” tanya Pa Herman kemudian.
“Apa ya, Mas? Kalau urusan makanan, aku sudah pesan semuanya ke Bu Yana. Kalau urusan tempat sih nanti sore juga bisa dikerjakan. Hm … gimana kalau Mas masang lampu di sepanjang jalan depan rumah supaya ntar pas pulang dari sini, para tetangga tidak merasa takut lagi?” ujar Bu Dewi.
“Ide yang bagus, Dik. Gimana kalau sekalian aku memasang lampu baru di rumah Laras? Soalnya, tiap aku pulang kayaknya selalu gelap,” tawar Pak Herman.
“Apa nggak menunggu Pak Salihun dan Pak Ratno saja kalau mau masang lampu di sana?” protes Bu Dewi.
“Nggak usah, Dik. Mas bisa mengerjakannya sendiri. Lagipula Pak Salihun dan Pak Ratno takut datang pas sudah sore,” jawab Pak Herman.
__ADS_1
“Kamu berani ke rumah itu sendirian?” tanya Bu Dewi dengan penasaran.
“Kamu ini, Dik. Itu kan rumah kita sendiri? Jangan-Jangan kamu ini sudah termakan oleh isu yang beredar?” protes Pak Herman.
Bu Dewi terhenyak sesaat ketika suaminya mengatakan hal itu. Ingin rasanya ia mengatakan kepada suaminya bahwa ia sudah berkali-kali mengalami peristiwa tidak mengenakkan di rumah itu. Namun, ia tak mau suaminya mencemaskan dirinya dan juga ia tidak mau suaminya marah kepada dirinya karena ikut-ikuta termakan isu tidak mengenakkan tentang Laras.
“Iya sudah, Mas. Kalau memang Mas Herman mau sekalian memasang lampu di sana,” jawab Bu Dewi datar.
“Mas minta uangnya, Dik, untuk membeli lampu di toko Bu Yana,” ujar Pak Herman.
“Sebentar aku ambilkan di kamar, Mas,” sahut Bu Dewi sambil berjalan menuju kamar.
Setelah menerima uang dari istrinya, Pak Herman pun berangkat ke toko Bu Yana untuk berbelanja lampu yang akan ia pasang di sepanjang jalan di depan rumahnya dan juga di rumah Laras. Pak Herman bertemu dengan ibu-ibu di toko Bu Yana yang sedang berbelanja. Mereka yang jarang sekali bertemu dengan Pak Herman pun bertegur sapa dengan suami Bu Dewi itu. Dari raut wajah ibu-ibu itu terlihat bahwa mereka sangat senang bisa berkomunikasi dengan pria tersebut. Selain kharismatik, Pak Herman memang terkenal ramah kepada siapapun. Tidak cukup sepuluh menit Pak Herman berada di toko tersebut karena ia harus melayani para fans dadakannya itu.
“Tumben nih Pak Herman jam segini masih anteng di rumah?” tegur Bu Yana.
“Iya, Pak. Kasihan Bu Dewi selama enam hari ini menemui tamu sendirian tanpa didampingi Pak Herman sebagai suami,” balas Bu Yana.
“Saya berterima kasih pada Bu Yana karena sudah membantu istri saya menyediakan makanan untuk tamu-tamu yang datang ke rumah,” jawab Pak Herman.
“Kalau itu sih bukan membantu, Pak. Itu memang usaha saya. Kalau setiap penduduk di sini setiap ada acara pesan ke saya semua, hm … kayaknya saya bisa beli banyak sawah seperti Pak Herman,” timpal Bu Yana.
“Aaaamiiiiin …. Bu Yana ini ada-ada saja … Berapa total belanjaan saya, Bu?” ujar Pak Herman.
“dua atus tiga puluh ribu, Pak. Mau ke mana, Pak? Nggak mau di sini tah? Ntar kalau datang lagi ibu-ibu kayak tadi pasti Pak Herman dikerubuti lagi,” sahut Bu Yana.
__ADS_1
“Saya mau memasang lampu jalan dan rumah Laras dulu, Bu Yana,” sahut Pak Herman.
“I-iya, Pak …,” sahut Bu Yana yang tiba-tiba merasa ngeri ketika Pak Herman menyebut nama Laras.
Toko Bu Yana jaraknya paling dekat dengan rumah Laras karena toko Bu Yana letaknya paling ujung. Namun, sejauh ini Bu Yana hanya menjadi pendengar setia ketika orang-orang yang berbelanja di tokonya asyik memperbincangkan Laras karena Bu Yana tidak mau terbawa energi negatif dari orang-orang yang bergunjing itu. Bu Yana kenal baik dengan Laras selama hidupnya. Ia tidak pernah menilai buruk Laras. Setiap Bu Yana teringat dengan rumor-rumor menyeramkan tentang Laras, perempuan itu membuang pikiran buruknya jauh-jauh dan segera mendoakan Laras.
Setelah membeli lampu dan kabel dari toko Bu Yana, Pak Herman pun segera memasang kabel dan lampu itu di beberapa titik di gang depan rumahnya. Terakhir ia pun meminta kunci kepada istrinya untuk memasang lampu di teras dan di ruang tamu rumah Laras. Bu Dewi memberikan kunci rumah itu dengan perasaan was-was.
“Apa perlu aku temani, Mas?” tanya Bu Dewi.
“Tidak usah, Dik! Kamu selesaikan saja pekerjaan itu! Kayaknya masih banyak yang harus kamu kerjakan,” sahut Pak Herman sambil membawa kunci dan peralatan listriknya ke luar rumah.
Sesampai di depan rumah Laras, Pak Herman memandangi rumahnya tersebut dari halaman depan. Sejenak ia teringat dengan Mbok Inah dan Laras yang dulu tinggal di sana. Pada saat itu rumah tersebut terlihat ramai dengan adanya sepasang ibu dan anak itu. Hati Pak Herman trenyuh saat itu. Kemudian Pak Herman langsung mengganti lampu lama yang rusak dengan yang baru ia beli tadi. Setelah itu ia pun mencoba menghidupkan lampu teras tersebut dan ternyata menyala. Setelah selesai memasang lampu teras, pria tersebut membuka pintu rumah dengan menggunakan kunci yang diberikan oleh istrinya barusan. Dan pintu pun terbuka dengan lebar. Secara perlahan Pak Herman masuk ke dalam rumah dan ia pun menyusun kursi kau di atas kursi yang lain. Plafon rumah tersebut tidaklah terlalu tinggi, jadi dengan cara itu Pak Herman bisa mengganti lampu yang rusak. Tak butuh waktu lama bagi pria tersebut untuk melakukan pekerjaan itu. Setelah selesai memasang lampu, ia pun menghidupkannya dan lampu ruang tamu pun menyala dengan baik.
“Alhamdulillah, lampunya sudah menyala. Aku biarkan lampu ini menyala terus saja. Istriku juga nggak mungkin berani ke sini sendirian untuk mematikan dan menghidupkan saklarnya,” pikir Pak Herman.
Karena sudah selesai menuntaskan pekerjaannya, Pak Herman pun berencana untuk pulang ke rumahnya sendiri. Namun, pria itu dikejutkan dengan pintu rumah yang tiba-tiba tertutup sendiri.
Brak!
Belum selesai rasa keterkejutannya, tiba-tiba Pak Herman merasa ada seeorang yang sedang memeluknya dari arah belakang.
“Siapa?” teriak pria dewasa itu dengan kagetnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Like dan komentar setiap BAB di Novel Maranti sampai akhir bulan ini. Awal bulan Desember akan diundi pemenag untuk mendapatkan masing-masing pulsa 10 ribu untuk 3 orang pemenang.