MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 9 : RIKI


__ADS_3

Clara bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kelambu pembatas. Ia pun menyingkap bagian tengah kelambu tersebut untuk menengok ke arah ruang tengah, mencari sumber bunyi tadi. Namun, sepertinya ia tidak menemukan apa-apa di sana. Clara masuk ke ruang tengah. Aku yakin ia akan menengok ke kamar ibu mertuanya. Aku mendengar suara langkah kaki menuju kamar perempuan tua itu. Kemudian lamat-lamat aku mendengar suara teriakan dari arah kamar tersebut. Suara teriakan itu tidak berhenti, bahkan kali ini ada dua suara perempuan seperti sedang berkelahi.


"Clara!!!!" Aku memanggil nama perempuan muda itu, tapi ia tidak menyahut. Bahkan, suara seperti orang berkelahi itu semakin keras terdengar.


Kali ini aku tidak mau menunggu lama-lama, aku yakin suara di dalam adalah suara Clara dan nenek tua itu yang sedang berkelahi. Mungkin, nenek tua itu mendengar cerita Clara dan ia ngomel dna menyulut emosi Clara. Aku segera berlari menuju kamar nenek tua itu dan aku pun membuka tirai yang menutupi kamar nenek tua itu.


"Clara!!!!" teriakku yang tercekat di mulut. Aku terpaku dengan pemandangan aneh di depan mataku.


"Ada apa, Mbak?" tanya perempuan muda yang kali ini sedang menyuapi perempuan tua yang ada di depannya.


"T-t-tidak ada apa-apa, Clar," jawabku tergagap. Jujur, aku merasa seperti pencuri yang sedang tertangkap basah saja.


"Maaf, ya, Mbak. Saya tinggal menyuapi ibu dulu. Soalnya ini waktunya beliau minum obat," ucap Clara lagi.


"Oke, nggak apa-apa. Saya pamit pulang dulu, ya?" ucapku pada perempuan itu.


"Waduh, kok buru-buru sih, Mbak? Kan masih pagi?" tanya Clara.


"Iya, saya baru ingat harus mengerjakan sesuatu hari ini." jawabku.


"Oh, ya sudah nggak apa-apa kalau begitu. Tapi, jangan kapok-kapok main ke sini, ya, Mbak?" ucapnya.


"Iya, Clar. Tenang saja. Insyaallah saya akan sering-sering main ke sini," entah mengapa aku tidak menawarkan Clara untuk main-main ke rumahku.


"Assalamualaikum ...,"


"Waalaikumsalam ...,"


"Bude mau kemana?" suara anak kecil tiba-tiba dari belakangku.


Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata si Riki sedang berdiri di sana dengan tatapannya yang lucu.


"Waduh, ponakannya bude baru muncul, nih?" sapaku pada Riki.


"Tadi Riki sedang belajar di kamar, Bude" jawabnya.


"Wah, pinter ponakan bude ini," ujarku sambil mencubit pipinya yang entah kenapa terasa dingin.


"Bude jangan pulang dulu, ya? Riki mau nunjukin hasil karya Riki ke Bude," ujar anak kecil itu lagi.


"Duh, Riki! Jangan gangguin bude. Bude lagi banyak kerjaan!" sahut Clara dari dalam kamar.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok, Clar. Namanya juga anak kecil,"


"Nggak, Mbak. Riki kebiasaan itu nanti ganggu-ganggu Mbak terus," ujar Clara lagi.


Sebenarnya aku sudah berniat untuk menemani Riki, tapi melihat reaksi Clara yang seperti itu, aku lebih memilih untuk mengurungkan niatku, takutnya nanti malah Riki yang diomeli ibunya.


"Lain kali saja, ya, bude liatin hasil karya kamu? Bude sekarang masih banyak kerjaan soalnya," ucapku pada Riki.


"Tapi janji, ya, Bude?" tanya anak kecil itu.


"Iya, bude janji," jawabku sambil melepas senyuman untuk anak kecil itu.


Akhirnya, Rikilah yang mengantarku ke depan pintu karena ibunya sibuk menyuapi neneknya.


*


Siang itu aku memang berencana untuk menghadiri acara arisan PKK di rumah tetangga. Di tempat arisan aku bertemu dengan Bu RW. Bu RW bercerita tentang keinginannya untuk menjual rumah yang berada di depan rumahku. Ia menawarkan kepadaku untuk membeli rumah tersebut, tetapi aku bilang tidak punya uang. Aku menanyakan kepada Bu RW perihal orang yang ngontrak di rumah lamanya tersebut, menurut Bu RW, ia tidak tahu menahu mengenai hal tersebut karena itu urusan suaminya.


"Kasihan juga Clara kalau harus pindah kontrakan lagi," pikirku di dalam hati.


Sore harinya, Nur sudah pulang sekolah. Tumben, ia pulang lebih awal. Ketika kutanya, anak semata wayangku itu beralasan bahwa ada gurunya yang sedang sakit, jadi kegiatan les hari itu diliburkan karena semua guru akan menjenguk guru yang sakit tersebut di rumah sakit. Setelah mandi sore, aku mengajak Nur berbincang-bincang di ruang tamu


"Ah, enggak juga kok. Tadi pagi, ibu sudah main ke sana. Penghuninya ramah-ramah, kok. Hanya saja, ada salah satu keluarga mereka yang sakit. Mungkin itu alasan mereka tidak keluar rumah," jawabku.


"Oh, begitu. Emang siapa yang sakit, Bu?" tanya anakku itu lagi.


"Ibunya yang nyewa di sana. Sepertinya sakitnya sudah lama, Nur." jawabku.


"Oh begitu," jawab Nur mulai mengerti.


"Nur, mainanmu waktu masih SD ada dimana, ya? Di gudang sepertinya tidak ada," ujarku.


"Kayaknya ada di kamar, Bu. Emangnya kenapa, kok tumben ibu menanyakannya?"


"Itu, ibu baru ingat kalau tetangga baru di depan punya anak kecil. Daripada tidak dipakai, alangkah lebih baik mainan-mainan bekas itu sebagian diberikan pada anak itu,"


"Boleh saja, Bu. Daripada jadi sarang tikus juga,"


"Ayo bantuin ibu memilah-milah mainanmu!"


"Ayo"

__ADS_1


Aku dan Nur mengambil mainan yang ada di kamar anakku itu. Tidak semuanya aku ambil. Aku pilihkan yang sesuai dengan usia Riki. Entah kenapa, aku kepikiran terus dengan anak itu. Anaknya terlihat lucu dan menggemaskan.


Setelah kurasa cukup mainan yang kupilih, aku memasukkannya ke dalam kresek hitam besar, sedangkan sisanya aku tata kembali di tempat semula. Aku berencana memberikannya esok hari kepada anak itu.


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, suamiku pun sudah datang. Selepas isya, kami bertiga makan malam di meja makan.


"Pasarnya rame, Mas?"


"Alhamdulillah, lumayan, Dik. Oh, ya, Dik. Tadi di dekat pasar ada kejadian heboh,"


"Oh, ya? Apakah itu, Mas?"


"Ditemukan mayat anak kecil di gorong-gorong,"


"Astagfirullah! Mayat siapa, Mas?"


"Masih belum ketemu, Dik. Polisi masih berusaha mencari keluarganya."


"Kira-Kira meninggalnya karena apa, Mas?"


"Kalau melihat kondisi mayatnya dan tempat ditemukannya, kemungkinan anak itu terseret arus banjir. Kan, sekarang musim penghujan. Tapi, tidak menutup kemungkinan korban pembunuhan,'


"Emangnya siapa yang tega membunuh anak kecil, Mas?"


"Yah, nggak tahu juga, Dik"


"Semoga segera ditemukan keluarganya, ya, Mas?"


"Aamiiin ..."


*


"Budeeeeee .... Budeeeee" panggil seorang anak kecil terdengar keras sekali di telingaku.


"Rikiiiiiiiii!!!!" teriakku terkejut dan terbangun dari tidurku.


Berita tengah malam sedang tersaji di layar tivi di depanku. Hal itu menandakan bahwa sekarang sudah lebih jam dua belas malam. Mas Diki tidur mendengkur di sebelahku. Aku tiba-tiba merasa ingin buang air kecil. Mau membangunkan suamiku rasanya tidak tega. Biarlah aku berjalan sendirian ke kamar mandi.


Bersambung


Novel KAMPUNG HANTU akan segera terbit versi cetaknya. Setiap pembelian novel cetak KAMPUNG HANTU akan mendapatkan free kalender 2021.

__ADS_1


__ADS_2