MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 6 : CURIGA


__ADS_3

Ternyata kebiasaan buruk Nur tidak kunjung berubah, yaitu tidur dengan bagian kepala ditutupi selimut atau biasa disebut dengan istilah kerukupan kalau di daerahku.


"Apaan sih, Bu, kok ganggu-ganggu orang lagi tidur?" tanya anakku dengan ekspresi wajah kesal.


"Eeee ... nggak apa-apa, Nur. Kamu itu kalau tidur tidak usah kerukupan kenapa, sih?" jawabku berpura-pura.


"Iya-Iya. Sana sudah, Bu! Nur capek mau tidur, besok banyak kegiatan di sekolah," jawab anakku sambil memiringkan badannya ke arah kanan dan membetulkan selimutnya, sehingga tidak menutupi bagian kepalanya lagi.


Di satu sisi aku merasa kesal dengan Nur karena masih saja tidur secara kerukupan seperti tadi, tetapi di sisi lain aku merasa senang karena dugaanku ternyata benar, bahwa seseorang di luar pintu yang menyerupai anakku adalah makhluk jadi-jadian. Ingin rasanya aku memberitahu Nur perihal makhluk aneh di depan, tetapi mendengar ceritanya bahwa ia sangat kecapekan dan butuh istirahat untuk mempersiapkan kegiatan esok hari di sekolah, aku pun mengurungkan niatku untuk menyampaikan kepada anakku tersebut.


Aku berjalan meninggalkan Nur yang sedang tertidur. Tak lupa sebelum meninggalkan kamarnya, aku menekan saklar lampu di kamar Nur untuk mematikan lampu kamarnya. Dengan perlahan, aku menutup pintu kamar anakku. Aku bermaksud mendatangi suamiku yang sedang tertidur tadi sambil mengintip sosok aneh di depan rumah. Namun, suamiku sudah tidak ada di kursi panjang itu lagi.


Jantungku berdegup dengan kencang. Napasku menjadi tidak beraturan. Rasa ketakutan kembali menggelayut di dadaku.


"Maaaaaaas ... Maaaaaaaas ...," teriakku memanggil nama suamiku.


Tidak ada sahutan yang terdengar. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Kebingungan dan takut semakin mengelayut. Secara perlahan aku pun melangkahkan kaki menuju kamarku sambil tetap memanggil nama suamiku.


"Maaaaaas ... Maaaaaaaas ..."


Namun belum terdengar juga sahutan dari suamiku. Akhirnya aku sudah sampai di depan kamarku. Sejujurnya aku masih takut untuk masuk ke dalam kamarku, dan aku tidak yakin suamiku sudah berada di dalam kamar. Maka, dari tempat tersebut aku mengedarkan pandangan ke arah ruang makan yang berada di depanku. Lagi-Lagi aku tidak melihat siapapun di sana. Aku tidak punya pilihan lagi selain masuk dan memeriksa kamarku. Secara perlahan aku menarik gagang pintu kamar dan mendorongnya ke dalam. Dadaku kembang kempis karena takut.


"Maaaaaaaas ..." teriakku kembali kuarahkan ke dalam kamar.


Jantungku seolah berhenti berdetak saat itu karena tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegangi tanganku.

__ADS_1


"Apa, Dik?" suara pemilik tangan yang muncul dari balik pintu kamar.


"Astagfirullah!!!" pekikku karena kaget.


"Kenapa kamu seperti ketakutan begitu, Dik?" tanya suamiku lagi.


"Mas Diki sih, munculnya secara tiba-tiba. Tadi Mas Diki kan lagi tiduran di ruang tamu. Tiba-Tiba menghilang begitu saja," jawabku.


"Tadi saya tiba-tiba terbangun karena kebelet. Saya lihat kamu lagi di kamar Nur. Saya matikan televisi, terus ke kamar mandi sebentar, dan buru-buru masuk ke kamar untuk melanjutkan tidur. Baru saja mau tidur, saya mendengar kamu manggil-manggil, ya saya keluar. Nggak tahunya kamu sedang berdiri di depan pintu," jawab suamiku enteng.


"Lain kali kalau mau megang tangan orang itu kasih kabar dulu, biar yang dipegang tidak kaget," jawabku.


"Ooooh gitu? Ya sudah deh, masuk kamar dulu, yuk! Nggal baik ngobrol di tengah pintu begini. Lagipula ini sudah malam, nanti para tetangga terganggu dengan obrolan kita," jawab suamiku sambil menarik tanganku ke dalam kamar.


Mas Diki menutup dan mengunci pintu kamar dari dalam, sedangkan aku sudah naik ke atas tempat tidur untuk bersiap merajut mimpi. Setelah mengunci pintu, mas Diki melangkah ke tempat tidur sambil berkata, "Dik, kalau mau mencium kamu, apa mas harus bilang dulu?"


Aku tersenyum simpul mendengar perkataan konyol suamiku tersebut. Dan malam itu pun alu tidak merasa ketakutan lagi.


*


Keesokan harinya, saat mengantar suami dan anakku di depan pintu depan, aku berkata kepada suamiku, "Mas, aku ikut Mas, ya, ke pasar?"


Mas Diki menjawab, "Enggak usah, Dik! Kamu di rumah saja. Saya melihat cucian sudah menumpuk di kamar mandi. Kasihan Nur kalau seragamnya belum dicuci," jawab suamiku.


"Tapi, Mas ...," jawabku.

__ADS_1


"Tapi kenapa?" tanya suamiku.


"Apa Mas Diki tidak merasa aneh dengan tetangga baru kita itu?" Aku berkata sambil melirik ke arah rumah pak RW. Entah kebetulan entah tidak, saat aku melirik ke arah rumah tersebut, aku seperti melihat nenek tua itu mengintipku dari balik tirai jendela. Hal itu membuat nyaliku ciut seketika.


"Aneh gimana sih, Dik? Saya melihatnya biasa-biasa saja. Kamu saja yang terlalu parnoan, sehingga selalu berpikiran negatif tentang tetangga baru kita itu. Coba ikuti saran saya! Nanti, sehabis kamu mengerjakan pekerjaan rumah, coba kamu bertamu ke rumah tetangga baru itu! Bawa sedikit makanan untuk tetangga kita itu. Ingat!!! Tak kenal maka tak sayang," bisik suamiku dengan suara mendesah.


"I-Iya, Mas," jawabku sambil mengangguk


Entah mengapa aku seperti terhipnotis dengan ucapan suamiku tersebut. Aku yang awalnya sudah berpikiran yang aneh-aneh dengan keluarga baru itu, mendadak menjadi percaya dengan ucapan suamiku itu.


"Mungkin benar kata suamiku. Aku saja yang terlalu parno, sehingga aku tidak melihat kebaikan dari tetangga baru itu. Yang aku lihat justru keburukannya saja," ucapku di dalam hati.


Mas Diki dan Nur pergi meninggalkan aku sendirian di rumah dengan pikiran positifku. Aku antusias sekali mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci baju, menyiram tanaman, bahkan sampai memberi makan si Empus juga tidak kulewatkan. Pekerjaan rumah itu semuanya sudah selesai aku kerjakan sekitar pukul sepuluh pagi.


Setelah mandi aku teringat dengan pesan suamiku tadi, yaitu bertamu ke rumah Clara dengan membawa makanan. Aku pun menyiapkan makanan yang akan kubawa bertamu ke rumah Clara. Kolak pisang dan ketan aku masukkan ke dalam rantang peninggalan ibuku. Setelah menggunakan daster yang baru aku beli kemarin, aku pun berangkat menuju rumah Clara.


Aku berjalan ke rumah Clara dengan penuh antusias dan kegembiraan selayaknya seseorang yang ingin bersilaturahmi ke rumah tetangga barunya. Namun, ketika aku sudah berada lima meter di depan rumah Clara, ada angin berhembus semilir yang tiba-tiba membuat bulu kudukku kembali merinding. Langkahku yang semula ringan mendadak menjadi berat sekali. Ornamen rumah pak RW yang kelihatan sudah usang itu turut menambah kegetiran di dadaku.


"Apa yang terjadi denganku ini? Siapa Clara itu sebenarnya? Nenek tua itu apakah juga merupakan keluarga Clara?" tanyaku pada diri sendiri.


Bersambung


Jangan lupa like, komentar, dan vote-nya.


Jangan lupa membaca novel berjudul KAMPUNG HANTU (Sudah tamat season kesatu dan kedua)

__ADS_1


__ADS_2