
Pak Ade buru-buru membuka pintu kamar yang dikunci dari dalam sambil menahan sakit perutnya.
“Ouugh … Sialan! Pake sakit perut segala!” umpatnya.
Sesaat setelah ia membuka pintu kamar, ia pun meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu untuk ruang tamu. Perasaannya campur aduk saat itu. Antara menahan mulas perutnya dan juga kekhawatiran si Laras akan muncul di kegelapan ruang tamu.
“Ya Tuhan!” Hampir copot jantung pria itu tatkala melihat kain berwarna putih di atas kursi. Untunglah ia baru ingat kalau itu adalah kain seprei yang dijemur siang hari tadi oleh istrinya.
Setelah berhasil menyalakan lampu di ruang tamu, Pak Ade pun berjalan menuju arah dapur sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Laras tidak sedang membuntutinya dari belakang. Setelah yakin kondisi aman, pria itu pun memberanikan diri berjalan ke arah dapur. Kamar mandi berada di ujung dapur rumahnya. Sesampai di pintu penghubung antara ruang tamu dan dapur, kembali Pak Ade harus meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu yang menerangi bagian dapur.
Blep!
Lampu pun menyala dengan cukup terang. Pak Ade kembali berjalan masuk ke dalam dapur dan ia pun langsung menuju bagian ujung dapur. Saklar kamar mandi berada di sebelah luar, jadi ia dengan mudah dapat menemukan saklar tersebut untuk dinyalakan. Setelah masuk ke kamar mandi, Pak Ade pun buru-buru menutup pintu kamar mandi dari dalam dan menguncinya. Entah kenapa ia merasa lebih aman berada di dalam ruangan sempit tersebut daripada di luar barusan. Padahal, menurut orang-orang, jin itu lebih suka berada di tempat kotor. Salah satunya adalah kamar mandi.
“Aaaaah …” Pak Ade menggunakan sepenuh tenaganya untuk mengeluarkan kotoran di perutnya yang sudah ia tahan sejak tadi.
Tidak cukup sekali Pak Ade mengejan karena kotoran yang ia keluarkan saat itu cukup banyak dibanding biasanya. Saking fokusnya Pak Ade buang air besar, sampai-sampai ia agak berteriak saat mengeluarkan kotoran-kotoran itu. Pak Ade tidak menyadari, saat ia sibuk dengan apa yang ia lakukan, seseorang sedang berdiri di ruang tamu rumahnya dan secara perlahan bergerak menuju dapur. Pak Ade yang sudah hamper selesai mengeluarkan kotorannya itu pun tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang di dapur. Namun, pemilik usaha kontraktor itu tidak berani bersuara atau menegur seseorang yang sedang berada di ruang tamu itu. Bahkan, ia berharap bahwa di sana tidak ada siapa-siapa.
__ADS_1
“Aaaahhhh …” Pak Ade secara refleks bersuara karena begitu kuatnya tekanan dari dalam perutnya. Sepertinya ini adalah tekanan pamungkas dari kotoran-kotoran itu. Pak Ade sampai bermandikan keringat karena proses buang air besar tersebut. Tekanan di perut Pak Ade sekarang pun sudah habis dan perutnya menjadi longgar seketika. Menyadari kecerobohannya itu pun, Pak Ade harus menutup mulutnya sendiri meskipun sudah terlambat.
Krompyang!!!
Terdengar suara benda jatuh dari dalam dapur. Pak Ade pun memberanikan diri bersuara,
“Kamu, Dik?”
Tidak ada sahutan. Hal itu membuat Pak Ade yang berharap bahwa itu adalah istrinya itu pun semakin menyesal dengan apa yang telah ia perbuat. Terlebih, Pak Ade merasa kali ini seseorang di dalam dapur itu sedang bergerak menuju ke kamar mandi.
“Ya Tuhan!” Pak Ade menahan pekikannya. Ia benar-benar merasa ketakutan saat itu. Kali ini ia benar-benar yakin bahwa seseorang yang berada di dapur itu bukanlah istrinya, melainkan hantu Laras seperti yang diceritakan oleh istrinya atau yang ia curigai sudah membunuh Pak Hartono, teman akrabnya.
“Kayaknya ini hanya perasaanku saja. Kemungkinan barusan itu hanya suara tikus saja,” bisiknya pada diri sendiri.
Setelah berhasil mengumpulkan segenap keberaniannya, pria suami Bu Nisa itu pun secara perlahan membuka kunci kamar mandi dan ia pun mengintip terlebih dahulu bagian depan pintu untuk memastikan situasi aman terkendali. Ketika ia tidak melihat hal mencurigakan di sana, ia pun membulatkan tekad untuk membuka pintu lebar-lebar dan keluar dari kamar mandi.
Namun, kejadian di luar dugaan tiba-tiba terjadi saat itu. Saat Pak Ade keluar dari kamar mandi dan berencana untuk berjalansedikit berlari dari dalam kamar mandi, tiba-tiba bagian belakang pakaiannya ada yang memegangi.
__ADS_1
“Loh! Kok, ada yang memegangi pakaianku dari belakang? Jangan-Jangan itu Laras? Tidak!!!!! Jangan Laras! Lepaskan!” teriak Pak Ade sekuat tenaga berusaha melepaskan pakaiannya yang sedang dipegangi dari arah belakang. Namun, apa yang ia lakukan sia-sia belaka karena cengkraman pada pakaiannya itu sangatlah kuat. Karena tidak mau mati konyol oleh ulah Laras, pria itu pun lebih menguatkan larinya dan akibatnya pakaian pria itu pun robek seketika dan pria itu tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri sehingga tubuhnya tersungkur ke depan dan wajah Pak Ade pun membentur lantai dengan cukup geras.
Bug!
“Aduh!!” Lagi-Lagi Pak Ade mengadu kesakitan.
Kepala Pak Ade pusing seketika. Namun, Pak Ade tidak mau menyerah, meskipun pusing ia tetap berusaha bangkit dari jatuhya. Padahal saat itu bibir pria itu pecah karena bertabrakan dengan lantai. Semua itu Pak Ade lakukan karena rasa takutnya yang luar biasa terhadap Laras. Kali ini Pak Ade kembali berusaha bangkit dan berjalan lagi menuju kamarnya untuk menyelamatkan diri dari kejaran Laras. Sayangnya, Pak Ade tidak menyadari kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan baginya untuk berjalan. Akibat ulahnya yang memaksakan diri itu pun Pak Ade harus mengalami kesialan yang kedua. Tubuhnya oleng dan ia pun ambruk ke arah rak yang berisi peralatan dapur yang sudah dicuci.
Brak!
Pak Ade pun kerobohan rak yang berisi piring dan peralatan memasak. Suaranya sangat keras saat alat-alat dapur itu jatuh menimpa tubuh pria nahas itu.
“Ampun, Laras!” pekik Pak Ade sambil menahan rasa sakit pada tubuh dan wajahnya yang sudah berlumuran darah itu.
Pria itu sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri karena sekujur tubuhnya sakit semuanya. Ia hanya bisa mengeluh saat seorang perempuan berdiri tepat di samping tubuh Pak Ade yang sedang terbaring tidak berdaya.
“Ampun, Laras!!! Jangan bunuh aku!” Hanya itu suara yang keluar dari mulut Pak Ade. Suara seorang yang sudah putus asa dan berada di ambang kematiannya. SIapa pun yang melihat kondisi Pak Ade saat itu pasti akan merasa kasihan. Sosok tubuhnya yang terkenal gagah, saat itu terlihat sangat lemah dan tidak memiliki kekuatan sama sekali.
__ADS_1
BERSAMBUNG