MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 119 : LUAR BIASA


__ADS_3

Kepala ular raksasa semakin dekat dengan tubuh mungil Pak Ade dan Jatmiko. Sebelu kedua orang itu disantap oleh mulut ular itu, tiba-tiba ada keajaiban terjadi. Ular raksasa itu mengerang dahsyat dan terlempar ke arah luar pekarangan rumah Jatmiko.


“Arrrrrrrgh aaaaaarrrrgh!!!” teriak ular berkepala arwah Laras dengan sangat kerasnya.


Jatmiko dan Pak Ade yang sudah bersiap untuk mati pun saat itu merasa ada yang aneh. Belum sempat mereka membuka mata, sepasang tangan telah menarik mereka ke dalam rumah Jatmiko sehingga mereka berdua pun selamat dari serangan ular raksasa yang hampir menyantap tubuh mereka sedetik sebelumnya.


“Ibuuuuuuu!!!” pekik Jatmiko dengan perasaan lega bercampur takut.


Pak Ade saat itu tidak sanggup berkata apa-apa lagi karena tenaganya terkuras habis dan tubuhnya lemas sekali dan ia pun bersandar pada tubuh Jatmiko. Jatmiko dengan sigap meletakkan tubuh sahabatnya di atas kursi di ruang tamu rumahnya.


“Kalian ini sudah dibilangi untuk tidak keluar rumah malam ini kok malah ngengkel. Ini akibatnya kalau kalian tidak mau menuruti nasihatku,” omel Nenek Galuh sambil memperhatikan tubuh Pak Ade yang lemas dan berbaring di kursi ruang tamu miliknya.


“Maafkan kami, Bu. Tadi, Revan mendadak sakit perut dan mau buang air besar makanya kami bertiga keluar rumah dan bertemu dengan arwah Laras,” jawab Pak Ade dengan terengah-engah.


“Mana istri dan anakmu sekarang?” tanya Nenek Galuh kembali.


“Nisa dan Revan ada di dalam, Bu,” jawab Jatmiko.


“Coba tengok mereka dulu! Takutnya arwah perempuan itu kembali menculik dua orang tak berdosa itu,” sahut Nenek Galuh.


Jatmiko pun melangkah menuju kamar depan dan sesampai di sana ia melihat Revan dan Nisa sedang berpelukan karena takut.


“Nisa … Revan … dipanggil ibu!”panggil Jatmiko pada keluarga sahabatnya itu.


“Om Jatmiko, mana bapak? Om Jatmiko berhasil menyelamatkan bapak, kan?” tanya Revan pada Jatmiko.


“Ayahmu selamat, Revan. Dia sedang beristirahat di ruang tamu,” jawab Jatmiko dengan nada serius.


“Horeeeeeeee!!!” teriak Revan dengan gembiranya sambil berlari melepaskan pelukan ibunya menuju tempat Jatmiko berdiri.


Bu Nisa hanya bisa menatap anaknya dengan perasaan bingung bercampur bahagia karena mendengar kabar bahwa Pak Ade telah berhasil diselamatkan.


“Mana bapak, Om Jatmiko?” teriak Revan sambil menarik-narik baju yang dipakai Jatmiko.

__ADS_1


“Itu kan bapakmu, Revan yang berbaring di kursi tamu,” jawab Jatmiko sambil menunjuk ke arah ruang tamu.


Revan langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Jatmiko dan ia pun semakin gembira karena melihat bapaknya benar-benar ada di sana.


“Horeeeee, Bapaaaaaak!!!” teriak Revan dengan girang sambil berlari menuju ke kursi ruang tamu tempat bapaknya berbaring.


“Pelan-Pelan, Revan! Bapakmu masih kecapekan,” ucap Nenek Galuh menegur anak kecil itu.


“Iya, Nek. Maaf. Revan sejak tadi kepikiran sama bapak. Revan takut terjadi apa-apa sama bapak. Pak … Ini Revan, Pak,” panggil Revan kembali dengan suara lebih lembut.


“Re … Revaaan …,” sahut Pak Ade dengan suara lemah.


“Bapaaaak!!!” panggil Revan kembali sambil memeluk kepala bapaknya.


“Revan!” jawab Pak Ade sambil memegangi tangan mungil anaknya yang sangat ia sayangi.


Ada bulir hangat yang keluar dari mata Pak Ade saat itu. Ia terharu karena masih diberikan keselamatan dan kesempatan untuk memeluk anak semata wayangnya itu.  Ia tidak menyangka masih diberi pertolongan sehingga bisa bertahan dari serangan arwah Laras yang masih menyisakan trauma bagi pria itu. Perasaan bersalah terhadap anak dan istrinya juga masih menghantam dada pria dewasa itu karena telah melibatkan keluarganya untuk berhadapan dengan arwah Laras padahal dirinya sendiri lah yang membuat kesalahan terhadap Laras selama hidupnya.


Bu Nisa tiba-tiba muncul di ruang tamu setelah keluar dari kamar depan tempat ia dan keluarganya akan menginap malam ini. Perempuan yang awalnya sangat jengkel terhadap perselingkuhan suaminya itu akhirnya sedikit demi sedikit mampu mengikis perasaan marahnya terlebih setelah melihat kedekatan Revan dan bapaknya.


“Mas, kamu tidak apa-apa?” tanya Bu Nisa pada suaminya setelah ia berada pada jarak yang cukup dekat dengan pria dewasa itu.


Pak Ade pun menyungging senyuman karena melihat istrinya yang kembali bisa tersenyum padanya setelah sebelumnya bermuka masam padanya. Hal itu merupakan pertanda baik bagi pria itu, tapi dia tahu istrinya adalah orang yang tegas. Mungkin, kalau di masa yang akan datang ia mengulangi perbuatannyamenghianati kesetiaan cintanya maka tidak akan ada ampun lagi untuknya.


“Iya, Dik. Aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya kelelahan saja,” jawab Pak Ade dengan sangat bahagia.


Jatmiko dan ibunya yang menyaksikan adegan mengharukan itu pun turut bahagia melihat kekompakan keluarga kecil di depan mereka saat itu.


“Sekarang ini masih larut malam. Bagaimana kalau kita semua tidur lagi?” tegur Nenek Galuh pada semua orang yang berada di ruang  tamu.


“Iya, benar kata ibuku barusan. Besok pagi kita harus mengerjakan ritual-ritual sejak pagi hari. Sebaiknya kita segera berangkat tidur lagi saja,” sambut Jatmiko sambil berjalan ke arah pintu dan menutup daun pintu serta menguncinya dari dalam.


Revan yang saat itu sedang memperhatikan gerak-gerik Jatmiko pun memekik sesaat karena ia merasa melihat buntut ular raksasa di dekat pintu.

__ADS_1


“U-ular besar!” pekik Revan dengan perasaan takut.


Bu Nisa buru-buru menutup mata anak kecil itu dan menyahut.


“Bukan, Nak. Itu baju kotor Om Jatmiko yang tidak dimasukkan tadi sore,” jawab Bu Nisa sambil memberi kode kepada Jatmiko.


“Iya, Revan Itu barusan yang kamu lihat hanya baju kotor om Jatmiko, kok. Memang motifnya kayak sisik ular, sih!” sambut Jatmiko menyambung omongan anak kecil itu.


Nenek Galuh yang menangkap adanya bahaya mengancam pada Revan pun langsung bertutur.


“Sebaiknya Nisa dan Revan untuk malam ini tidur di kamarku saja. Biar Nak Ade tidur dengan Jatmiko di kamarnya,” ucap Nenek Galuh.


“Iya, aku setuju hal itu!” sahut Jatmiko.


Bu Nisa tampak senang dengan keputusan Nenek Galuh. Dia yang awalnya merasa takut dan menganggap Nenek Galuh aneh, akhirnya bisa merasakan bahwa perempuan tua tersebut pada dasarnya adalah orang yang baik.


“Terima kasih, Bu. Maaf sudah banyak merepotkan kalian berdua,” jawab Bu Nisa dengan malu-malu.


“Ma-makash, Bu!” sahut Pak Ade dengan suara terbata-bata.


“Jatmiko … Bantu Nak Ade masuk ke kamar! Ibu akan mengambilkan minum untuk mereka bertiga supaya bisa tidur lebih nyenyak malam ini,” ucap Nenek Galuh kemudian.


“Iya, Bu!” sahut Jatmiko dengan sopan kepada ibunya.


Jatmiko pun membantu Pak Ade untuk masuk ke dalam kamarnya. Bu Nisa turut membantu menuntun suaminya yang sedang kelelahan. Revan memegang tangan ibunya sambil masuk ke dalam ruangan menuju kamar Jatmiko. Sedangkan Nenek Galuh menuju ke dapur untuk mengambil teko berisi air dan sebuah gelas untuk diberikan kepada Pak Ade dan keluarganya.


Pada saat Revan dituntun ibunya masuk ke ruangan dalam, Revan mendengar suara seseorang sedang memanggilnya. Ia pun menoleh ke arah jendela kaca.


“Revan, siniiiii ikut tante!!” suara arwah Laras yang sedang bersandar di kaca.


Tentu saja Revan tekejut melihat sosok menyeramkan tiba-tiba muncul di balik jendela.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Masih belum ikutan kuisnya? Ayo, pati menang karena nggak adayg ikutan. Cukup like dan tulis komentar singkat dari BAB 1 sd BAB extra part 4 novel KAMPUNG HANTU dan menangkan pulsa 20 ribu gratis


__ADS_2