MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 76 : KEPANIKAN


__ADS_3

Pak Ade yang mendengar suara jerit ketakutan istrinya itu pun ikut cemas. Pak Ade tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istrinya. Untuk itu ia pun memeluk istrinya agar istrinya menjadi lebih tenang. Ia menoleh ke arah yang ditunjuk oleh istrinya, tapi ia tidak melihat apa-apa di sana. Meskipun ia tidak dapat melihat sosok menyeramkan seperti yang diceritakan oleh istrinya, bukan berarti Pak Ade meyakini bahwa istrinya hanya berpura-pura. Pria itu tahu dengan pasti bahwa arwah Laras memang sedang berada di sekitar tempat itu, tapi ia tidak dapat melihat sosoknya karena ia bisa mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak memperkuat energi arwah Laras untuk tampil secara visual baginya. Tapi, pria itu dapat merasakan aroma kedatangan arwah Laras di kamar itu karena udara yang semula segar karena ada AC mendadak menjadi pengap dan hidung Pak Ade juga dapat mencium aroma langun di tempat tersebut.


“Tenangkan dirimu, Dik! Agar ia kehilangan energinya untuk bisa memperlihatkan keberadaannya padamu!” ucap Pak Ade pada istrinya sambil berbisik.


“Aku tidak bisa, Mas. Aku terlalu takut …,” jawab Bu Nisa dengan bibir bergetar.


“Kamu lihat anak kita, Dik! Lihat, dia damai dalam tidurnya makanya ia tidak bisa diganggu olehnya,” jawab Pak Ade dengan terus berusaha mensugesti istrinya agar bisa mengendalikan rasa takutnya sendiri.


Bu Nisa terdiam mendengar ucapan Pak Ade tentang  Revan. Ia pikir hal itu ada benarnya juga. Meskipun saat ini ia sedang berada dalam perasaan yang tidak menentu. Mata Bu Nisa saat itu memang sengaja dipejamkan, tapi hidung dan perasaan perempuan itu masih dapat merasakan bahwa sosok menyeramkan itu sekarang sedang berada dekat dengan dirinya. Bahkan ia dapat merasakan bahwa sosok menyeramkan itu sangat dekat bahkan ia dapat merasakan dan mendengarkan suara desauan arwah Laras yang menyeramkan itu.


“Tarik napasmu dalam-dalam, Dik! Hembuskan secara perlahan melalui hidungmu, Dik! Yakinkan dirimu bahwa semua akan baik-baik saja! Tidak ada yang perlu kamuu takutkan. Dia itu tidak akan bisa menyakitimu sedikitpun. Ada mas di sini … mas sayang kamu,Dik. Tenangkan dirimu, Dik!” Pak Ade tak henti-hentinya mensugesti Bu Nisa yang sedang bertarung dengan rasa ketakutan yang ia alami.

__ADS_1


Bu Nisa melakukan semua instruksi yang diberikan oleh suami tercintanya. Memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya. Semakin ia menenangkan diri maka semakin hilang juga hawa keberadaan arwah Laras. Perempuan itu terus mensugesti dirinya sendiri bahwa ia harus tenang dan tidak perlu takut dengan arwah Laras karena seperti yang sudah dikatakan oleh suaminya bahwa rasa ketakutannya terhadap Laras itulah yang menjadi energi bagi arwah Laras untuk semakin kuat.


Akhirnya lambat laun, berkat sugesti positif yang diberikan oleh suaminya, Bu Nisa pun dapat merasakan bahwa sosok menyeramkan itu sudah tidak ada di sana lagi. Bahkan kini ibunya Revan itu sudah dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan untuk bisa tidur di pelukan suaminya dengan Revan berada di tengah-tengah mereka. Mungkin karena sudah terlalu lelah, tidak butuh waktu lama bagi istri Pak Ade itu untuk bisa terlelap dalam tidurnya.


Sementara itu Pak Ade yang sejak tadi menopang bahu istrinya itu pun mulai merasakan sakit di pergelangan tangannya. Apalagi lengan satunya dari pria tersebut saat ini dalam keadaan dipasangi selang infus. Pak Ade tidak buru-buru melepas pegangannya di bahu istrinya karena ia ingin melindungi wanita yang paling ia cintai itu agar bisa beristirahat dengan tenang dan tidak takut lagi kepada arwah Laras yang memang sedang berseliweran di tempat itu. Setelah dirasa cukup baginya untuk melepaskan pegangan tangannya di bahu istrinya, maka pria yang senang pergi ke diskotik itu pun secara perlahan melepas pegangan tangannya di bahu istrinya.


“Ah, pegal sekali tanganku!” seru Pak Ade sesaat setelah melepas pegangan tangannya di bahu istrinya.


“Kalian tidur yang tenang, ya? Maafkan aku yang telah melibatkan kalian berdua dalam masalah ini. Seandainya suatu saat memang aku harus mati karena perbuatanku ini, aku ingin kalian berdua tetap selamat dan bisa melanjutkan hidup,” ucap Pak Ade pada dirinya sendiri sambil melihat wajah istri dan anaknya yang sedang tertidur secara bergantian.


Tiba-Tiba terdengar suara benda jatuh yang mengagetkan Revan. Pak Ade buru-buru mengelus dada anak kandungnya itu agar anak itu bisa melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu akibat mendengar suara benda yang jatuh itu.

__ADS_1


“Suara apa itu?” pikir Pak Ade sambil sibuk menebak-nebak benda apa kiranya yang sedang terjatuh itu.


“Kalau menelisik dari kerasnya suara yang terdengar barusan, sepertinya berasal dari dalam kamar mandi. Tapi, benda apa yang suaranya seperti itu? Ah, jangan-jangan itu ulah arwah Laras untuk mengganggu kami? Sebaiknya aku mengabaikan saja suara bising barusan. Yang penting anak dan istriku saat ini sudah beristirahat dengan tenang. Aku harus segera menyusul mereka berdua untuk beristirahat agar kondisiku cepat pulih. Aku tidak mau berlama-lama di sini. Aku harus segera tidur,” ucap Pak Ade pada dirinya sendiri.


Pak Ade pun berusaha untuk menghilangkan pikiran tentang Laras karena ia tahu bahwa hal itu tidak baik baginya karena justeru akan menambah kekuatan arwah penasaran itu sehingga bisa saja Laras akan muncul di pelupuk matanya. Hampir saja pria itu terlelap dalam tidurnya, tapi ia tiba-tiba cemas dengan kondisi anak dan istrinya. Ia pun buru-buru membuka matanya kembali untuk mengecek anak dan istrinya apakah masih berada di sebelahnya atau tidak. Ternyata anak dan istrinya masih tertidur pulas.


“Syukurlah, mereka berdua sudah tertidur pulas. Semoga mereka berdua tidak ingat dengan Laras lagi,” pikir Pak Ade saat melihat Bu Nisa dan Revan baik-baik saja.


Kemudian Pak Ade bermaksud untuk melanjutkan tidurnya yang hampir membuatnya terlelap barusan. Pria itu menghadapkan wajahnya ke langit-langit kamar VIP itu dan ia sudah berupaya memejamkan matanya kembali sebelum ia sadar bahwa arwah Laras sedang menggantung secara terbalik di langit-langit kamar tepat di atas pria itu dengan kepala menghadap lurus ke arah Pak Ade yang sedang menengok ke atas.


“Aaaaaaaargh!!!!” pekik Pak Ade sambil menutup wajahnya secara refleks karena secara tidak sengaja, tiba-tiba ia melihat arwah Laras itu terjun bebas dari langit-langit menuju ke arahnya.

__ADS_1


Keringat dingin membanjiri tubuh Pak Ade saat itu juga. Jantung ayahnya Revan itu pun langsung berdetak kencang. Pak Ade yang saat itu berada dalam kondisi tidak siap itu pun langsung panik seketika. Ia benar-benar tidak menyangka kalau arwah Laras akan muncul secara tiba-tiba di atas tubuh pemilik CV cukup ternama itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2