
Herman dan Cintia memutuskan untuk melaksanakan salat Magrib di mesjid dusun Delima. Ternyata pada saat mereka melaksanakan salat di tempat ibadah tersebut suasananya cukup sepi dan hanya ada satu dua orang yang menunaikan salat di sana. Ketika Herman menanyakan kepada orang tersebut kenapa yang salat sedikit, mereka bilang karena selama beberapa hari ini warga dusun Delima harus melaksanakan doa bersama di tiga tempat yang berbeda. Sore hari di rumah Bu Dewi, setelah Magrib di rumah Bu Reni, dan setelah Isya di rumah Bu Dimas. Oleh karena itu sebagian warga lebih memilih salat di rumahnya masing-masing karena sekalian beristirahat.
Setelah menunaikan salat Magrib di mesjid satu-satunya di dusun Delima itu, mereka berdua pun berangkat meninggalkan dusun Delima dengan menggunakan mobil. Mereka yang tidak tahu menahu tentang keadaan di dusun Delima pun pulang lewat depan rumahnya Pak Herman otomatis mereka juga lewat di depanya rumah Laras karena itu memang jalan yang kondisinya lebih baik dibandingkan jalan yang lain.
“Bukankah itu rumah Bu Dewi yan tadi kita datangi, Her?” tanya Cintia sambil menoleh ke arah rumah Bu Dewi yang kondisinya saat itu sepi.
“Iya, Cin,” jawab Herman kalem sambil fokus ke jalan.
“Kok aneh begitu, ya?” tanya Cintia heran.
“Aneh kenapa, Cin?” tanya Herman.
“Tadi kamu tahu sendiri, kan, rumahnya habis dipakai acara selamatan tujuh hari dari perempuan yang identitasnya sedang kita cari? Lah sekarang kok malah sepi kayak kuburan?” ucap Cintia dengan nada sedikit khawatir.
“Iya juga sih. Tapi, kalau mendengar informasi dari orang tadi di mesjid kalau di dusun ini ada tiga acara tahlilan dalam satu malam, masuk akal juga kalau rumah Bu Dewi langsung sepi setelah acara. Mungkin, begitu acara selesai mereka langsung pindah ke rumah yang punya acara kedua?” ucap Herman.
“Iya sih, Her. Bisa jadi …Ngomong-Ngomong gimana pendapatmu tentang kedua orang tadi?” tanya Cintia.
“Maksud kamu Pak Herman dan Bu Dewi?” tanya balik Herman.
“Iya, Her. Mereka kok kayak kurang welcome begitu ,ya, kalau ditanya tentang Nona Larasati?” ujar Cintia.
“Aku juga menangkap begitu, Cin. Tapi, aku juga nggak tahu mengapa mereka setertutup itu? Padahal tadi sudah kita katakan bahwa apapun yang mereka sampaikan tidak akan mempengaruhi status nona Larasati. Namun, mereka tetap pelit informasi kepada kita,” jawab Herman.
“Apa mereka sedang menyembunyikan sesuatu dari kita, Her?” tanya Cintia.
__ADS_1
“Kamu curiga begitu, Cin?” tanya Herman.
“Hati kecilku mengatakan demikian, Her. Tapi, aku masih belum mengetahui alasan mereka melakukannya,” jawab Cintia.
“Mungkin mereka tidak ingin nama nona Larasati tercemar?” tebak Herman.
“Nona Larasati itu kan bukan anak kandung mereka. Dia hanya anak pembantu rumah tangga mereka. Masa mereka sampai seperti itu melindungi nama Nona Larasati?” ucap Cintia.
“Yah, namanya sudah dianggap keluarga. Meskipun bukan anak kandung tentunya mereka akan tetap menjaga nama baiknya, Cin,” jawab Herman.
“Bukankah kita tadi sudah mengatakan betapa pentingnya informasi tersebut untuk membongkar kejahatan Narkoba di negara kita. Tapi, mereka masih kekeuh. Pasti mereka ada alasan lain yang lebih kuat kenapa sampai merahasiakan hal itu terhadap kita,” jawab Cintia.
“Alasan apa, ya?” gumam Herman ketika mobil yang mereka naiki tepat sampai di depan rumah yang pernah ditinggali oleh Laras.
“Tunggu, Her. Aku baru ingat, tadi Pak Saimin kan bilang ke kita bahwa setelah pergi lama dari dusun ini, Nona Larasati pulang dengan membawa anak kecil. Hm … Apakah mereka berdua tidak mau terbuka terhadap kita karena takut anaknya mendiang Nona Larasati akan menjadi bahan rundungan teman-temannya kalau sudah besar?” ujar Cintia.
Ciiiiiiiiiiiiiit …
“Ya Tuhan!!!” pekik Cintia terkejut karena ia khawatir mobil yang disopiri oleh Herman akan menabrak perempuan cantik itu.
Herman menghela napas panjang setelah ia berhasil menghentikan kendaraannya tepat sebelum moncong mobilnya menabrak tubuh perempuan misterius di depannya.
Wanita yang hampir saja kehilangan nyawanya itu hanya diam mematung di depan mobil.
“Hermaaaaan!!! Hati-Hati kalau menyetir! Duh, semoga mbak itu tidak kenapa-kenapa,” omel Cintia sambil membuka pintu mobil dan ia pun keluar dari arah samping untuk menolong perempuan yang hampi ditabrak mobil yang ia tumpangi.
__ADS_1
“Mbak, Anda tidak kenapa-kenapa?” tanya Cintia sambil berusaha meraih tangan perempuan itu.
Dingin. Itulah yang dirasakan Cintia saat memegang tangan perempuan itu. Kondisi malam itu memang cukup dingin. Sehingga wajar saja tangan perempuan itu juga dingin karena faktor suhu udara malam.
Perempuan itu tidak menyahut maupun menoleh. Herman yang berada di balik kemudi pun hanya bisa pasrah dan melihat Cintia yang sedang berusaha menolong perempuan itu. Padahal, ia bermaksud melarang Cintia untuk keluar dari mobil karena khawatir itu hanyalah modus kejahatan. Tapi, sudah terlambat bagi Herman untuk mengingatkan Cintia. Rekan kerjanya itu terlalu cekatan sehingga pergerakan tubuhnya lebih cepat dari reaksinya sendiri. Saat ini Herman hanya bisa melihat wajah perempuan cantik itu sedang menatap ke arahnya. Ia tidak mengenali perempuan itu, tapi sulit dipungkiri kalau perempuan itu memang cantik. Bahkan kecantikannya tidak kalah dari Cintia.
Herman hanya bisa harap-harap cemas. Semoga saja perempuan itu bukanlah komplotan penjahat yang sedang menjebaknya karena saat ini Cintia sedang berada di luar mobil, yaitu tepat di sebelah perempuan cantik itu. Ia tidak mau terjadi hal buruk kepada Cintia.
“Mbak tidak terluka, kan?” tanya Cintia lagi kepada perempuan itu.
Kali ini Cintia sangat menunggu jawaban dari perempuan itu. Secara mata sekilas memang perempuan itu tidak terluka, tapi segala kemungkinan bisa saja terjadi dan ia sebagai polisi tentu sangat siap untuk bertanggung jawab apapun keadaan perempuan itu.
Cintia merasa sedikt tenang ketika perempuan itu menoleh ke arahnya. Cintia cukup takjub dengan para perempuan itu yang memang cantik dan masih muda.
“Mbak, Anda baik-baik saja, kan?” tanya Cintia sekali lagi sambil menatap dalam-dalam wajah perempuan yang saat ini juga balik menatap wajahnya.
Perempuan misterius itu tetap tidak menyahut. Tapi, kali ini perempuan itu menyungging senyuman kepada Cintia. Dan perempuan itu memegang balik tangan Cintia mulai dari pergelangan, naik ke atas ke otot bisep dan trisep, dan berakhir di pundak polisi cantik itu. Tatapan perempuan itu semakin tajam saja dibalik kecantikannya. Herman yang melihat adegan itu merasa khawatir Cintia akan diserang oleh perempuan itu karena akhir-akhir ini banyak kejahatan memiliki modus seperti yang mereka alami sekarang.
BERSAMBUNG
Jangan lupa ikuti game berhadiah pulsa 10 ribu untuk 3 orang pemenang.
Caranya, berikan like dan komentar untuk novel saya yang berjudu KAMPUNG HANTU mulai dari BAB 1 sd BAB terakhir (Selain BAB pengumuman)
Terakhir tanggal 2 Januari 2023
__ADS_1
Pengumuman Pemenang 6 Januari 2023