MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 84 : SILSILAH


__ADS_3

Jatmiko tidak percaya begitu saja dengan perkataan ibunya bahwa dukun sakti yang sedang berdiri di depannya adalah ayah kandungnya. Meskipun yang mengatakan itu adalah perempuan yang telah mengandung dan melahirkannya.


“Tidak! Tidak mungkin! Ayahku bukan pria ini! Ayahku adalah Atmojo bukan dukun ini! Ayo, Bu kita pulang sekarang! Kalau terlalu lama di sini, kita bisa terpengaruh oleh omongan dukun ini!” teriak Jatmiko pada ibunya.


“Diam kamu, Jatmiko! Jaga sikapmu kepada ayah kandungmu itu!” Tidak pernah ibunya Jatmiko berteriak selantang itu kepada anaknya.


“Ibu!!!!!” Jatmiko sampai syok mendengar teriakan ibunya.


Pria yang sebenarnya sudah tidak muda lagi itu pun seperti kehabisan tenaga mendengar perkaaan ibunya. Bukan karena suara ibunya yang keras, tetapi karena ia yakin saat itu ibunya tidak sedang berbohong.


Dukun sakti itu berdiri mematung di depan Jatmiko. Ia tidak berani bertindak apa-apa.Ia merasa bersalah karena selama ini bukan ia yang merawat jatmiko, melainkan Atmojo suami ibunya Jatmiko yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Pria itu menyadari bahwa ia butuh waktu untuk dapat diterima oleh anaknya. Yang paling berat perasaannya saat itu sebenarnya adalah ibunya Jatmiko karena dia telah lama menyimpan rahasia itu dari Jatmiko.


Jatmiko terduduk di atas batu di dalam gua dengan perasaan yang hancur. Ibunya Jatmiko mendatangi anaknya itu dan mengelus pundak anak semata wayangnya itu dengan disaksikan oleh dukun sakti ayah kandungnya Jatmiko.


“Jatmiko, maafkan ibu ya, Nak!” ucap ibunya Jatmiko dengan suara pelan.


“Kesalahan terbesar ibu bukanlah terhadap aku, tapi kepada almarhum ayah!” jawab Jatmiko dengan suara cukup meninggi.


Selama ini Jatmiko tidak pernah berbicara dengan nada tinggi kepada ibunya. Mungkin, rasa kecewa terhadap ibunya yang telah membuat ia lupa dengan posisinya sebagai anak.


“Iya, Nak. Ibu memang bersalah kepada mendiang ayahmu. Ibu bersalah karena telah berani mencintainya. Padahal almarhum kakek dan nenekmu sudah melarang ibu untuk menikah dengan ayahmu, tapi ibu yang memaksa. Ibu terlalu mencintai ayahmu. Itulah mengapa semuanya bisa menjadi seperti ini,” jawab ibunya Jatmiko dengan meneteskan air mata.

__ADS_1


“Apa maksud ibu berkata demikian? Ibu menyesal telah mencintai almarhum ayah? Ooooo … Iya, aku paham alasannya karena ibu sudah berselingkuh dengan dukun itu!” Jatmiko tidak bisa menahan dirinya untuk bertindak sopan kepada dukun sakti itu.


Dukun sakti itu hanya bisa menahan amarahnya karena ia tidak mau Jatmiko semakin benci kepadanya. Bagaimanapun ia sangat menyayangi Jatmiko. Dan selama ini ia merasa sakit hati setiap melihat Jatmiko akrab dengan almarhum Atmojo.


“Bukan begitu maksud ibu, Nak! Ibu sangat mencintai ayahmu … Bahkan sampai saat ini ibu masih sangat kehilangan ayahmu. Jatmiko, kamu … ibu … dan ayah kandungmu itu bukanlah orang kebanyakan seperti yang lain. Tidak juga seperti almarhum ayahmu yang hanya manusia biasa,” ujar ibunya Jatmiko memulai penjelasannya.


“Bukan orang biasa bagaimana, Bu? Tolong jelaskan kepada aku, Bu!” pinta Jatmiko dengan sangat memohon.


“Jatmiko … Dulu ada sepasang kekasih bernama Ayu Kembang dan Artomoyo. Keduanya saling mencintai namun tidak direstui oleh orang tua Ayu Kembang karena Artomoyo ini adalah anak dari dukun terkenal di masa itu sementara keluarga Ayu Kembang adalah keturunan ahli pemuka agama yang juga terkenal. Ayu Kembang pun akhirnya dinikahkan dengan anak dari sahabat orang tuanya yang juga memiliki padepokan keilmuan agama dan akhirnya mereka berdua pun menjadi sepasang suami istri yang meneruskan perjuangan menyebarkan kebaikan hingga sekarang keturunannya sudah menyebar ke seluruh daerah. Nah, Artomoyo ini waktu itu merasa sakit hati dengan keputusan Ayu Kembang dan keluarganya yang telah membuatnya patah hati. Sejak saat itu, ia yang awalnya enggan untuk meneruskan ilmu perdukunan kedua orang tuanya pun mulai belajar ilmu perdukunan. Ia pun mulai bergerak melawan perjuangan keilmuan agama Ayu kembang dan suaminya. Artomoyo menggunakan kekuatan dukunnya untuk mempengaruhi penduduk agar tidak mengikuti ajaran yang dibawa Ayu Kembang dan suaminya. Awalnya, Artomoyo selalu berhasil mempengaruhi penduduk untuk tidak terpengaruh dengan ajaran yang dibawa oleh Ayu Kembang dan suaminya. Namun, berkat kegigihan mereka berdua dan terlebih mereka juga mengajari penduduk untuk berlindung dari kekuatan sihir akhirnya usaha Artomoyo pun sia-sia belaka. Artomoyo pun semakin marah dan ia pun bermaksud meningkatkan kekuatan sihirnya dengan cara membuat perjanjian dengan iblis dan benar saja sejak saat itu banyak penduduk yang akhirnya kembali berbuat maksiat dan menjauhi ajaran agama yang dibawa Ayu Kembang dan suaminya.


Tidak puas sampai di situ, Artomoyo yang saat itu sudah menikah dengan anak sahabat ayahnya yang juga satu perguruan dengan ayahnya masih memiliki dendam dengan Ayu Kembang dan keluarganya. Ia berencana menyantet keluarga Ayu Kembang. Namun, usahanya gagal. Justeru Artomoyo ini yang malah terkena oleh ilmu santetnya sendiri hingga meregang nyawa. Sebelum meninggal ia berpesan kepada anak-anaknya untuk terus memusuhi anak keturunan Ayu Kembang dan senantiasa menggagalkan usaha mereka untuk mengembangkan ilmu agama karena keberadaan mereka akan membahayakan kelestarian ilmu perdukunan yang menjadi ciri khas keturunan Artomoyo. Artomoyo juga mengatakan kepada anak-anaknya untuk menikah hanya dengan anggota perguruan mereka sendiri agar darah perdukunan mereka tidak hilang. Apabila mereka melanggar maka seumur hidup mereka tidak akan mempunyai keturunan dan setiap hamil maka isrinya akan keguguran secara terus menerus. Namun, ada satu hal yang dapat meningkatkan tingkat ilmu perdukunan yang mereka miliki yaitu apabila keturunan Artomoyo menikahi keturunan Ayu Kembang yang lahir di hari yang sama. Anak yang lahir dari pernikahan seperti itu akan memiliki kekuatan dukun yang sangat luar biasa. Itulah perjanjian yang dilakukan oleh Artomoyo dengan iblis.” Panjang lebar ibunya Jatmiko menceritakannya kepada Jatmiko.


“Begitulah, Jatmiko. Itulah kenapa ibu sudah berkali-kali mengalami keguguran selama menikah dengan ayahmu. Sampai ayahmu dan keluarga besarnya sakit-sakitan karena merasa sedih. Ibu tidak punya pilihan, Jatmiko. Ibu sayang sekali dengan ayahmu. Makanya, diam-diam ibu menikah secara spiritual dengan ayah kandungmu itu yang kebetulan juga anggota perguruan sama dengan ibu dan lahirlah kamu ini yang menjadi sumber kebahagiaan untuk ayahmu. Maafkan ibu, Nak …,” tutur ibunya Jatmiko dengan berderai air mata.


“Jadi, itu juga alasan ibu melarangku bergaul dengan wanita agar aku tidak mengalami seperti ibu yang menderita karena mencintai manusia biasa seperti almarhum ayah?” tanya Jatmiko.


“Iya, benar, Jatmiko. Ini sudah menjadi kutukan untuk keturunan Artomoyo bahwa kamu tidak bisa menikah dengan orang lain kecuali anggota perguruan kita sendiri atau keturunan Ayu Kembang yang memiliki hari kelahiran yang sama dengan kamu,” jawab ibunya Jatmiko tegas.


“Tapi, kenapa pada saat aku masih usia tiga belas tahun, ibu pernah menyuruhku untuk melihat seorang remaja perempuan di rumah Ki …,” tanya Jatmiko dengan rasa penasaran.


“Iya, tahukah kamu bahwa anak perempuan itu adalah keturunan Ayu Kembang? Dia itu hari kelahirannya sama dengan kamu, Jatmiko. Dia itu adalah calon istrimu. Ibu sudah lama mencari informasi tentang anak perempuan itu,” jawab ibunya Jatmiko.

__ADS_1


“Dari mana Ibu tahu bahwa anak perempuan itu adalah keturunan Ayu Kembang? Mereka juga belum tentu mau menikah dengan aku. Apalagi setelah mereka tahu bahwa aku adalah keturunan Artomoyo,” cecar Jatmiko.


“Ha ha ha … Kamu lucu Jatmiko! Perlu kamu tahu setelah kematian Artomoyo, antara keturuan Artomoyo dan keturunan Ayu Kembang sering terjadi bentrok dan menimbulkan korban jiwa. Maka dari itu baik keturunan Ayu Kembang maupun keturunan Artomoyo akhirnya sama-sama menyembunyikan identitas mereka agar tidak bisa diketahui oleh yang lain hingga saat ini. Hanya orang-orang tertentu yang dapat mengetahui apakah seseorang itu keturunan Ayu Kembang atau bukan. Ibu adalah salah satu orang yang dapat melihat keturunan Ayu Kembang dengan melihat auranya. Dulu … sewaktu ibu dibawa ke dukun bayi oleh ayahmu untuk melahirkanmu. Ada seorang perempuan yang melahirkan di hari yang sama dengan ibu dan setelah ibu lihat auranya ternyata di adalah keturunan Ayu Kembang. Nah, berbekal informasi dari dukun bayi itu pun, ibu mencari asal dari orang itu dan akhirnya ibu mengetahui identitasnya. Pada saat usiamu tiga belas tahun, kebetulan ibu mengetahui informasi dari ayah kandungmu bahwa orang itu akan berobat kepada ayah kandungmu makanya ibu membawamu ke tempat praktik ayah kandungmu dan kamu saat itu melihat anak gadis itu, bukan?” ucap ibunya Jatmiko.


“Maksud Ibu anak gadis yang cantik itu?” ujar Jatmiko.


“Iya, Jat … Kamu ingat?” tanya ibunya lagi.


“Iya, Bu. Aku sangat mengingatnya. Bahkan aku tidak bisa melupakannya sampai hari ini,” jawab Jatmiko.


“Nah, setelah itu ibu terus memantau tempat tinggal orang itu. Sayangnya, beberapa tahun kemudian ibu kehilangan jejak mereka karena mereka pindah rumah secara diam-diam. Namun, semenjak kamu tumbuh dewasa, ibu tidak berputus asa. Ibu terus mencari keberadaan anak itu. Dan, akhirnya ibu menemukan alamat anak itu sekarang,” jawab ibunya Jatmiko.


“Jadi, ibu kalau pamit pergi jauh itu sebenarnya ibu sedang mencari keberadaan anak gadis itu?” tanya Jatmiko.


“Iya, Jat. Ibu tidak tega melihat kamu hidup sendirian terus dan juga ibu ingin kamu lah yang menjadi satu-satunya keturunan Artomoyo yang dapat menikahi keturunan Ayu Kembang. Kamu mau kan menikah dengan anak itu? Sekarang dia sudah menjelma menjadi perempuan dewasa, Jatmiko. Dia sangat cantik dan dia tidak menyadari kemampuannya sendiri. Terlebih, dia tidak menyadari bahwa dia adalah keturunan Ayu Kembang,” jawab ibunya Jatmiko.


“Aku mau, Ibu …” sahut Jatmiko dengan berbunga-bunga.


Ibunya Jatmiko menatap mata anaknya dengan perasaan bahagia. Ia tidak menceritakan kepada anaknya itu bahwa untuk menikah dengan perempuan itu, Jatmiko masih harus melakukan banyak hal ke depannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2