MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 143 : PERLINDUNGAN


__ADS_3

Rupanya tubuh Pak Ade sudah terlindung dengan sempurna oleh ritual dan mantra, sehingga tubuh arwah Laras kembali terpental ke atap gua saat ia berupaya mencabik-cabik tubuh Pak Ade.


“Aduh!” pekik arwah Laras saat tubuhnya menghantam atap gua.


Pak Ade semakin yakin saja kepada perlindungan Ki Santo dan Nenek Galuh terhadap dirinya. Namun, pria itu tidak mau berpuas diri dulu karena ia belum mendapatkan mustika berwarna ungu sesuai pesan mereka berdua.


Arwah Laras semakin frustasi saja karena kekuatannya masih kalah dengan kekuatan pelindung Pak Ade. Pada titik kegagalan kedua tersebut, akhirnya arwah Laras mengeluarkan kekuatan terakhirnya. Ia merubah dirinya menjadi sosok Laras di saat muda dulu, namun dengan pakaian ala kerajaan yang semakin menampakkan kecantikan ragawinya. Dengan penuh kelembutan, ia pun naik ke atas altar untuk memecahkan kosentrasi pria tersebut.


“Pak Ade … Ini aku, Pak! Buka matamu, sayang!” Laras bersuara dengan lembut sambil melangkah mendekati pria tersebut.


Suara lembut Laras rupanya mampu membuat hati Pak Ade bergetar. Pak Ade teringat dengan saat-saat iamengagumi gadis bernama Laras tersebut.


“Aku kangen sama kamu, Pak!” ucap Laras dengan suara semakin membuat jantung Pak Ade berdegup kencang.


Ternyata benar kata orang. Sehebat apapun seorang laki-laki. Kelemahannya adalah perempuan. Apalagi perempuan itu secantik Laras. Secara perlahan Pak Ade membuka matanya dan pria itu terperangah karena di depan matanya sudah sesosok makhluk sangat cantik dengan pakaian ala kerajaan tempo dulu. Gadis itu adalah Laras, tapi saat itu ia jauh lebih cantik dari Laras yang dikenal Pak Ade dulu.


“Larass!” gumam Pak Ade dengan bibir bergetar.


Laras hanya membalas panggilan pria itu dengan senyuman manisnya. Mata Laras menatap dalam-dalam mata pria yang telah menghancurkan hidupnya itu. Kemudian dengan kemampuan yang ia miliki, Laras pun membawa ruh Pak Ade ke dalam dimensinya.


“Pak Ade … Pak Ade …,” suara lembut Laras mengiringi masuknya ruh Pak Ade ke suatu dimensi yang asing baginya.


Pak Ade tiba-tiba berada di suatu halaman istana yang sangat megah. Di tempat itu Pak Ade hanya sendirian. Ia menoleh ke sekeliling taman itu.


“Laraaaas …di mana kamu?” panggil Pak Ade sambil mencari keberadaan Laras di sekitar taman bunga tersebut.


Berkali-kali Pak Ade mengelilingi taman tersebut, tapi ia tak kunjung menemui gadis yang ia cari.


“Pak Ade … aku di sini …,” suara Laras terdengar dari dalam istana.


Pak Ade pun buru-buru masuk ke dalam istana tersebut. Ia menyusuri semua lorong yang ada di istana tersebut. Lagi-Lagi Pak Ade tidak menemukan apapun di dalam istana.


“Laras … kamu di mana?” teriak Pak Ade memanggil Laras.

__ADS_1


“Aku di sini, Pak Ade!” jawab Laras dari suatu ruangan.


Pak Ade  pun memusatkan pendengarannya untuk mencari posisi Laras. Akhirnya pria itu pun sampai di ruangan yang cukup luas dan berhiaskan emas di keseluruhan ornamennya. Ia menemukan Laras sedang duduk di atas singgasana. Ada ruang kosong di sebelah Laras karena kursi singgasananya cukup lebar.


“Kemari, Pak Ade! Duduk di sebelahku!’” panggil Laras dengan suara sedikit kenes.


Pak Ade tidak menyahut. Jakunnya naik turun melihat sosok Laras yang sangat cantik duduk di singgasana tersebut. Pria itu pun secara perlahan mendekati Laras sejengkal demi sejengkal.


“Kemari, Pak Ade! Panggil Laras sambil meliuk-liukkan tubuhnya di depan Pak Ade.


Sontak saja Pak Ade semakin tidak bisa menguasai dirinya. Ia pun melangkah maju mendekati Laras dan ia pun tidak menolak ketika Laras mempersilakan pria itu duduk di sebelahnya.


Selama kurang lebih semenit mata mereka saling beradu tanpa kata dan tanpa suara. Pak Ade benar-benar takjub melihat kecantikan Laras yang tiada duanya itu. Secara perlahan Pak Ade mendekatkan wajahnya untuk mencium Laras. Laras siap menyambutnya dengan senyuman. Namun, kejadian di luar dugaan tiba-tiba terjadi.


“Mas … Jangan!” Tiba-Tiba terdengar suara seorang perempuan di ruangan tersebut.


Pak Ade yang sudah hampir mencium Laras pun terkejut dan menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata istrinya, Bu Nisa sedang berdiri dengan memegang mustika berwarna ungu.


“Ayo, Mas! Ikut denganku!” panggil Bu Nisa dengan suara lemah.


“Jangan, Pak Ade! Kamu di sini saja denganku!” rayu Laras berusaha menahan Pak Ade untuk tidak meninggalkannya.


Pak Ade merasakan risau saat itu. Di satu sisi ia sudah sangat tertarik dengan Laras, tetapi di sisi yang lain ia tidak mau meninggalkan istrinya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Pak Ade memilih untuk mengejar istrinya.


“Maafkan aku, Laras!” bisik Pak Ade sambil menahan perasaannya.


Pak Ade pun berlari menuju istrinya. Sementara itu Laras yang ditinggalkan oleh Pak Ade pun menjadi marah dan menjelma menjadi ular raksasa yang bersiap melahap Pak Ade dan istrinya. Pak Ade mendekati istrinya dan mengambil mustika berwarna ungu yang dipegang istrinya.


“Mas … Ular!” teriak Bu Nisa sambil ternganga.


Pak Ade langsung berbalik dan mengarahkan mustikaungu itu ke arah ular raksasa itu dan ular itu langsung terpelanting ke belakang. Pak Ade pun membawa istrinya keluar dari ruangan itu dan mereka berdua pun lepas dari kejaran ular raksasa itu.


Pak Ade terlepas dari godaan Laras di dimensinya. Pria itu membuka matanya dan menemukan bahwa ular raksasa itu sedang lemah dan terbanting keluar gua.

__ADS_1


“Bagus, Ade! Kamu sudah berhasil melalui ujianmu. Tetaplah kamu di sini sampai ular itu binasa. Sekarang kami yang akan menghabisi ular siluman itu!” teriak Ki Santo keluar dari tempat persembunyiannya diikuti oleh Nenek Galuh dan Jatmiko.


Ki Santo dibantu oleh istri dan anak kandungnya pun mengeluarkan kesaktiannya untuk menghabisi ular raksasa yang sedang lemah itu. Sebuah sianar mengantam tubuh ular raksasa sehingga ular tersebut pun terluka.


“Arrrrgh!” suara melengking yang keluar dari mulut ular raksasa itu.


KI Santo dan keluarganya bersiap menghantam lagi tubuh ular raksasa. Namun, ular raksasa itu buru-buru lari menuruni tebing dan ketika ular itu sudah sampai di sekitar warung, ia merubah dirinya menjadi seperti Pak Ade. Sontak saja Ki Santo dan keluarganya menjadi panik karena ia tahu rencana arwah Laras itu.


“Revaaaan … Dik Nisaaaaa … di mana kalian? Kita sudah selamat!” teriak arwah Laras dengan menirukan suara Pak Ade.


Sontak saja Bu Nisa dan Revan yang mendengar suara itu pun menjadi senang dan bersiap untuk keluar dari tempat persembunyiannya.


“Bu, itu suara bapak,” bisik Revan.


“Tunggu dulu, Revan!” jawab Bu Nisa.


“Revaaan … di mana kamu, Nak? Ayo, sini! Ularnya sudah mati!” teriak arwah Laras lagi sambil berjalan di sekitar warug-warung itu.


Begitu melihat sosok ayahnya dari lubang-lubang di dinding, Revan pun kegirangan dan berlari menuju bapaknya.


“Bapaaaaaak!!!” teriak Revan.


Bu Nisa pun berlari di belakang Revan. Ia juga senang menyambut kedatangan suaminya yang sudah selamat.


Namun, saat ia dan Revan sudah hampir dekat dengan Pak Ade, tiba-tiba wujud Pak Ade secara perlahan berubah kembali menjadi ular raksasa.


“Revan! Jangaaaan!” teriak Bu Nisa terlambat.


“Tidaaaaaaaak!” teriak Revan dengan keras saking terkejutnya melihat sosok bapaknya berubah menajdi ular raksasa yang siap menerkamnya.


BERSAMBUNG


Novelku yang berjudul SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT sudah menunggu untuk kamu baca.

__ADS_1


__ADS_2