MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 51 : POLISI


__ADS_3

Mobil ambulan dan mobil polisi akhirnya sampai di dusun Delima. Pada saat itu semua orang sedang berkumpul di rumah Bu Dimas. Pak Kepala Dusun didampingi Pak RW dan Pak RT menyambut kedatangan polisi dan tim medis dan menjadi penunjuk arah bagi mereka menuju rumah Pak Dimas.


“Selamat malam, Pak Herman … Bu Chintia …,” sapa Pak RT.


“Selamat malam. Terima kasih, Pak Saimin sudah melapor kepada kami,” jawab Herman.


“Sama-Sama, Pak. Tadi Kapten Yosi bilang kepada saya katanya akan mengirim Pak Herman dan Bu Chintia ke sini” jawab Pak RT.


“Iya benar, Pak Saimin. Kapten Yosi sekarang sudah jarang terjun ke lapangan. Kami berdua yang selalu diutus beliau untuk menangani kasus apapun. Terlebih dusun Delima ini jauh dari kota dan jalannya terkenal rusak. Bisa-Bisa kumat encok Kapten Yosi kalau memaksakan ikut ke sini,” sahut Chintia.


“Iya, Bu Chintia. Monggo, kita langsung ke lokasi saja!” jawab Pak RT sambil mengarahkan mereka untuk melangkah sesuai dengan arah tangan jempol pria itu.


Herman dan Chintia pun melangkah secara tegap diikuti oleh tim medis dan seorang wartawan. Setelah beberapa menit berjalan, mereka pun sampai di rumah Pak Dimas. Sepanjang jalan banyak sekali orang yang berdiri di pinggir jalan seolah-olah menyambut kedatangan polisi dan tim medis. Padahal saat itu malam hari, tapi warga antusias untuk menyambut kedatangan orang-orang kota itu.


“Mil, cakep-cakep ya polisi dan dokter-dokter itu? Kamu sampai segitunya melihat ke arah mereka,” tanya  Pak Ratno yang kebetulan berdiri di samping Jamila.


“Ah, biasa saja. Masih ada yang lebih cakep dari mereka,” jawab Jamila dengan kalem.


“Oh ya? Siapa, Mil?” tanya Pak Ratno.


“Rahasia, dong!” jawab Jamila sambil melangkah menjauh dari Pak Ratno.


Pak Ratno merasa dicuekin oleh Jamila karena perempuan itu tidak mau berdiri dekat-dekat dengannya. Hati Pak Ratno cukup sedih saat itu. Tapi, sebenarnya bukan itu alasan Jamila menjauh dari Pak Ratno. Ia tidak enak dengan Minul yang sepertinya menaruh hati dengan Pak Ratno juga. Makanya ia buru-buru berjalan ke arah Minul. Ia tidak ingin temannya itu semakin cemburu padanya.


Herman dan Chintia saling berbagi tugas untuk mengumpulkan bukti-bukti di lokasi kejadian tewasnya Pak Dimas. Setelah mereka berdua selesai mengumpulkan bukti-bukti itu, tim medis pun membawa jenazah Pak Dimas ke ambulan dengan menggunakan brankar yang mereka bawa. Bu Dimas dan Niko terus saja menangis melihat kondisi Pak Dimas yang tewas dengan cara yang sangat tragis.


“Suami saya mau dibawa ke mana, Pak? Bu ?” teriak Bu Dimas sambil memeluk Niko.


“Suami ibu harus kami otosi dulu untuk diketahui penyebab kematiannya,” jawab Herman.


“Jangan, Pak! Biarkan suami aya langsung dimakamkan saja!” teriak Bu Dimas.


Chintia akhirnya turun tangan untuk mengatasi hal itu. Polwan itu membujuk istrinya agar bersedia menandatangani surat ijin otopsi untuk korban dengan mengatakan bahwa bisa saja ada seseorang yang sengaja untuk meracuni suaminya dan orang itu tetap bernapas bebas jika jenazah Pak Dimas tidak diotopsi. Dan juga agar bisa dipastikan apakah Bu Dimas dan Niko terkait dengan kematian korban. Ia juga mengatkan banyak hal kepada istri korban sehingga perempuan itu pun luluh dan mengijinkan jenazah suaminya diotopsi.


“Ayo, Ibu dan anak ibu juga ikut kami!” ucap Chintia.


“Baik, Mbak,” jawab Bu Dimas sambil menitip kunci rumah kepada salah satu tetangganya agar mengunci rumahnya setelah para tetangga pulang.


Sekitar pukul sepuluh malam, jenazah Pak Dimas pun dibawa oleh rombongan polisi dan tim medis ke rumah sakit. Ketika iring-iringan mobil itu berangkat, tak lama kemudian warga pun satu-persatu pulang ke rumahnya masing-masing. Suasana dusun yang semula hingar bingar pun langsung hening. Sepertinya mereka masih termakan isu tentang bangkitnya arwah Laras yang mengganggu seluruh warga dusun Delima.


Minul yang sibuk mendengarkan pembicaraan Chintia dan Bu Dimas akhirnya pulang belakangan. Ia baru sadar kalau orang-orang sudah banyak yang pulang duluan. Minul menoleh ke sekeliling dan ia pun melihat Pak Salihun yang rumahnya lumayan dekat dengan rumahnya. Hanya selisih dua gang saja. Minul pun dengan malu-malu menyapa Pak Salihun.


“Pak, boleh aku ikut pulang bareng sampean?” sapa Minul pada Pak Salihun.

__ADS_1


“Eh, kamu, Nul. Boleh-Boleh,” jawab Pak Salihun datar.


Mereka berdua berkomunikasi dengan sangat kaku karena memang keduanya tidak begitu akrab.


“Kamu tadi dengar dari siapa, Nul, tentang tewasnya Pak Dimas?” tanya Pak Salihun.


“Dari Jamila, Pak!” jawab Minul datar.


“Ooo … terus, mana Jamila? Kok, kamu ditinggal sendirian?” cerca Pak Salihun.


“Nggak tahu! Kayaknya dia pulang duluan. Dia nggak mau aku ajak pulang lewat gang yang biasanya. Dia lebih memilih lewat gang lain,” jawab Minul dengan sopannya.


“Emangnya kenapa? Bukankah lewat jalan lain jalannya memutar?” tanya Pak Salihun.


“Hm … katanya sih dia takut ketemu hantu,” jawab Minul sambil tertawa.


“Loh, kamu kok tertawa? Emangnya kamu sendiri nggak takut hantu?” tanya Pak Salihun.


“Ya, lucu aja, Pak. Soalnya kan Jamila itu penakut sekali. Aku sih juga takut hantu, tapi nggak segitunya juga,” jawab Minul denga tegas sambil menyelempangkan syal warna merah kesayangannya.


“Ooo begitu,” jawab Pak Salihun sambil memperhatikan syal merah cabe yang dikibaskan oleh Minul.


Di dalam hati Pak Salihun, ia mengagumi cara berbusana Minul yang menurutnya bagus. Syal merah dikombinasikan dengan baju atas berwarna hijau neon. Hal itu mengingatkan pria tua itu pada cinta pertamanya yaitu Juminah. Juminah dulu juga gemar mengkombinasikan warna merah cabe dan hijau neon.


“Apa, Pak?” tanya Minul sambil menoleh ke arah Pak Salihun yang berjalan di sebelahnya.


“Enggak, Nul. Syal kamu cantik. Sangat cocok dengan pakaianmu yang berwarna hijau terang itu,” jawab Pak  Salihun dengan serius.


“Beneran, Pak?” tanya Minul sambil terus berjalan menyusuri jalanan dusun Delima.


“Bener, Nul. Buat apa aku bercanda,” jawab Pak Salihun.


“Terima kasih atas pujiannya, Pak. Jarang sekali orang yang memiliki selera sebagus sampean. Apalagi di dusun Delima ini. Semuanya nggak ada yang punya selera bagus dalam berbusana. Terlebih teman saya Jamila itu. Pakaiannya warna-warna pudar nggak jelas. Meskipun aku temannya, aku nggak mau bilang dia bagus dalam berpakaian. Iya, kan, Pak?” cerocos Minul.


“Eh, iya. Tapi, jangan gitu lah sama teman sendiri. Kamu nasehati pelan-pela temanmu itu supaya selera berbusananya bsia sebagus kamu,” jawab Pak Salihun.


Dalam hati Pak Salihun sebenarnya tidak suka Minul mengkritisi cara berpakaian perempuan yang paling ia suka, tapi kala dipikir-pikir apa yang dikatakan Minul ada benarnya juga. Menurut Pak Salihun, Jamila itu memang agak tertinggal cara berbusananya. Pakaian yang dipakai warnanya terlalu pudar dan modelnya terlalu simpel.


“Aku sudah capek menasehati dia, Pak. Malah kalau dinasehati, aku yang dinasehati balik. Ah sudahlah! Wah, Pak Ratno sudah sampai nih di rumah. Tinggal aku yang belum. Makasih ya, Pak, sudah mau menemani aku pulang,” ujar Minul dengan sopannya.


“Sama-Sama, Nul. Eh, Nul. Kamu yakin mau pulang sendiri? Ntar kalau dikejar hantu bagaimana?” ujar Pak Salihun kemudian.


“Iya, nggak apa-apa, Pak. Sekalian aku seruduk saja hantunya kalu perlu aku gencet sama badan besarku ini,” jawab Minul enteng. Sepertinya Minul sudah bisa lepas berbicara dengan Pak Salihun. Ia tidak sungkan seperti sebelumnya. Ternyata Pak Salihun cukup asyik orangnya.

__ADS_1


Sebaliknya, Pak Salihun juga mulai kagum dengan cara berbicara Minul yang agak blak-blakan. Tidak seperti Jamila yang seringkali insecure.


“Kalau aku antar kamu sampai rumah, gimana?” tanya Pak Salihun kemudian.


“Beneran?” tanya Minul.


“Beneran, Nul. Ayo, keburu tambah malam!” ajak Pak Salihun.


Akhirnya mereka pun berjalan menuju rumah Minul. Di sepanjang jalan keduanya saling berkelakar dengan bebasnya.


“Makasih banyak ya, Pak. Sudah bela-belain mengantarku sampai di rumah,” ujar Minul.


“Sama-Sama. Oh ya, titip salam buat Jamila, ya?” cetus Pak Salihun.


“Salam apa, nih?” tanya Minul.


“Salamualaikum …,” jawab Pak Salihun.


“Lah kok salam dimainin? Aku juga titip salam buat Pak Ratno, ya?” ucap Minul.


“Salam apa, Nul?” tanya Pak Salihun.


“Assalamualaikum …,” jawab Minul.


“Waaslaikumsalam …,” jawab Pak Salihun.


“Loh, kok Pak Salihun yang ngejawab?” protes Minul.


“Lah, kan wajib hukumnya menjawab salam?” protes Pak Salihun.


“Dasar sampean ini!” jawab Minul.


“Ya sudah, aku pamit dulu!” ucap Pak Salihun.


“Oke, jangan lupa pesanku, ya?” ucap Minul.


“Kalau ketemu hantu langsung diseruduk, kan?” jawab Pak Salihun.


“Pinteeeeer!!! Jawab Minul.


Keduanya pun berpisah dan ada getaran kekaguman yang terlintas di pikiran mereka masing-masing.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2