
Bu Nisa menutup rapat sekali pintu itu agar pocong Laras tidak menyusulnya masuk ke dalam. Namun, lagi-lagi ia dibuat terkejut karena pintu itu tiba-tiba saja lenyap dari pandangannya. Bu Nisa mencoba meraba pintu itu itu lagi untuk memastikan penglihatannya dan hasilnya tetap saja. Pintu yang baru saja ia tutup memang sudah tidak berada di depannya lagi. Bu Nisa mengedarkan pandangan ke sekeliling dan ia terperangah karena saat ini ia sudah kembali berada di depan rumah yang pernah ditempati oleh Laras. Namun, kali ini ia rumah itu sudah lebih mirip dengan keadaan sekarang. Sedangkan tadi ketika ia melihat Laras kecil, rumahnya masih model lama.
“Loh, ini kan rumah Laras? Kenapa semua serba aneh seperti ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Bu Nisa pada dirinya sendiri.
Belum selesai Bu Nisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tiba-tiba perempuan itu mendengar langkah seseorang dari dalam rumah. Karena takut, Bu Nisa pun memilih untuk bersembunyi di balik tembok di sebelah rumah Laras.
Untung saja Bu Nisa sudah berhasil bersembunyi pada saat seseorang muncul dari dalam rumah tersebut. Bu Nisa pun memberanikan diri mengintip melalui pinggiran tembok untuk mengetahui siapa gerangan yang berjalan barusan.
“Loh, bukankah itu Laras?” gumam Bu Nisa di dalam hatinya.
Laras saat itu keluar dari dalam rumah dengan pakaian casual yang serasi dengan kulitnya yang cerah. Ia kemudian duduk di kursi yang letaknya ada di depan rumah tersebut. Laras nampak menikmati duduk-duduk di kursi tersebut. Bu Nisa tetap mengintipnya dengan perasaan dag dig dug.
Setelah menunggu selama beberapa menit, kemudian Bu Nisa dikejutkan dengan kemunculan Pak Hartono di pinggir jalan di depan rumah Laras. Bu Nisa terkesiap ketika melihat Pak Hartono yang nampak segar bugar. Di dalam ingatan Bu Nisa, ia tahu bahwa Pak Hartono sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Namun, ia buang jauh-jauh pikiran itu karena ia mau fokus pada adegan yang akan terjadi setelahnya.
“Permisi, Laras!” sapa Pak Hartono sambil melangkah menuju rumah Laras.
“Iya, Pak. Ada apa?” sapa Laras dengan ramah.
“Hm … Apa boleh saya menumpang minum soalnya tadi saya lupa tadi membawa minuman dari rumah karena keburu berangkat memancing,” ucap Pak Hartono dengan sopan.
“Ehm … Baiklah, tunggu di sini! Saya ambilkan air di belakang,” jawab Laras sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Bu Nisa yang berada di sebelah rumah Laras pun semakin deg-degan melihat adegan tersebut. Ia takut keberadaannya diketahui oleh Pak Hartono. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati perempuan itu tatkala ia melihat Pak Hartono ternyata tidak menunggu di depan rumah Laras. Melainkan pria itu menoleh dulu ke belakang seolah-olah memastikan bahwa tidak ada orang lain di sekitar tempat itu. Bu Nisa sempat ketakutan saat pria itu tiba-tiba menoleh ke arahnya. Untunglaj dia bergerak cepat menarik kepalanya sesaat sebelum Pak Hartono melihat ke arahnya. Setelah merasa aman, Bu Nisa pun kembali memberanikan diri mengintip ke arah Pak Hartono dan ia terkejut karena sahabat suaminya itu sudah tidak ada di sana lagi.
__ADS_1
“Ke mana perginya Pak Hartono, ya? Apa dia masuk ke dalam rumah Laras? Apa yang sedang ia rencanakan sebenarnya terhadap gadis itu? Haruskah aku masuk ke dalam?” tanya Bu Nisa pada dirinya sendiri.
Baru saja Bu Nisa berpikir tentang Pak Hartono. Tiba-Tiba ia mendengar suara Laras yang seperti berteria dari dalam rumah
“Loh, kenapa Bapak masuk ke dalam?” ucap Laras agak tinggi.
“Tenang Laras! Aku tidak bermaksud jahat, kok!” jawab Pak Hartono dengan lembut.
“Tapi … Tidaaaaaaak!!!” pekik Laras tertahan oleh bekapan tangan Pak Hartono.
Selanjutnya Bu Nisa mendengar suara da orang yang seperti sedang berkelahi di dalam rumah tersebut. Namun, sepertinya perkelahian tersebut tidak seimbang karena selanjunya sudah tidak terdengar suara perkelahian lagi. Yang ada justeru suara Pak Hartono yang sedang berbicara dengan sedikit melecehkan Laras.
“Tidak! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus menolong gadis itu!” ucap Bu Nisa di dalam hatinya.
“AKu sebenarnya tidak begitu suka dengan anak itu. Tapi, kalau melihat kejahatan di depanku seperti ini, aku juga tidak tega,” pikir Bu Nisa.
“Ehm Ehm …,” suara Laras yang tidak bisa keluar karena mulutnya dibekap oleh Pak Hartono menggunakan sarung bantal.
Bu Nisa pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah secara perlahan dengan membawa batu yang ia pungut di depan rumah Laras. Kemudian perempuan itu pun diam-diam mengikuti arah sumber suara. Ternyata suar itu berasal dari kamar yang berada di sebelah ruang tamu. Secara diam-diam Bu Nisa pun masuk ke arah kamar dan ia terkejut karena melihat Pak Hartono sedang mengikat Laras dan bermaksud untuk menggagahi gadis malang itu.
“Jangan!!!” teriak Bu Nisa begitu melihat adegan yang membuatnya kasihan kepada Laras.
Laras dan Pak Hartono pun menoleh ke arah Bu Nisa. Mereka berdua melotot ke arah Bu Nisa.
__ADS_1
“Jangan, Mas Hatono! Jangan kamu rusak masa depan anak itu! Jangan kau hianati Mbak Reni!” teriak Bu Nisa dengan emosi.
“Ha ha ha ha ha … Coba kamu dengarkan suara Laras Mbak Nisa!” ucap Pak Hartono sambil membuka sumpalan di mulut gadis itu.
Bu Nisa mulai merasa aneh dengan apa yang sedang ia lihat sekarang.
“Bu Nisa! Kenapa baru sekarang kamu percaya kepadaku? Kamu dulu begitu jijik terhadapku! Sudah terlambat, Bu Nisa! Aku tidak mungkin hidup lagi,” ucap Laras dengan suara semakin parau dan seiring dengan perubahan wujunya yang awalnya cantik menjadi sosok menyeramkan yang membuat bulu kuduk Bu Nisa berdiri. Tidak hanya itu, Pak Hartono yang berdiri di depannya juga menjelma menjadi sosok yang menyeramkan.
“Han-Han-Hantuuuuuu!!!” teriak Bu Nisa sambil berlari menjauh dari kamar itu.
Bu Nisa bermaksud lari menuju pintu depan. Namun, saat ia membuka pintu depan, ia dikejutkan dengan kemunculan Laras yang begitu menyeramkan sudah mencegatnya dari pintu depan.
“Mau ke mana kamu, Bu Nisa?” ucap hantu Laras denga suara sangat menyeramkan.
“Tidaaaaakkk!!” teriak Bu Nisa dengan sangat keras karena ketakutan. Ia pun bingung mau lari ke mana lagi karena pintu keluar juga sudah dihadang oleh Laras.
Bu Nisa hanya bisa menunduk dan menutupi wajahnya ketika hantu Pak Hartono dan Laras secara menyeramkan mengelilinya dan berusaha untuk mencekiknya.
“Tidaaaaaak!!!” teriak Bu Nisa saat hantu Laras dan Pak Hartono mulai mencekik lehernya.
BERSAMBUNG
Hm .. yang ngelike dan komen di novel KAMPUNG HANTU dari bab 1 sd extra part 4 kayaknya belum ada. Berarti yang ikutan auto menang nih! Ayo!!!!
__ADS_1