MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 103 : HASRAT


__ADS_3

Bu Nisa, Pak Ade, dan Revan pun langsung masuk ke tempat tidur untuk beristirahat.


“Mas, tirainya ditutu, ya!” ucap Bu Nisa meminta tolong kepada suaminya.


“Iya, Dik!” sahut Pak Ade sambil menarik tirai dari sebelah kanan ia tarik ke kiri.


Jantung Pak Ade terhenti sesaat ketika ia ia hampir menutup tirai itu seratus persen karena ia melihat sesosok perempuan di kejauhan. Tepatnya di dekat sesajen tetangga Jatmiko yang rumahnya berhadapan dengan rumah Jatmiko. Antara kedua rumah mereka dibatasi oleh jalan desa. Pak Ade pun buru-buru menghilangkan pikiran tentang Laras agar ia tidak semakin diganggu oleh arwah perempuan yang sedang mengincar kematiannya itu.


“Kenapa, Mas?” tanya Bu Nisa yang baru saja mengganti bajunya dengan daster untuk mengurangi rasa gerah akibat tidak mandi.


“Nggak apa-apa, Dik!” jawab Pak Ade berbohong agar istrinya tidak berpikir macam-macam dan bisa segera beristirahat.


“Mas, kamu tidur dekat jendela, ya? Revan di tengah, dan aku di sebelah dalam,” ucap Bu Nisa pada suaminya.


“Iya, Dik,” sahut Pak Ade sambil merebahkan dirinya di atas kasur.


Kepala Pak Ade tepat berada di sebelah jendela yang hanya dibatasi dengan tirai agak tipis. Pria itu sadar seandainya ada orang berdiri di balik jendela, ia pasti dapat melihatnya melalui tirai itu. Tapi, ia tidak punya pilihan lain karena ia harus melindungi anak dan istrinya.


Setelah melihat ayahnya terbaring di sisi dekat jendela, Revan pun berbaring di sebelah bapaknya. Meskipun anak kecil itu berada di tengah dan dihalangi oleh bapaknya, tapi ia juga masih dapat melihat keadaan di luar jendela karena ketebalan tirai itu sangatlah minim. Dan setelah suami dan anaknya tidur di atas kasur, Bu Nisa giliran menyusul untuk tidur di sebelah Revan.


Awalnya Bu Nisa memilih untuk membalikkan badannya menghadap ke bagian dalam rumah. Tapi, Revan menegurnya secara tiba-tiba.


“Bu, kamu menghadap ke Revan, ya? Revan takut!” rengek Revan.


“Iya, Revan!” sahut Bu Nisa tidak memperpanjang omongan karena ia tidak mau anaknya semakin panik yang justeru malah mengundang kedatangan makluk tak kasat mata.


Revan pun berusaha untuk terlelap di tengah-tengah kedua orang tuanya. Anak kecil itu sengaja memunggungi bapaknya karena ia ngeri kalau harus menghadap jendela. Sementara Pak Ade lebih memilih untuk menghadap jendela karena ia lebih merasa ngeri kalau harus memunggungi jendela yang posisinya cukup rendah itu sehingga sejajar dengan ketinggian kasur yang mereka tiduri sekarang. Pak Ade lebih merasa aman di posisi sekarang. Setidaknya ia lebih siaga kalau harus berhadapan dengan makhluk atau apapun yang mungkin muncul di balik jendela. Daripada ia harus memunggunginya, malah membuat pria itu seolah-olah ditatap dari arah belakang dan hal itu sangat tidak mengenakkan.


Mereka bertiga memusatkan pikiran untuk bisa segera terlelap. Mereka yang sudah pengalaman diganggu oleh arwah Laras pun berusaha semaksimal mungkin untuk tidak memikirkan tentang arwah perempuan yang telah membunuh Pak Hartono dan Pak Dimas itu. Revan yang juga sudah diajari triknya oleh ibunya pun juga berusaha untuk tetap tenang. Sehingga, setengah jam Pak Ade dan Bu Nisa pun terlelap dalam tidurnya.


Sementara itu, Revan ternyata susah untuk tertidur karena ia sedang menahan sakit perut yang tiba-tiba muncul.


“Duh, perutku kok jadi mulas begini, ya? Aduh!” Revan menyeru sambil memegangi perutnya.


Prroooooot!!!

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, tanpa sengaja ***** anak kecil itu mengeluarkan angin yang baunya sangat menyengat.


“Aduh! Sakit banget perutku menahan rasa ingin buang air besar ini,” keluh Revan sambil berusaha menahan sakit di perutnya dan berusaha untu tidur menyusul bapak da ibunya yang sudah terlelap terlebih dahulu.


Pak Ade dan Bu Nisa yang sedang terlelap tidak menyadari bahwa anak mereka saat itu sedang tidak bisa tidur karena menahan sakt perut ingin buang air besar. Selama bermenit-menit Revan menahan sakit perutnya sehingga tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Namun, rasa sakit di perutnya saat itu tak kunjung sirna. Anak kecil itu tidak ingin menganggu istirahat kedua orang tuanya makanya ia tidak membangunkan mereka berdua saat itu. Ia pikir dengan menahan rasa sakit perut itu untuk sementara, rasa sakit itu lama-lama akan sirna. Namun, dugaan anak kecil itu salah. Semakin ia menahan hasrat untuk buang air besar, ternyata rasa sakit di perut anak kecil itu semakin menjadi-jadi saja. Sementara untuk berangkat sendiri ke kamar mandi, tentunya Revan tidak berani.


“Aduhhhh!!!” keluh Revan sambil terus memegangi perutnya dan merapatkan perutnya ke dengkul.


Prrroooot


Suara kentut cukup keras terdengar tanpa bisa ditahan oleh Revan. Sayangnya, Pak Ade dan Bu Nisa masih saja terlelap dalam tidurnya. Mereka berdua tidak tepengaruh oleh aroma kentut Revan yang semakin berbau busuk saja.


“Aduuuuh! Aku nggak tahan!” pekik Revan sambil menahan sakit di perutnya.


Anak kecil itu sudah merasa putus asa dengan apa yang sedang ia kerjakan. Nyatanya segala usahanya untuk menunda panggilan alam untuk buang air besar itu, tak ada satu pun yang berhasil. Tangannya menggenggam erat-erat mainan untuk menahan rasa kebelet itu juga tak ada hasil. Malah kali ini Revan khawatir ia akan kecirit di atas kasur milik Om Jatmikonya itu.


“Paaaak!!!! Buuuuuuu!!!! Perutku sakiiiiit!!!” teriak Revan sambil menangis karena ia sudah tidak tahan lagi menahan hasrat untuk buang air besar itu.


Pak Ade dan Bu Nisa yang sedang tidur terlelap tak bereaksi dengan panggilan Revan. Revan yang sudah bersimbah keringat dingin karena menahan hasrat untuk buang air besar itu pun terus saja memanggil kedua orang tuanya agar terbangun dan membantunya.


“Aaaaaaarrrh!!!” terdengar suara Bu Nisa yang mulai bereaksi dengan suara panggilan Revan.


Revan pun buru-buru menepuk pundak ibunya agar perempuan itu tidak tidur lagi.


“Buuuuu, bangun! Aku sakit perut mau buang ar besar,” ucap Revan sambil menepuk-nepuk pundak ibunya.


Bu Nisa tentu saja tak langsung bangun begitu saja. Setelah mengeluarkan suara, perempuan itu akan mengubah posisi tidurnya agar lebih nyaman. Ia sama sekali tidak menyadari kalau ia sedang dipanggil oleh anaknya. Ahirnya, Revan pun menepuk pundak Bu Nisa dengan lebih keras.


“Buuuuu!!! Banguuuun!!! Perutku sakit!” teriak Revan dengan suara lebih keras.


“Apa?” pekik Bu Nisa terkejut mendengar panggilan anaknya yang suaranya lebih ke arah merintih menahan sakit.


“Bu, antarkan aku buang air besar! Perutku sakit sekali!” ucap Revan mengulangi kata-katanya.


“Ya Tuhan! Kamu sakit perut, Nak? Tapi, kita belum boleh keluar rumah ini, Nak? Kamu tahu sendiri, kan, tadi kamar mandi yang di dalam sedang rusak?” tegur Bu Nisa.

__ADS_1


“Tapi, Bu. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah mencoba untuk menahannya, tapi aku tidak sanggup untuk melakukannya lagi,” jawab Revan sambil meringis menahan perutnya.


“Ya ampun, Nak! Tapi keadaan di luar rumah sedang tidak bersahabat dengan kita,” ucap Bu Nisa.


“Iya, Bu. Aku tahu, tapi … Aduuuuuh!” protes Revan sambil menahan sakit di perutnya yang semakin mendera.


Proooooot!!!


Suara kentut kembali menyembur dari lubang ***** Revan tanpa bisa ditahan lagi. Kali ini Bu Nisa sampai harus menutup hidungnya karena saking busuknya bau kentut Revan itu.


“Maafin Revan, Bu. Revan nggak kuat lagi,” rintih Revan yang membuat Bu Nisa tidak tega dengan kondisi anak semata wayangnya itu.


Perempuan itu menatap ke arah jendela. Pikirannya membayangkan kejadian buruk yang akan menimpa ia dan anaknya jika harus keluar rumah malam itu karena ibunya Jatmiko hanya memagari rumah itu saja. Sedangkan toilet yang bisa digunakan posisinya berada di luar rumah.


Saat perempuan itu membayangkan hal buruk itu, tiba-tiba ia mendengar suara desauan dari arah luar rumah tersebut. Sepertinya Revan juga mendengar suara desauan itu. Karea khawatir, ia pun memeluk anaknya yang sedang menahan sakit perut itu.


“Itu suara apa, Bu?” tanya Revan.


“Tenang, Nak! Itu hanya suara angin saja,” jawab Bu Nisa berbohong.


“Tapi, Bu?” protes Revan.


“Ibu kan sudah bilang sama kamu. Kalau kamu merasa takut, buruan pikirkan hal lain yang lebih menyenangkan! Kamu masih ingat, Revan?” ucap Bu Nisa pada anaknya.


“I-iya, Bu. Aku ingat!” sahut Revan sambil menuruti nasihat ibunya.


Akhirnya suara desauan itu pun menghilang. Mereka berdua senang sekali karena suara aneh itu sudah tidak terdengar lagi.


“Bu, sudah nggak ada lagi suara anehnya. Tapi, perutku masih sakit, Bu! Aku mau buang air besar sekarang!” ucap Revan setelah beberapa detik ia bersembunyi di pelukan ibunya.


“Revan. Ibu bangunin bapakmu dulu,ya?” sahut Bu Nisa.


“Iya, Bu,” jawab Revan senang karena sebentar lagi bapaknya akan bangun dan mengantarnya ke kamar mandi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2