MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 146 : TAK BIASANYA


__ADS_3

Pak Herman baru terjaga dari tidurnya setelah dibangunkan oleh Bu Dewi.


“Eh, kamu, Dik?” ucap Pak Herman sambil salah tingkah dan berusaha memasang pakaiannya kembali yang berceceran.


“Kamu kok nggak paki baju, Mas?” tanya Bu Dewi.


“Biasa, Dik, gerah …,” jawab Pak Herman berbohong.


“Gerah gimana, Mas? Lah wong cuaca segini dinginnya?” sangkal Bu Dewi.


“Iya sekarang. Tadi pas aku datang gerah sekali. Apalagi aku baru kerja full seharian di luar. Kerjaan berat banget hari ini, malah ditanya yang aneh-aneh,” jawab Pak Herman sambil sedikit mengerutu.


“Loh, maksudku bukan begitu, Mas?” sahut Bu Dewi.


“Sudah. Aku mengantuk. Aku mau tidur lagi di dalam,” jawab Pak Herman dengan sedikit ketus.


Bu Dewi tidak berani menyahut lagi. Ia khawatir hal itu akan menyulut pertengkaran di antara mereka. Sudah bertahun-tahun ini mereka tidak pernah berselisih paham. Dulu, awal-awal menikah sih,iya. Namanya juga masih muda. Bu Dewi pun tak mau ambil pusing. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk berwudu dan bersiap-siap salat Subuh.


Sreng ….


Bu Dewi mencium aroma bunga melati secara sekilas. Bulu kuduknya sedikit merinding.


“Ah, mungkin ini hanya pikiranku saja,” pikir Bu Dewi sambil melanjutkan rencananya untuk pergi ke kamar mandi.


*


“Mas … Mas … Bangun! Sholat Subuh!” panggil Bu Dewi pada suaminya yang sedang tertidur pulas.


“Apaan sih, Dik? Aku ngantuk!” jawab Pak Herman sambil membalikkan badannya ke sisi yang lain dan melanjutkan tidurnya kembali.


“Massss … Sebentar lagi waktu subuhnya habis, loh!” panggil Bu Dewi lagi dengan suara sengaja dilembutkan agar suaminya mau menuruti perkataannya.


Brak!


“Aku mau tidur! Aku ngantuk!” teriak Pak Herman sambil melemparkan bantal guling ke arah pintu.


Bu Dewi terkejut melihat tabiat suaminya yang keras tidak seperti biasanya. Mata Pak Ade juga merah dan menunjukkan rasa emosi. Perempuan itu pun buru-buru pergi ke luar kamar sambil menggendong Panji karena ia tidak mau anaknya terpengaruh oleh perilaku suaminya yang kasar itu. Bu Dewi pun hanya bisa menangis sedih sambil mempersiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga.


“Mungkin ini memang salahku. Aku terlalu tidak sopan terhadap Mas Herman. Mungkin kerjaannya saat ini sedang ruwet, jadi Mas Herman banyak pikiran. Dia tidak pernah berbuat sekasar ini kepadaku. Pasti ini karena kesalahanku yang kurang tunduk terhadapnya. Iya, aku yang salah … Semoga Mas Herman setelah sarapan bisa lebih sabar dan mau memaafkanku,” ucap Bu Dewi pada dirinya sendiri.

__ADS_1


*


Sementara itu di tempat yang lain, Herman dan Cintia sedang berunding.


“Her, sepertinya dalam waktu dekat semua orang yang berhubungan dengan kasus Narkoba ini akan tertangkap semua. Bagaimana dengan kisah Nona Larasati? Apakah kita akan menyampaikan juga kepada Kapten Yosi dan juga potongan buku harian itu?” tanya Cintia.


“Pusat sudah turun tangan, Cin. Pejabat teras pemilik Hotel Bunga itu tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum. Pun juga para gembong Narkoba di kota ini yang sudah lama meresahkan masyarakat dan kepolisian akan dijebloskan ke penjara dengan segera. Aku rasa kita harus memegang janji kita kepada Bu Dewi untuk tidak melibatkan Nona Larasati dalam kasus ini. Toh, semua orang yang berbuat jahat terhadap Nona Larasati sudah merasakan akibat perbuatannya,” jawab Herman.


“Iya, Her. Tapi, bagaimana dengan kasus kematian Pak Ade? Masyarakat luas pasti akan bertanya-tanya tentang hal tersebut kalau tidak segera dipublikasikan hasilnya?” timpal Cintia.


“Tenang, Cin. Hasil otopsi jenazah Pak Ade sudah keluar. Dari hasil otopsi itu diperoleh bahwa Pak Ade tewas akibat benturan dengan batu tebing dan juga akibat serangan hewan buas,” jawab Herman.


“Apa publik akan percaya? Bagaimana dengan keterangan Bu Nisa dan anaknya?” protes Cintia.


“Justeru hal itu dikuatkan dengan keterangan warga desa Curah Putih bahwa malam itu ada yang melihat ular besar sedang melintas di desa yang terkenal mistis tersebut. Mengenai Bu Nisa dan Revan. Bu Nisa masih trauma. Ia masih sering mengigau dan menyebut, ‘ular … ular …,’ sedangkan Revan anaknya juga belum mau diajak berbicara.


“Dengan kata lain, publik akan tenang seandainya polisi mengumumkan bahwa kematian Pak Ade akibat serangan hewan buas?” tanya Cintia.


“Yah, begitulah! Andaipun ada suara sumbang, hal itu biasa mengingat desa Curah Putih terkenal dengan ilmu kleniknya,” jawab Herman.


“Bagaimana nanti kalau Bu Nisa dan Revan nanti kalau sudah sembuh betul dari traumanya?” tanya Cintia.


“Tidak akan banyak berpengaruh, Cin. Pada saat itu terjadi pasti masyarakat sudah membicarakan hal yang lain dan juga Bu Nisa akan mikir-mikir kalau mengaitkan kematian suaminya dengan Nona Larasati. Ia pasti tidak mau nama suaminya semakin tercoreng karena akan berdampak pada Reva, anaknya,” jawab Herman.


Herman menatap lekat mata Cintia.


“Kamu tega melakukan hal itu, Cin? Bagaimana dengan perasaan Bu Dewi setelah membaca isi potongan buku harian itu? Aku tidak sampai hati, Cin,” jawab Herman.


“Tapi, bagaimana aku akan bicara kepada Bu Dewi? Kita sudah berjanji padanya, loh!” protes Cintia.


“Ada kalanya seseorang itu tidak perlu tahu yang seharusnya ia tidak tahu. Apa kamu ingin menghancurkan hati wanita sebaik Bu Dewi?” jawab Herman.


“Tidak, Her. AKu tidak tega. Terus?” tanya Cintia.


“Kita bilang saja pada Bu Dewi bahwa sebenarnya kita tidak memegang potongan buku harian itu. Kita hanya mendapat firasat dari mimpi,” jawab Herman.


“Apa perempuan secerdas Bu Dewi akan percaya dengan hal itu?” tanya Cintia.


“Tidak penting ia percaya atau tidak, Cin. Yang penting kondisi hatinya tetap terjaga. Kasihan Revan kalau sampai Bu Dewi tahu yang sebenarnya,” jawab Herman.

__ADS_1


“Baiklah, Herman. Aku ikuti saranmu,” jawab Cintia dengan mata berkaca-kaca.


Perempuan itu takjub karena orang yang ia kagumi itu ternyata memiliki hati yang selembut salju.


“Kamu kenapa menangis, Cin?” tanya Herman.


“Nggak apa-apa, Her. Aku hanya terharu saja. Ternyata kamu tidak sekasar itu,” jawab Cintia.


“Maksud kamu?” tanya Herman.


“Ah, sudahlah! Aku mau mengetik berkas yang akan dibacakan Kapten Yosi untuk konferensi pers besok,” jawab Cintia sambil berlalu pergi.


“Tunggu, Cin! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu sebelum kamu pergi,” ujar Herman.


“Apa, Her?” tanya Cintia penasaran.


Herman menatap mata Cintia dengan penuh rasa takjub. Pria itu menelan air ludahnya sendiri karena grogi.


“Cin, a-ku su-dah berjanji sama ibuku bahwa aku akan membawa seseorang ke hadapannya paling lambat akhir bulan ini,” tutur Herman dengan terbata-bata.


“Maksud kamu apaan, Her?” tanya Cintia kebingungan.


“Aku janji akan membawa calon menantu untuknya, Cin. Aku tidak mengenal banyak wanita. Hanya kamu yang paling dekat denganku. Apa kamu mau menjadi menantu ibuku?” tanya Herman dengan jantung yang seakan-akan copot saat itu.


Pip Herman saat itu benar-benar merah. Ia merasa malu karena tidak menggunakan kata-kata yang indah untuk melamar Cintia.


“Ma-af, Her. Aku tidak mau menjadi menantu ibumu, kecuali dengan satu syarat …,” jawab Cintia dengan mata tertunduk.


Herman yang mendengar kalimat penolakan di awal tentu saja terkejut dan malu. Tapi, ia penasaran dengan syarat yang diucapkan oleh Cintia di akhir kalimatnya barusan.


“Kecuali apa, Cin?” tanya Herman dengan suara lemah.


“Kecuali hati kamu memang menginginkanku untuk menjadi istrimu selamanya …,” jawab  Cintia sembari melempar senyuman.


Mendengar jawaban itu, Herman pun girang seketika dan ia pun bermaksud memeluk Cintia.


“Makasih, Cin!” teriak Herman girang.


“Maaf, Her! Bawa dulu ibumu bertemu keluargaku!” sahut Cintia sambil berlari menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG 



__ADS_2