
Revan berlari ke arah pintu di mana ia melihat Bu Dimas. Pak Ade kebingungan dengan aksi anaknya karena saat itu ia sedang sendirian di dalam kamar. Ia takut Revan hilang atau tersesat di rumah sakit itu karena istrinya sedang pergi ke kantin.
“Revan, jangan pergi, Nak!” teriak Pak Ade pada Revan.
Revan tidak mempedulikan teriakan ayahnya. Ia tetap berjalan menuju pintu.
“Revan, kembali! Nanti kamu hilang!” teriak Pak Ade kembali.
Kali ini Pak Ade berusaha bangkit dari tidurnya dan berusaha turun dari atas kasur. Sayangnya, ia tidak bisa langsung mengejar anaknya karena ia masih kesulitan dengan infus di tangannya. Karena cemas dengan Revan, Pak Ade pun mengangkat botol infus dari gantungan dan dengan tertatih-tatih ia pun berusaha mengejar anaknya.
Sementara itu Revan sudah berhasil bertemu dengan Bu Dimas. Revan pun bersalaman dengan dengan Niko dan Bu Dimas. Setelah bersalaman, Revan pun memeluk Bu Dimas. Herman dan Chintia yang saat itu menemani Bu Dimas pun ikut menunggu Bu Dimas bersilaturahmi dengan Revan.
“Bude yang sabar, ya?” ucap Revan sambil menangis.
“Makasih, Revan. Ngomong-Ngomong kamu denger dari siapa?” tanya Bu Dimas sambil menangis.
“Semalam Revan mendengar ibu berbicara dengan Om Jefri dan Tante,” jawab Revan polos.
“Oh ya? Berart ayahmu sudah mendengar kabar kematian pakdemu?” tanya Bu Dimas heran sambil memegang pipi kiri dan kanan bocah lucu tersebut.
“Belum, Bude. Ibu merahasiakan ini semua dari ayah. Takut ayah jadi tambah sakit,” jawab Revan yang lugu itu.
“Iya, Revan. Ayahmu itu sayang banget sama pakdemu. Pasti ia akan sedih dan terpukul kalau mendengar pakdemu meninggal. Kamu bantu jaga rahasia ini dulu, ya!” jawab Bu Dimas sambil menghapus air mata di pipi bocah kecil itu. Tak lupa ia juga menghapus air matanya sendiri.
“Revan!!!” suara panggilan Pak Ade yang sudah sampai di pintu kamar.
Bu Dimas dan semua yang berada di tempat itu terkejut saat melihat Pak Ade sedang berjalan sambil mengangkat botol infusnya sendiri.
“Bu Dimas!!!” pekik Pak Ade terkejut dengan kehadiran istri temannya yang sedang diapit oleh dua orang berseragam polisi.
“Pak Ade!!!” pekik Bu Dimas sambil menghambur ke arah pria itu dan mengambil alih botol infus yang sedang dipegangnya.
Herman dan Chintia dengan sigap membimbing Pak Ade kembali masuk ke dalam kamar dan merebahkannya di atas kasur.
“Revan! Kamu kok ninggalin ayahmu sendirian? Mbak Nisa ke mana, Pak Ade? Sampean ini belum boleh banyak bergerak, Pak Ade,” cerocos istri Pak Dimas itu.
Revan pun hanya bisa diam saat diomeli oleh Bu Dimas karena ia mengaku bersalah.
“Nisa pamit ke kantin bareng Pak Jefri dan istrinya, Bu Dimas. Aku kira Revan memanggil siapa. Ternyata memanggil kamu. Kamu datang ke sini mau menjengukku, kan?” ujar Pak Ade dengan tenang.
“I-iya, Pak Ade. Aku ke sini mau menjenguk Pak Ade,” jawab Bu Dimas gelagapan.
“Terima kasih sudah repot-repot datang menjemputku. Kenapa kamu tidak bareng suamimu?” tanya Pak Ade.
“A-anu … anu Pak Ade. Suamiku sedang ada urusan penting,” jawab Bu Dimas berusaha berbohong.
__ADS_1
“Oh iya aku paham. Kemarin kamu dan suamimu sudah seharian menungguiku. Terima kasih banyak, ya?” jawab Pak Ade.
“Iya, Pak” jawab Bu Dimas.
“Oh ya. Kedua polisi ini siapa?” tanya Pak Ade lagi.
Herman dan Chintia pun saling berpandangan karena tidak menyangka Pak Ade akan menanyakan keberadaan mereka. Mereka berdua yang sudah mendengar percakapan Bu Dimas dan Revan untuk merahasiakan kematian Pak Dimas pun langsung memutar otak untuk mengarang cerita.
“A-nu, Pak. Kami berdua ini kebetulan kenal dengan Bu Dimas,” jawab Herman dengan wajah sumringah agar tidak dicurigai oleh Pak Ade.
“Oh ya? Kenal di mana? Saya ini sahabat Bu Dimas dan Pak Dimas loh! Jadi, saya cukup banyak mengenal kenalan mereka berdua,” jawab Pak Ade dengan sangat antusias. Pria tersebut memang paling senang kalau membicarakan tentang masa mudanya.
“Aduh! Mati aku! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kalau aku salah ngomong malah akan membuyarkan semua sandiwara ini!” rutuk Herman sambil melirik ke arah Chintia.
Bukannya membantu. Chintia juga bingung saat itu karena ia memang tidak begitu mahir untuk berbohong.
“A-nu, Pak. Bu Dimas ini dulu pernah tinggal dekat dengan rumah saya,” jawab Pak Herman dengan nada berusaha dibuat tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan Pak Ade.
“Oooo di sekitar jalan Teratai itu, ya? Pak Dimas dan Bu Dimas memang cukup lama tinggal di sana setelah aku resign dari Koperasi Antah Barantah tempat kami berdua bekerja,” jawab Pak Ade datar.
Herman senang mendengar jawaban Pak Ade yang tidak seantusias tadi. Hal itu menunjukkan bahwa Pak Ade tidak begitu mengenal lingkungan yang dibicarakannya barusan.
“Iya, Pak Dimas cukup lama kos di dekat rumah saya itu. Kami sampai mengenal dengan baik dan sudah seperti saudara,” jawab Herman ngasal sambil tersenyum kepada Chintia.
“Kos??? Bukankah Pak Dimas dan Bu Dimas saat itu mengontrak di sana? Bukan ngekos! Saya tahu pasti karena saya yang membantu mereka pindahan ke rumah yang sekarang,” protes Pak Ade dengan wajah penuh tanda tanya.
Herman pun kembali harus memutar otaknya untuk melanjutkan sandiwaranya.
“Iya. Kalau orang bilang memang ngontrak, tapi kalau menurut saya itu ngekos. Maklum, rumah yang ditempati oleh Pak Dimas dan Bu Dimas ini agak kecil. Karena rumah itu peninggalan kedua orang tua saya,” jawab Herman dengan cukup diplomatis agar Pak Ade yakin dengan perkataannnya.
Mendengar jawaban Herman tersebut sontak saja membuat Pak Ade kaget karena ia pernah melihat sendiri Pak Dimas dan Bu Dimas pernah diusir dari rumah yang mereka kontrak. Pak Ade heran kaena polisi di depannya mengaku sebagai pemilik rumah kontrakan yang ditempat Pak Dimas dan istrinya.
“Benar Bu Dimas, polisi ini yang punya rumah yang pernah kalian kontrak di jalan Teratai itu?” tanya Pak Ade kepada Bu Dimas yang saat itu juga sedang kebingungan karena Herman salah bericara.
“A-anu, Pak Ade. Iya … polisi ini yang punya rumah kontrakan kami waktu itu,” jawab Bu Dimas dengan agak tergagap.
Sementara itu Herman menyimak perbincangan mereka sambil tersenyum seolah-olah tidak punya dosa apapun. Chintia yang berada di sebelahnya juga ikut menebar senyuman.
“Kenapa kamu bisa akrab dengan polisi ini? Apa kamu tidak ingat dengan perlakuan mereka saat itu sewaktu mengusir keluargamu seperti mengusir ayam saja!” Pak Ade berkata dengan nada agak tinggi karena ia ingat dengan kejadian pengusiran waktu itu.
Herman dan Chintia pun syok mendengar kalimat pedas yang dilontarkan oleh Pak Ade. Kedua polisi itu tidak menyangka bahwa Bu Dimas dan kelaurganya pernah mengalami hal buruk dengan pemilik kontrakan lama mereka.
“Tamat sudah riwayatku sekarang! Apa yang harus aku katakan sekarang pada pria sakit di depanku ini? Apaaku harus mengatakan sejujurnya kepada pria ini bahwa aku sedang bersandiwara? Dan yang sebenarnya terjadi adalah aku sedang mengusut kasus kematian Pak Dimas? Tapi, bagaimana dengan nasib pria yang sedang sakit ini? Kalau ia sampai kenapa-kenapa, bagaimana?” Lagi-Lagi Herman kebingungan dan terjebak dalam peran yang ia buat sendiri.
“Maaf, Pak Ade. Kami dan Bu Dimas ini akrab karena kami menyadari bahwa tu semua hanya kesalahpahaman saja,” jawab Herman asal saja karena ia suda tidak tahu harus berkata apa lagi.
__ADS_1
“Kamu bilang melempar bantal ke jalan itu salah paham? Kamu bilang mengusir seorang ibu dengan anak kecil itu salah paham? Mana pria yang saat itu ampir aku tonjok mukanya itu?” teriak Pak Ade dengan emosi.
“Sabar, Pak. Bapak sedang sakit,” jawab Herman berusaha menenangkan emosi pria yang sedang sakit itu.
“Jangan sentuh saya! Saya tidak sudi bersentuhan dengan manusia yang sudah berbuat kejam kepada sahabat saya. Jangan mentang-mentang kamu polisi, terus seenaknya pada rakyat kecil!” umpat Pak Ade masih dengan nada tinggi.
“A-nu, Pak Ade. Bukan saya yang mengusir keluarga Pak Dimas saat itu. Pria itu adalah ayah tiri saya. Kebetulan dia memang tidak sependapat dengan saya. Saat itu saya sedang ada di luar kota makanya ayah tiri saya itu berani mengusirnya. Kalau ada saya, pria itu tidak akan berani berbuat macam-macam,” jawab Herman berusaha menenangkan emosi Pak Ade.
“Iya benar apa yang dikatakan polisi ini, Pak Ade. Kalau polisi ini baik sekali sama saya sekeluarga. Yang jahat itu ayah tirinya,” jawab Bu Dimas.
“Oh begitu. Saya kira kamu sama jahatnya dengan ayah tirimu. Maaf kalau saya sudah berbuat tidak sopan kepada kalian berdua barusan,” ujar Pak Ade.
“Iya. Tidak apa-apa, Pak. Kami memaklumi kesalahpahaman Bapak,” jawab Herman sedikit lega.
“Kenapa sampean mau punya ayah tiri sejahat dia?” tanya Pak Ade.
“Saa sih sebenarnya nggak mau, Pak. Tapi, ibu saya sudah Bucin sama pria itu. Saya bisa apa?” ucap Herman tetap dengan sandiwaranya.
“Susah memang kalau sudah berurusan dengan cinta. Semoga ibumu sehat dan bahagia saja punya suami model begitu,” ucap Pak Ade.
“Iya, Pak. Oh ya, Bu Dimas. Sepertinya sudah saatnya kita pamit, ucap Herman.
“Loh, kalian mau ke mana? Nggak mau nunggu istri saya?” sahut Pak Ade.
“Anu, Pak Ade. Saya mau sekalian menjenguk anak mereka berdua yang sedang dirawat di rumah sakit ini karena tipus,” jawab Bu Dimas asal bunti saja.
“Oh, jadi mereka berdua ini sudah menikah? Kirain masih pacaran?” sahut Pak Ade.
“Sudah, Pak. Kami sudah menikah beberapa tahun yang lalu,” jawab Herman sambil merangkul Chintia.
Chintia tidak bisa berkutik saat itu karena ia tidak mau usaha berat mereka sejak tadi untuk bersandiwara akan sia-sia belaka karena penolakannya. Namun, perempuan itu sudah menyiapkan cubitan besar untuk Herman kalau sudah keluar dari kamar Pak Ade.
“Ya sudah kalau begitu. Anak kecil jangan ditinggal-tinggal. Kasihan! Terima kasih atas kunjungan kalian. Semoga anak kalian cepat sembuh,” jawab Pak Ade.
“Sama-Sama. Semoga Pak Ade juga cepat sembuh. Kami pamit dulu!” ucap mereka sambil meninggalkan kamar Pak Ade.
Tak lupa Bu Dimas juga berpamitan dengan Revan.
“Revan jangan tinggalin ayah sendirian, ya!” ucap Bu Dimas sambil memeluk anak kecil itu.
“Salam buat P-,” jawab Revan tapi tidak diteruskan karena diperhatikan oleh Pak Ade.
Herman sengaja merangkul Chintia sambil berjalan meninggalkan kamar Pak Ade. Chintia benar-benar kesal pada kelakuan Herman yang memanfaatkan aji mumpung itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Hm ... senengnya nih kalau dikomentari sama pembacadi setiap episode. Jadi semangat untuk buru-buru update episode