MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 52 : TANGISAN


__ADS_3

Bu Nisa meminta Bu Reni untuk mengulangi kata-katanya karena saking tidak percayanya dengan berita yang disampaikan oleh temannya itu melalui sambungan telepon.


“Coba ulangi lagi, Mbak Ren!” ujar Bu Nisa.


“Pak Dimas meninggal over dosis di kamarnya, Mbak Nisa!” jawab Bu Reni sekali lagi.


“Ya Tuhan! Aku tidak salah dengan kan, Mbak?” tanya Bu Nisa lagi.


“Tidak Mbak. Ini kenyataan. Aku sekarang masih didepan rumah Pak Dimas , Mbak. Ini Bu Dimas dan Niko nangis terus. Kayaknya sebentar lagi polisi datang, Mbak!” jawab Bu Reni.


“Ya Tuhan! Kenapa bisa begini, Mbak? Mas Ade pasti akan sangat terpukul kalau mendengar berita ini,” jawab Bu Nisa.


“Pak Ade sekarang kondisinya bagaimana, Mbak?” tanya Bu Reni.


“Kondisinya sudah membaik, Mbak. Dia baru saja tidur setelah diberi obat tidur oleh suster. Aku tidak tega untuk mengabarinya sekarang,” jawab Bu Nisa.


“Iya, Mbak. Biarkan Pak Ade istirahat dulu, Mbak. Aku minta maaf kalau sudah mengganggu, tapi aku kepikiran kalau tidak mengabari Mbak Nisa,” jawab Bu Reni.


“Tidak, Mbak. Aku justeru akan marah sekali kalau tidak ada yang mengabariku. Sekarang kamu sampaikan ke Bu Dimas, ya? Maaf, aku belum bisa pulang sekarang karena tidak ada yang menggantikan menjaga Mas Ade di rumah sakit,” jawab Bu Nisa.


“Iya, Mbak. Sudah dulu, ya? Sepertinya polisinya sudah datang. Aku mau ke dalam dulu untuk menghibur Bu Dimas,” jawab Bu Reni.


“Iya, Mbak,” jawab Bu Nisa.


Bu Nisa terpekur sambil menatap ponselnya dengan penuh kesedihan. Baginya Pak Dimas bukan hanya sekedar teman suaminya atau karyawan di kantor suaminya, tapi Pak Dimas adalah orang yang banyak berjasa untuk memajukan CV milik suaminya. Pak Dimas selama ini menjadi pentolan untuk menggoalkan proyek-proyek yang diincar oleh perusahaan suaminya.


“Kenapa kamu harus mati over dosis, Pak Dimas? Masalah berat apa yang kamu hadapi sampai harus bunuh diri? Kenapa kamu tidak ngomong kepada aku dan Mas Ade? Kalau hanya urusan uang, kami berdua siap membantu, kok? Tidak perlu kamu harus seperti ini,” ucap Bu Nisa sambil menangis.


Clik!


Tiba-Tiba ada pesan masuk dari Bu Reni.


“Ya Tuhan!” Bu Nisa memekik cukup keras karena terkejut dengan gambar yang dikirim Bu Reni.


Bu Nisa menerima gambar Pak Ade dengan kondisi mulut berbusa dan mata melotot. Sedangkan tangan dan kakinya kaku.


“Kenapa kamu memilki nasib seburuk ini, Pak Dimas? Apa kamu ada masalah dengan istrimu? Tidak mungkin! Bu Dimas adalah sosok istri yang baik dan murah senyum. Selain itu, dia juga solutif. Lantas apa yang memicu kamu untuk melakukan perbuatan pengecut itu?” Bu Nisa terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


“Bagaimana caranya aku menyampaikan berita duka ini kepada suamiku? Ia baru saja kehilangan teman masa kecilnya dan saat ini ia harus kehilangan teman kerja terbaiknya. Suamiku pasti akan sangat terpukul dengan kejadian ini,” ucap Bu Nisa.


Bu Nisa menatap suaminya yang sedang tertidur nyenyak. Saat itu ia tidak bisa berbuat banyak karena ia harus menjaga Pak Ade di kamarnya. Dalam keadaan kalut seperti itu tiba-tiba Bu Nisa mendengar ada suara ketukan di pintu masuk.


“Siapa sih malam begini masuk ke kamar? Tidak mungkin suster karena suster sudah mengecek kondisi suaminya beberapa waktu yang lalu.” Otak Bu Nisa berpikir dengan keras.


“Siapa?” teriak Bu Nisa karena penasaran.


Tidak ada jawaban, tapi terdengar pintu masuk dibuka. Karena penasaran, Bu Nisa pun secara perlahan mengintip orang yang sedang berusaha membukan pintu kamar tersebut.


“Bu Jefri …,” pekik Bu Nisa.

__ADS_1


“Bu Nisa!” pekik Bu Jefri.


Bu Jefri pun menghambur ke arah Bu Nisa. Mereka pun saling berpelukan.


“Bagaimana keadaan Pak Ade, Bu?” tanya Bu Jefri sambil memeluk Bu Nisa.


“Aku tidak percaya Pak Dimas akan bernasib begini, Bu Jefri,” ujar Bu Nisa sambil memeluk Bu Jefri.


Bu Jefri melepas pelukan Bu Nisa dan ia menatap heran kepada temannya itu.


“Bu Nisa kok menyebut nama Pak Dimas?” tanya Bu Jefri heran.


“Loh, Bu Jefri belum mendengar kabar tentang Pak Dimas?” Bu Nisa balik bertanya.


“Belum. Emangnya kenapa dengan Pak Dimas? Tadi, sebelum berangkat sepertinya beliau biasa-biasa saja. Kata Bu Dimas beliau sedang berstirahat,” jawab Bu Jefri.


“Ya Tuhan! Jadi Bu Jefri belum mendengar kabar kalau Pak Dimas meninggal karena over dosis di kamarnya?” ujar Bu Nisa.


“Apa?” cetus Pak Jefri yang baru masuk ke dalam kamar dan terkejut mendengar ucapan Bu Nisa.


Pak Jefri muncul bersama Revan. Revan langsung berlari menghambur ke ibunya. Ia peluk erat ibunya karena kangen seharian tidak bertemu. Bu Nisa menciumi wajah anak kesayangannya itu. Revan pun senang mendapat perlakuan manis seperti itu. Setelah itu, Bu Nisa pun mengarahkan Revan untuk melihat kondisi ayahnya yag sedang tertidur di dipan.


“Iya, Pak Jefri. Barusan aku dihubungi Bu Reni. Beliau yang mengabariku perihal kematian Pak Dimas,” jawab Bu Nisa.


“Innalillahi wainnailaihi rojiuun,” ujar Pak Jefri dan Bu Jefri secara bersamaan.


“Kok bisa over dosis, Mbak? Apa Pak Dimas selama ini punya masalah berat?” tanya Bu Jefri.


“Apa Pak Ade sudah mendengar beritanya juga, Bu Nisa?” tanya Pak Jefri dengan rasa penasaran.


“Belum, Pak Jef. Aku baru mendengar kabarnya barusan. Sedangkan Pak Ade tidur sudah sejam yang lalu. Dia disuntik obat tidur oleh suster,” jawab Bu Nisa.


Pak Jefri dan Bu Jefri pun mendekati dipan Pak Ade. Keduanya melihat kondisi Pak Ade yang sedang terkulai lemah.


“Kondisinya sudah membaik, Pak Jefri. Tapi, suami saya masih butuh banyak istirahat agar cepat pulih tenaganya,” ujar Bu Nisa meskipun tidak ditanya.


“Semoga Pak Ade bisa menerima kabar duka ini dengan lapang dada,” ujar Pak Jefri.


“Aamiiin,” jawab Bu Jefri.


“Revan, kamu doain ayahmu cepet sehat, ya?” ucap Bu Jefri kepada Revan.


“Iya, Tante. Aku mau tidur di sini sama ayah,” jawab anak kecil itu.


“Iya sudah. Tapi, kamu tidurnya di kasur satunya,” jawab Bu Nisa.


“Emangnya aku nggak boleh tidur sambil duduk di kursi kayak di film-film itu?” tanya Revan.


“Nggak boleh. Nanti Revan bisa sakit kalau kayak gitu. Ntar ibu bingung dong mau merawat ayah apa Revan?” jawab Bu Nisa.

__ADS_1


“Baiklah, tapi Om jefri dan Tante juga harus menginap di sini,” jawab Revan.


“Loh, Revan nggak boleh kayak gitu. Om dan Tante harus menjaga rumahnya,” jawab Bu Nisa.


“Om Jefri sama Tante emang jahat sama Revan!” suara Revan.


“Hus! Jangan keras-keras! Ntar ayah bangun loh! Ayah masih butuh banyak istirahat,” jawab Bu Nisa berusaha mengendalikan anaknya yang cerdas itu.


“Revan, Om dan Tante harus nelayat. Pak Dimas kan  meninggal,” rayu Bu Jefri.


“Pak Dimas kok meninggal sih, Bu? Apa dia nggak sayang sama Revan, ya? Revan kan jadi sedih kalau Pak Dimas meninggal? Pak Dimas kan sering nganterin Revan ke sekolah,” sahut Revan.


“Tuhan itu sayang sama Pak Dimas, Revan. Makanya Pak Dimas dipanggil oleh Tuhan,” sahut Bu Jefri.


Revan dipeluk oleh Bu Nisa. Ia dan Revan sangat kehilangan atas kepergian Pak Dimas.


“Dik, kayaknya kita harus menginap di sini,” ucap Pak Jefri tiba-tiba.


“Ini aku dapat pesan masuk dari Pak RT katanya jenazah Pak Dimas sedang dalam perjalanan ke rumah sakit ini untuk diotopsi,” jawab Pak Jefri lagi.


“Benar begitu, Mas?” tanya Bu Jefri.


“Iya, benar, Dik. Ini kamu baca sendiri pesan masuknya!” jawab Pak Jefri sambil menyodorkan Ponsel kepada istrinya.


“Syukurlah kalu begitu. Jadi, aku masih bisa melihat jenazah Pak Dimas nanti,” cetus Bu Nisa.


“Bu Dimas dan Niko juga ikut ke sini,” jawab Bu Jefri sambil membaca pesan yang baru saja masuk ke Ponsel suaminya.


“Ya Tuhan. Kasihan sekali Bu Dimas dan Niko. Mereka harus kehilangan Pak Dimas,” jawab Bu Nisa.


“Iya, Bu Nisa. Semoga Bu Dimas dan Niko tabah menghadapi ujian hidup ini” jawab Bu Jefri.


“Aamiiin,” sahut Pak Jefri.


Setelah itu mereka pun duduk di atas karpet yang digelar di lantai. Mereka terus membicarakan kebaikan-kebaikan Pak Dimas selama ini. Hingga akhirnya Revan pun terlelap di dipan yang satunya lagi.


Bu Nisa senang ada Pak Jefri dan Bu Jefri yang ikut berjaga di kamar Pak Ade. Kehadiran mereka telah membuat Bu Nisa tidak merasa ketakutan lagi berada di kamar tersebut.


“Kalian berdua tidak mau tidur?” tanya Pak Jefri setelah mengobrol cukup lama.


“Nanti saja, Mas. Sekarang kami belum mengantuk,” jawab Bu Jefri.


“Kalau kalian mengantuk, tidurlah! Biar aku yang menjaga Pak Ade,” jawab Pak Jefri.


“Baiklah, kalau begitu,” jawab Bu Nisa sambil meletakkan kepalanya di atas bantal.


Bu Jefri pun mengikuti jejak Bu Nisa untuk tidur di atas karpet.


Beberapa menit kemudian, mereka pun tertidur. Hanya Pak Jefri yang masih terjaga saat itu. Tiba-Tiba Pak Jefri mendengar suara brankar didorong. Pak Jefri bangun dari dudukya. Kemudian pria itu pun berjalan ke arah pintu untuk mengintip ke arah luar. Benar saja, saat itu Pak Jefri melihat polisi dan beberapa dokter sedang mendorong brankar melalui depan kamar Pak Ade. Ia melihat ada Bu Dimas dan Niko yang ikut berjalan bersama rombongan itu.

__ADS_1


Pak Jefri pun melonjak dan buru-buru membuka pintu kamar. Ia pun buru-buru mengejar Bu Dimas dan Niko dan meninggalkan mereka semua yang sedang tidur di kamar perawatan Pak Ade.


BERSAMBUNG


__ADS_2