
Cintia terus berjalan meninggalkan Hotel Bunga dengan perasaan bahagia karena penyamarannya telah membuahkan hasil meskipun ia harus berdandan seperti orang gila. Kali ini perempuan itu sudah tidak peduli lagi dengan olokan orang-orang dewasa maupun anak kecil di sepanjang jalan yang ia lewati. Keberhasilan besar sudah berhasil ia dapatkan hari itu. Dalam keadaan seperti itu Cintia jadi teringat dengan kata-kata mutiara yang banyak dilontarkan oleh sales-sales multi level marketing, yaitu ‘Jadikan hinaan sebagai penyemangat untuk sukses agar bisa membungkam hinaan mereka dengan kesuksesan yang kau miliki.’
Entah berapa lama Cintia berjalan. Sampai kaki perempuan itu sudah mulai terasa lelah. Barulah muncul sebuah mobil dari arah belakang dan berhenti tepat di sebelah perempuan itu. Setelah melihat kondisi di sekeliling barulah perempuan itu memberanikan diri untuk masuk ke dalamnya.
“Wah, keren sekali kamu. Mak?” goda Herman dengan senyuman renyahnya.
“Tutup mulutmu kalau tidak ingin aku hajar! Lama sekali kamu datang! Masih ngapain saja kamu di hotel tadi?” protes Cintia dengan wajah mrengut.
“Biasa. Aku harus beradu akting dulu dengan resepsionis dan security penakut itu dulu sebelum check out dari sana,” jawab Herman.
“Oh ya? Kamu bilag kepada mereka barusan?” tanya Cintia.
“Aku bilang kepada mereka kalau di dalam kamar hotel ada penampakan hantu perempuan yang terus mengganggu istirahatku,” jawab Herman.
“Terus, apa mereka percaya begitu saja dengan keteranganmu?” tanya Cintia.
“Ya begitulah! Mereka berdua kan penakut sekali pada makhluk yang namanya hantu. Mereka awalnya memaksa akan memindahkanku ke kamar yang lain, tapi aku bilang nggak mau karena aku terlanjur takut,” jawab Herman.
“Terus mereka bilang apa? Apa mereka menggratiskan biaya sewa kamarmu?” tanya Cintia.
“Enggak, sih. Tapi, lumayan lah aku hemat beberapa ratus ribu karena bookingan hotelku dialihkan ke bookingan short-time,” jawab Herman.
“Mantap kalau begitu. Ngomong-Ngomong dari mana kamu dapat kostum ini, Her?” tanya Cintia sambil membuka satu persatu pakaian penyamarannya dan juga menghapus make up nenek tua dai wajahnya.
“Kenapa, Cin? Bagus , kan, kostumnya? Buktinya ketiga orang tadi tak satu pun yang mencuriga penyamaranmu?” jawab Herman.
“Bagus, sih bagus. Tapi, tahu, nggak? Lama-Lama pakaian ini bikin kulitku gatal. Nih, kamu liat di tangan dan beberapa bagian tubuhku sampai merah-merah!” jawab Cintia sambil menunjukkan bentol-bentol merah ditangannya.
“Duh, maafkan aku, Cin. Pakaian ini sudah cukup lama aku simpan di lemari belakang bersama dengan pakaian-pakain bekasku yang sudah tidak dipakai lagi. Hm, mungkin kapur barusnya sudah lama habis jadi pakaian ini dihampiri ngengat atau serangga lainnya,” jawab Herman polos.
“Sialan kamu, Her! Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Terus, bagaimana dengan bintik-bintik merah ini!” omel Cintia.
“Ampun, Cin! Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Kita mampir di apotik dulu, ya, untuk membeli krem penghilang gatal?” tawar Herman.
“Tau dah! Kamu ini memang benar-benar! Bikin orang jengkel saja!” gerutu Cintia.
Tanpa pikir panjang Herman pun mencari keberadaan apotik di kota tersebut. Setelah ia menemukannya, ia pun mampir di apotik tersebut untuk membeli salep penghilang ruam. Cintia hanya menunggu di dalam mobil saja sambil sesekali menggaruk kulitnya yang terasa gatal akibat memakai pakaian rombeng itu.
__ADS_1
“Ini, Cin, salepnya? Kata apotekernya tadi, sekali usap gatalmu bisa sembuh,” ujar Herman.
Cintia menerima pemberian salep itu dengan ekspresi wajah yang tidak mengenakkan.
Herman semakin merasa bersalah dengan perempuan yang ada di sebelahnya itu.
Cintia kemudian mengoleskan salep kulit itu ke bagian-bagian tubuhnya yang terasa gatal. Herman kemudian mengemudikan mobilnya kembali menuju kantor polisi tempat ia dan Cintia bertugas. Benar saja omongan apoteker tadi, salep kulit itu ampuh sekali menyembuhkan ruam-ruam di kulit Cintia. Cintia pun bisa tersenyum bahagia setelah mobil berjalan selama beberapa menit.
Beberapa saat kemudian sampailah mobil yang mereka kendarai di kantor mereka. Mereka langsung turun dari mobil dan berjalan menuju ruang kerja mereka. Kebetulan Kapten Yosi sedang tidak ada di kantor. Mereka berdua langsung membuka komputer dan memasukkan flash disk yang dibawa oleh Cintia ke dalam port USB.
“Cin, biar aku yang memeriksa data nama tamu Hotel Bunga itu. Kamu istirahat saja sana!” ucap Herman.
“Tidak, Her! Aku juga ingin membantumu,” jawab Cintia.
“Wah, ternyata datanya diketik dengan menggunakan microsoft excell! Jadi, kita dapat dengan mudah mencari nama Pak Dimas dengan memanfaatkan fitur ‘find’ yang ada di dalam microsoft excell tersebut,” jawab Herman.
“Iya, Her. Coba aku ketik nama Dimas di kotak pencarian data, ya?” ucap Cintia.
“Iya, Cin. Buruan kamu klik ENTER!” perintah Herman tak sabar.
Cintia pun langsung menekan tombol ENTER tersebut dan mereka berdua langsung bersorak.
“Iya, Cin!” jawab Herman.
Mereka pun mnegecek satu persatu nama ‘Dimas’ tersebut secara teliti. Ada sekitar dua puluh nama ‘Dimas’ yang muncul di sana. Dari nomor urut 1 sampai nomor urut 19, tak satu pun yang mengarah kepada identitas Pak Dimas. Mereka hampir putus asa karena hal itu. Untunglah pada data ke-20 mereka benar-benar menemukan identitas Pak Dimas yang mereka cari.
“Yes! Ini Pak Dimas yang kita cari, Her! Data-Datanya 90 persen valid dengan Pak Dimas korban kejahatan Narkoba itu,” ujar Cintia.
“Coba kamu cek tanggal dan di kamar nomor berapa dia menginap?” tanya Herman.
“Tanggalnya sudah lama, Her. Dan nomor kamar hotelnya adalah nomor 204!” ujar Cintia dengan nada terkejut.
“Loh, bukannya nomor kamar itu sudah lama tida dioperasikan?” tanya Herman.
“Iya, tapi kan sudah aku bilang tadi sama kamu. Pak Dimas menyewa kamar tersebut beberapa tahun yang lalu sebelum kamar tersebut ditutup,” jawab Cintia.
“Coba kamu cek, Cin! Dengan siapa dia check in di kamar itu?” perintah Herman.
__ADS_1
“Oke! Aku cek dari tanggal dan nomor kamarnya, ya!” jawab Cintia sambil mengutak-atik data tael yang ada di layar monitor.
“Iya, Cin, buruan! Mumpung Kapten Yosi sedang tidak ada. Kalau sampai beliau tahu kita memiliki data ini dengan cara ilegal, beliau pasti akan memarahi kita habis-habisan!” ujar Herman.
Setelah mengutak-atik data selama beberapa menit, akhirnya Cintia pun berhasil membuka data tersebut secara lebih detil.
“Pak Dimas check in di kamar 204 bersama seorang perempuan bernama Larasati yang beralamat di dusun Delima. Usia perempuan itu relatif masih muda. Jauh di bawah usia Pak Dimas,” ujar Cintia sambil menampilkan data-data tersebut di layar monitor.
Herman tercengang dengan keterangan yang disampaikan temannya barusan.
“Larasati … Jangan-Jangan Larasati ini hantu perempuan yang sering muncul di hotel tersebut?” gumam Herman.
“Kalau melihat dari ciri-ciri identitas dan cerita dari Permadi tadi, sepertinya sangat klop. Tapi, kita tidak boleh mengambil kesimpulan semudah itu. Kita harus melacak dulu identitas pemilik nama ini. Siapa tahu dia itu masih saudaranya Pak Dimas. Secara mereka berasal dari dusun yang sama,” tutur Cintia.
“Iya, Cin. Kamu benar sekali! Ya sudah, Cin. Kamu tutup saja data itu dan kita segera selidiki perempuan bernama Larasati barusan di dusun Delima. Ingat, kita tidak punya banyak waktu untuk melakukan penyelidikan. Waktu penutupan kasus ini sudah semakin dekat saja,” ucap Cintia.
Baru saja Cintia akan menutup layar tampilan file data tamu Hotel Bunga, tiba-tiba Kapten Yosi masuk ke dalam ruangan itu.
“Kapten Yosi!” pekik Herman dengan ekspresi terkejut.
Cintia dan Herman benar-benar panik saat itu karena kedatangan atasannya yang super mendadak itu.
“Kenapa kalian kaget dengan kedatangan saya? Apa kalian berdua sedang menyembunyikan sesuatu dari saya?” tanya Kapten Yosi dengan nada interogatif.
“Ti-tidak, Kapten! Kami hanya kaget saja karena tidak biasanya Kapten masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu dulu,” jawab Herman panik.
“Saya pikir tadi nggak ada kalian di sini soalnya tadi pas keluar dari ruangan ini saya tidak melihat kalian. Saya baru balik dari kamar kecil karena kebelet. Sejak pagi saya berada di ruangan ini untuk memeriksa berkas-berkas kasus yang sedang kita tangani,” jawab Kapten Yosi.
“Oh begitu, Kapten, jawab Herman hambar.
“Hm, kalian sedang ngapain di depan komputer? Apa kalian sedang membuka file penting?” tanya Kapten Yosi yang sontak saja membuat kedua polisi itu kelimpungan.
“Eh, tidak, Kapten! Kami-“ jawab Herman berusaha menutup-nutupi apa yang sedang mereka kerjakan.
“Minggir kamu, Her! Saya mau melihat data yang sedang kalian buka!” ujar Kapten Yosi sambil menyeruak untuk melihat tampilan yang muncul di layar monitor.
Herman dan Cintia pun panik saat itu. Kapten Yosi sudah dapat melihat dengan jelas tampilan layar monitor itu. Dahi pria dewasa itu mengerut saat melihat tampilan di layar monitor yang sedang dibuka oleh Cintia.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Ayo, hari ini terakhir untuk ikut sayembara novel MARANTI, loh!